Motivasi Daerah O Hadirkan Ust. Muntahal Hadi
Des08

Motivasi Daerah O Hadirkan Ust. Muntahal Hadi

Guna meningkatkan semangat dalam menghafal serta memahami kitab-kitab matan berikut syarah dan hasyiahnya, pengurus Daerah O kembali gelar motivasi. Acara berlangsung sejak ba’da Isya di Halaman Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam hal ini pengurus mengharap kenaikan kembali ghirah teman-teman, terlebih dikarenakan wisuda yang semakin dekat. Baca juga: Habib Novel Alydrus: Celana Cingkrang dan Cadar Bukan Ciri-ciri Radikal Ust. Muntahal Hadi, guru Senior Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah dan Kepala MMU Ibtidaiyah dihadirkan untuk memberi motivasi kepada warga Daerah O. Pada awalnya pengurus Daerah O bermaksud untuk menghadirkan KH. Fuad bin Noerhasan, anggota Majelis Keluarga Sidogiri, namun beberapa jam sebelum acara berlangsung pihak dalem mengabarkan bahwasannya beliau sedang tidak dalam kondisi baik sehingga tidak dapat menghadiri acara tersebut. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri “Karena beliau (KH. Fuad bin Noerhasan) tidak bisa hadir, akhirnya kami menghubungi Ust. Muntahal Hadi, guna mengisi acara pada malam hari ini.”, terang Ust.Faizin Hidayatullah, selaku Koordinator Tahfidzul Mutun Daerah O. Baca juga: Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir Sosok yang juga pernah menjadi Direktur Annajah Center Sidogiri (ACS) ini menyampaikan banyak hal terkait potensi serta kemampuan santri dalam belajar dan menghafal. Beliau juga berharap kepada seluruh santri, terlebih warga Daerah O agar dapat menjadi jendela Pondok Pesantren Sidogiri yang baik dan tepat, terutama dalam ilmu ke-Nahwu-an. (Kang/MKT) Baca juga: Ijazah Muadalah, Apresiasi Pemerintah Kepada...

Selengkapnya
Santri dan Politik
Des08

Santri dan Politik

Apakah politik itu jelek? Tentu saja tidak! Lantaran politik adalah siasat bernegara, untuk memegang “pucuk” wewenang. Sedangkan wewenang sendiri, adalah seseuatu yang pokok untuk mengendalikan masyarakat. Mulai dari mengajak kebaikan, hingga menumpas keburukan. Lebih tepatnya istilah amar makruf nahi mungkar. Lalu, siapakah yang berani mengatakan bahwa amar maknuf nahi mungkar tidak wajib? Amar makruf nahi mungkar tanpa wewenang, bagaikan tempe tanpa kedelai. Sebab, wewenang adalah kekuasaan untuk merubah. Sedangkan amar makruf nahi mungkar adalah upaya perubahan. Jika santri dihalangi untuk berpolitik, kemudian yang memegang kendali sepenuhnya adalah orang bejat, mana mungkin “calon ulama” itu bisa menuangkan pemikirannya? Sebab, mereka sudah kehilangan wewenang, sedangkan yang menguasainya adalah orang yang minim akan ilmu agama. Maka jangan salahkan jika hal-hal kotor kian menodai negara; harapan untuk meraih baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr kian pupus. Itulah mengapa saya membuat judul, Santri Wajib Berpolitik. Lâ yamîlu yumnatan walâ yusratan cukup sebagai dalil santri mengenai politik. Tidak terlalu anti, tidak juga gila politik. Sebelumnya tertera kalimat—atau dalam bahasa arab, kalam—wa yattabi’ sunnatar-Rasûl al-Amîn, menapak tilasi jalan Nabi SAW, adalah langkah santri hakiki. Jika satu saja buku biografi Nabi Muhammad SAW—atau kalau malas membaca buku sejarah, novelnya saja—hatam, niscaya kita tahu bahwa beliau berpolitik. Baik dalam peperangan, kenegaraan, pendidikan, hingga perekonomian. Jika sudah tahu, lantas ngapain tidak mau. Bukankah dalam sabda beliau tertera, “Fa man raghiba ‘an sunnatî, falaysa minnî”, siapa orang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku. Na’ûdzu bil-Lâh! Memang mayoritas politikus bersifat “tikus”. Tapi itu tidak semua. Pedoman santri tidak condong kanan-kiri fî kulli hâl (termasuk saat menggeluti politik) harus dijaga. Terlintas dibenak saya, yang sedang berdiri di negeri yang salbut, “Andai tidak ada santri yang berpolitik, mungkin saja terjadi sepuluh kalilipatnya kehancuran ini!” Sebab, sebagai mana yang sudah maklum, “Jika sesuatu diurusi selain ahlinya,  fantadzir as-sâ’ah, tinggal tunggu hancurnya.” Untuk itu, kepada yang “agak sufi”, tak apalah tidak menggeluti politik. Tapi—minimal—tidak mengganggu—apalagi sampai menjatuhkan—santri yang berjihad dengan cara memasuki politik. Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Mentoring ACS, Wahabi dan Takfiri
Des07

Mentoring ACS, Wahabi dan Takfiri

Malam Sabtu (07/12) Annajah Center Sidogiri (ACS) mendadakan mentoring untuk anggota semester II sebagaimana telah terjadwal di ruang Istirahat Guru al-Ghazali lantai I. Dengan tema pembahasan ideologi takfiri Wahabi, yang dimentori oleh Wakil I ACS, Ust. Zaki Ghufron. Baca juga: Mentoring ACS, Sejarah Berdarah Wahabi Anggota ACS yang duduk di semester II merupakan anggota yang khusus dalam pembahasan kontra Wahabi. Maka pada malam Sabtu kemarin, mentoring membahas tentang latar belakang adanya pengkafiran Wahabi pada muslim yang tidak seakidah dengan mereka. Baca juga: Annajah Centre Sidogiri; Antisipasi Gerakan Syiah dan Wahhabi Dalam penyampaiannya , Ust. Zaki Ghufron menjelaskan jika pengkafiran Wahabi terhadap muslim yang tidak seakidah adalah bersumber dari trilogi tauhid mereka: Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ was-Sifat. Selain itu pengkafiran tersebut juga timbul dari kesalahan mereka dalam memahami arti ibadah. Pengkafiran ini juga merupakan identitas kesesatan mereka, karena salah satu ciri-ciri aliran sesat yang telah dirumuskan oleh para ulama adalah mengkafirkan sesama muslim. Berbeda dengan Ahlussunnah wal Jamaah yang sangat berhati-hati dalam menilai keimanan seseorang. Ahlussunnah wal Jamaah tidak serta merta mengatakan kafir pada suatu golongan kecuali telah jelas. Baca juga:  Mentoring ACS; Posisi Madzhab Asy’ari Dalam Fikih dan Hadits _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Catatan Kelam Sekte Wahabi
Des07

Catatan Kelam Sekte Wahabi

Istilah Wahabi sering menimbulkan kontroversi sejak kemunculannya dalam dunia Islam. Aliran ini berkembang dari dakwah seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) yang berasal dari Najd, Arab Saudi. Sejarah mencatat, ajaran Wahabi disebarkan dengan pedang dan menumpahkan darah. Dalam menyebarkan ajarannya, Muhammad bin Abdul Wahhab beraliansi dengan kelompok besar Jazirah Arab yang dipimpin Ibnu Sa’ud untuk membangun kerajaan Saudi Arabia dengan akidah mengkafirkan umat Islam, serta menghalalkan darah dan harta benda kaum muslimin. Sekitar setengah juta umat Islam yang dibunuh oleh oleh pendiri Wahabi dan anak buahnya pada waktu itu. Hingga saat ini, Wahabi masih getol mengkafirkan umat Islam yang tidak se akidah dengan mereka. Mereka dengan sangat mudahnya mensyirikkan pelaku ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul. Salah satu dalil yang dibuat justifikasi adalah QS. Yunus: 106 (artinya), “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah.” dan QS. Al-Jin: 18 (artinya) “Maka janganlah kalian berdoa kepada Allah dengan menyertakan seseorang.” Menurut Wahabi, para penyembah patung di zaman Rasulullah menjalani ritual demikian murni sebagai sarana pendekatan diri kepada tuhan. Mereka tidak meyakini patung bisa menciptakan sesuatu, sebab hanya Allah lah yang mampu melakukannya. Sama seperti orang yang menjadikan ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul sebagai wasilah untuk bertakarub pada Tuhannya. Dalil mereka adalah QS. az-Zumar: 03 (artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Pernyataan di atas tentu sangat bertolak belakang dengan realita yang ada. Para pelaku ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul tidaklah sama dengan penyembah berhala, antara keduanya terdapat perbedaan layaknya warna hitam dan putih. Sangat jelas!. Meskipun penyembah berhala meyakini patung tidak kuasa menciptakan sesuatu, namun hati mereka mempercayai jika patung-patung itu berhak disembah dan diagungkan sebagai tuhan. Berbeda dengan orang yang melakukan ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul, mereka tidak pernah menyekutukan Allah SWT, sebab dalam hati mereka tidak pernah terbesit jika para Nabi, para wali, atau orang-orang shalih yang dibuat perantara berhak dijadikan tuhan. Justru, mereka yakin seyakin-yakinnya jika semuanya adalah makhluk dan hamba Allah SWT.[1] Maka sangat tidak pantas, jika ayat-ayat tersebut dijadikan sebagai dalil larangan ritual tawassul, istighatsah, tabaruk dan ziarah kubur, karena tujuan ritual tersebut adalah berdoa kepada Allah tanpa ada I’tikad atau keyakinan bahwa mutawassal bih (yang ditawasuli) akan menjadi sekutu Allah atau menyaingi kekuasaan-Nya. Mengenai dalil perihal keabsahan mempraktekkan ritual tersebut, Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan Hadis dari Anas bahwa Sayyidina Umar pernah bertawasul dengan Sayyidina Abbas saat Madinah dilanda paceklik.[2] عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا...

Selengkapnya
Sikap Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri
Des06

Sikap Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد e وعلى آله وصحبه أجمعين. Sehubungan dengan beredarnya ceramah dari Saudara Muwafiq yang saat ini sedang ramai dibicarakan orang, dan setelah menyimak isi pidato tersebut secara utuh dan lengkap, berikut pernyataan tabayun dari yang bersangkutan, kami Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri menyimpulkan bahwa: Ceramah Saudara Muwafiq mengandung unsur-unsur yang terkesan merendahkan kemuliaan Nabi e, seperti kalimat: Nabi lahir biasa-biasa saja, tidak bersinar; saat kecil rembes; tidak terlalu terurus karena ikut kakeknya; kesenangannya bermain kesana-kemari sehingga tidak sekolah akhirnya tidak bisa baca-tulis; jika saat itu ada jambu maka beliau akan mencuri jambu itu. Saudara Muwafiq juga terkesan meragukan riwayat tentang keistimewaan Nabi pada masa kecil yang telah diyakini kebenarannya oleh kalangan pesantren, dengan mengatakan: “Kita tidak boleh angkuh karena semuanya hanya katanya dan tidak menyaksikan peristiwa itu sendiri secara langsung”. Penjelasan tabayun yang dilakukan oleh Saudara Muwafiq setelah ramainya ceramah tersebut tidak mengandung pernyataan menarik ucapannya dan bertaubat dari kesalahan itu. Mengingat hal tersebut di atas, serta mengingat: Adanya sebagian umat Islam yang masih memberikan pembelaan terhadap Saudara Muwafiq terkait hal ini. Pesan tegas dari Hadratusy-Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab “at-Tanbihatul-Wajibat” sebagai berikut: فَتَأَمَّلْ – وَفَّقَكَ اللهُ – مَا ذَكَرْنَاهُ فيِ هَذِهِ التَّنْبِيْهَاتِ الثَّلَاثِ مِنْ وُجُوبِ حُرْمَةِ النَّبِيِّ e وَتَوْقِيْرِهِ وَتَعْظِيْمِهِ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ وَذِكْرِ حَدِيْثِهِ وَسَمَاعِ اِسْمِهِ وَحُرْمَةِ اسْتِعْمَالِ مَا وُضِعَ لِلتَّعْظِيْمِ فِي غَيْرِ مَحَلِّ التَّعْظِيْمِ، وَأَنَّهُ إِلَى الِإسْتِهْزَاءِ وَالْإِزْرَاءِ أَقْرَبُ، وَقَتْلِ مُتَنَقِّصِهِ e وَمُؤْذِيْهِ بِاْلإِجْمَاعِ – يَظْهَرُ لَكَ – إِنْ كَانَ لَكَ أَدْنَى بَصِيْرَةٍ – قُبْحُ هَذِهِ الْفِعْلَةِ الْمُخْزِيَةِ، وَمَزِيْدُ فُحْشِهَا، وَعَظِيْمُ مَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنَ الْعُقُوْبَاتِ. وَإِذَا ظَهَرَ لَكَ ذَلِكَ رَجَعْتَ وَتُبْتَ إِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ هَذِهِ الْفَاحِشَةِ الْمُهْلِكَةِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. Artinya: “Renungkanlah apa yang telah kami sampaikan di dalam tiga keterangan pengingat ini mengenai: (1) Wajibnya menghormati, memuliakan dan mengagungkan Nabi Muhammad r di saat menyebut kelahiran, menyebut Hadis serta nama beliau; (2) haramnya menggunakan kata yang ditetapkan untuk dimuliakan bukan di tempat memuliakan, dan bahwa hal itu lebih dekat dengan pelecehan dan penghinaan; (3) ijmak ulama mengenai hukuman mati untuk orang yang melecehkan dan menyakiti  (menghina) Nabi r . Dengan merenungkan hal tersebut, maka akan menjadi jelas bagimu (jika kamu masih punya sedikit mata hati), bahwa perbuatan ini merupakan suatu yang sangat buruk dan tercela, serta memiliki konsekwensi hukuman yang sangat berat. Jika kau menyadari hal tersebut, maka kembalilah dan bertobatlah kepada Allah dari keburukan yang akan membuatmu celaka di dunia dan akhirat.” Dengan pertimbangan di atas, maka Pondok Pesantren Sidogiri menegaskan pernyataan sebagai berikut: Menyesalkan dan mengecam pernyataan-pernyataan Saudara Muwafiq dalam ceramah dimaksud, karena tidak menjaga adab dan terkesan merendahkan pribadi Rasulullah e. Meminta Saudara...

Selengkapnya