Ijazah Muadalah, Apresiasi Pemerintah Kepada Sidogiri
Penyetaraan status ijazah muadalah pesantren 2019 diperpanjang oleh Direktur Jendral Pendidikan Islam menjadi lima tahun karena pihak Kemenag merasa peduli dengan eksistensi pesantren salaf yang tetap memegang teguh prinsip yang dimilikinya tanpa mengubah substansi di dalamnya. Baca juga: Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir Penyetaraan ijazah muadalah tersebut merupakan apresiasi pemerintah terhadap pesantren yang dinilai memiliki jasa begitu besar bagi negara, banyak pesantren-pesantren besar di Indonesia mendapat apresiasi tersebut antara lain Lirboyo, Ploso, dan al-Anwar, Sarang, Rembang. Bukan hanya itu, Pondok Pesantren Sidogiri rupanya telah menerima penyetaraan ijazah muadalah sejak empat tahun yang lalu. Hal tersebut diungkapkan oleh Ust. Alil Wafa, Wakil Kepala Madarasah Tsanawiyah. “Sebuah apresiasi pemerintah bahwa Sidogiri layak disetarakan dengan institusi yang berada di bawah naungan Diknas tanpa harus mengubah isi (kurikulum pelajaran madarasah),” ucapnya. Baca juga: Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah Di samping itu pula, dengan adanya pertimbangan penyetaraan ijazah tersebut telah berjalan sesuai dengan undang-undang negara tentang pendidikan yakni UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan, peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan dan undang-undang lainnya yang sesuai dengan amendemen yang berlaku. Baca juga: Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Di antara butir keputusan Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin yang ditetapkan di Jakarta pada 18 juni 2019 adalah peserta didik pada satuan pesantren yang dinyatakan lulus dan memperoleh ijazah muadalah berhak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi baik sejenis atau tidak, sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku. Baca juga: Ust. Achyat Ahmad: Rasionalisme dan Khabarun-Shadiqun Yang Dibuang Oleh karena ijazah Tsanawiyah sudah disetarakan, maka pihak madarasah perlu menambah pelajaran umum sebagai sisipan agar nantinya nilai mata pelajaran umum tersebut dapat tercantum buku laporan nilai. Baca juga: Mentoring ACS, Sejarah Berdarah Wahabi...
Mengenang Slogan, “Kids Jaman Now”
Dua bahasa gabungan di atas memang sangat aneh, tapi viral di dunia maya. Di samping “bisnis ternak lele” tenar, kalimat dua bahasa pun ikut menjolak. Di antaranya, Kids Jaman Now. Awalnya, Kids Jaman Now dilontarkan oleh akun Kak Seto Gadungan. Akun tersebut, tidak diketahui pemiliknya, tapi “gentayangan” di mana-mana. Kebiasaan yang paling sering adalah menggabungkan dua bahasa. Sehingga jadilah kaliamat tersebut. Jika kita ‘irab, “Kids” merupakan jama’ dari bahasa Inggris “Kid” (anak, Indonesia). “Jaman” adalah plesetan dari kata “zaman”. Sedengkan “Now” memiliki arti: sekarang. Saat dirangkai, tiga kata tersebut bermakna: anak-anak zaman sekarang. Emang, kenapa dengan anak-anak zaman sekarang? Ya, tentu sangat gaswat. Pemuda zaman dahulu—atau katakan lah kids jaman old—sangat sulit bertemu dengan ajnabiyah. Sedangkan zaman sekarang—atau istilah kids jaman now—tidak hanya bertemu, malah berani menjalin hubungan. Bahkan pemuda yang jomblo pun terasa asing di depen mata. Untuk itu, seharusnya kita bersyukur pada Kak Seto Gadungan, yang telah membuat kalimat, “kids jaman now”. Minimal dengan istilah itu, mereka malu dengan apa yang telah mereka perbuat. Syukur-syukur jika bisa bertobat. Dugaan saya, Kak Seto Gadungan terinspirasi dari dawuh Mas d. Nawawy Sadoellah, yang berupa, “Sidogiri bhíyén, Sidogiri saíkí”. Dawuh itu merupakan pembedaan plus penyamaan antara Sidogiri dulu dengan Sidogiri sekarang. Di katakan penyamaan karena memang tujuan awal adalah memaparkan bahwa Sidogiri dulu, adalah Siogiri sekarang. Tapi jangan bangga dulu. Sebab di balik perkataan itu, ada benang pembeda yang sangat jelas. Yaitu, pemilahan Sidogiri dulu dengan yang sekarang. Meski statusnya sama-sama santri Sidogiri, tapi bisa dibedakan, yang mana yang lawas, dan mana yang baru. Jika memang keduanya sama, mana mungkin ada istilah bhíyén dan saíkí. Dari sanalah, Kak Seto Gadungan membuat kalimat persis tapi dengan campuran bahasa Inggris, bukan Jawa. Yaitu, Kids Jaman Now. Muhammad ibnu...
Ust. Achyat Ahmad: Rasionalisme dan Khabarun-Shadiqun Yang Dibuang
Anggota Annajah Center Sidogiri (ACS) semester 4 ikuti mentoring di ruang Istirahat Guru al-Ghazali lantai I, Senin Kemarin (02/12). Dengan tema pembahasan adalah rasionalisme, yang dimentori oleh Direktur ACS, Ust. Achyat Ahmad. Anggota ACS yang duduk di semester IV merupakan anggota yang khusus dalam pembahasan kontra liberal. Maka pada malam senin kemarin, mentoring membahas tentang latar belakang adanya paham rasionalisme dan aspek-aspek lain dalam liberalisme. Baca juga: Annajah Centre Sidogiri; Antisipasi Gerakan Syiah dan Wahhabi Dalam penyampaiannya kemarin, Ust. Achyat Ahmad mengawalinya dengan pembacaan ummul-kitab, agar diskusi atau mentoring berjalan lancar dan barakah. Kemudian beliau meneruskannya dengan mengartikan apa itu rasionalisme, yang dalam bahasa Arab-nya, al-aqliyah. Al-aqliyah adalah suatu pandangan khas Barat yang segala sesuatunya diukur berdasarkan akal. Sehingga apabila ada sesuatu yang menurut mereka sudah sesuai dengan akal maka, itu dikatakan ilmiah. Hal ini berlaku sebaliknya, yakni apabila tidak sesuai dengan akal maka disebut tidak ilmiah. Baca juga: ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal Lebih jelasnya, ust. Achyat menjabarkan dari mana paham rasionalisme di Barat ini tumbuh. Bahwasannya, rasionalisme timbul dari pengalaman sejarah orang-orang Barat dengan agama. Dimana lebih dari seribu tahun, bangsa Barat telah tunduk pada agama Kristen. Menurut Barat, agama Kristen memiliki aspek-aspek yang sulit diterima oleh akal, baik dari konsep teologinya hingga konsep tentang alam semesta. Bahkan sampai-sampai di Barat muncul ungkapan; ‘saya beriman karena tidak paham, dan karena saya tidak paham maka saya beriman’. Sehingga menurut Barat, agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang tidak dapat dipertemukan. Karena, jika mempelajari agama menggunakan ilmu pengetahuan, itu tidak masuk dalam akal, sehingga sulit dinalar. Jika mempelajari ilmu pengetahuan, agama seolah membatasi ruang lingkup akal pikiran. Hal inilah yang menyebabkan di Barat, banyak orang yang beriman tanpa pemahaman. “Latar belakang terbentuknya paham rasionalisme adalah pengalaman sejarah Barat dengan agama Kristen. Hingga pada Abad ke-15 terjadilah zaman kebangkitan atau abad Renaisans (renaissance) dimana Barat memberontak terhadap Bible yang melahirkan suatu paham disebut sekularisme, pemisahan urusan dunia dan agama”. Jelas Ust. Achyat. Baca Juga: ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel Paham Rasionalisme Barat menjelaskan bahwa sesuatu yang dianggap ilmiah itu apabila mampu ditangkap panca indra dan masuk akal. Hal ini berbeda dengan yang diajarkan dalam agama Islam, bahwa penyampaian ilmu itu dapat diterima dengan panca indra, masuk akal, dan khabrun-shadiqun atau kabar yang benar (Wahyu atau hadits). Nah, di Barat Khabarun-Shadiqun ini ditiadakan. Sehingga yang dikhawatirkan, apabila khabarun-shadiqun ditiadakan, maka segala sesuatu yang menurut barat tidak masuk akal akan dianggap tidak ilmiah. Misalnya saja, wahyu Allah, akal tidak pernah mampu menerimanya apabila hanya diukur dari panca indra saja tanpa khabarun-shadiqun. Karena siapakah yang pernah melihat wahyu?, maka perlu adanya khabar yang benar sebagai...
5 Adab Rekreasi
Syarat sah liburan adalah berlibur. Ya, berlibur ke suatu tempat. Sebab “pulangan” serasa hambar jika hanya dihabiskan di kampung halaman. Siapa pun orangnya, pasti menyukai tamasya. Menghirup oksigen di wilayah lain, serasa mencicipi hidangan dengan menu berbeda. Dengan kata lain, memiliki kesan tersendiri. Tapi bagi santri, menimbang positif dan negatif adalah sebuah kewajiban. Karena jika terlanjur “basah” dengan perkara negatif, maka sulit untuk menghindar. Bahkan merasa nanggung. Untuk itu, perhatikanlah lima point berikut: Pertama, mendapat izin dari keluarga. Lantaran pengelananya adalah seorang santri, mbokyo jaim (jaga image). Background santri adalah akhlak. Sedangkan akhlak mengajarkan pamit. Ya, pamit sebelum berpergian. Jika seandainya tidak diperbolehkan. Diam saja. Mengingat, orang tua hanya akan memberikan yang terbaik pada anaknya. Mustahil ada orang tua yang berniat buruk kepada putranya. Jika orang tua melarang. Berarti itu yang terbaik. Sebab orang tua lebih bisa memilah antara yang baik dengan yang buruk kepada anaknya. Kedua, cek dulu tempat yang ingin dituju. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, jika kita teledor menentukan, maka sulit menghindar. Ya, termasuk wisata yang akan kita kunjungi. Wisata domistik banyak ragamnya. Ada yang halal ada pula yang tidak. Untuk itu, jika ada yang halal ngapain kita pilih yang haram? Ingat, batasan israf adalah mengeluarkan uang recek untuk kemaksiatan. Bukan uang miliaran untuk ibadah. Ketiga, memahami betul konsep dasar fiqhus-safar. Mana yang dapat rukshah dan mana yang tidak. Sehingga kita tidak rancu mengamalkannya, alias “setengah matang”. Keempat, lantaran malaikat maut sering ada di jalanan, seyogyanya kita memiliki teman di sekitar tempat wisata tersebut. Agar tidak bingung saat terjadi sesuatu. Kelima, memakai pakaian seadanya. Dengan kata lain jangan terlalu norak. Sebab meski liburan, kita tetap santri. Santri harus jaim. Bahkan lebih bagus jika kita memakai kopyah dan sarung. Agar nuansa kepesantrenan tetap ada. Dengan kata lain, menyebarkan syiar Agama. Semua itu, tidak boleh dilupakan. Sebab lima item itulah yang akan menjaga “kelezatan” cita-rasa pesantren. Vakansi boleh, asal lima point di atas! Muhammad ibnu...
Setelah Baca Artikel Ini, Masihkah Anda Ingin Ganti Profesi?
Pernah suatu ketika saya merasa salah memilih daerah. Lantaran terlanjur mengikuti program Tahfîdzul-Mutûn, rutinitas lainnya serasa rancu. Sering saya berpikir, bahwa derah penghafal kitab tidak cocok kepada saya yang IQ rendah. Dan mungkin hal itu juga pendapat Anda. Dilema itu tidak hanya dirasakan saya sendirian. Akan tetapi banyak sahabat saya yang ingin pindah derah, karena merasa tidak cocok dengan daerah asalnya. Akan tetapi, sebelum memutuskan pindah daerah, simak dulu penjelasan Kak Mir dibawah ini: Pernah suatu ketika teman bilik berkata, “Karakter saya (yang pemalu, red) ini, yang menuntut saya meninggalkan musyawarah,” atau perkataan teman kelas saya, “Saya tidak bakat jadi penulis!” Kedua perkataan diatas mewakilkan semua ideologi kebanyakan santri. Yaitu, mengukur kesuksesan dengan karakter dan bakat. Padahal banyak sekali orang sukses yang tidak sesuai dengan karakter aslinya. Sebagai tamtsil: pada zaman jahiliyyah ketika kekejaman dan kejahiliyahan bertebaran di tanah Arab, ada salah satu orang yang lebih menonjol kekejamannya. Orang yang bertubuh besar ini sangat kejam dan suka judi. Bahkan, ia tega memendam hidup-hidup anaknya sendiri. Orang besar itu bernama Umar bin Khatthab. Beliau adalah khalifah yang adil dan penyayang. Baginya, daripada melihat rakyatnya menderita, lebih baik dirinya sendiri yang menderita. Bahkan, setiap malam, beliau rela mengontrol rakyatnya dengan memikul karung sendiri. Air matanya sering kali pecah lantaran tidak tega pada rakyatnya yang miskin. Begitupun dengan Afgan Syah Reza. Sebelum ia terkenal sebagai musisi, dia terkanal pemalu. “Waktu kecil saya jarang sekali ngomomg. Sampai-sampai ditanya guru pun tidak menjawab. Karena pada dasarnya saya pemalu,” begitulah ucapan Afgan saat diwawancarai. Bukankh sifat pemalu bertolak belakang dengan musisi. Begitupun Abdul Mun’im Idries. Dia adalah dokter forensik ternama di Indonesia. Teman kesehariannya adalha mayat, untuk diotak-atik. Padahal semasa dia menjabat sebagai doker di RS. Cipto Mangunkusumo, dia terkenal orang yang mudah jijik. Sungguh profesi yang berseberangan dengan karakternya. Samahalnya bintang film Tom Hanks yang dulunya sangat pemalu, tapi kini ia mencintai dunia akting. Atau seperti sang diktator Hitler yang terkenal dengan kekejamannya, tapi di sisi lain dia adalah seniman. (Lebih lengkapnya lihat di buku NO EXCUSE, karya Isa Alamsyah) Oleh karena itu, sangat tidak mungkin jika kesuksesanmu terhambat oleh karakter. Menyalahkan karakter, sama halnya menyalahkan Tuhan. Karena sifat seseorang adalah aslul-khilqah. Jika dilihat lebih teliti, kamu dapat menyimpulkan bahwa, karakter manusia sebenarnya sama. Yang membuat berbeda adalah lingkungan. Jika sedari kecil ditakut-takuti dengan hantu, maka menjadi penakut. Begitu sebaliknya. Karakter bukan sesuatu yang permanen. Bisa diubah sesuai keinginan. Tinggal satu kata buat kamu: IKHTIYAR. Muhammad ibnu...