Begadang, Boleh Saja!
Begadang jangan begadang/ Kalau tiada artinya// Begadang boleh saja/ Kalau ada artinya/ Itulah cuplikan lirik lagu karya Bang Haji, Rhoma Irama. Dengan lagunya, Bang Haji memperbolehkan kita begadang selagi ada artinya. Begadang memang disukai banyak kalangan, mulai dari remaja hingga lansia. Sebab, kesunyian, ketentraman dan jaringan lancar menjadi pembeda antara siang dan malam. Lantas siapa yang tidak suka begadang jika jaminannya begitu? Termasuk saya sendiri. Malam adalah hutan inspirasi. Berdiri di hadapan malam, bagaikan memegang tembak. Ya, bisa menembak inspirasi yang ada, dan juga sebaliknya. Malam tergantung yang menafsirkannya. Bisa bermakna baik, dan bisa juga buruk. Untuk itu, saya sama sekali tidak melarang begadang. Bahkan menganjurkan. Jika memang digunakan pada tempat semestinya. Ingat, orang bisa menjadi wali disebabkan memaksimalkan waktu malam. Pahala yang ditawarkan oleh Allah SWT pun tidak tanggung-tanggung. Apalagi di bulan Ramadan. Pada waktu itu, ada satu malam yang setara dengan seribu bulan. Malam yang terkenal dengan istijabah. Malam yang bisa melangkahkan kaki, seribu kali kedepan. Ketika begadang—yang ada artinya—pada malam itu. Niscaya sangat beruntung. Ya, keberuntungan yang sulit diungkapkan. Sebagaimana dawuh Habib Lutfi bin Yahya, “Seseorang yang memperoleh keindahan lailatul-qadr, bagaikan pengantin anyar. Kebahagiannya tak bisa diungkapkan!” Tapi disisi lain, malam adalah waktu yang paling menyeramkan. Lantaran banyak sekali setan yang mengganggu. Bukan mengganggu dengan penampakannya yang menyeramkan, melainkan menggoda akan hal yang berbau negatif. Jika kita sudah terperangkap dalam jebakan itu, maka sia-sialah amal kita selama berbulan-bulan di pesantren. Bagaikan pencari kayu, yang sudah mengumpulkan kayunya selama berbulan-bulan, tapi hangus dibakar api dalam satu menit. Walhasil, silahkan begadang, asal ada artinya. Muhammad ibnu...
Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani
Keterbatasan lembaran sejarah membuang sebagaian besar sejarah yang belum tertulis. Pada semester pertama, Badan Pers Pesantren (BPP) mengupayakan untuk menelusuri sejarah awal seluruh media pesantren, dalam bentuk lomba. Pada semester kedua, BPP kembali mengadakan sayembara penelususran sejarah instansi di Sidogiri. Namun, sampai saat ini, belum pernah sejarah berdiri Pasar Santri dan Kuliner Santri tertuang dalam naskah. Untuk itu, Kabar Ikhtibar menghadirkan sepak-terjang keduanya pada edisi kali ini. Laporan: Muhammad ibnu Romli Malam Senin (02/08) kami berbincang lebar dengan Mohamad Hilmi Khoifillah (21), Rembang, yang konon ayahnya menjadi perintis bazar satiap akhir tahun ajaran. Bpk. H Nor Hamim, namanya. Beliaulah yang memiliki inisiatif membangun bazar di halaman Daerah K. “Dulu, pertama kali bazar didirikan terletak di depan Daerah K,” ceritanya, mengawali perbicaraan. Setelah mengambil nafas sejenak beliau melanjutkan, “Pertama kali saya memiliki inisiatif semacam itu, saya izin ke kantor, dan diberi restu oleh KH Hasani Nawawie. Pertama kali yang meresmikan adalah KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil. Sehari setelahnya, baru KH Hasani yang meresmikan,” tambahnya. Menurut laporan, kantor sekretariat dulu masih terletak di samping Daerah F (kini Daerah P). Di sanalah tempat pengurus harian bisa ditemui, termasuk KH. Hasani bin Nawawie. “Bazar yang dulu tidak seperti sekarang. Konon, hanya ada kitab dan semacamnya, sementara makanan dan minuman masih jarang,” terang alumni asal Pekoren, Rembang ini. Setelah dimintai penjelasan perihal tujuan, beliau menjelaskan, “Saya ingin, kalau nanti tabungan sudah keluar, santri bisa lebih bijak mengelolanya. Dengan artian, memilih barang yang lebih besar manfaatnya, seperti kitab dan lain sebagainya.” Memang, bazar dulu hanya identik dengan kitab, buku dan pakaian. Namun, seiring waktu berjalan, tersedialah makanan dan minuman. Dari sana bazar terbagi menjadi dua: Pasar Santri dan Kuliner Santri. Asal-mula muncul kuliner, sangat erat dengan kopontren. Mula-mula kopontren membuka stand sendiri. Sejak dulu, di antara lauk-pauk di sana berasal dari keluarga Sidogiri.Dari sanalah, bazar (kini: Kuliner Santri) membuka stand khusus keluarga Sidogiri, secara terpisah dari kopontren. Letak stand Kuliner Santri ini pun sempat berpindah-pindah. Pada mula, Daerah K, lalu pindah ke kopontren unit I. Lalu, ke timur as-Suyuthi. Pada Milad Sidogiri 280, Kuliner Santri sempat berpindah ke lapangan...
Belajar Rangkuman, Kenapa Tidak?
Banyak orang menyangka bahwa ringkasan (atau bahasa akrabnya rangkuman) perlu dibasmi. Bahkan pembuatnya pun—termasuk aku—dikritik habis-habisan. Katanya, ringkasan itu pembodohan. Apakah hal demikian benar? Jika kita melihat sejarah, pada masa salaf, ringkasan sudah tersebar luas dari tangan-tangan ulama. Lebih tepatnya disebut mukhtashar. Dan, yang lebih penting lagi, tak satu pun ulama yang berani menyatakan bahwa hal demikian itu pembodohan. Tersebutlah sebagai rekor perangkum yang produktif: Syaikh Zakariya al-Anshari, mujaddid abad ke-10. Ribuan kitab berat, telah berhasil beliau ringkas se-simple mungkin. Bahkan—saking simple-nya—jarang sekali orang bisa paham 100%. Hingga, jalan pintasnya (agar tidak terjadi gagal paham), beliau mensyarahi sendiri. Tujuannya pun sama dengan riangkasan sekarang. Yakni, menyulap kitab besar menjadi kecil. Hal itu terkadang berbentuk mukhtashar (ringkasan lengkap), ada pula yang berbentuk muqtashar (ringkasan sepintas, kalau sekarang berbentuk soalan, skema dan kertas pembantu ingatan). Visi sebenarnya—dari adanya ringkasan—sekedar untuk memudahkan pelajaran. Hanya orang bodoh—setengah gila—yang mengira bahwa rangkuman itu menyulitkan. Bahkan, orang yang melarang adanya ringkasan itulah yang sebenarnya menyulitkan pelajaran. Otak manusia berbeda-beda. Hal itu sudah maklum. Sehingga tidak etis jika kemampuan yang berotak rendah, diukur dengan orang yang bisa membaca kitab “gundul” layaknya membaca novel. Bukan berarti orang yang belajar “putihan” dia malas mutahlaah kitabnya langsung. Terkadang, dia hanya kesulitan mencerna lafal “gundul” yang ada di kitab “kuning”, sehingga terpaksa memakai yang “putih”. Jika setelah membaca tulisan singkat ini kamu masih anti-rangkuman, maka—kalau berani—datanglah ke perpustakaan, dan bakarlah 146 kitab mukhtashar adikarya ulama salaf. Mungkin saja—jika mau tebak-tebakan—kamu pulang menjadi katak. Muhammad ibnu...
Tahun Baru, Apa Tahun “Bherui”?
Selamat tahun barui (baca: basi). Itulah gojlokan salah satu teman kepada saya. Awalnya agak jengkel, akan tetapi setelah dipikir ulang, omelan itu ada benarnya. Mengingat, kalender memang sudah baru, akan tetapi diri saya sendiri belum pernah baru, alias barui. Dari cemoohan itulah, saya sadar, bahwa yang terpenting dalam tahun baru bukan perayaan. Akan tetapi, me-restart ulang semua perilaku saya. Ctrl + S (save) pada semua file penting, sedangkan virus harus segera di-Ctrl + D (delete). Selain itu, saya harus meng-instal software baru serta meng-upgrade ke versi terbaru. Agar omongan barui tidak terdengar lagi. Sebab, dengan melakukan semua itu, “komputer” akan terasa baru, tanpa harus membeli yang baru. Juga, yang lebih penting adalah: empty recycle bin. Dengan begitu, semua virus yang sudah di-delete tidak bisa di-restore kembali. Terakhir, jangan malu untuk merubah background dan menata ulang tampilan di desktop. Karena, untuk menata bagian dalam, harus dimulai dengan menata bagian luar terlebih dahulu. Seandainya, setiap tahun baru saya melaksanakan seluruh item di atas, niscaya akan menjadi manusia baru. Meski kenyataannya sudah berkepala tiga. Saya teringat pada saat liburan (baca: pulangan) kemarin. Tepatnya, saat jalan-jalan di ITCity, Surabaya. Di salah-satu lantai—entah lantai berapa—saya melihat jejeran stan eletronik. Di salah satu stan, terlihat penjual memamerkan salah-satu barangnya. Saya tertawa dalam hati, melihat laptop baru keluaran 2017, Microsoft Office-nya masih 2003. Lebih tepatnya—julukan untuk laptop tersebut—baru rasa barui. Jika dipikir-pikir, lebih baik komputer lama, tapi programs-nya baru. Di bandingkan dengan komputer baru, tapi programs-nya barui. Karena, yang terpenting adalah dalam kinerja komputer adalah programs. Begitupula manusia, yang terpenting dalam diri manusia adalah: perilaku. Bukan dari orangnya. Samahalnya pepetah Madura, tékká’ah muáh júbé’, sé pénting ghéllém mekól. Meskipun bermuka jelek, tapi mau disuruh memikul (baca: bekerja). Dari pepatah itu, dapat diambil kesimpulan bahwa: yang paling dilirik masyarakat adalah sifat dan perangai, sedangkan penampilan itu nomor belakang. Begitupun tahun baru, yang terpenting bukanlah cara kita merayakan. Akan tetapi, sebesar mana perubahan yang ada. Sungguh rugi jika umur berkurang, malah amal baik juga ikut menurun. Lantas apa yang dibanggakan, hingga dirayakan besar-besaran? Sungguh malu, jika yang belum menjadi lebih baik meneriakkan, “Selamat tahun baru!” Perkataan itu seakan-akan mengucapkan selamat pada sû’ul-khatimah. Na’udzubil-Lah! Muhammad ibnu...
Menambal Moral Bocor
“Beradab tanpa ilmu, lebih baik dari pada berilmu tanpa adab” ~Habib Umar bin Hafidz Perkataan itu menjadi prinsip di setiap pesantren. Mengingat, ilmu hanyalah batang pohon belaka. Sedangkan akhlak (baca: amal) adalah buahnya. Pohon tanpa buah samahalnya tumbuhan gagal panen, alias wujudnya sama dengan ‘adam-nya. Untuk itu, tolak ukur kesuksesan santri ditinjau dari moral kesehariaannya. Bukan dari daya intelektualnya. Banyak juarawan pesantren, yang dianggap gagal karena kebejatan moralnya. Tragisnya, akhir-akhir ini moral sudah dianggap penghias belaka. Yang lebih prioritas adalah “ilmu”. Sehingga tak ada bedanya antara pesantren dan sekolah formal di luar. Anehnya lagi, tidak hanya santri yang gagal paham melihat misinya di pesantren. Wali santri pun terkadang salah kaprah dalam menyikapi niat memondokkan anaknya. Bukti nyata bahwa wali santri juga gagal paham adalah: sering kali mereka menangis akibat nilai rapot anaknya merah. Bahkan tak jarang dari mereka yang merasa rugi mengirim anaknya yang tidak naik kelas. Bahkan sebagian mereka sengaja mengeluarkan anaknya dari khidmah di instansi pesantren, agar fokus pada pelajaran sekolah. Kesalahan wali santri, tidak menafikan kesalahan santri sendiri. Cita-citanya sendiripun sedikit yang bisa memahami. Tak jarang dari mereka tidak taat pada gurunya gara-gara metode KBM-nya dianggab lemot. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang berani mengeritik gurunya secara terang-terangan. Na’ûdzu bil-Lâh! Juga, kepada perintah guru, mereka menganggap sebagai sebuah anjuran biasa. Di ikuti al-hamdu lil-Lâh, ditinggalkan tak masalah. Padahal kalau kita mau membuka lembaran sejarah, tersebutlah nama Syaikhana Khalil Bangkalan, sebagai santri yang sangat taat pada guru. Dikisahkan, semasa mondok, beliau diperintah gurunya untuk menyapu halaman dalem. Beliau langsung siaga tanpa komentar ini-itu. Bahkan, beliau selama berhari-hari tidak beranjak dari halaman dalem, demi menunggu intruksi selanjutnya. Semacam itulah sekarang yang mulai asing . Di mana saat santri lebih mencari ilmu daripada barokah. Sehingga ia semakin jauh dari Allah, saat ilmunya semakin tinggi. Jika hal itu dibiarkan, maka semakin jam dinding berputar ke kanan, semakin buruklah moral santri. Samahalnya paralon bocor. Jika tidak segera ditambal, maka semakin membesar. Solusi tepat untuk memperbaiki hal itu adalah dengan memulai dari diri sendiri. Karena mustahil ia memperbaiki orang lain jikamengurusi diri saja “angkat tangan”. Tirulah metode dakwah Rasulullah SAW dalam berdakwah . Setelah diri sendiri, beralih kepada sanak famili. Berikut kepada sahabat dekat, para tetangga dan begitu seterusnya. Begitupun dengan kita. Setelah memulai dari diri sendiri, mengajak sanak saudara, beralih ke teman bilik, teman daerah dan begitu seterusnya. Jika misi itu berhasil, bersiaplah bibir Anda untuk tersenyum. Karena kelak akan melihat tumpukan pahala yang tak bisa dibayangkan. Berkat kemanfaatan suatu ilmu, yakni ilmul-hâl. Ingat, hanya ada tiga hal yang akan abadi, salah satunya, ilmu yang bermanfaat. Untuk itu, tunggu apa lagi? Muhammad ibnu...
Mengandalkan Cerdas, Kerja Keras, ataukah Yakin?
Hampir seluruh hayawanun-nâtiq bertanya, “Apakah gerangan keyword kesuksesan itu?” Pasti, lebih dari 75% orang menjawab “rajin”. Sebab—pepatah Arab mengatakan—al-ajru biqadrit-ta’bi, kesuksesan adalah imbalan jerih payah. Memang, latihan adalah barometer kesuksesan. Sebab—kata Hermawan Aksan—99% yang ikut andil dalam meraih kesuksesan adalah latihan, sedangkan 1% adalah bakat. Akan tetapi, 25% mengatakan kecerdasan. Sebab, kecerdasan dapat melipat waktu. Jika hanya kerja keras, hasilnya itu-itu saja. Tidak lebih! Sebagaimana kata Ust. Dumairi Nor, cendikiawan ekonomi, “Orang kaya hanyalah orang yang mau kerja cerdas, bukan yang kerja keras”. Tapi apapun alasannya, keduanya sama-sama penting. Percuma orang cerdas tanpa melakukan usaha sedikitpun. Juga, percuma kerja keras tapi tidak memutar otak sedikitpun. Ingat! Kedua-duanya penting. Akan tetapi ada yang lebih penting lagi, yaitu keyakinan. Seseorang dapat meraih impiannya hanyalah dengan keyakinan. Keyakinan adalah terjamahan dari bahasa Arab “i’tiqad”. Dari itulah, muncul istilah “tekad”. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI), kata “tekad” diartikan dengan kemauan (kehendak) yang pasti; kebulatan hati; iktikad. Untuk itu, tanpa kemauan yang nyata, rajin dan cerdas tidak ada gunanya. Mengingat, kemauanlah yang dapat mewujudkan segalanya. Hingga meluncurlah pepatah, “Tak ada yang mustahil di dunia ini”. Selain itu, kata “i’tiqad” bisa di artikan dengan dogmatik. Keyakinan adalah syarat terpenting dalam beragama. Salah dalam menempatkan keyakinan, parah juga akibatnya. Karena, dengan anti dogmatik, seseorang takkan bisa masuk surga. Mengingat, surga adalah tempatnya orang yang yakin pada ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan bekal kecerdasan, seseorang takkan bisa mengenal tuhan. Buktinya, banyak orang IQ-nya tinggi tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Begitupun kerajinan, banyak orang barat bertahun-tahun mencari tuhan, tapi hasilnya sia-sia. Modal pertama dalam menganalisa tuhan adalah “keyakinan”. Tidak ada lain! Sebagaimana perkataan Abdurrahman ad-Dakhil (Gus Dur), “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, asal yakin di jalan yang benar”. Tidak dibenarkan—bagi orang yang ingin berubah—tunduk pada cerdas dan rajin. Sebab, perubahan hanyalah ada pada mereka yang memiliki tekad yang bulat. Muhammad ibnu...