Hadis-hadis Tentang Perayaan Maulid
Okt29

Hadis-hadis Tentang Perayaan Maulid

روينا في صحيح مسلم عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما انه سمع رسول الله يقول: من صلى علي صلاة صلى الله عليه عشرا. Saya meriwayatkan di kitab Sahih Muslim dari Abdullah bin Umar bin Ash Radiyallahu Anhu, bahwa Umar bin Ash mendengar Rasulullah bersabda: “Seseorang yang membaca salawat kepada, maka Allah juga bersalawat (memberikan rahmat) padanya sebanyak sepuluh kali”.  روينا في كتاب الترمذي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ان رسول الله قال: اولى الناس بي يوم القيامة اكثرهم علي صلاة. قال الترمذي: حديث حسن. Saya meriwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Paling utamanya manusia kelak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak besalawat kepadaku”. Imam at-Tirmidzi mengatakan hadis ini Hasan. روينا في سنن ابي داود في اخر كتاب الحج في باب زيارة القبور بالاسناد الصحيح عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: لا تجعلوا قبري عيدا, وصلوا علي, فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم. Saya meriwayatkan di dalam Sunan Abi Daud pada ahirnya Kitabul Hajji dalam bab Ziaratul Qabri, dengan sanad sahih dari Abi Hurairah Radiyallahu Anhu, bahwa Nabi bersabda: “Jangan kalian jadikan kuburanku layaknya hari raya, dan (tapi) bersalawatlah kepadaku, karena salawat kalian semua sampai kepadaku meski dimanapun kalian berada”.  وروينا فيه ايضا باسناد صحيح عن ابي هريرة ايضا رسول الله قال: ما من احد يسلم عليَّ الا رد الله على روحي حتى ارد عليه السلا  Saya (juga) meriwayatkan hadis dalam Sunan Abi Daud dengan sanad sahih dari Abi Hurairah Radiyallahu Anhu, Nabi bersabda: “Tidak ada seorangpun yang ia mengucapkan salam kepadaku, kecuali akan disampaikan kepada ruhku sehingga saya ingin juga mengucapkan salam”.  حدثنا ابو معمر حدثنا عبد الوارث حدثنا ايوب حدثنا عبدالله بن سعيد بن جبير عن ابيه عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قدم النبي المدينة, فراى اليهودي تصوم يوم عاشوراء, فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يوم صالح, هذا يوم نجى الله بني اسرائيل من عدوهم فصامه موسى. قال: فانا احق بموسى منكم. فصامه وامر بصيامه. Menyampaikan kepadaku Abu Ma’mar, menyampaikan kepadaku Abdul Warits, menyampaikan kepadaku Ayyub, menyampaikan kepadaku Abdullah bin Sa’id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu berkata: ”Ketika nabi sampai di Madinah, beliau melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura’, Kemudian Nabi bertanya: Ada perayaan apa ini? Mereka menjawab, ini hari bagus, ini hari dimana Allah menyelamtkan Bani Israil dari musuhnya maka Nabi Musa. Lalu Nabi berkata: “Sesungguhnya saya lebih berhak kepada Musa daripada kalian. Kemudian Nabi berpuasa dan menyuruh sahabat untuk berpuasa”. حدثنا عبد الله حدثني ابي ثنا محمد بن جعفر ثنا سعيد عن قتادة عن غيلان ابن جرير عن عبدالله بن معبد الزمان عن ابي قتادة الانصاري ان اعربيا سال...

Selengkapnya
Dalil-Dalil Maulid Nabi Dalam Bingkai Kitab Suci
Okt25

Dalil-Dalil Maulid Nabi Dalam Bingkai Kitab Suci

Setiap orang pasti akan senang ketika dia kedatangan keluarga baru ditengah-tangah mereka, yaitu kedatangan seorang anak yang baru lahir dari ibunya. Betapa senangnya hati kedua orang tua ketika melihat sibuah hati, mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang, bahkan ketika dia menginjak usia dewasa, tak lupa kedua orang tua selalu memperingati hari kelahirannya. Orang tua mengundang tetangga dan semua kerabat untuk memperingati hari klahiran sibuah hatinya. Peringatan hari kelahiran atau yang biasa di sebut dengan ulang tahun bukanlah suatu yang baru bagi semua orang, hal ini sudah lumrah ditengah masyarakat kita, cara memperingatinyapun berbeda-beda, ada yang memperingati dengan tiup lilin, khatmi al-Qur’an, baca salawat bersama dan lain-lain. Hal diatas juga mentradisi di kalangan umat islam, bahkan pada zaman Nabi juga ada peringatah hari kelahiran tapi, tidak sama seperti zaman sekarang, contohnya: Nabi pernah melakukan puasa pada hari senin dan para sahabat bertanya tentang puasa Nabi, “wahai Nabi mengapa kau berpuasa pada hari senin? Nabi pun menjawabnya: aku puasa pada hari senin karna dihari itulah aku dilahirkan dan diutus. Dari cara Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, sebetulnya banyak cara dalam memperigati hari kelahiran. maka dari itu orang indonesia sendiri berbeda beda caranya, ada yang merayakannya dengan baca salawat bersama, baca al-Qur’an, bersedekah dan dengan cara-cara yang lain. Sudah menjadi rutinan pada setiap tahunnya bertepatan pada tanggal 12 bulan Rabiul awal semua orang islam indonesia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. biasanya diletakkan disebuah masjid, mushalla atau di lapangan dengan sistem acara yang meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya pada tanggal 12 saja, tapi sejak tanggal 1 bulan Rabiul awal sampai sebulan suntuk, bahkan ketika ada sebagian orang tidak merayakan pada bulan Rabiul awal mereka merayakan pada bulan-bulan selanjutnya, bedahalnya yang terjadi pada kalangan masyarakat  madura, mereka juga melakukannya sebulan suntuk, tapi yang membuat beda dari yang lain, kebiasaan disana dilakukan secara bergantian dari satu rumah kerumah yang lain baik dari kalangan orang yang ekonominya diatas rata-rata atau yang menengah kebawah  dengan suguhan makanan seadanya. Melihat keragaman cara perayaan kelahiran Nabi diatas bersyukurlah kita sebagai umatnya, karna pada saatnya nanti ketika dunia sudah qiamat kita adalah satu-satunya umat yang bisa mendapatkan syafa’at dari Nabinya. Ironisnya tidak semua orang khususnya di indonesia setuju dengan adanya perayaan kelahiran Nabinya, ada sekelompok orang mengatakan bahwa perayaan kelahiran Nabi yang kita kenal dengan Maulid Nabi  adalah Bid’ah (melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi), kalau memang perayaan maulid Nabi dianggap Bid’ah  maka pada zaman ini banyak sekali suatu yang bisa dianggap Bid’ah. Seperti kendaraan pada zaman sekarang, umumnya orang indonesia kemana-mana menaiki sepeda motor, pada zaman Nabi sendiri tidak ada yang namanya sepeda motor yang...

Selengkapnya
Fikih Lingkungan dan Bencana Alam
Okt20

Fikih Lingkungan dan Bencana Alam

Kita patut prihatin dengan rentetan bencana alam yang menimpa saudara-saudar kita di beberapa kawasan di tanah air baru-baru ini. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat, selama 31 hari pada Januari telah terjadi 119 bencana yang mengakibatkan 126 orang meninggal, 113.747 orang menderita dan mengungsi, serta belasan ribu rumah rusak. Menyikapinya, tidak salah jika kita menyebut sebagai bagian dari takdir Ilahi. Akan tetapi, apakah takdir tersebut lepas dari sebab? Secara eksplisit, al-Qur’an menyatakan bahwa egala jenis kerusakan yang terjadi di permukaan bumi ini merupakan akibat dari ulah tangan yang dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi terhadap lingkungan hidupnya. Allah SWT berfirman: وَلاَتُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ اْلمُحْسِنِيْنَ Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. al-A’raf [07]:56). Dalam firman yang lain, Allah SWT menegaskan: وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاتُفْسِدُوْا فِى اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ, أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لَايَشْعُرُوْنَ Artinya: “Jika dikatakan pada mereka, jangan kalian mebuat kerusakan di bumi, mereka mengatakan: kami hanya memperbaikinya. Ingat! Sesungguhnya mereka adalah perusak, hanya saja mereka tidak merasa.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 11). Dalam banyak tafsir, perusakan manusia dimaksud dalam dua ayat berkaitan dengan keyakinan dan perbuatan lalilm, seperti perbuata kufur, maksiat, munafik, dan perbuatan dosa lainnya. Akan tetapi, di sisi yang lain Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H.), salah satu ulama Mazhab Syafi’i kenamaan, memiliki pandangan berbeda khususnya berkaitan dengan tatanan alam dan manusia. Tentang dua ayat ini, beliau menyinggungnya dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah, alah satu kitab kumpulan fatwa Ibnu Hajar. Dalam ulasannya, Ibnu Hajar menyatakan bahwa ayat di atas merupakan tanshish (dalil) atas ketegasan larangan Allah SWT terhadap segala bentuk perusakan di muka bumi. Pamakaian kata ‘al-ardh’ yang berarti bumi atau alam, mengindikasikan adanya keumuman kata sehingga mencakup seluruh alam. Apalagi, kata ardh bergandengan dengan ‘al’ yang menurut kalangan para pakar ilmu metodologi fikih (Ushuliyah) menunjukkan keumuman sebuah kata. Dari itu, meskipun ayat ini tujuan utamanya adalah masyarakat Madinah di mana ayat ini di turunkan, tetapi pelarangannya bersifat universal, mencakup seluruh masyarakat dunia. Sebab, akibat yang dimunculkan dari perusakan alam akan lebih parah (aqbah) dibandin perusakan itu sendiri,dan itu tidak hanya pada Madinah tapi juga pada belahan dunia lainnya. Dalam hal ini, Ibnu Hajar juga mangatakan, di antara tujuan penting dari ayat ini adalah sebagai puncak peringatan keras sekaligus menakuti manusia (ghayatut-taqri’ wat-takhwif) bahwa perusakan yang dilakukan akan berakibat pada kematian penduduk bumi, terutama manusia sendiri. Sebab, kerusakan pada bumi mendatangkan kehancuran dan kemusnahan penduduka bumi. Sepertinya, kata Ibnu Hajar, telah dikatakan kepada manusia sebuah peringatan: “Jangan kalian menjadi...

Selengkapnya
Stop Menggunjing
Okt15

Stop Menggunjing

Sudah maklum, kalau lidah itu tidak bertulang. Pemiliknya bisa saja dengan mudah menggunakan semau hatinya tanpa ada kesulitan sedikitpun. Bahkan, pada saat tertentu lidah itu bisa menjadi lebih tajam daripada pedang yang selalu diasah setiap hari. Dengan lidah kita bisa menyampaikan maksud hati dengan mudah dan dengan lidah pula kita gampang terjebak pada perbuatan yang diharamkan, seperti ghibah atau menggunjing. Imam Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmid-Dîn menjelaskan panjang lebar masalah ghibah. Menurutnya ghibah atau menggunjing adalah membicarakan seseorang yang tidak ada tentang hal yang tidak disukainya seandainya ia mendengar. Rasulullah menjelaskan yang dimaksud dengan ghibah dalam sebuah Hadisnya, “ Tahukah kalian, apa ghibah itu?“ Mereka menjawab, “Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui.” Nabi Bersabda, “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakan itu ada pada diri saudara itu?” Nabi menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menggunjing, dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya.” (HR. Muslim). Di dalam al-Qur’an Allah mengumpamakan orang yang menggunjig sebagai orang yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati atau dengan kata lain memakan bangkai saudaranya. “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurât [49]: 12 ). Imam al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahâkâmil– Qur’ân menyebutkan bahwa Allah mengumpamakan ghibah dengan memakan mayat sebab mayat tidak mengetahui tubuhnya dimakan, seperti halnya orang yang digunjing tidak mengetahui gunjingan tentang dirinya. Ibn Abbas t mengatakan, “Allah membuat perumpamaan ini untuk ghibah, sebab memakan tubuh mayat hukumnya haram dan menjijikkan. Begitu pula ghibah, hukumnya haram dan menjijikkan bagi manusia.” Menggunjing termasuk pekerjaan yang sangat dilarang dalam Islam kecuali ada penyebab yang memperbolehkannya. Ghibah bisa terjadi karena didorong beberapa faktor, seperti berkumpul dengan orang-orang yang suka menggunjing, iri dengki, sombong, mengejek dan kurangnya ilmu agama pada dirinya.     Menurut Imam Ghazali, tindakan yang harus diambil untuk mencegah lisan dari ghibah adalah dengan selalu mengingat azab yang akan ditimpakan oleh Allah pada pelakunya dan dengan mengingat aib yang ada pada diri kita sendiri kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Apabila kita tidak senang ketika kejelekan kita dibicarakan begitu pula dengan orang lain.  Menggunjing yang Diperbolehkan  Imam Ghazali menyebutkan bahwa menggunjing diperbolehkan hanya dalam enam masalah. Pertama, mengadukan kezaliman. Seseorang yang dizalimi boleh mengadu kepada penguasa atau hakim untuk memperoleh keadilan dari pihak yang menzaliminya. Nabi bersabda dalam sebuah Hadis yang muttafaq alaih dari Abu Hurairah, “Sungguh orang yang benar berhak mengadukan tuntutannya.” Kedua, meminta pertolongan untuk mencegah kemungkaran dan mengarahkan orang yang bermaksiat pada kebenaran. Ia boleh...

Selengkapnya
Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa
Okt12

Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa

Tempo bulan, Pesantren kita sukses menyajikan pesta tahunannya dengan mengusung tema, Beragama, Berbangsa, dan Bernegara. Tentu hal ini masih amat segar dalam molekul ingatan kita, bahkan kemungkinan besar banyak di antara kita yang telah lekat memahami, atau mungkin amat getol menghafal arti dan filosofi dari tema tersebut; adalah mengkader generasi muda agar bisa mengemban tugas mulia, yakni mampu mengawinkan pokok-pokok penting agama dengan prinsip bernegara dengan baik. Sehingga dari sisipan tujuan tersebut, lahirlah generasi unggulan yang memiliki pribadi yang tangguh, kuat dan produktif, serta taktis mengorelasikan bidang Agama dan Negara dalam bermasyarakat. Namun ironisnya, teori hidup yang bagus ini hanya nampak elegan dari sudut pandang ‘desain-grafis’ ikhtibar saja. Akhirnya, tujuan utama menyisipkan teori hidup bagus ini menjadi kabur dan lebur. Sebab pasca perayaan dan usainya perhelatan, apalagi saat liburan, teori sebagus itu tidak langsung dibarengi dengan pengaplikasian yang diharapkan. Oleh karenanya, santri yang selayaknya menjadi mentari kecil yang dapat menyinari siraman etika pada masyarakat, malah ikut-ikutan tercebur dalam kubangan etika yang telah berkarat. Ironisnya, mereka justru bangga mengumbar etika buruknya dengan bebas tanpa sekat. Kendati ada sebagian mereka yang tetap menjunjung tinggi etika luhur yang diperoleh di pesantren. Serta merasa risih melihat sebagian kawan sejawatnya yang tanpa malu meng-expose luas perilaku buruk dan tak senooh. Hal itu sebagaimana yang terjadi saat liburan kemarin, dalam hal ini penulis kerucutkan contohnya pada satu aplikasi yang -menurut hemat penulis- sempat lumer di lidah untuk tetap diperbincangkan. Tersebab aplikasi ini bukan hanya tidak layak dikonsumsi oleh khalayak santri, melainkan juga merembet pada khalayak publik. Akibatnya, bukan hanya aplikasinya yang goblok, bahkan pengguna pun terjangkit virus goblok, dan malah marak kita dapati dari mereka yang nyaris gila. Bisa jadi, awalnya mereka hanya coba-coba. Tapi lambat-laun dengan berputarnya denting jam, mereka malah asyik tersenyum lepas merekam aksinya, hingga akhirnya semakin terjerumus ke dalam lembah keterpurukan. Dan kian waktu berpacu membikin video kocak. Tak sadar, bahwa dirinya masih dalam barisan orang-orang yang -boleh dikata- etikanya masih murni tak terkontaminasi. Mengingat etika di luar sana sudah amburadul. Mirisnya lagi, tak jarang dari mereka yang terang-terangan membagikan hasil videonya ke ruang publik, contoh gampangnya; di dinding sosial media, mulai dari akun facebook dan semacamnya. Lebih dari itu, ada sebagian dari video mereka yang melampaui batas seyogyanya, “goyang dua jari” yang dipraktekkan saat salat. Mereka berpura-pura salat lalu goyang dua jari tanpa harus malu. Sialnya, ketika diperingatkan, mereka malah tertawa cengengekan ketimbang harus memasang telinga untuk sekadar mendengarkan. Klimaksnya, bukan hanya aplikasi dan penggunanya yang dianggap bodoh, melainkan juga almamater yang mereka kenakan. Padahal telah gamblang bahwa yang salah bukan almamaternya, tapi kedunguan mereka yang tidak peka pada apa yang seharusnya mereka lakukan. Penulis: Khoiron_Abdullah salah satu Redaksi Majalah...

Selengkapnya
Arogansi dan Kepercayaan Diri
Okt08

Arogansi dan Kepercayaan Diri

Arogansi dan Kepercayaan Diri Oleh: Muhaimin El Lawi*) Sebuah arogansi dan kepercayaan diri sangat kita perlukan dalam mempertahankan sebuah jati diri. Seperti Sidogiri yang dengan kukuhnya terus bertahan dalam jati diri kesalafannya meskipun arus perubahan zaman terus bergerak tiada henti. Namun kita tidak boleh terbelenggu dalam arogansi dan kepercayaan diri yang kaku dan berlebihan. Keadaan dan iklim dunia yang terus bergonta-ganti menuntut kita untuk selalu melakukan perubahan, mengiringi pergerakan dunia yang terus melaju. Betapa banyak fakta membuktikan, bahwa sebuah arogansi dan kepercayaan diri yang kaku dan berlebihan bisa membawa kita dalam inovator dilemma. Dalam dunia korporasi, banyak perusahaan yang dulunya besar namun akhirnya gulung tikar hanya gara-gara tidak mau berubah, terjebak dalam arogansi dan kepercayaan diri berlebihan atas kebesarannya. Ponsel Nokia, pada eranya, merupakan perusahaan yang tak tertandingi. Bahkan sempat menyebut android yang muncul sebagai pesaing waktu itu sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Sehingga Nokia merasa tidak perlu lagi melakukan inovasi menghadapi android. Dalam situasi ini, Nokia mengalami kematian dan tergelatak kaku dalam kesunyian yang perih. Selanjutanya Nokia kolaps dihantam iPhone yang terus melakukan perubahan. Padahal sebenarnya produsen iPhone bukanlah perusahaan telekomunikasi, namun sebuah industri yang bergerak dalam komputer. Fenomena di atas patut kita jadikan kaca benggala dalam menghadapi arus zaman yang meniscayakan bergonta-gontinya keadaan. Kita hidup di ladang Sidogiri yang tanaman pokoknya adalah akidah dan keluhuran ajaran Islam. Dari luar, Sidogiri tampak sebagai pondok yang gendang ajarannya terdengar begitu membahana dan cukup menggentarkan siapa saja. Sebagai santri dan alumni yang namanya ternisbat pada Sidogiri, tentu akan merasakan kebangaan tersendiri. Dalam berbagai langkah menghadapi era global saat ini, Sidogiri telah memberikan banyak contoh dalam bergerak menghadapi perubahan zaman. Sidogiri telah mencontohkan sebuah arogansi dan kepercayaan diri yang begitu elegan. Ia teguh dan kukuh berdiri dalam prinsip kesalafannya, namun juga respon terhadap setiap perubahan. Hingga bisa terus berjalan seiring gelombang kehidupan namun tak lepas dari pijakan pokoknya, laksana ikan yang terus berenang mengikuti arus ombak lautan, namun tak pernah membuat ia asin oleh air lautan. Sebagai santri hakiki yang berprinsip lâ yamîlu yumnatan walâ yusratan, silahkan tinggikan arogansi dan besarkan kepercayaan diri dalam menjaga jati diri. Namun, jangan sampai terjebak dalam kejumudan yang membelenggu, sehingga tergilas oleh arus perubahan yang terus melaju kencang tiada ampun. Arogansi dan jati diri kita jadikan sebagai pengikat sejarah, agar setiap perubahan yang kita lakukan tidak pernah lepas dari garis pondasi awal yang kita bangun berdasarkan prinsip kesantrian. Sebab fleksibel sebenarnya adalah bergerak mengikuti keadaan angin, tapi tidak lepas dari sumbu yang membuat kita terombang-ambing. *)Penulis adalah alumni Sidogiri yang bergiat dalam dunia literasi...

Selengkapnya