Menulis Al-Qur’an dengan Huruf Latin
Des15

Menulis Al-Qur’an dengan Huruf Latin

a. Deskripsi Masalah Di banyak Negara sekarang banyak diterbitkan al-Qur’an dengan menggunakan huruf latin (‘ajam). Hal ini dilakukan untuk lebih memudahkan mereka yang baru belajar membaca al-Qur’an. b. Pertanyaan Bagaimana hukum menulis al-Qur’an dengan memakai huruf non-Arab seperti huruf latin? c. Jawaban Haram, karena huruf non-Arab tidak memiliki kesempur-naan seperti yang dimiliki huruf Arab. c. Rujukan وَيَحْرُمُ تَمْكِيْنُ غَيْرِ الْمُمَيِّزِ مِنْ نَحْوِ مُصْحَفٍ وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ وَكِتَابَتُهُ ِالْعَجَمِيَّةِ اهـ ……. فتح المعين, 9 Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Kuliah Syariah Gelar Kursus Haid dan Nifas
Des14

Kuliah Syariah Gelar Kursus Haid dan Nifas

Karena dianggap perlu untuk memberikan pemahaman tentang Haid dan Nifas, panitian kursus dan dauroh Kuliah Syariah menggelar kursus Haid dan Nifas untuk seluruh murid kelas 1 Aliyah. Kursus berjalan selama dua hari, mulai malam Rabu (11/12) sampai malam Kamis (12/12). Dalam hal ini, panitia mendatangkan lima pakar sekaligus guru senior Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah, Ust. Qusyairi Ismail, Ust. Nahdlor Tsanai, Ust. Masyhuri Mukhtar, Ust. Rokib Saki dan Ust. Maliji Ismail. Kursus bertempat di lima ruang gedung as-Suyuti. Setiap pembina menyampaikan materi di satu ruang yang diisi oleh dua kelas.         ____________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Berkah Sungai Sidogiri
Des14

Berkah Sungai Sidogiri

Saat itu Belanda mengepung Pondok Pesantren Sidogiri (PPS). Para thullâb bergegas melindungi kiainya. Satu-persatu gugur. Hingga irama nyawa tak lagi terdengar. Tapi masih ada satu orang yang bertahan. Beliau adalah KH Abd. Jalil bin Fadhil, pengasuh PPS pada saat itu. Tak satu pun santri yang mampu melindunginya. Puluhan tentara belanda memergokinya. Tapi, lesatan kerisnya sangat licah. Tak ada seorang pun tentara yang mampu mendekat. Hingga… “Dor!” Tembakan menggaung di atas lisan sucinya. Beliau syahid dan terbuang di Sungai Sidogiri. Risau semua hati santri. Mengkhawatirkan kabar maha gurunya. Semerebak seribu bunga mengambang di atas Sungai Sidogiri. Kayaknya, ada yang aneh dengan sungai itu! Beberapa santri dan segelintir warga menelitinya. Ternyata, jasad sang maha guru mengambang di sana. Semua santri berduka cita. Sejak tragedi tersebut, gelar ‘barokah’ disandangkan kepada sungai itu. Beribu-ribu santri menceburkan diri, demi mendapat barokah. Berbagai aktivitas mengalir disana. Seperti mandi, berenang, wudhu’, qadhil-hajah bahkan sikat gigi. Semua itu karena istilah ‘barokah’. Bertahun-tahun ritual itu berlangsung. Hingga slogan “Bukan santri Sidogiri, bagi yang belum merasakan sungainya” populer di telinga kita. Mengingat selain ilmu manfa’at, barokahlah yang mereka impikan. Entah berapa tahun sungai itu begitu mulya. Hingga akhirnya tercap menjadi markas salah satu gangstar ‘terganas’, yaitu BONAIS (bocah nakal ingin sukses). Sejak itulah barokah mulai terkikis. Kini, malah kata ‘jijik’ yang disandangnya. Tak seorangpun merelakan tubuhnya mandi di sana. Entah gelar ‘barokah’ hanyut kemana. Padahal tak ada beda antara Sidogiri sekarang dengan Sidogiri dulu. Beberapa tindakan pun diluncurkan, demi melestarikan barokah Sungai Sidogiri. Mulai dari hukuman menguras sungai, hingga program rutin yang diadakan kesehatan. Tapi entah, jerih payah begitu sia-sia. Sungai Sidogiri tetap kumuh dan kotor. Tak ada orang yang mandi di sana. Bahkan berak pun tak ada. Meski begitu, bukankah hal yang seperti itu yang patut kita gelari ‘barokah’. Bahkan seharusnya kita tetap membudayakan tradisi zaman dahulu. Sebab kini sungai itu lebih banyak barokahnya. Barokah bukanlah perkara yang enak. Barokah adalah perkara yang menyamarkan keenakan. Lebih tepatnya istilah “Di balik kesusahan tersimpan kemudahan”. Maka dari itu, tunggu apa lagi? Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Santri dan Antri
Des13

Santri dan Antri

Ketika bangun dari tidur qailulah, aku segera pergi ke kamar mandi, mengingat aku belum makan. Padahal satu jam lagi, bel sekolah berdering. Alangkah terkejutnya saat aku melihat lima kepala manusia menunggu di setiap jeding. Tanpa pikir panjang, aku pun ikut mengantri bersama lima orang itu. Meskipun aku tahu, antrian ini memakan waktu minimal 50 menit. Tapi hal ini bagiku adalah kebiasaan, mengingat statusku adalah santri. Jika kita teliti, kata ‘SANTRI’ secatra tekstualnya, maka kita menyimpulkan bahwasannya ‘SANTRI’ adalah gabungan huruf ‘S’ dengan kata ‘ANTRI’. Dari itulah, aku menyimpulkan bahwa santri itu harus antri. Setelah kejadian tersebut, aku teringat akan update status kakakku di dumay (dunia maya) pada saat pulangan kemarin. Kurang-lebihnya begini, “Perbedaan antara pendidikan pesantren dengan lembaga lain adalah: Kalau pesantren pendidikannya 24 jam non-stop. Sedangkan lembaga lain pendidikannya hanya tiga jam pelajaran”. Status ini menyiratkan bahwa pendidikan di pesantren itu lebih maksimal dari pada lembaga lain, baik dalam segi moralitas maupun ilmu pengetahuan. Karena jarang sekali di lembaga non-pesantren yang layak dibuat latihan untuk bersabar dalam melintasi lika-liku kehidupan. Seperti: antrian, desak-desakan, kiriman telat, rindu akan tanah airnya dan lain semacamnya yang sering terjadi di pesantren. Aku jadi teringat tragedi seusai shalat Jumat dua minggu kemarin. Pada saat itu, saat aku hendak turun dari lantai dua, terjadilah saling dorong-mendorong antara ribuan santri, rebutan ingin lebih dahulu turun. Anehnya, teman saya malah berucap “Alhamdulillah!” berkali-kali. Lantaran penasaran, aku pun menanyakan alasannya. “Alhamdulillah! Aku ditakdirkan naik Haji! Buktinya, sekarang aku dilatih berdesak-desakan dengan ribuan orang, agar kelak di Masjidil-Haram tidak kaget!” Terangnya. Hal itulah yang menyebabkan para alumni pesantren lebih lihai dalam mengatasi berbagai cobaan yang menimpanya, dari pada alumni lembaga non-pesantren. Oleh karena itu, tidak heran jika para santri lebih diidam-idamkan oleh gadis-gadis cantik melebihi para artis yang belum mencicipi ‘garam’ di pesantren. Pernah kumembaca pepatah ulama dalam kitab Ihya’ Ulûmid-dîn “Kesabaran yang patut diberi apresiasi adalah kesabaran sesorang akan musibahnya—saking sabarnya—sahabat karibnya sendiri tidak tahu pada musibah yang dialaminya” kemudian ulama itu membahkan “Kita tidak akan sampai pada tingkat semacam itu kecuali apabila kita latihan ekstra”. Satu-satunya tempat untuk melatih kesabaran dalam menghadapi lika-liku kehidupan adalah pesantren. Karena di sanalah kita belajar mandiri dan istikamah. Sedangkan di lembaga lain wa bil-khusus sekolah formal? Tanyakanlah pada diri sendiri! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Motivasi Akbar Muhafa Hadirkan Sang Pendiri
Des13

Motivasi Akbar Muhafa Hadirkan Sang Pendiri

Daerah M kembali menggelar Motivasi Akbar untuk peserta Muhafa, Malam Jumat (13/12).  Berlokasi di gedung Sidogiri Excellent Center ini hadirkan Ust. Tomi Hermanto, pendiri Musyawarah dan Halaqah Fathul Qarib (Muhafa). Tujuan acara untuk menambah semangat peserta Muhafa dalam menggapai cita-cita sebagai Fuqaha Junior. Acara terbilang menarik. Karena sebelum menuju inti acara terlebih dahulu ditayangkan video yang memotivasi. Tentang hidup dan perjuangan dan larangan minder dengan kekurangan, bagian ini dipandu oleh Ust. Kafi selaku Operator acara. Kemudian sambutan dating dari Koordinator Muhafa, Ust. Muhammad Baihaqi. Dalam sambutannya beliau sangat menekankan semangat dalam diri peserta Muhafa agar terus aktif belajar dan mau mengembangkannya. Beliau juga memberi pesan agar tetap menjaga akhlakul-karimah. “Peserta Muhafa, harus berbeda dengan yang bukan Muhafa. Tetap harus menjaga akhlaknya. Seperti; kalau makan tidak boleh sambil berdiri apalagi sambil berjalan. Harus tetap aktif mengikuti Muhafa setiap paginya”, pesan Ust. Baihaqi yang menjabat Taklimiyah di Daerah M ini. Pada acara inti, sang Motivator, Ust. Tomi Hermanto banyak memberikan pesan dan cara-cara mudah dalam menemukan ibarat. Hal ini sesuai dengan tema seminar kali ini, yakni Mudah Mencari Ibarat. Dipandu oleh Moderator yang terlatih, Ust. Hasanuddin, acara berlangsung khidmat dan seru. Ust. Hasanuddin sendiri merupakan Ketua Muhafa Daerah M. “Kalau Pembinanya tidak hadir, peserta Muhafa harus tetap hadir”, salah satu pesan Beliau, Ust. Tomi, yang sering diulang-ulang. Dengan mendatangkan Ust. Tomi selaku pendiri Muhafa, diharapkan semua peserta Muhafa dapat mengambil manfaat yang tealah beliau sampaikan, termasuk bagaimana menumbuhkan rasa semangat dan tekun mempelajari ilmu Fiqih. Baca Juga: Pembinaan Selasa Pagi Peserta Muhafa Penulis : Musafal Habib Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya