Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri dalam Pertemuan HMASS
Des02

Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri dalam Pertemuan HMASS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه. ام بعد. Saudara-saudara pengurus HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) sekalian. Marilah kita telebih dahulu memaknai pertemuan dan pelantikan pengurus HMASS ini dengan pemaknaan yang hidup, memahami dan menjiwai keterlibatan kita di dalam organisasi ini layaknya organisme dengan peran yang sangat vital, betapapun mungkin peran itu terlihat sangat kecil dan begitu spele. Karena bagaimanapun, peran kecil yang menjadi tugas kita, bertalian erat dengan peran kecil yang menjadi tugas teman kita, dan peran lain yang menjadi tugas lembaga lain, dalam suatu organisasi. Sehingga jika ternyata peran yang kita jalankan ternyata eror, jelas itu akan memberikan pengaruh pada peran yang dijalankan oleh teman kita, dan jika kerusakan itu kemudian berantai, pasti itu akan memberikan masalah serius pada lembaga kita, lalu berdampak buruk pada organisasi kita secara keseluruhan. Karena itu, jangan pernah saudara-saudara sekalian menganggap sepele terhadap tugah yang telah diamanatkan oleh Pengurus, dan tanamkan di dalam hati saudara-saudara sekalian bahwa keberadaan saudara-saudara sangat penting, dan tugas yang saudara-saudara sekalian emban sangatlah penting dan wajib dijalankan dengan sebaik mungkin, demi tercapainya tujuan besar dari organisasi ini. Sebab agenda besar organisasi tidak mungkin dipikul oleh satu dua orang, sehingga kita semua yang ada di sini dilibatkan untuk memikulnya secara bersama-sama. Memang kemudian masing-masing dari kita hanya mendapatkan potongan-potongan kecil yang terasa ringan kita pikul, tapi itu sangat penting dan tidak boleh kita sepelekan. Baca juga: Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir Dengan demikian, memaknai setiap pelantikan, setiap rapat dan setiap kegiatan yang kita jalankanadalah niscaya bagi kita semua, agar setiap perputaran agenda khidmah yang kita jalankan adalah niscaya bagi kita semua, agar setiap perputaran ageda khidmah yang kita gulirkan menjadi bergairahdan searah dengan visi-misi organisasi, tidak statis, kaku, dan berjalan begitu saja tanpa pemaknaan yang berarti; pokoknya program sudah terlaksana, yang penting sudah menggugurkan kewajiba. Menjalankan program dengan setengah hati seperti itu tidak bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi organisasi, kalau tidak malah membebani. Sungguh, hal semacam ini sangat tidak diharapkan terjadi pada saudara-saudara sekalian. Maka dalam setiap rapat dan pertemuan, melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan programtidak kalah pentingnya dengan telaksananya program-program itu sendiri, agar kita bisa mengukur apakah program yang terlaksana sudah senafas dengan ruh organisasi atau tidak. Saudara-saudara pengurus HMASS sekalian. Harus saya katakan bahwasaudara-saudara sekalian memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki oleh alumni-alumni santri pada umumnya, yang mungnkin hanya sempat mengenyam pendidikan di pesantren, lalu boyong dan berkiprah di masyarakat dengan profesi masing-masing. Adapun para alumni santri yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, mereka telah mengarungi dua alam yang berbeda, yaitu dunia oesantren dan dunia perguruan tinggi, sehingga bisa memahami dua dunia...

Selengkapnya
Siapa Umar Mukhtar?
Des01

Siapa Umar Mukhtar?

Jika Anda pernah membaca buku Umar Mukhtar, Napak Tilas Jihad Singa Padang Pasir karya Dr. Ali ash-Shallabi, atau pernah melihat film The Lion of the Shert dezert, Anda pasti bertanya, kenapa sosok tua renta seusia Umar Muktar masih gigih dalam berperang? Memang jauh dari pikiran, kakek-kakek yang berkuda dan bersenjata senapan angin, melawan Fasis Italia yang bersenjata tank dan pesawat tempur. Akan tetapi, tak ada perkara mustahil di dunia ini, selagi memiliki prinsip dan tekad kuat. Begitupun Umar Mukhtar. Beliau memilki prinsip yang perlu digarisbawahi. Pertama, dalam kitab Hayât Umar Mukhtar dijelaskan, bahwa beliau merasakan muraqabah (pengawasan) dari Allah SWT. Dengan begitu, segala sesuatu yang ia miliki—bahkan nyawa—beliau pertaruhkan di jalan Allah SWT. Kedua, karena Umar Mukhtar dibesarkan dalam lingkungan as-Sanusiyah, beliau ingin menuntaskan misi as-Sanusiyah. Yakni, menyebarkan risalah Islam, menyampaikan amanah, memberikan peringatan, dan anjuran, serta mengajarkan al-Quran. Ketiga, dalam melaksanakan agama, beliau tidak mengambil “setengah matang”. Beliau tahu, jika agama diambil secara parsial niscaya akan memperbesar urusan. Dalam kitab Umar Muktar, Hayâtuhu wa Jihâduhu tertera bahwa, setiap tindakan, beliau telah meneliti dengan detail. Keempat, jihad Umar Mukhtar ditempuh dengan cara ikhlas, tanpa mengharapkan royalti dan popularitas. Sehingga tak sedikitpun ancaman dapat membendung semangat beliau. Oleh karena itu, orang Eropa takjub akan kisah perjalanannya. Sebagaimana yang telah dilansir dalam majalah Times pada tanggal 17 September 1931 M. Dengan judul arikel, Kemenangan Italia tertulis, “Umar Mukhtar tidak mau menerima pemberian harta dari Italia. Dia telah mempersembahkan sesuatu yang dia miliki di jalan jihad, dan dia hidup di atas amunisi yang diberikan oleh para pengikut setianya. Dia menganggap semua kesepakatan yang dibuat orag kafir hanyalah tulisan di atas kertas belaka. Banyak orang kagum padanya, berkat kesemangatan yang tulus. Dia merupakan sosok yang terkenal dengan keberaniannya.” Selain itu itu, John dalam bukunya A History of Libya berkomentar, “Kontribusinya selama sembilan tahun sangatlah besar, mulai dari perang hingga mengorbankan diri. Bagi Umar Muktar, tantangan, pengorbanan dan mati syahid adalah sebuah prinsip mulia.” Dari itu, kita memahami, betapa penting sebuah prinsip. Kekuatan takkan bisa menjadi penentu kemenangan. Akan tetapi yang menjadi “wasit kemenangan” hanyalah prinsip. Dengan alasan apanpun, prinsip tetap berada di garda terdepan. Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir
Des01

Pelantikan PC – HMASS se-Indonesia dan Mesir

Sabtu Malam Ahad (01/12) Pelantikan Pengurus Cabang Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (PC –HMASS) se-Indonesia dan Mesir masa Khidmah 1441-1442 H resmi dilantik. Pelantikan yang dihadiri Mas H. Achmad Sa’dulloh bin KH. Abd. Alim Abd. Djalil, selaku Ketua PP IASS bertempat di Gedung Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Pondok Pesantren Sidogiri. Selain pelantikan, acara tersebut juga diisi dengan Rapat Koordinasi PP dan PC HMASS. Pelantikan yang dihadiri puluhan pengurus pusat dan pengurus cabang HMASS seluruh Indonesia ini berjalan antusias. Pada tahun ini HMASS melantik 6 Pengurus Cabang HMASS baru, diantaranya adalah Mesir, Kalimantan Timur, Lumajang, Jombang, dan lain-lain. Total yang hadir pada malam itu adalah 99 orang perwakilan cabang. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri Acara demi acara pada malam itu berjalan dengan lancar. Pembacaan ayat suci al-Quran oleh perwakilan pengurus cabang Jember berlangsung khidmah menyentuh qalbu. Setelahnya adalah acara menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh perwakilan cabang Malang. Acara dilanjutkan dengan Taujihat dari Koordinator PP IASS Mas d. Nawawy Sadoellah, yang dibacakan oleh Mas H. Achmad Sa’dulloh bin KH. Abd. Alim Abd. Djalil. Baca juga: Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah Dalam taujihatnya, Mas d. Nawawy Sadoellah mengajak untuk memaknai terlebih dahulu pertemuan dan pelantikan pengurus HMASS ini dengan pemaknaan yang hidup, memahami dan menjiwai keterlibatan kita di dalam organisasi ini layaknya organisme dengan peran yang sangat vital, betapapun mungkin peran itu terlihat sangat kecil dan begitu sepele. “Karena itu, jangan pernah saudara-saudara sekalian menganggap sepele terhadap tugas yang telah diamanatkan oleh pengurus, dan tanamkan di dalam hati saudara-saudara sekalian bahwa keberadaan saudara-saudara sangat penting, dan tugas yang saudara-saudara sekalian emban sangatlah penting dan wajib dijalankan dengan sebaik mungkin, demi tercapainya tujuan besar dari organisasi ini”. pesan Mas d. Nawawy yang dibacakan oleh putera Kiai Abdul Alim ini. Baca juga:  Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Dalam pelantikan Pengurus Harian HMASS tidak ada perubahan yang signifikan, hanya mengganti dua ketua saja. Ketua 3 Ahmad Nurul Holil. M.Pd, dan Ketua 4 Ahmad Fauzi. S.pd.I. Penulis: Musafal Habib Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Ulasan: Perpus Digital Hadir Dengan Tampilan Baru
Nov30

Ulasan: Perpus Digital Hadir Dengan Tampilan Baru

Selain koleksi kitab dan buku, Perpustakaan Sidogiri memberi fasilitas komputer untuk tingkat Aliyah dan Kuliah Syariah demi menambah wawasan terkait peristiwa, informasi, dan hiburan. Tim IT menyajikan empat belas unit komputer agar dapat meningkatkan daya tarik pengunjung ke Perpustakaan. Baca juga: Mentoring ACS, Sejarah Berdarah Wahabi Di samping itu, setiap orang memiliki durasi maksimal 25 menit per-shift demi menjaga kondisi perpus digital lebih efisien dan kondusif. “Aturan ini ditegaskan supaya menghindari antrian yang overload, dan agar lebih teratur,” jelas Ust. Latif Romadon, Ketua Tim IT Perpustakaan Sidogiri. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri Selanjutnya, jam buka Perpus Digital tidak bersamaan dengan jam buka perpustakaan, untuk shift pagi dibuka dari jam 07.00-09.00 Wis pagi, 01.00-03.00 Wis siang. Khusus malam Selasa perpus digital ditutup dan dibuka kembali setelah musyawarah Kuliah Syariah. Selain itu, pengguna komputer hanya dari tingkatan Aliyah saja. Sesuai dengan peraturan pesantren. Baca juga: Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah Penanganan Perpus Digital kali ini lebih terjaga secara maksimal. “Kami memberi penanganan khusus untuk komputer yang telah ditangani oleh ahlinya, supaya tidak kesulitan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” jelas pria asal Lumajang itu. Tim IT menyajikan video-video menarik sesuai trending luar pesantren. Selain itu, terdapat tampilan baru seperti video hasil dokumentasi Pondok Pesantern Sidogiri di YouTube, dakwah-dakwah para dai. Namun, bukan hanya video saja, pengurus juga menyediakan kitab dalam bentuk PDF. Baca juga:  Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Meski demikian, pengurus senang melihat keadaan pengunjung yang memanfaatkannya “Mumpung ada kesempatan, gunakan sebaiknya. Selain menyimak video-video, ringankan tangan untuk membuka PDF kitab yang kami siapkan sebagai tambahan wawasan,” pungkasnya....

Selengkapnya
Kenapa Mazhab Empat Berbeda?
Nov30

Kenapa Mazhab Empat Berbeda?

Terkadang dibenak kita terbesit pertanyaan, “Kenapa pendapat para ulama itu berbeda-beda? Padahal semua memiliki dasar hukum yang sama?” Sebenarnya, dalam sistematika perumusan dalil tidaklah sama. Sebab, dari kalangan mazhab memiliki metodologis menyusun sistematika sendiri-sendiri. Sehingga ada dalil yang terkadang disepekati dan tidak disepakati oleh ulama, lalu hal itu melahirkan hukum yang beraneka-ragam. Perbedaan itu tidak hanya terjadi dalam aspek intensitas dan otoritas penggunaan dalil. Akan tetapi, perbedaan itu menyangkut dalil non-permanen yang tidak dianggap sebagai dalil oleh kalangan yang lain. Berikut sebagian perbedaan sistematika perumusan hukum dari empat mazhab: Mazhab Hanafi Hasan Abu Thalib dalam kitabnya Tathbiq Asy-Syari’ah Fil-Bilad Al-Arabiyah, menjelaskan bahwa usulul-istinbat dan sistematika mazhab Hanafi adalah al-Quran, Sunnah, Atsâr, Ijmâ’, Qiyâs, Istihsân dan ‘Urf. Hal ini berdasarkan pernyataan Abu Hanifah sendiri yang berbunyi,“Saya berpegangan kepada Kitab Allah, bilamana saya menemukannya. Apabila tidak, maka saya berpegangan kepada Sunnah dan Atsâr. Bila masih belum menemukan, maka saya mencari pendapatnya sahabat dan mengambil yang saya sukai dan membiarkan yang lain, dan tidak akan pindah dari pendapat mereka kepada pendapat lain. Sedangkan jika persoalan sampai kepada Ibrahim as-Sya’bi, Hasan al-Bisri, Ibnu Sirrin dan Said Ibnu Musayyab, maka saya akan berijtihad…” Dari kutipan itu, sangat jelas bahwa Imam Abu Hanifah meletakkan al-Quran pada urutan pertama, disusul dengan Sunnah hingga ditutup dengan ‘Urf. Mazhab Maliki Selayaknya mazhab lain, Imam Malik pun menyusun kerangka ushulul-mazhab-nya. Akan tetapi, dengan urutan berbeda, yakni: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, ‘Amal Ahli Madinah, Mashâlih Mursalah, Istihsân, Dzara’i’, ‘Urf dan Istishâb. Perbedaan yang sangat mencolok adalah penerapan dalil ijtihad yang mereka pegangi, terutama dalam ‘Amal Ahli Madinah. Bahkan menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Malikiyah lebih dominan menggunakan ‘Amal Ahli Madinah. Mazhab Syafi’i Berbeda dengan sistematika yang dirumuskan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam Syafi’i menolak jika Istihsân disebut dalil hukum. Bahkan beliau mengarang kitab Ibthâlul-Istihsân, sebuah kitab khusus yang menolak Istihsân sebagai dalil. Beliau lebih suka Istinbâtul-Hukum dari al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyâs. Terkadang—menurut Hasan Abu Thalib—Imam Syafi’i menggunakan Istishâb dan Maslahah Mursalah sebagai sumber dalil. Mazhab Hambali Urutan sistematika pengambilan hukum dalam mazhab Hambali sebagai berikut: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, Istishâb, Mashâlih, Saddudz-Dzara’i’ dan Qaulush-Shahâbi. Menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Hambali lebih mendahulukan Qaulush-Shahâbi dari pada Qiyâs. Mereka memakai Qiyâs sebatas dalam keadaan yang tidak darurat. Walhasil, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Mengingat, manusia diciptakan dengan sifat keberagaman. Dunia takkan indah jika tidak beragam. Maka dari itu, perbedaan umat Nabi Muhammad SAW adalah keunggulan, bukan kekurangan. Muhammad ibnu...

Selengkapnya