Merajut Impian Masyayikh
Nov22

Merajut Impian Masyayikh

Pembabatan tanah yang kita injak ini bukanlah hal yang mudah, hutan belantara tak berpenghuni. Akan tetapi seorang perantau gigih melakukannya. Bahkan dalam buku Jejak Langkah 9 Masyaikh Sidogiri [2×9.7/Omi/j/C.01] hambatan pada saat itu bukan hanya pohon raksasa, akan tetapi para jin dan beberapa hewan liar. Karena keberanian Mbah Sulaimanlah—panggilan masyhurnya—Milad tanah ini sudah mencapai ke-280 tahun. Kegigihan dan pengorbanan bukanlah sesuatu yang muncul pada setiap saat. Di dalam buku NO EXCUSE [158/Ala/n/C.01]  kesemangatan hanyalah terbangaun dari visi dan misi yang sangat jelas. Tak mungkin seseorang semangat tanpa tujuan yang pasti. Begitu pula Mbah Sulaiman, beliau pasti memiliki visi dan misi yang sangat jelas dan agung. Karena  sangat tak masuk akal jika mengorbankan harta, waktu dan tenaga untuk membabat hutan belantara yang angker dengan tanpa iming-imingan apapun. Untuk itu, KH Hasanie Nawawie merumuskan devinisi santri dengan jelas, agar konsep yang tertanam dalam diri santri tidak ‘konslet’. Mengingat santri harus tahu impian maha gurunya. Sebagai mana yang tertera dalam buku Biografi Ringkas Keteladanan Kiai Hasanie Nawawie [2×9.09/Bak/b/C.03]. Oleh karenanya, slogan ‘satu mimpi satu barisan’ muncul sebagai tema perayaan milad PPS ke-280. Mengingat sudah saatnya santri satu arah dengan impian para masyayikh, yakni mengkader ‘ibadillahish-shalihin. Gus Dur didalam antologi esainya Kiai Nyentrik Membela Pemerintahan [2×9.874/Wah/k/C.02] menjelaskan efek dari kebersamaan dalam mencari ilmu. Di esainya terdapat cerita tentang dua kiai yang kehidupannya sangat kontras, tapi itu saling menghormati satu sama lain. Bahkan efek kemasyrakatpun lebih maksimal. Pentingnya kekompakan juga tercermin dalam buku Dari Puncak Andalusia [900/Suw/d/C.01], mulai berdirinya masjid Kordoba sebagai pusat peradaban Islam, hingga menjadi bebak belur menjadi gereja. Kekompakan yang kami maksud disini adalah menjalani semua titah masyayikh, karena mimpi itu takkan tercapai selagi Anda belum melewati jalan yang disediakan oleh guru kita. Ingat! Penyebab kekalahan muslimin di peperangan Uhud disebabkan tidak taat pada titah Nabi, sebagai mana  dalam buku Analisis Aktual Perang Badar & Uhud...

Selengkapnya
NASYITH :  Siap Berevolusi dengan Kreativitas Tanpa Batas
Nov21

NASYITH : Siap Berevolusi dengan Kreativitas Tanpa Batas

Nasyith adalah salah satu dari beberapa media aktif di Pondok Pesantren Sidogiri yang menghadirkan topik terkini seputar dunia keremajaan. Berbeda dengan majalah dinding, Nasyith yang merupakan majalah cetak memiliki tantangan yang lebih berat, setiap akan terbit mereka harus mempertimbangkan jumlah cetakan dan pasaran. “Untuk nasyit sendiri kami harus benar-benar mempertimbangkan kualitas dan jumlah cetakan sebelum terbit, karena kita tidak mau majalah kita terbit, tapi asal terbit. Terbit ya harus ada kualitasnya. Selain itu kita harus cermat dalam hal percetakan, sekiranya jumlah yang kita cetak bisa memenuhi target pemasaran”. jelas Sabiq Ni’am selaku koordinator majalah Nasyith. Dalam hal keredaksian nasyit banyak membuka peluang bagi siapapun yang memiliki bakat menulis, tanpa ada ketentuan tingkat kelas. Dengan motto kreativitas tanpa batas, Nasyith memberi kebebasan bagi redaksinya untuk mengembangkan kualitas tulisan mereka, bagaimanapun caranya. “Untuk soal redaksi, pihak ISS tidak menentukan harus Aliyah , tapi siapapun yang dianggap mampu, maka dapat masuk, karena setiap orang pasti mempunyai keahlian masing-masing.” Terangnya. “Selain dalam hal kualitas tulisan, kami juga mengembangkan kualitas manajemen, karena setiap menerbitkan majalah, kita membutuhkan biaya. Nah, jika pemasaran tidak sampai memenuhi target, maka kita akan mengalami kerugian. Jika hal tersebut terus berlanjut, bisa-bisa kita tidak terbit lagi.”, Lanjutnya. Hal ini menjawab rasa penasaran santri, tentang kenapa beberapa tahun lalu Nasyith jarang terlihat. Sabiq Ni’am juga berpesan kepada para pembaca bahwa kita selaku santri harus menyemarakan dakwah, entah itu dalam bentuk ceramah, ataupun tulisan.“Jadikan nasyit bukan hanya sekedar majalah biasa, namun sebagai ajang untuk dakwah. Dengan tulisan yang kita buat, sekiranya dapat menunjukan seperti apa remaja yang seharusnya, dan bagaimana cara kita menyikapi perkembangan zaman. Dengan tulisan, kita juga dapat menyampaikan apresiasi yang selama ini kita pendam. Karena itu menulislah,” pungkasnya. Penulis: [Alf/Redaksi Majalah Dinding...

Selengkapnya
DeIslamisasi Buku Sejarah
Nov21

DeIslamisasi Buku Sejarah

Pada masa Dinasti Abasyiah, Qash (pencerita) identik dengan Khatib (penceramah) atau Waidz (pemberi nasihat). Karena pada zaman itu cerita (baca; Sejarah) lebih direspon oleh para audien daripada nasihat-nasihat yang dilontarkan oleh para orator ulung. Hal itu menjadi bukti bahwa pengaruh sejarah jauh lebih besar dari pada nasihat-nasihat para orator. Sebangai mana yang telah dipaparkan oleh K.H.A. Musthofa Bisyri dalam buku Episode-Episode Perjuangan Tanpa Pamrih[297.9/Tho/E/C.03] bahwasannya pada zaman itu para orator terus mengkaji dalam sejarah untuk dijadikan bahan materi ceramah. Karena pada zaman itu nasehat-nasehat sangat tidak laku. Karena sangat besarnya pengaruh sejarah kepada seseorang, Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya,Api Sejarah [906/Sur/A/C.03] berupaya menghancurkan Islam dengan cara deIslamisasi dalam penulisan sejarah. Sehingga masyarakat umum tertipu dengan sejarah palsu tersebut. Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam buku Episode-Episode Perjuangan Tanpa Pamrih[297.9/Tho/E/C.03] menuturkan, masyarakat umum tidak memperhatikan terhadap sejarah. Kalau Anda tidak percaya akan kami buktikan!. Di dalam kitab Rihlah ibnu Bathuthah[2×9.9/Ibn/R/C.01] ada sultan muslim yang sangat bijak yaitu Talmusyirin. Beliau masih cucu Jenghis Khan. Beliau menguasai wilayah yang sangat luas, manggabungkan beberapa wilayah, dan punya kekuatan militer yang amat tangguh. Coba jawab pertanyaan saya dengan se-jujur-jujurnya! Apakah anda pernah mendengar tentang sultan Talmusyirin?. Pernahkah ada raja Muslim yang memerintah Rusia? Kekuasaan mereka sangat spektakuler. Didalam kitab-kitab sejarah  wilayah mereka disebut dengan ‘Bulghar’. Ibukotanya tidak jauh dari Stalingrat. Apakah Anda juga pernah mendengar tentang raja Aurangzib, salah satu raja di India yang memiliki kemiripan dengan Khulafaur Rasyidin dalam segi prinsip hidup dan keberhasilan?. Jika anda tidak mengetahui hal itu maka, bagaimana mungkin kita dapat memilah dan memilih sejarah yang asli dan yang palsu?. Maka dari itu, seyogyanya bagi kita untuk semangat dalam belajar sejarah dengan tujuan meninggikan syi’ar Islam. Selain karena faktor keminiman masyarakat dalam mengetahui sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara memaparkan faktor lain didalam Api Sejarah [906/Sur/A/C.03] bahwasannya Sejarawan dalam menulis buku banyak bersumber dari barat. Contoh sejarawan nusantara yang sudah populer, R.K.H. Abdullah bin Nuh. Karya-karya beliau kebanyakan mengambil dari buku The Preaching of Islam karya sejarawan barat yang bernama Thomas W. Arnlod. Sehingga karya beliau sedikit mengalami deIslamisasi. Memang benar perkataan H.M. Iwan Gayo dalam bukunya Buku Pintar Seri Senior[915.98/Gay/B/C.03] bahwasannya penulisan suatu karya sangat sering terkendala oleh masalah data, materi dan akses informasi. Intinya, kita harus bangkit untuk menyuarakan sejarah yang asli den melawan sejarah yang telah mengalami deIslamisasi. Karena dengan menegakkan kebenaran, berarti kita menegakkan masa depan bangsa. Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283
Nov20

Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283

Malam Rabu (20/11) Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) ke-283 dan Haflah Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) ke-84 resmi dilantik. Pelantikan dilakukan sebelum pelaksanaan Rapat Pleno ke-1 oleh Mas Abdul Djalil Kamil, Ketua III PPS. Tahun ini, HM. Aminullah Bq, Ketua I PPS, dilantik sebagai koordinator I Milad, sedangkan koordinator II dipasrahkan kepada HA. Saifulloh Naji, Sekretaris Umum PPS. Adapun personalia panitia inti Milad Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-283 dan Haflah Ikhtibar MMU ke-84 adalah Ust. M. Rifqy Almahmudy sebagai ketua, Ust. Mahbub Shonhaji sebagai wakil ketua, Ust. M. Hamdan sebagai sekretaris, Ust. Abdulloh Yafi sebagai wakil sekretaris, dan Ust. Sakaruddin sebagai bendahara. “Mudah-mudahan dapat menjalankan amanah dengan baik,” kata Mas Abdul Djalil Kamil, selaku Ketua III PPS, saat melantik personalia panitia inti Milad PP. Sidogiri dan Ikhtibar MMU di ruang Auditorium Kantor Sekretariat Lt. II tadi malam. Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Al-Quran Kitab Sastra?
Nov20

Al-Quran Kitab Sastra?

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (QS. Yâsîn[36]:69). “Dan al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” (QS. Al-Hâqâh[69]:41). Al-Quran bukan kitab sastra—dan kita wajib meyakini itu—melainkan al-Quran adalah kitab petunjuk yang sarat akan sastra. Sastra yang sangat indah bagi yang memiliki bashîrah. Terbukti, banyak penyair kaget saat mendengarkan bahasa al-Quran. Lantaran di dalamnya terkandung banyak seni sastra yang tak pernah ketinggalan zaman, bahkan zamanlah yang tertinggal jauh pada al-Quran. Jika kekuatan metafora dalam puisi menjadi barometer keindahan, al-Quran pun tidak melupakannya. Surah At-Takwîr ayat 18 berbunyi, “Demi subuh bila bernafas.” (QS At-Takwîr[81]:18) Imam Suyuthi mengapresiasi (baca: mengartikan) ayat tersebut seraya mengatakan, “Bernafas itu hembusan sedikit demi sedikit, begitupula dengan keluarnya cahaya dari ufuk timur pada waktu fajar menyingsing perlahan.” Selain metafora, al-Quran sering menerapkan metode figuratif (atau yang lebih dikenal dengan istilah majaz). Di antaranya dalam surah Al-Qâri’ah ayat 9, “Maka ibunya adalah hâwiyah.” (QS Al-Qâri’ah[101]:9). Al-Quran melambangkan asuhan dengan seorang ibu. Dengan kata lain, pengasuh bagi orang buruk adalah neraka Hawiyah. Kiasan pun sesekali kita jumpai. “Istrimu-istrimu adalah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah temmpat bercocok tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki” (QS Al-Baqarah[2]:223). Ayat itulah di antaranya. Kata “bersanggama” oleh al-Quran dikiaskan dengan “cocok tanam”, agar lebih aman didengar. Sajatinya, tulisan ini hanya sebutir embun dari luasnya samudera al-Quran. Karena sudah jelas, dari zaman “Alif”, al-Quran tak pernah—dan mustahil—tertandingi. Muhammad ibnu...

Selengkapnya