Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah
Nov24

Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah

Malam Ahad (23/11) digelar wisuda istimewa Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Idadiah yang ke-7 di lapangan selatan Pondok Pesantren Sidogiri. Tidak lain, untuk membangkitkan semangat belajar murid MMU Idadiah. Terhitung sebanyak 218 anak telah diwisuda Istimewa pada tahun ini, dengan rincian: 129 jumlah anak yang lulus seleksi setelah 4 bulam belajar Al-Miftah, 36 peserta Program Khusus (PK) Idadiah, 2 anak dari kelas Hadis (berhasil menghafal 1309 Hadis dalam Kitab Bulughul-Maram, kitab Baiquni, kitab at-Takhbir, nazham Alfiyah, nazham Zubad, dan Jauharatut-Tauhid), 51 dari kelas Alfiyah dan 3 penghafal al-Quran dari murid Idadiah. Baca juga:  Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Wisuda Istimewa pertama kali diadakan pada tahun 1435-1436 H, berlangsung di kediaman pengasuh dengan jumlah 11 peserta yang berhasil diwisuda. Sedangkan pada tahun sebelumnya (1440 H) hanya 184 peserta yang berhasil mencapai target satuan belajar dalam waktu 4 bulan dan berhasil diwisuda. Baca juga:  Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha Acara wisuda diresmikan oleh Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq. Setelah para wisudawan memasuki lapangan dengan diiringi daul dengan lagu-lagu Al-Miftah. Disusul dengan penghargaan untuk para wisudawan terbaik dan sambutan dari Koordinator Idadiah, Ust, Qusyairi Ismail. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Dalam sambutannya Ust. Qusyairi Ismail menekankan pada murid Idadiah agar senantiasa manjaga adab dan tatakrama. Beliau tidak hanya ingin murid Idadiah pintar membaca kitab, tapi juga memiliki akhlak yang terpuji. “Sebanyak apapun kitab yang dihafal, tapi akhlaknya nihil maka tidak ada apa-apanya.” Pesan beliau. __________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Miromly...

Selengkapnya
Mengintip Masa Lalu, Demi Masa Depan
Nov24

Mengintip Masa Lalu, Demi Masa Depan

وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Perhatikan pengalamanmu untuk hari esokmu” (Q.S. Al-Hasyr [59]:18). Semua pengalamanmu itu adalah palajaran untuk masa depanmu. Syaikh Wahbah az-Zuhaili menghimbau untuk memilah dan memilih pengalamanmu yang patut untuk dibudayakan dan yang diberdayakan. Ayah saya pernah berkata “pengalaman adalah guru terbaik”. Walaupun baik ataupun buruk tetap hal itu menjadi ‘Fan Pokok’ bagi masa depanmu. Semisal, jika Imda I Anda memuaskan dan nilainya bertambah tinggi maka analisalah faktornya untuk selalu dibudayakan dalam masa depanmu. Akan tetapi jika Imda I  Anda mengecewakan –semoga saja tidak— maka seleksilah kesalahannya kemudian berusaha mengantisipasi kesalahan tersebut mulai dini hari. Selagi Imda III atau Imni –bagi yang kelas puncak— masih jauh dari ‘rabaan’ mata. Muhammad ibnu...

Selengkapnya
ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal’
Nov23

ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal’

Malam Sabtu (22/11) Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali menggelar pembukaan untuk semester ke-dua yang dikemas dalam seminar ilmiah bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal’. Acara yang bertempat di ruang auditorium sekretariat lantai II tersebut, dihadiri oleh Ust. Ahyat Ahmad, direktur ACS, segenap pengurus ACS dan seluruh anggota ACS. Ust. Ahmad Dairobi Naji, dewan pakar Aswaja dan Redaktur Sidogiri Media, diundang sebagai narasumber untuk mengisi seminar tersebut. Baca juga: Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Sambil menunggu datangnya narasumber, Ust. Moh. Zaki Ghufron, wakil I ACS, menjelaskan mengenai sedikit perubahan program ACS pada semester II tahun ini. Yakni, pelaksanaan mentoring pada semester II akan dikurangi. Mentoring yang biasanya dilaksanakan tiga kali dalam satu minggu akan dikurangi menjadi dua kali. Hal ini dimaksudkan agar para anggota ACS dapat mengkaji secara tuntas tema yang telah ditentukan. Baca juga: Pembagian Hadiah IMDA I Ibtidaiyah, Ust. Muntahal; Hormati Ilmu Seminar dimulai setelah sambutan dari Ust. Moh. Zaki Ghufron. Dalam penyampaiannya, Ust. Ahmad Dairobi Naji menjelaskan faktor utama kita (Ahlusunah wal Jamaah) disebut Radikal atau Liberal oleh sebagian orang. Pertama, karena mereka tidak tahu. Kedua, karena fanatisme buta pada apa yang mereka pegang. Ketiga, karena mereka cinta pangkat dan jabatan. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Selain itu beliau juga menegaskan agar kita tidak takut dengan tuduhan radikal atau semacamnya selama yang kita pegang adalah prinsip-prinsip akidah Ahlusunah wal Jamaah. “Jangan takut pada sebutan Radikal jika kita berpegang teguh pada prinsip-prinsip akidah kita. Selama dakwah kita ramah dan santun kita tidak perlu risau dengan sebutan Liberal. Risaulah disebut Liberal jika kita malas membela jalan yang benar.” Tegas beliau. Acara diakhiri dengan doa setelah beliau menerima pertanyaan dari tiga anggota ACS. Baca juga: Antara NU dan Aswaja Baca juga: Ust. Fauzan Imron: Nabi Adam Tidak Pernah Bermaksiat _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Miromly...

Selengkapnya
Perbedaan Akad Salam dan Transaksi Pesan
Nov22

Perbedaan Akad Salam dan Transaksi Pesan

Pemesanan adalah suatu transaksi yang lumrah terjadi di Indonesia dan di kalangan santri. Akan tetapi, sungguh teragis jika mereka yang melakukan transaksi tersebut tanpa mengetahui hukum dan akadnya, sebagian dari mereka berstatement bahwasannya transaksi pesanan itu masuk ke transaksi salam. Maka dari itu, penulis akan menuliskan segelintir masalah transaksi pesanan dan transaksi salam. Pendahuluan Artikel ini hanya sebagai antitesis pada seseorag yang memasukkan transaksi pemesanan pada transaksi salam. Maka dari itu, penulis hanya menfokuskan pembahasan pada Konsep dasar transaksi salam Kontradeksi antara transaksi pesanan dan transaksi salam. Tujuannya hanyalah sebatas Mengetahui esensi transaksi salam. Mengetahui perbedaan yang mencolok antara transaksi pesanan dengan transaksi salam. Konsep Dasar Salam Dalam bab ini penulis akan menuturkan Devinisi, syarat-syarat, personalia yang terlibat dan wajib dipenuhi dalam transaksi salam. Devinisi Sebelum kita membahas panjang lebar transaksi salam, alangkah baiknya jika kita mempelajari devinisinya terlebih dahulu. Devinisi salam secara etimologinya adalah salaf, sedangkan salaf itu sendiri adalah kontan dan didahului. Salam dan salaf esensinya hanyalah sinonim belaka. Akan tetapi hanya terjadi ontradeksi etimologi negra saja. Salam adalah etimologinya penduduk Arab Saudi (hijaz), sedangkan salaf adalah etimologinya bangsa Irak. Salam secara terminologinya adalah menjual sesuatu yang jelas kriterianya (ciri-cirinya) yang ada dalam lingkup dzimmah (tanggungan) disertai kalimat salam dan salaf. Sedangkan devinisi dzimmah itu sendiri ditinjau dari segi etimologinya adalah : Janji dan Aman, sedangkan secara terminologinya adalah : Tanggungan yang terbebas dari tuntutan syariah dan paksaan. Faktor transaksi ini dinamai dengan nama salam karena modalnya diserahkan ketika pemesanan. Faktor transaksi ini dinamai dengan salaf karena modalnya didahului dari pada barangnya. *) pendevinisian ini hanyalah bertujuan agar pembaca arahan transaksi salam. Dasar transaksi salam Berdirinya transaksi ini berdasarkan cikal bakal Alquran yang berbunyi [Al-Baqarah, 282] Artinya: Ibnu Abbas menefsirkan bahwasannya ayat tersebut diturunkan dalam permasalahan transaksi salam sendiri. Selain itu, transaksi salam juga berdiri berdasarkan sabda nabi Muhammad Saw. Yang artinya “barang siapa yang ingin berakad salaf. Maka, dahului menentukan timbangan, takaran, masa yang tertentu”. Diriwayatkan oleh imam Bukhari [2240] dan imam Muslim [4202]. Hal-Hal yang terlibat dalam akad salam Didalam semua transaksi pasti akan melibatkan personel-personel. Karena transaksi sangat bekaitan dengan sosok yang akan terlibat di dalamnya. Begitu pula transaksi salam. Salam melibatkan (5) personel. Yaitu : Muslim (orang yang bertransaksi salam) Muslam Ilaih (orang yang menerima transaksi salam) Muslim dan Muslam Ilaih harus memenuhi (3) syarat. Yaitu: Diperbolehkan bertrensaksi secara mutlak : dengan artian Masa pubertas, Berakal, dan Cerdas. Tidak ada unsur pemaksaan : Transaksi salam harus terjadi dari kehendak diri. Tidak boleh dipaksa olah orang lain. Islam : syarat ini berlaku apabila muslam fih nya berupa kitab suci Alquran, Budak Islam dan lain semacamnya. Muslam Fih (barang yang di salam) Muslam fih  harus...

Selengkapnya
Daerah M Kembali Menggelar Musyawarah Fathul Qarib
Nov22

Daerah M Kembali Menggelar Musyawarah Fathul Qarib

Jumat (22/11), Pengurus  Daerah M kembali menggelar musyawarah Fathul Qarib  di halaman daerah M. Musyawarah diadakan untuk mengembangkan kemampuan dalam mencari ibarat fiqhiyah dan mampu menyampaikannya dalam forum diskusi. Musyawarah ini hanya diikuti delegasi dari asrama daerah M. “Selain memberikan pengalaman bagi peserta, kami juga mengharapkan dengan adanya acara tersebut bisa menumbuhkan gairah musyawarah santri Pondok Pesantren Sidogiri dalam mempelajari hukum-hukum fiqih,” terang salah satu pengurus Daerah M. Musyawarah yang dimulai setelah kegiatan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW  ini diikuiti oleh 3 orang perwakilan dari Musyawarah dan halaqah Fiqhiyah (Muhafa) dan masing-masing kamar Daerah M. Yang menjadi mushahih dalam musyawarah kali ini adalah Ust. Sofiullah Muhibbin, salah pengurus di instansi Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri. Sementara sebagai perumus datang dari Pembina Muhafa Daerah M, yakni Ust. Hasyim Asy’ari, Ust. Yusron, Ust. Muhammad Baihaqi, dan Ust. Hasanuddin. Sedangkan yang menjadi moderator adalah M. Luthfi, yang merupakan murid Program Khusus Idadiyah kelas Hadits. Pembahasan semalam berkaitan dengan apakah bisa melaksanakan shalat syiddatul Khouf (shalat saat keadaan takut sekali) ketika shalat ditengah hutan dan bertemu dengan pocong. Pembahasan menarik ini berhasil membuat suasana musyawarah tadi malam berlangsung seru dan ramai penonton. “Shalat Syiddatul Khouf yang dilakukan oleh teman-teman yang sedang camping dihutan itu, shalatnya harus diulangi lagi. Karena berdasarkan deskripsi soal yang ada ternyata pocong tersebut hanyalah salah satu dari mereka yang menyamar dan hanya ingin mencandai mereka. Jadi jelasnya shalatnya harus diulangi”, jelas salah satu perumus yang berkacamata. Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya