Ust. Fauzan Imron; Membedah Pembagian Tauhid
Sesuai jadwal, mentoring Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali diadakan, malam Rabu (11/12). Bertempat di ruang Guru gedung al-Ghazali, mentoring kali ini Membedah Pembagian Tauhid Menjadi Tiga ala Wahabi. Sebagai pembicara adalah Ust. Fauzan Imron. Sebelum membahas tentang Tauhid Wahabi yang tiga, terlebih dahulu Ust. Fauzan menjabarkan tiga pembagian Sifat Wahdaniyah sebagai pembandingnya. Sifat Wahdaniyah Allah ini menolak terhadap lima kam atau lima bilangan banyak atau dalam bahasa arab dikenal kam al-khamsah. Dan ini adalah pembagian Tauhid versi Ahlusunnah wal Jamaah. “Sebagai muqabalah (kebalikan) tiga tauhid Wahabi adalah Wahdaniyat yang menafikan lima kam, kam al-khamsah”, kata Ust. Fauzan yang lebih dikenal dengan Gus Fauzan. Sifat wajib Allah yang berupa Wahdaniyat ini memiliki pengertian bahwa Allah itu maha Esa atau hanya satu-satunya tidak ada yang lain. Maka sebagai tauhid dari Ahlussunah ini, Sifat Wahdaniyat menyangkal dan menolak lima kam yang terdiri atas Kam Muthasil fi-Dzat, Kam Munfasil fi-Dzat, Kam Muthasil fi-Sifat, Kam Munfasil fi-Sifat, dan Kam Munfasil fi al-Af’al. Lima kam di atas dinafikan dengan tiga jenis sifat Wahdaniyat, yakni Wahdaniyat al-Dzat, Wahdaniyat al-Shifat, dan Wahdaniyat al-Af’al. Wahdaniyat al-Dzat berfungsi menafikan dua kam; yaitu menafikan tersusunnya Dzat Allah dari benda, sifat benda, dan bagian-bagian lain. Dalam bahasa lebih mudah, Dzat Allah tidak mungkin terbagi-bagi atau tersusun dengan rangka-rangka. Hal ini berarti tertolaknya Kam Muthasil fi Dzat. Kemudian Wahdaniyat al-Dzat juga menafikan adanya dzat lain selain Allah yang memiliki kesempurnaan seperti halnya Dzat Allah. Hal ini berarti tertolaknya Kam Munfasil fi Dzat. Adapun Wahdaniyat al-Shifat, itu berfungsi menolak dua kam yang berupa Kam Muthasil fi Shifat yakni, menafikan adanya dua sifat bagi Allah, di mana sifat Allah itu hanya satu yang berarti Allah hanya punya sifat Qudrah satu, sifat Iradah satu dan seterusnya. Dan Wahdaniyat ini juga menolak Kam Munfasil fi Shifat yakni, menafikan adanya seseorang dari manusia atau makhluk lain yang memiliki sifat seperti sifat-sifat Allah. Dan terakhir Wahdaniyat al-Af’al yang berfungsi menafikan adanya perbuatan selain dari perbuatan Allah. Hal ini menolak adanya Kam Munfasil fi af’al. Setelah panjang lebar menjelaskan sifat Wahdaniyat dan pembagiannya, barulah beliau, Gus Fauzan, mengajak semua peserta mentoring ACS, yang dalam hal ini adalah anggota Semester II Kontra Wahabi, untuk membedah pembagian Tauhid menjadi tiga ala Wahabi. Baca Berita Selanjutnya : Ust. Fauzan Imron; Membedah Pembagian Tauhid ala Wahabi Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...
Evaluasi Rabiuts-Tsani: Diklat Kondusif
Malam Selasa (10/12), pelaksanaan Pendidikan Shalat (Diklat) Ubudiyah berjalan kondusif. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Wakil I Ubudiyah dalam evaluasi tadi malam. Dalam sambutannya, Ust. Syaiful Furqon selaku Wakil I Ubudiyah menyampaikan bahwa pelaksanaan Diklat pada malam Selasa ini lebih baik dari sebelumnya. Segala permasalahan yang menjadi tanggung jawab panitia sudah dituntaskan. “Pelaksanaan untuk malam ini secara keseluruhan sudah kami anggap lebih baik dari sebelumnya. Kendala yang datang dari panitia sudah bisa dituntaskan. Kendala masih ada pada anak-anak yang tidak bawa materi dan beberapa pembina yang tidak aktif. Bagi petugas, akan diadakan sosialisasi malam Senin mendatang”, kata pria asal Sampang ini. Baca Terkait : Evaluasi Malam Pertama Diklat Ubudiyah Rapat Evaluasi Kedua Diklat Ubudiyah 1440 H Beliau juga menyampaikan beberapa program yang perlu dijalankan panitia Diklat sebagai bawahan Wakil I. Di antaranya adalah mengadakan pelatihan salat ma’dzur bagi petugas Balai Kesehatan Sidogiri dan pelaksanaan Diklat Massal bagi warga Daerah D. Baca Juga: Ubudiyah: Agar Salat Santri Sesuai Syariat Pengurus Ubudiyah Gembleng Santri Baru dengan Praktek Shalat Massal Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...
Kecocokan al-Quran dan Sains Modern
“Dan jika kamu meragukan (Al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah suatu arah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kamu orang –orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya dan (pasti) kamu tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 23-24) Pada ayat itu, Allah SWT—dengan terang-terangan—menantang untuk membuat karya yang bisa menandingi Al-Quran. Tapi, sampai detik ini tak satu pun yang berani unjuk gigi. Mengingat, Al-Quran tidak sekedar kitab sastra, akan tetapi penuh keajaiban keajaiban; menjadi mukjizat terbesar dari nabi termulia; dan yang pasti, membuat orang mengaga. Akhir abad ke-19 Masehi, dunia kembali mencatat torehan penting. Pasalnya, ada penemuan penting tentang asal-mula terciptanya alam semesta. Setelah melakukan observasi dan eksperimen selama beberapa dekade, ahli astrofisika menjelaskan bahwa, awal-mula terciptanya alam semesta adalah Big Bang (ledakan besar). Dalam teori Big Bang, seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk Nebula Primer. Kemudian terjadilah ledakan yang memecah belah Nebula Primer, yang disebut dengan teori Big Bang. Akan tetapi, 14 abad yang lalu, Al-Quran telah memaparkan teori Big Bang dalam surah QS. Al –Anbiya’: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya’: 30) Selain itu, para ilmuan menyatakan bahwa asal-usul alam semesta—sebelum menjadi Nebula Primer—adalah gas yang berupa asap. Hal ini sama persis dengan firman Allah: “Kemudian dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap”. (QS. . Al-Fushilat: 11) Subhanallah! Mana mungkin kitab biasa dapat melakukan riset sedetail ini?! Sebab itulah Al-Quran menjadi kitab yang paling banyak dibaca di dunia, serta menjadi musuh-musuh Islam kikuk dihadapan Al-Quran. Muhammad ibnu...
Perbaikan dan Perawatan Koleksi Perpustakaan Sidogiri
Demi menjaga keutuhan kitab dan buku milik Perpustakaan Pondok Pesantren Sidogiri serta kenyamanan bagi pemustaka dalam mengkaji koleksi-koleksinya, pustakawan bagian perawatan dan perbaikan koleksi berupaya semaksimal mungkin untuk selalu memperbaiki setiap koleksi yang rusak, baik itu rusak ringan hingga berat. Di semester ganjil ini, bagian perawatan dan perbaikan telah memperbaiki sekitar 900 koleksi rusak. Baca juga: Habib Novel Alydrus: Celana Cingkrang dan Cadar Bukan Ciri-ciri Radikal Menurut laporan dari Abdul Aziz selaku Wakil Ketua Bagian Perawatan dan Perbaikan Koleksi bahwa koleksi yang rusak ringan dalam dua bulan terakhir ini berjumlah 828 koleksi kitab dan buku. koleksi yang rusak berat terdapat 66 koleksi. Sedangkan yang tidak layak dipakai sebanyak 6 koleksi. “Dari sekian banyak koleksi rusak tersebut yang paling mendominasi adalah bagian buku. Lebih-lebih buku yang dipenuhi oleh gambar.” keluhnya. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri Sedangkan penyebab utama dari kerusakan tersebut adalah kurangnya prihatin santri terhadap keutuhan koleksi. ”Mereka tidak hanya menjadikan buku sebagai bahan bacaan, bahkan mereka menjadikannya sebagai alas untuk tidur,” ungkap Zainul Arifin, Petugas Jaga Pagi II. Baca juga: Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir “Kendala utama dalam memperbaiki koleksi rusak tersebut adalah pembuatan hard cover karena keterbatasan kemampuan dan memakan waktu yang sangat lama. Hal lain yang juga menjadi kendala besar adalah koleksi sobek seperti koleksi anak yang dirobek dan diambil gambarnya” jelas Abdul Aziz. Baca juga: Ijazah Muadalah, Apresiasi Pemerintah Kepada...
Menguji Keajaiban al-Quran
Jika kita mendengarkan pepatah fisikawan terkenal peraih hadiah Nobel, Albert Einstein yaitu, “Ilmu tanpa agama itu lumpuh. Agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta”. Maka kita akan dapat memahami, betapa pentingnya memahami agama dengan obyektif. Sebab, tanpa memahaminya dengan obyektif, kita tidak dapat membedakan antara yang ‘agama’ dengan yang ‘diagamakan’. Untuk itu, tidak ada salahnya jika Dr. Zakir Naik mengarang buku Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah, sebab dengan buku itu, kita dapat mengetahui seribu tanda kebenaran Al-Quran dan hadis. Selain itu, buku ini tidak seperti biasanya. Sebab, buku ini 100% mengkaji secara obyektif. Semua kajiannya tidak dipaksakan. Hal itu akan terlihat jelas, jika buku ini dibandingkan dengan bukunya Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Ilmiah di Lautan & Dunia Binatang. Tapi sayang, karena buku ini disetel simple, pengkajian pada kosa-kata Al-Quran kurang begitu mendalam. Sehingga pembaca yang masih tergolong pemula, akan kesulitan mencerna argumen yang disampaikan penulis. Juga, kekurangan data yang valid saat “melawan arus”, alias fakta yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat umum. Sedangkan bagi pembaca menengah ke atas—wa bil-khusûs para santri—buku ini sangat cocok untuk menambah mahabbah kepada Al-Quran dan hadis. Selamat Membaca! Muhammad ibnu...