Jabat Tangan
Jan13

Jabat Tangan

Pepatah mengatakan, jabat tangan adalah simbol dari maaf. Di mana ada persalaman, di situ ada ampunan. Sehingga dikatakan mustahil jika “memberikan” tangan kita kepada orang yang dibenci. Sebenarnya, memaafkan adalah sifat hati. Mengetahui “maaf” hanya bisa dilakukan dengan tanda-tandanya, yaitu: jabat tangan. Wajar saja jika Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai salam dengan: damai. Ucapan maaf adalah bagian dari magic work. Dengan aritian, “maaf” bukanlah perkataan biasa. Tanpa ada maaf-memaafkan dunia menjadi rumit, akhirat pun juga ikut kacau. Dalam Shahih Muslim II/430 Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang bermasalah alias memiliki tanggungan haqqul-âdamî, untuk segera diselesaikan, karena saat kita berpindah alam, hanguslah istilah tebus-menebus. Hanya amal saleh yang dapat menebus urusan kita. Itu pun jika memiliki perbuatan baik. Jika tidak, maka dosa si korban, akan dibebankan kepada kita. Kesadaran dalam kesalahan adalah hal yang penting untuk dipelihara. Konon, salah-satu jurus mutakhir setan adalah membenarkan semua yang kita lakukan. Kita diiming-imingi argumen yang membenarkan perbuatan kita, sehingga enggan meminta maaf. Dengan begitu, mendapat ampunan Tuhan hampir tertangkap mimpi. Mengingat, ampunan Tuhan—dalam haqqul-âdamî—dititipkan kepada korban kezaliman kita. Coba kita bandingkan, lantaran berbuat kesalahan, Nabi Adam AS dengan Iblis sama-sama diusir dari surga. Akan tetapi, Nabi Adam AS mendapat ampunan, sedangkan Iblis tidak. Padahal perbedaan keduanya sangat tipis, yaitu Nabi Adam AS tobat alias minta maaf, sedangkan Iblis tidak. Dari kisah di atas, kita dapat merasakan betapa besar pengaruh minta maaf. Dengan tobat, Nabi Adam AS diberi pangkat yang mulia, sedangkan Iblis—karena gengsi untuk bertobat—malah mendapatkan gelar ar-rajîm (terlaknat). Sama halnya meminta maaf, memaafkan adalah perbuatan yang tak kalah penting. Syaikh Muhammad bin Hazm berkata, “Jika ada seseorang meminta maaf atas kesalahannya, maka kesalahan tersebut berpindah pada kita, jika tidak memaafkannya.” Dari itu, Ibnu Hazm memaklumi orang yang berbuat salah, karena manusia memang wadah dari kesalahan. Justru yang tidak memaafkanlah yang salah. Mengingat, ampunan Tuhan tergantung pemaafan si korban. Selain itu, dengan memaafkan, Allah—Yang Maha Pemaaf—akan mengkasifikasikan orang tersebut pada golongan takwa dan muhsîn yang dicintai-Nya (Lihat: Ali Imran: [4] 133). Akan tetapi, dalam menyikapi “pemaafan”, kita harus waspada. Kita berhak memaafkan kesalahan orang lain yang bersifat haqqul-âdamî. Tidak selebihnya! Segala kesalahan yang berbentuk haqqul-Lah, bukan kita yang memiliki wewenang. Dalam hal ini, masyarakat sulit membedakan, mana yang sebenarnya harus kita maafkan dan yang harus kita tuntut. Sehingga, kita sering disalahkan, jika menuntut oknum yang meminta maaf karena melecehkan Agama. Bukankah Rasulullah SAW—yang lemah-lembut—akan murka jika ada kezaliman yang berbau Agama? Lupakah kita akan hadis shahih tentang pencuri? (Pada zaman Raulullah SAW, seorang dari kalangan terhormat “tertangkap-basah” kasus pencurian. Ini tentu sangat skandal. Maka masyarakat sekitar memohon kepada para sahabat dekat Rasulullah SAW untuk ‘membicarakan’-nya dan memintakan ampunan bagi si ‘pencuri terhormat’ itu....

Selengkapnya
Digital Merusak Moral
Jan12

Digital Merusak Moral

Intelektual dan moral dalah dua sasaran dari adanya digital. Meski digitalisasi sepertinya mendukung, akan tetapi di balik itu terpendam perusakan kualitas akhlak dan ilmu. Lantaran itu, dulu—sebelum masuknya digitalisasi ke pesantren—yang memprovokatori “anti globalisasi” adalah pesantren salaf. Sampai detik ini pun, pesantren agak alergi pada kemajuan tersebut. Sejarah mencatat, perkembangan falak di pesantren menurun drastis saat adanya pendigitalan falak. Sehingga, kemajuan fan itu sudah berakhir di software instan dan super mudah itu. Secara otomatis, jika software itu rusak atau diblokir, maka sudah pasti kita kehilangan falak. Kita tidak tahu pada arah kiblat, waktu shalat, gerhana, awal tahun dan lain semacamnya. Kita akan terasa bodoh dengan adanya aplikasi tersebut. Pepatah, “Ilmu ada di hati, bukan di kertas,” juga pepatah, “Ilmuku takkan hilang selagi aku masih ada,” dan mutiara hikmah lainnya, akan terasa asing di dunia nyata. Juga dengan adanya alat instan, akan mengurangi kesemangatan kita dalam menuntut ilmu. Pernah saya mendengar guyonan teman. Dia berkata, “Kamu di pesantren ini ada yang hafal logaritma, niscaya ku beri dia uang satu miliar.” Buat apa menghafalkan logaritma? Mungkin itu yang ada rasakan. Begitu pula dengan saya. Akan tetapi, itulah bukti nyata bahwa ilmu kita tidak lagi di hati. Kita selalu merasa tergantung pada buku, internet dan lain semacamnya. Sehingga otomatis, jika kita kehabisan paket, atau jaringan offline, maka seketika itu juga kita bodoh. Selain sifat malas, rasa muraqabah (pengawasan dari Allah) pun terkikis oleh adanya digital. CCTV diantaranya. Dengan adanya benda itu—wabil-khusus di pesantren—segala tindak tanduk kita tergantung pada alat tersebut. Ketika ada, kita berbuat amal shaleh. Jika tidak, maka kita berbuat “amal salah”. Lebih-lebih saat pulangan. Semua yang dilarang pesantren, seperti pacaran, mencemarkan nama baik, dan lain sebagainya, dengan enteng dia lakukan. Mengingat, sudah tidak ada lagi CCTV yang terhubung ke keamanan pesantren. Yang perlu digarisbawahi, saya bukan melarang menggunakan benda digital. Akan tetapi, jangan sampai prinsip di hatimu berubah gara-gara efek digitalisasi. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Mengajak bukan Mengejek
Jan11

Mengajak bukan Mengejek

Mengajak, bukan mengejek, mungkin sudah cukup untuk mendeskripsikan dakwah ala santri. Dengan kata “mengajak”, mencerminkan bahwa santri adalah sosok pendakwah sejati. Dengan kata lain, meskipun berdakwah, santri tidak membabi-buta. Sehingga terkesan “menyilakan”, bukan memaksa. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai mengajak dengan: membangkitkan hati supaya melakukan sesuatu. Bukanlah santri jika berdakwah dengan tanpa cara. Karena santri adalah sosok yang berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah. Sedangkan Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan begitu. Beliau lebih suka jika dilakukan secara perlahan, tapi pasti. Agar nilai “sopan santun” Islam tidak hilang. Sebab meski bagai manapun, budi pekerti jauh di atas ilmu. Terkadang sebagaian santri yang—agak—alim langsung mengembalikan semuanya pada ilmu. Jika menurut ilmunya salah, maka harus diberantas. Saya tidak menyalahkan itu. Akan tetapi, caranya kurang benar. Ingatlah, sebaik apapu pekerjaan jika ditempuh dengan cara yang salah maka jadinya salah. Sesuai rumusan, plus ditambah minus sama dengan minus. Ingatlah salain ilmu, ada akhlak yang sama pentingnya untuk dipelajari. Keduanya harus dikombinasikan. Tidak boleh salah satunya! Akhlak tanpa ilmu akan menjadi fasik. Sedangkan ilmu tanpa akhlak berkaibat kafir zindiq. Teringat pada salah satu kisah. Kurang lebihnya begini: seorang santri yang mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu, pamit kepada pengasuhnya untuk boyong. Anehnya sang kiai malah bertanya, “Cukupkah ilmumu untuk berhadapan dengan masyarakat?” “Insya Allah cukup, Kiai!” Dengan begitu, kiai mengidzinkan dia boyong. Karena ketepatan hari Jumat, dia shalat Jumat di perjalanan. Dia mampir di salah-satu masjid jami’ di kotanya. Alangkah mengejutkan, ketika khutbah, sang khatib malah menghina para sahabat Nabi. Di tengah-tengah ribuan jamaah, spontan dia menyanggahnya. Tapi sial, malah dia digebukin oleh ribuan jamaah tadi. Dari kisah di atas, pentingnya akhlak dalam mengamalkan keilmuan tak terbantahkan. Lihatlah contoh santri di atas. Jangankan dikampung halaman. Di tengah jalan pun sudah tidak bisa. Kita memang di bebankan amanah dakwah. Tapi cara dakwah itu juga harus digaris bawahi. Jagn sampai karena dakwah kita yang terlalu ekstrim, menjadi penyebab tercemarnya nama baik...

Selengkapnya

Buanglah Tempat pada Sampahnya

Salah menggunakan pepatah, salah juga hasilnya. Sebab, setiap perkara pasti memiliki tempat. Begitu pula kalam hikmah. Sesuatu yang baik, jika ditempuh dengan perkara jelek, akan menjadi jelek. Dengan kata lain plus (+) ditambah minus (-) hasilnya minus (-). Hal inilah yang dimaksud dalam salah satu rumusan fikih (baca: qa’idah fiqh), idza ijtama’a al-halâl wal-harâm ghuliba al-harâm, jika hal positif dan negatif berkumpul, maka maka hasilnya negatif. Begitupun dalam kalam hikmah. Meskipun pepatahnya benar, tapi salah menempatkannya, maka hal itu tetap dianggap salah. Hadis menerangkan ‘tamu adalah mayat’, tidak cocok jika dipakai oleh tuan rumah. Begitupun tentang ‘tamu bagaikan raja’, tidak pas jika digunakan oleh tamu. Belajar menempatkan perkataan pada tempatnya, adalah sebuah pintu menuju kebahagiaan. Mengingat, sebagus apapun kata mutiara, tapi tak ditempatkan pada semestinya, akan menjadi senjata makan tuan. Untuk itu, jangan heran jika setiap kalam hikmah memiliki muqâbil tersendiri. Perlawanan itu bukanlah kesalahan dari qâ’il. Akan tetapi, dua kata yang sepertinya kontradiksi, memiliki perbedaan situasi dan kondisi. Sehingga, setiap meresapi kalam hikmah, kita harus mengetahui asbâbul-wurûd-nya terlebih dahulu. Salah satu pepatah yang sering disalahgunakan adalah, “Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda.” Mayoritas orang tua lebih dominan memakai kalimat, “menghormati yang lebih tua”. Sedangkan kaum muda memakai, “menyayangi yang lebih tua”. Keterbalikan itulah yang menyababkan sekelompok masyarakat hancur; kaum muda memaki orang dewasa karena “sok tua”; kaum tua memarahi pemuda karena “tak punya akhlak”. Dari sinilah timbul perpecahan dan permusuhan, yang mana hal itu perbuatan yang sangat dicela oleh seantero negeri. Demi meredakan gejolak tersebut, muncullah pepatah, sé tóah jhé’ wah-matóah, sé kana’ je’ na’ makana’. Yang tua jangan sok tua, yang muda jangan sok muda. Saya teringat, sebuah tulisan yang tertempel di setiap tong sampah, “Buanglah sampah pada tempatnya”. Saya merenung sejenak, seandainya orang menyadari, bahwa salah menempatkan kalam hikmah adalah ‘sampah’, niscaya akan dibuang jauh-jauh. Dengan begitu, secara otomatis, kehidupan ini aman dan bersih permusuhan. Karena itulah, bagi yang belum merasa, tempel di jidat masing-masing, “BUANGLAH TEMPAT PADA SAMPAHNYA”. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Liburan, Mau ke Mana?
Jan09

Liburan, Mau ke Mana?

Aku tersenyum melihat temanku membuat sebuah skedul. Ya, sebuah jadwal pulangan. Mulai tanggal 20 Sya’ban hingaga 14 Syawal tuntas dia rancang. Kalau dikalkulasi, jumlah wisata domistik yang akan dia kunjungi berjumlah 23 “buah”. Dengan bangga dia berucap padaku, “Nanti saat pulangan, jangan nyari aku di rumah!” Dengan kata lain, dia jarang berada di kampung halamannya. Selain senyum, aku juga menggelang kepala, karena tingkah lakunya sangat aneh. Disebut “aneh” karena dia juga gagal paham memaknai pulangan alias liburan. Menurutnya, liburan hanyalah vakansi belaka. Padahal, liburan pesantren memiliki visi dan misi tertentu. Berwisata adalah sebuah kesenangan di balik kekhawatiran. Liarnya dunia ini sudah tidak bisa terkontrol. Bisa jadi sesuatu yang tak dinginkan terjadi. Padahal jika sudah ada di wilayah luar, tidak satupun orang yang mempedulikan kita. Berlibur pasti membutuhkan alat transportasi. Mulai dari sepeda motor hingga mobil. Belakangan ini—menurut riset medis—jumlah kematian terbanyak di sebabkan kecelakaan. Tidak hanya itu! Kematian akibat kecelakaan datangnya selalu mendadak. Entah persiapan apa yang sudah dilakukan untuk menghadapi itu semua? Belum lagi sifat ketidaksopanan kita pada keluarga. Ingat, kita telah meninggalkan keluarga selama sepuluh bulan. Mereka semua pasti merindukan kita. Tapi, saat pulang, kita malah tega meninggalkannya. Kesenangan adalah alasan utama berwisata. Padahal dibalik kesenangan itu banyak hal tidak baik. Semisal, kita—di sosmed—selalu pamer foto selfie kita di bermacam-macam wisata. Belum lagi masalah kemaksiatan. Ingat, di antara tempat kesukaan Iblis adalah di jalanan. Di sanalah orang sering ber-ghibah; sering mengadakan tawuran; melihat ajnabiyyah dan lain sebagainya. Daripada numpuk dosa, mending kita numpuk pahala di kampung halaman. Silaturrahim, birrul-walidain dan lain semacamnya. Jika kita kebelet untuk berwisata, bervakansilah tapi bersama keluarga, jangan bersama teman! Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Sinar Redup Sastra Sidogiri
Jan08

Sinar Redup Sastra Sidogiri

Laksana lilin dalam gelas, sastra Sidogiri mulai mati. Masasi hendak mengangkat gelas itu. Namun, sebelum terangkat, Masasi menghilang entah kemana. Masihkah api sastra bertahan? Laporan: Muhammad ibnu Romli Berbicara perihal bangkit-runtuh sastra di Sidogiri, kami menemui saksi sejarah yang masih berstatus santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri. Bin Damiri, namanya. Setelah menghirup aroma secangkir kopi di hadapannya, beliau menjelaskan, “Meninjau perkembangan, santri di sini memiliki potensi yang lebih besar ketimbang pelajar selain pesantren. Namun, kekurangnnya hanyalah sosok yang sanggup untuk mengayomi.” Sambil menunjuk ke arah saya, santri berdarah Camplong, Sampang ini melanjutkan, “Kamu ingatkan? Tahun lalu, sempat ada Masasi yang ingin menyatukan semua sanggar yang ada di Sidogiri. Namun, sehabis satu acara, majelis tersebut juga turut habis, dengan beberapa kendala.” Saya pun teringat sangat, tepat setahun lalu. Muktafi Kafi, Bangkalan mengundang seluruh pemimpin sanggar ke rumah dinas, guna menjalankan kelas sastra di Sidogiri. Setelah konsep rampung, Masasi ingin mengadakan acara perdana sekaligus louching konsepnya. Sebagai tampilan perdana, Sanggar Iqra’ menampilkan puisi berjemaah, sebagai acara pembuka. Deklarasi puisi dikuasai Sanggar Tobung. N. Shalihin Damiri, dari Sanggar Kun berencana menampilkan puisi bergenre monolok. Sayang, santri berinisial Bin ini berhalangan. Hadir sebagai sambutan, Muhammad Ibnu Salam dari Sanggar Pelangi, dengan membaca puisi sekalugus motivasi. Usai acara, Masasi tak ada kabar. Hingga tahun ini, Masasi tetap bungkam. Ditambah lagi dengan Muktafi Kafi yang sedang tugas ke Jember. Sebelum Masasi berdiri, acara yang bertajuk Ngaji Puisi yang dituanrumahi Sanggar Iqra’ menjadi batu pertama. Turut meramaikan kala itu, Sanngar Hijrah, Sanggar Tobung dan Sanggar Tajribat. Jauh sebelum itu semua, Sanggar Inspirasi yang diprakarsai Ust. Fadhoil Khalik dan kawan-kawan hadir sebagai majelis sastra perdana di Sidogiri. Upaya alumni bernama pena Afak akram ini tidak sia-sia. Beliau sempat melahirkan antologi puisi, yang diterbitkan di Balai Pustaka. Disusul dengan antologi cerpen, adikarya prajurit Sanggar Kun. Kemajuan semacam itu terbilang sangat cepat. Sastra sangat berkaitan dengan pesantren. “Kata sastra bermakna keindahan. Pencari ilmu, konon dipanggil sastri, sang pencari keindahan. Untuk membedakan pelajar salaf dengan formal, Sunan Ampel merubahnya menjadi santri,” terang d. Zawawi Imran saat mengisi Ngaji Sastra di Sidogiri, dua tahun...

Selengkapnya