Mengabdi Dengan Sepenuh Hati
Mengabdi Dengan Sepenuh Hati ….. ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya’, begitulah Nabi menggambarkan amanah seorang pemimpin. Seorang pemimpin bukan hanya bertugas memantau dari kejauhan dan duduk berpangku tangan di meja kebesarannya. Tugas seorang pemimpin amatlah besar, berusaha menjaga kestabilan organisasi yang sedang ia emban merupakan secuil dari beberapa beban berat dipundaknya. Bayangkan jika seorang pemimpin beranggotakan dua orang personel maka kesejahteraan dua orang tersebut sudah pasti berada dalam genggamannya dalam me-manage organisasi. Bagaimana andaikan ia menjabat sebagai kepala negara dengan jumlah jutaan rakyat?, sungguh amatlah besar tanggungan pemimpin. Dulu, khalifah Abu Bakar As-Shiddiq masih berpikir dua kali untuk menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat islam kala itu. Padahal beliau merupakan sahabat yang paling di cintai oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat yang tidak diragukan lagi kredibelitasnya?. Lalu pantaskah generasi berikutnya berlomba-lomba untuk memperebutkan kursi jabatan pemimpin, sedangkan jauh sekali tingkatan kita dengan beliau?. Bahkan beberapa hari setelah beliau resmi jadi Khalifah, Khalifah Abu Bakar berteriak mengharap agar jabatan yang sedang ia pikul di cabut saja. Namun sahabat Umar bin Khaththab menepisnya. Mengkukuhkan supaya khalifah Abu Bakar tetap berada dalam posisinya. Lalu apa yang menjadi beban Khalifah Abu Bakar sehingga beliau enggan sama sekali menjadi seorang Khalifah?. Beliau sangat khawatir tidak sanggup menjalankan tugas sebagaimana Nabi memikulnya. Pesan-pesan Nabi mengenai tugas pemimpin amatlah berat rasanya bagi Sahabat Abu Bakar ini. Sebab pemimpin menurut Nabi adalah pemimpin di dunia dan akhirat. Beban seorang pemimpin bukan cuma di dunia saja melainkan akan tetap di pertanyakan nanti dihadapan Allah Swt kelak nanti di akhirat. Tetapi apakah kita harus phobia untuk jadi pemimpin?, dan membiarkan umat terus berjalan dalam kegelapan tanpa ada yang mengayomi?. Sepertinya terlalu berisiko meninggalkan umat tanpa pemimpin. Maka sudah seharusnya salah satu dari umat yang memiliki skil maju sebagai pemimpin. Memang sangat tidak mungkin kita mencontoh teladan Nabi Muhammad sebagai pemimpin ideal dengan sempurna. Tapi sekalipun kita tidak bisa meniru Nabi secara total, masih memungkinkan bagi kita mencontoh secuil saja dari teladan Nabi sebagai pemimpin. Masalahnya kedudukan ini sekarang menjadi semacam ajang perlombaan. Semua merasa bahwa dirinya mampu mengayomi umat. Padahal dibalik itu semua tersimpan dalam hati kotornya untuk mengusai segalanya. Godaan akan kekuasaan selalu menjadi penghias utama yang memancing hawa nafsu agar maju mencalonkan diri sebagai kandidat pemimpin terpilih. Andaikan kepemimpinan diartikan dengan khidmah, saya rasa tidak ada yang mau melangkah maju sebagai pemimpin. Semua tahu bahwa sangat sulit untuk jadi pemimpin yang benar-benar amanah. Karena memang manusia tidak pernah lepas dari keteledoran. Sehingga perasaan jadi bimbang antara maju jadi pemimpin atau diam saja membiarkan umat dalam keterpurukan....
Menghadapi Perbedaan dengan Elegan
Menghadapi perbedaan di antar-umat sesama Muslim, sebagaimana ditunjukkan oleh perjalanan dan pengalaman umat ini sepanjang sejarah, seringkali lebih rumit daripada menghadapi perbedaan pandangan dengan umat yang berbeda agama. Hal ini, setidaknya, karena yang kita hadapi dalam perbedaan di dalam internal umat adalah ancaman akan perpecaah umat. Sedangkan jika kita berhadapan dengan perbedaan dengan umat yang berbeda agama, maka itu justru bisa mempersatukan umat untuk menghadapi lawan yang sama. Itulah sebabnya, perbedaan yang terjadi di tengah-tengah umat (dalam hal ini perbedaan haluan politik dan akidah), bisa menjadi salah satu faktor terkuat yang bisa melemahkan kekuatan umat dan memecah belah kokohnya persatuan mereka. Tentu, ini adalah hal yang amat merugikan. Jika saat ini faktanya kita ada dalam situasi yang ramai akan perbedaan dan rentan akan perselisihan dalam perbedaan itu, maka betapa kita tengah berada dalam situasi disintegrasi umat setiap waktu. Maka, di sini diperlukan pemahaman yang benar akan perbedaan dan langkah yang benar bagaimana menghadapi perbedaan itu. Pada dasarnya, hal terpenting dalam menghadapi perbedaan, dalam hal ini adalah perbedaan kita dengan aliran-aliran sesat di luar Ahlusunah wal Jamaah, adalah tidak bertindak secara gegabah, yang bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar dan kerugian yang lebih luas. Tindakan fisik secara tegas, seperti memenjarakan, menyegel fasilitas, dan semacamnya, hanya bisa dilakukan oleh aparatur pemerintah dan tidak tidak diserahkan kepada individu umat atau masyarakat sipil. Hal demikian agar upaya memberangus paham sesat tidak justru berbuah petaka yang lebih berbahaya. Hal demikianlah yang dilakukan oleh para ulama Islam sepanjang sejarah, bahkan juga yang dilakukan oleh pemerintah Islam. Sayyidina Ali Ra, misalnya, kendati menjabat sebagai Khalifah dan berhadapan dengan kaum Khawarij yang tidak saja sesat, akan tetapi bertindak brutal dengan merampok dan membunuh, dan itu telah memenuhi syarat-syarat untuk diperangi, akan tetapi Sayyidina Ali t tidak serta merta memerangi mereka. Sayyidina Ali t masih menasihati mereka, dan memberi kesempatan mereka untuk bertobat, sedangkan yang diperangi adalah sisa-sisa dari kelompok itu yang tidak mau berhenti berbuat kerusakan, tidak mau bertobat dan terus berkomitmen melawan pemerintah. Oleh sebab itu, ketika al-Imam Hasan al-Bashri mendapatkan laporan tentang orang yang berpandangan seperti pandangan kelompok Khawarij, beliau juga tidak menginstruksikan untuk menyerang orang itu. Al-Imam Hasan al-Bashri malah menjawab: “Amal perbuatan lebih memberikan pengaruh kepada melebihi pandangan dan pemikiran. Allah akan memberikan balasan kepada manusia disebabkan amal perbuatan mereka.” Barangkali pandangan semacam ini bisa lebih kita mengerti dengan memahami kebijakan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz terkait dengan aliran sesat. Pada tahun 100 H., di Madinah muncul sekelompok aliran sesat yang dipimpin oleh Syaudzab. Maka Umar bin Abdul-Aziz menginstruksikan kepada gubernurnya di Madinah untuk membiarkan mereka meyakini apapun, sepanjang keyakinan mereka tidak mendorong mereka pada tindakan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Bahkan dalam hal...
Hukum Syariat, Tanggung Jawab Siapa?
Hukum Syariat, Tanggung Jawab Siapa? ….. 254,9 juta lebih merupakan angka yang fantastis untuk jumlah penduduk di seantero Negara Indonesia ini. Negara dengan mayoritas memeluk agama islam yang tidak menerapkan hukum syariat. Pertanyaan dan PR besar untuk umat negeri ini, kenapa syariat Islam tidak menjadi rujukan utama dalam penetapan hukum negara?, bahkan apabila ada kelompok yang berusaha menumpas kemungkaran malah mendapat kecaman dari berbagai pihak. Seakan-akan masyarakat diberi kewenangan untuk memilih kemauan mereka sendiri tanpa ada sekat agama. Menurut sebagian tokoh islam, negeri ini adalah gambaran islam yang paling moderat dibandingkan Negara Islam yang lain. Padahal tanpa ada pengawasan yang ketat dan terus membiarkan umat maka jangan harap mereka akan melaksanakan kewajiban- kewajiban agama. Sehingga muncul di khalayak umum selogan Islam KTP. Beragama islam menjadi semacam simbolisme belaka tanpa ada pembuktian nyata. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas kewajiban dan larangan yang harus mereka jauhi. Apabila dari golongan tokoh masyarakat juga tidak ada yang mengawasi pergerakan umat, ditambah lagi serangan kelompok orientalis dan antek-anteknya yang terus berusaha menggerus pondasi islam maka sebentar lagi islam akan tinggal namanya saja di negeri ini. lalu siapa yang bertugas untuk menangani masalah yang semakin semerawut ini?. Jangan pernah menganggap urusan agama adalah urusan yang sepele. Apakah umat islam sudah mulai meninggalkan kenyataan kewajibannya sebagai umat islam?, kehilangan jati diri sehingga merasa acuh tak acuh, lalu apa penyebabnya?. Lantas apakah kita akan berdiam diri menunggu keputusan hidayah dari Allah tanpa berusaha?. Kesadaran tidak akan datang sendiri tanpa usaha dan kehendak Allah. Sudah sewajarnya bagi umat yang mengaku beragama islam untuk merenung bahwa kehidupan tidak akan berarti tanpa islam. Kehidupan manusia merupakan sebuah awal ujian dari beragama ujian yang mereka hadapi. Selanjutnya kehidupan abadi baru akan dimulai setelah kita memasuki padang mahsyar. Sebuah tempat dimana semua ras manusia mulai dari Umat Nabi Adam sampai Umat Nabi Muhammad berkumpul untuk menerima keputusan Allah atas semua kelakuan yang telah mereka perbuat semasa hidup di dunia. Antara surga dan neraka, antara bahagia dan sengsara. Memasuki kehidupan nyata dan meninggalkan kehidupan dunia yang cuma ilusi belaka. Hukum syariat harus diterapkan dan jadi rujukan bagi pemeluknya. Rasa kepedulian dan fanatisme harus tertanam kuat dalam hati agar mudah bagi kita untuk benar-benar menerapkan syari’atullah. Tidak ada salahnya kita mencoba pada diri kita sebelum menyuruh orang lain. Karena jangan mengharap mereka akan mengikuti perkataan kita apabila kita juga melanggar dan menselewengkan hukum...
Meretas Tuntas Popularitas
Entah kenapa, predikat ‘terkenal’ seakan-akan teramat sangat prestisius bagi sebagian orang, namun bagi sebagian yang lain, justru tampak hina dan menjadi semacam momok yang menakutkan. Tapi sebagian yang ini hanya segelintir saja, tak sebanding dengan betapa antusiasnya orang-orang –yang mungkin juga saya– yang ingin terkenal dan dikenal. Penulis tak bermaksud memvonis siapapun yang ingin terkenal, itu pilihan hidup. Namun ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan. Kita bisa melihat sendiri bagaimana berjubelnya manusia di depan loket pendaftaran audisi menyayi, sesaknya antrean di depan ruang casting film dan sesaknya milis youtube oleh video-video amatir para netizen dengan beragam tingkah aneh dan prilaku bodoh yang seringkali menuai kehebohan. Tak ayal, harapan itu pun bersambut. Salah satu dari mereka bisa terkenal, tenar, bahkan semut pun kenal akan dirinya, meskipun kadang hanya sesaat, dan tak lama seteah itu, ketenaran mereka akan redup kembali dan dilupakan, seakan tertelan tanah kuburan, meskipun, ada pula yang kemasyhurannya terus berlanjut. Penulis tidak bisa memastikan apakah mereka yang melakukan hal itu dangan tujuan ingin terkenal ataukah ada maksud-maksud yang lain yang kita tidak bisa menerkanya. Ada pepatah arab yang cukup familiar di telinga kita; bul zam-zam fatu’rof, kencingilah air zam-zam, maka kamu akan terkenal. Agaknya pepatah ini cukup beralasan untuk membuktikan betapa tingkah lucu serta riuhnya gemeletuk kehebohan orang-orang di dunia entertaintment, panggung politik, dan dunia maya adalah merupakan upaya untuk memasyhurkan dirinya. Seperti para artis pendatang baru yang suka berceloteh aneh-aneh, bergaya tak biasa, atau prilaku para kandidat wakil rakyat yang seringkali berwacana nyeleneh yang nyaris mustahil, agar bisa menarik simpati masyarakat. Tidakkah kita malu jika kita mendengar banyaknya cerita para ulama yang justru menjauh dari ketenaran dan popularitas, bahkan ada salah satu ulama yang nekat mencuri pakaian agar kealiman dan kewaro’annya tidak dikenal lagi dan tertutupi oleh prilaku nekatnya yang mungkin sekilas tampak seperti dosa. Dengan upaya itu ulama tersebut berharap agar dirnya tak lagi dikenal dan agar namanya tak lagi disebut-sebut dalam majelis-majelis ilmu, namun apa yang terjadi, harapannya justru malah terbalik 180 derajat celcius, ia justru semakin dikenal sebagai seorang wali majdub, sontak kepribadiannya pun semakin menuai pujian. Begitulah alur nasib orang yang tak memburu ketenaran, tapi justru malah semakin dikejar-kejar oleh popularitas tanpa harus memperkenalkan diri. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya hati, dan tersembunyi.” (HR Muslim). Memahami Hadis itu, Ibrahim bin ad-Ham juga pernah berkomentar, “Allah tidak membenarkan orang-orang yang cinta kemasyuran”. Adanya beragam sosial media saat ini seperti Facebook Twitter, Instagram dan segunung sosmed lainnya, yang jika hati dan niat tidak dimanage dengan baik maka sosmed tersebut akan berubah menjadi bumerang pada diri sendiri, serupa media penyalur hasrat riya’ dan penyakit-penyakit hati...
Biasakan Diri dengan Muhasabah
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS: al-Hasyr [59]: 18) Surat al-Hasyr di atas cukup untuk dijadikan dalil terhadap pentingnya melakukan muhasabah setelah beramal. Imam Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat di atas, “Hisablah diri kalian semua sebelum kalian dihisab. Lihatlah, amal baik apa yang kalian simpan untuk bekal di hari kembali pada Tuhan kalian.” Muhasabah atau introspeksi diri oleh ulama diartikan sebagai proses perenungan terhadap segala amal perbuatan yang telah atau akan dilakukan. Sebab, jiwa manusia kerap dipenuhi dengan hal-hal yang dapat membelokkan dirinya dari tujuan hidup yang sebenarnya. Sehingga diperlukan adanya waktu tertentu yang digunakan untuk bermuhasabah terhadap apa yang selama ini dikerjakan. Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûmud-Dîn menyamakan muhasabah diri dengan pedagang yang menghitung kerugian dan laba yang dihasilkan dalam satu rentang waktu tertentu. Ketika keuntungan yang didapat, ia mensyukuri dan berusaha meningkatkannya, pun juga ketika rugi yang didapat ia akan mencari penyebab dan berusaha untuk tidak mengulanginya pada masa yang akan datang. Mukmin yang berakal seharusnya melakukan hal yang sama terhadap amal perbuatannya di dunia. Rasulullah bersabda, “Orang berakal adalah yang mengekang hawa nafsunya dan beramal untuk bekal mati, orang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya dan mengharap-harap kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Pembagian Muhasabah Ibnu Qayyim dalam kitab Ighâsatul-Lahfân membagi muhasabah menjadi dua: Pertama, muhasabah sebelum beramal. Yakni, seorang hamba tidak segera mengerjakan sesuatu sebelum mempertimbangkan sebab akibatnya. Hingga jelas baginya dampak positif dan negatif dari tindakan tersebut. Imam Hasan berkata, “Allah merahmati hamba yang berpikir sebelum bertindak. Apabila karena Allah dilanjutkan dan apabila karena yang lain mengurungkannya.” Ibnu Qayyim melanjutkan setidaknya orang mukmin bertanya kepada dirinya sebelum melangkah mengerjakan sesuatu, apa kebaikan yang akan didapat dari perbuatannya? Apa keburukan yang akan didapat ketika tidak mengerjakannya? Ketika semuanya sudah jelas hendaknya ia mengambil keputusan yang terbaik. Kedua, muhasabah setelah beramal. Bagian ini dibagi menjadi tiga. Pertama muhasabah terhadap ketaatan yang sudah dikerjakan. Apakah sudah sesuai dengan syariat atau belum. Kedua, muhasabah terhadap pekerjaan yang telah ditinggalkan dan waktu yang disia-siakan. Ketiga, muhasabah terhadap kebiasaan-kebiasaan mubah kenapa hal itu dikerjakan? Tindakan terpenting setelah bermuhasabah adalah adanya kesadaran dalam diri manusia terhadap kualitas amal perbuatannya. Ketika dirinya menganggap telah banyak mengerjakan kebaikan, maka ia bersyukur dan memohon semua amalnya diterima oleh Allah. Sebaliknya, ketika dirinya menganggap telah banyak mengerjakan dosa dapat bersegera bertaubat dan mengikrarkan dalam dirinya untuk mengerjakan kebaikan pada masa selanjutnya. Faedah Muhasabah Ibnu Qayyim menjelaskan setidaknya ada tiga faedah dari muhasabah: Pertama, mengetahui hak-hak Allah yang harus dipenuhi. Dengan muhasabah kita menjadi sadar terhadap kelalaian yang dilakukan dan kewajiban yang ditinggalkan, sehingga ada tekad dalam diri...
Hati-Hati Dengan Selfie?
Hati-Hati Dengan Selfie? Foto dalam genre selfie sebenarnya sudah mendahului penggunaan istilahnya sejak berpuluh-puluh tahun yang dulu. Teknis untuk mengasilkan foto diri sendiri itu juga berbeda-beda. Ada Robert Cornelius, seorang perintis dalam fotografi dari Amerika yang menghasilka n Daguerreotype dirinya pada tahun 1839, ada Rusia Grand Duchess Anastasia Nikolaevna remaja 13 tahun yang memanfaatkan cermin pada tahun 1914. Selfie, istilahnya pula muncul pertama kali di forum internet Australia pada tanggal 13 September 2002. Istilah “selfie” dibahas lagi oleh fotografer Jim Krause pada tahun 2005. Tujuan selfie mungkin suatu solusi bagi fotografer agar bisa foto bersama orang-orang terdekat kita. Sekaligus memudahkan fotografer memotret foto selfie tanpa menggunakan teknis seperti self-timer. Selfie juga membuatkan segalanya jelas dalam waktu yang singkat. Lebih mudah menafsirkan apa yang dimaksudkan dibandingkan SMS dan lainnay seperti Whatsup, Whecat, BBM dan Twitter. Cukup menggunakan kamera depan smartphone atau didukung tongkat selfie untuk memperluas sudut pandang. Kebanyakan selfie mania memaksudkan selfie memang untuk menyanjung diri, terutamanya fotografer yang mengharapkan pendukung pada hasil jepretan fotonya. Selfie juga didorong oleh daya tarik narsis yang awalnya bertujuan untuk mengabadikan setiap momen yang dilakukan sehari-hari antara keluarga, teman-teman dan lain-lain. Selfie digandeng narsis pasti menimbulkan kesombongan dan riya’ yang membuatkan hasil foto itu sia-sia Namun sebuah studi mengenai Facebook pada 2013 menemukan bahwa posting foto-foto diri menunjukkan selfie itu juga minim bersosial dan mengurangkan keintiman dengan teman-teman. Posting selfie yang semakin umum pada tahun 2010-an dengan bermacam-macam sudut selfie yang bermacam-macam. Bahkan ada yang lebih parah daripada sombong, trend selfie digambarkan oleh seorang Sosiolog, Ben Agger sebagai ‘virus pandangan laki-laki’. Profesor Gail Daines mengatakan bahwa selfie adalah ‘budaya porno’ dan peluang seksual paling tinggi bagi wanita agar bisa membuat dirinya terlihat. Sehingga ada juga kasus balas dendam porno di mana mantan kekasih posting foto seksual eksplisit atau narsis telanjang untuk membalas dendam atau mempermalukan mantan kekasih mereka menggunakan foto selfie simpanannya. Memang susah dimengerti apabila ada yang selfie di tempat atau momen yang tidak terjangkau yang penghujungnya nanti berakibat fatal. Contoh pada tahun 2015 dilaporkan banyak yang telah tewas karena selfie bersama hiu. Jatuh karena tidak seimbang di posisi bahaya dan banyak lagi. Lain lagi kejadian pada April 2014, seorang pria didiagnosis dengan gangguan dismorfik tubuh diceritakan menghabiskan sepuluh jam sehari mencoba untuk mengambil gambar selfie, setelah itu dia mencoba bunuh diri setelah gagal untuk menghasilkan apa yang dianggap menjadi selfie yang sempurna. Sebaiknya Selfie dijadikan wadah untuk menjelaskan segala yang dimaksud tanpa kata-kata. Bukan dijadikan persaingan untuk memburu selfie paling fantastis yang mengharapkan apresiasi orang lain terhadap kreatifitas fotografer. Bisa saja selfie di luar angkasa, gunung, laut dan atas pohon. Tidak salah juga selfie dalam momen atau...