🔴 LIVE Peringatan Hari Besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW
Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya, ya!
Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha
Malam Kamis (30/09) Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar kajian tafsir bersama KH. Bahauddin Nursalim. Bertempat di ruang Auditorium Sekretariat lantai II, acara yang menjadi agenda rutin Kuliah Syariah ini dihadiri oleh beberapa keluarga sidogiri dan beberapa santri Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam acara dimaksud, Gus Baha menjelaskan mengenai ‘ibarat “al-Ibrah bi-Umumil-Lafdzi la bi-Khususis-Sabab” yang ada di berbagai kitab tafsir. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Ulama asal rembang ini menjelaskan bahwa al-Quran itu merupakan ‘Khithabun lil-am’ (siapa saja terkena khitabnya al-Quran). Namun juga ada problem, jika khususis-sabab tidak dimasukkan pada disiplin ilmu tafsir maka juga berpotensi berbahaya. Semisal ayat: وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Jika kita menggunakan ‘bi-Umumil-Lafdzi’ maka kita boleh salat menghadap ke arah mana pun meninjau keumuman lafadz ayat tersebut, sehingga ulama berdebat, apakah mengkaji sebab itu mengikat atau tidak. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Menyikapi hal itu kita perlu mengetahui, benarkah suatu kejadian menjadi sebab turunnya ayat. “Hal ini juga berpotensi tidak benar karena al-Quran jauh lebih dulu ada (qadim), sedangkan kejadian yang menjadi penyebab turunnya ayat itu baru. Mana mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim.” Ungkap putera KH. Nursalim ini. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Kesimpulan dari keterangan beliau, kalamullah itu ada terlebih dahulu, kemudian sebagian kejadian yang baru itu masuk pada bagian keumuman lafadz, bukan menyebabkan turunnya ayat. Tidak mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim. “Karena kalamullah itu qadim dan ilmu Allah itu tidak menunggu terhadap terjadinya sesuatu maka kita mengambil Umumil-Lafdzi bukan Khususis-Sabab, karena hakikat sebab ini hanya juzun min ajzai mutakallam bih (juz dari bagian yang dibicarakan), bukan penyebab.” Jelas beliau panjang lebar. Oleh karenanya Allah sering menggunakan lafadz umum. Seperti ayat: إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ Menurut keterangan Gus Baha, khitab ayat ini adalah kepada Abu Jahal, karena sebab turunnya ayat ini adalah perilaku Abu Jahal. Tapi apakah sifat demikian tertentu pada Abu Jahal saja. Tentu siapapun yang merasa tidak butuh pada orang lain pasti dengan sendirinya akan Thagha (kewalahan). Jadi bukan hanya Abu Jahal yang memiliki watak seperti itu dengan meninjau keumuman lafadz ayat tersebut. Karena jika meninjau kekhususan ayat tersebut, yakni pada Abu Jahal, tentu tidak akan ada orang selain Abu Jahal yang bersifat demikian. Baca juga: Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Acara ini merupakan kali kedua beliau datang ke Sidogiri dan akan berlangsung setiap bulannya dengan kajian yang berbeda. _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi
Maulid Nabi adalah suatu nama perayaan yang telah banyak dikenal oleh masyarakat, utamanya umat Islam Indonesia. Acara ini digelar tepat pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 Rabiul Awal. Tujuan utama akan perayaan ini hanyalah sebagai bentuk syukur atas terutusnya baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari jalan kesesatan menuju jalan yang benar, yaitu agama Islam. Adapun hukum merayakan hari kelahiran beliau adalah sunnah. Sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha ash-Shirât al-Mustaqîm: فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَإتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنَ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم “Mengagungkan maulid dan menjadikannya tradisi, terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan ini termasuk pekerjaan yang besar pahalanya karena tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.” Bukan hanya Syaikh Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa merayakan maulid nabi termasuk pekerjaan sunnah. Syaikh Abu Syamah, salah satu guru Imam Nawawi, juga berpendapat demikian. Beliau berkata dalam kitab Al-Bâ’its ‘ala Ingkâr al-Bida’ wal Hawâdits: “Termasuk bid’ah yang paling hasanah pada zaman ini adalah merayakan maulid Nabi SAW.” Adapun sejarah perayaan maulid secara seremonial (seperti yang dilakukan warga NU) ulama berbeda pendapat. Namun, setelah kami telaah dari berbagai pendapat, ternyata… baca selengkapnya di sini! Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...
Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid
Ada sebuah kisah unik dari Sayyid Abbas al-Maliki. Cerita ini dikutip dari kitab al-Hadyut-Tâm fî Mawâridil-Maulidin-Nabawiy, karya Sayyid Muhamad Ali bin Husain al-Maliki. Kurang lebihnya begini: حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ Sayyid Alawi berkisah perihal ayahnya, Sayyid Abbas al-Maliki RA yang sedang menghadiri acara maulid di Baitul Maqdis, saat malam kelahiran nabi. تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ Saat itu, yang dibaca ialah Maulid Barzanji. Di sana, beliau menjumpai lelaki tua berdiri dengan sangat khidmat dari awal dibacakan maulid, sampai selesai. وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ Usai ditanya mengapa ia berdiri sedemikian rupa, padahal usianya sudah sepuh, ia menjawab bahwa ia pernah tidak mau berdiri saat maulid. Menurutnya, maulid itu bidah yang jelek. فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ Lalu, ia bermimpi dia bersama jemaah bersiap-siap untuk menjumpai Rasulullah. Saat beliau rawuh, jemaah tadi berdiri untuk menyambut nabi, sedangkan ia tidak mampu berdiri. وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ Rasulullah berujar kepadanya, “Kamu tidak akan bisa berdiri”. Saat terbangun dari tidurnya, dia hanya bisa duduk (tidak bisa berdiri). وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ نِهَايَتِهِ Penderitaan itu berlanjut sampai setahun lamanya. Dia nazar, “Bila Allah menyembuhkan penyakitku ini, saya akan berdiri dari awal maulid hingga selesai. فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Kemudian Allah menyembuhkannya. Ia pun menepati nazarnya dengan senantiasa berdiri saat maulid, sebagai penghormatan kepada Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat! Muhammad ibnu Romli/Sidogiri.Net Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...
Semarak Materi Baru
Demi mengembangkan kadar bacaan al-Qur’an santri pondok pesantren sidogiri. Madrasah Ta’limul Qur’an (MTQ) melakukan pembaruan materi. Dengan merujuk kepada kitab-kitab yang menjelaskan tentang tajwid, Materi pengajiaan MTQ pada tahun ini mengalami pembaruan yang lebih mempermudah para santri untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Quran, seperti lafadz-lafadz ghorib (yang jarang diketahui), dengan mentashih kembali materi pengajian MTQ yang dulu menjadi materi baru seperti yang kita pelajari saat ini. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri “Dengan merujuk pada kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu tajwid, kami melakukan pembaruan pada materi MTQ dengan mentashih kembali materi MTQ yang dulu. Karna materi yang dulu masih ada yang kurang”. Terang Ust. Nurul Huda selaku pengurus bagian MTQ. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Bukan hanya itu, pengurus MTQ juga melakukan perubahan pada pembayaran ujian marhalah MTQ, pembayaran MTQ pada saat ini lebih murah dari sebelumnya, karna pembayaran saat ini untuk dua kali ujian yaitu di ujian yang pertama dan kedua. Dengan begitu para santri tidak perlu membayar ujian lagi di ujian yang kedua, karena sudah melunasi pembayaran di ujian yang pertama. Sedangkan tujuan pengurus MTQ mengumpulkan pembayaran ujian semester pertama dan kedua, agar lebih mempermudah pengurus MTQ dalam mendata para santri yang ikut ujian dan lebih menghemat uang yang digunakan ketika ujian. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Baca juga: Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! __________ Penulis: Wahab* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...