Misteri Terutusnya NAbi Muhammad  Dalam Bible
Nov21

Misteri Terutusnya NAbi Muhammad Dalam Bible

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam (Maria) berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad” (QS. Ash-Shaff 61:6) Sebuah kafilah dagang memasuki kota Syam. Di sana kafilah itu didatangi oleh seorang pendeta Nasrani bernama Jarjis. Pendeta Jarjis atau lebih dikenal dengan Bahira menyatakan kekagumannya pada seorang bocah kecil, kira-kira berusia 12 tahun yang ikut bersama rombongan dagang itu. Pendeta berkata, bahwa ia melihat saat mereka menuruni bukit, banyak batu dan pohon-pohon yang bersujud kepada anak kecil bernama Muhammad itu. Bahira menambahkan bahwa ia juga melihat sebuah tanda yang terdapat di bawah pundaknya, mirip buah apel, menurut Bahira itu merupakan tanda-tanda kenabian yang ada dalam kitab agamanya (al-Kitab). Sebuah misteri kelahiran sang pelita dunia yang telah diramalkan oleh kitab terdahulu terkuak kembali di abad ke-19 M. Seorang mualaf bernama Abdul Ahad Dawud kelahiran 1867 di Urmia, Persia berhasil mengungkapkan misteri tersebut dalam bukunya berjudul Muhammad in the Bible. Dalam bukunya itu, mualaf yang merupakan mantan pastur Katholik Roma sekte Uniate-Chaldean menyebutkan beberapa argumen hasil penelitiannya terhadap isi kitab Bible, yang ke semua pendapat itu, menunjukan bukti-bukti bahwa Nabi Muhammad sudah diperkirakan kehadirannya menjadi utusan Allah setelah Nabi Isa pergi atau Yesus menurut keyakinan agama Nasrani. Bible adalah nama kitab yang berisikan perjanjian lama dan perjanjian baru menurut agama Nasrani atau Kristen, sedangkan menurut kita umat Muslim bisa digambarkan sebagai evolusi dari kitab Taurat dan Injil yang banyak berubah dan diragukan keasliannya. Walaupun demikian, ternyata ditemukan sebuah bukti yang tidak terbantahkan melalui pena mantan pastur bernama Prof. David Benjamin Keldani yang kini, ketika sudah masuk Islam, lebih dikenal dengan Mr. Abdul Ahad Dawud bahwa agama yang benar-benar mendapat ridho Allah adalah agama Islam dengan diutusnya nabi akhir zaman yang telah diramalkan yesus atau Isa di dalam al-Kitab (Bible). Bukti pertama ada dalam perjanjian lama, disebutkan bahwa Yesus akan pergi, karena dengan kepergiannya maka Sang penghibur akan datang. Sang penghibur atau roh kebenaran di sini tiada lain adalah Nabi Muhammad. Tidak bisa diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus), seperti versi Teolog Kristen. Karena, Nabi Muhammad diutus sebagai Rasul ketika Nabi Isa telah diangkat oleh Allah ke langit. Bukti kedua datang dari perjanjian baru. Tercantum nama “Malachai” dalam buku terakhir dari Canonical Jewish Code of The Bible, yang kelihatannya lebih sebagai julukan daripada sebagai nama diri. Pengucapan yang benar dari nama ini adalah “Maleakhi” yang artinya “malaikatku” atau “pesuruhku”. Dalam bukunya Mr. Dawud, Muhammad in the Bible, maleakhi di sini memiliki pengertian orang yang ditugaskan untuk menyampaikan suatu pesan/ kabar kepada seseorang. Sang pesuruh berdasarkan penelitian Mr.Dawud dalam Bible, Maleakhi 3:1, ...

Selengkapnya
Cara Membangkitkan Cinta Kepada Rosul
Nov20

Cara Membangkitkan Cinta Kepada Rosul

“Adalah Muhammad, Nabi kita, Sang Kekasih Allah, putra dari pasangan Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah Bin Abdul Muthalib yang lahir di hari Senin, tepatnya malam senin menjelang fajar Subuh, 12 Rabiul Awal, tahun Gajah.” Beberapa hari lagi, 12 Rabiul Awal diberbagai penjuru dunia akan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Hingga, tak jarang kita temui, terpampang sejak jauh-jauh hari di pesantren ini, di setiap ruang, baik kamar (red. Bilik) ataupun kelas, angka-angka yang menghitung dan menyambut hari pulangan. Konon saat-saat pertama Nabi melihat dunia, keluar dari rahim sang ibunda Aminah, Abu Lahab bahagia mendengar kelahiran keponakannya. Hingga, sebagai ungkapan kebahagiaannya tersebut, ia pun memerdekakan budaknya, yang bernama Tsuwaibah, dan menyuruhnya menyusui keponakannya tersebut. Abu Lahab. Dia memang paman Nabi. Namun dia kafir, tidak mau mengakui kenabian keponakannya, Muhammad. Dia juga selalu menentang dakwah Nabi, mencemooh Nabi, menghina al-Quran dan selalu menyakiti Nabi. Dialah yang telah melempari Nabi dengan kotoran unta, saat Nabi sedang sholat. Dia juga yang mempunyai rencana ingin membunuh Nabi, namun tidak pernah berhasil. Diceritakan dalam buku “Al-Fadho-il, Fadilah dan Amaliah Bulan-bulan Hijriyah” karangan Ibnu Marwa, yang dikutip dari kitab “Al-Anwarul Muhammadiyyah”, karangan as-Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabbani, bahwa Abu Lahab dalam mimpi ditanya “Bagaimana keadaanmu wahai Abu Lahab?”. Abu Lahab menjawab “Aku mengalami penderitaan di neraka, namun setiap Senin aku mendapat dispensasi. Aku dapat menghisap dan meminum air yang keluar dari kedua jariku. Sesungguhnya itu aku dapatkan karena saat Muhammad SAW lahir aku ikut berbahagia, hingga tsuwaibah aku merdekakan dan aku perintah menyusuinya.” Jika Abu Lahab yang kafir, yang menentang Islam, yang suka menyakiti Nabi dan memnghina al-Quran, dibalas oleh Allah sedemikian rupa, karena pernah merasa gembira saat kelahiran Rasulullah. Bagaimana dengan orang muslim yang sepanjang hidupnya mencintai Rasulullah? Setidaknya cerita ini dapat membangkitkan cinta kita pada Rasulullah. Tidak hanya sekedar mengikuti tradisi perayaan Maulid Nabi, namun juga memahami maksud baik adanya tradisi tersebut. /Z....

Selengkapnya
Dosa Mengantarnya menuju Surga
Nov19

Dosa Mengantarnya menuju Surga

“Terkadang Allah membuka peluang taat untukmu, tapi belum tentu ia terima. Dan terkadang Allah  mentakdirkanmu berbuat dosa, tapi, justru itu sebab engkau wushul padanya.” ( Ibnu Athaillah as-Sakandari) Konon, suatu hari sahabat Anas bin Malik melintasi satu daerah. Entah, tidak jelas beliau dalam perjalanan dari mana. Yang jelas kisah ini dikutip Syekh an-Nafazi dalam Syarh al-Hikam-nya. Dalam perjalanan itu, beliau bertemu satu rombongan. Empat orang mengusung keranda, satu lagi wanita mengiringi di belakangnya. “Aneh.” kata sahabat Anas. Apa gerangan sehingga jenazah itu seolah tidak diperhatikan. Karena penasaran,  beliau ikuti dari belakang rombongan itu. Sesampainya di pemakaman dan jenazah sudah selesai dikebumikan, tiba-tiba wanita yang tadi tertawa kegirangan. Semua orang heran, termasuk sahabat Anas dan sahabat yang lain waktu itu. Didorong rasa penasaran, sahabat Anas mendatangi wanita tadi. Beliau bertanya, “Wahai Bibi, ada apa gerangan sehingga bibi tertawa seperti itu?” Perempuan itu hanya diam menanggapi pertanyaan sahabat Anas. Beberapa saat kemudian, senyum tersungging di wajah wanita tersebut. “Nak,” katanya lembut. “Kau tahu? yang mati ini anakku. Ia masih muda, tampan sepertimu,” Raut muka wanita itu mulai berubah seperti suasana yang tiba-tiba berubah menjadi haru. “Sewaktu hidup, dia sangat nakal,” tangisnya mulai pecah. Sahabat Anas yang mendengarnya mulai berkaca-kaca. “Sebelum pergi, dia berwasiat padaku: ‘Bunda, jika anakmu yang penuh dosa ini mati, aku mohon, bunda rahasiakan kematianku. Jangan sampai ada tetangga yang tahu. Aku khawatir, mereka malah risih karena harus mengurusi jenazahku. Sudah, cukup Bunda seorang saja. Dan cincinku ini, tolong Bunda tuliskan di kain kafanku “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah” Siapa tahu, berkatnya, Tuhan akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosaku, dan Rasulullah berkenan, paling tidak meneduhiku dengan jubahnya kelak di neraka jahannam. Sebelum aku dimasukkan ke liang lahad, Bunda injak pipi anakmu yang hina ini, yang keras Bunda, ya. Bunda angkat tangan bunda, lalu katakan “Ya Allah, inilah balasan baginya yang durhaka padamu.” Lalu, kalau jasadku sudah sempurna tertimbun tanah, Bunda angkat lagi tangan Bunda. Bunda katakan yang keras “Ya Allah, pada detik ini, aku ridha pada anakku yang malang ini, kuharap engkau juga berkenan meridhainya.” Ini wasiatku Bunda. Tolong Bunda penuhi.” Usai meninggal, aku penuhi semua wasiatnya. Aku berdo’a untuknya. Tiba-tiba, terdengar suaranya menggema, fasih sekali. “Bunda,” panggilnya dengan nada penuh gembira. “sekarang tugasmu sudah selesai. Anakmu sudah menghadap pada Tuhan yang Maha Pengasih. Ia sama sekali tidak marah padaku, apalagi memperhitungkan dosa-dosaku. Jadi, silahkan Bunda kembali, tugasmu sudah selasai. Terimakasih Bunda.” Mendengarnya aku tertawa seperti tadi.” Kata wanita itu menutup ceritanya. Dari cerita ini, benar sekali Ibnu Athaillah menggubah kalam hikmah diatas: “Terkadang Allah membuka peluang taat untukmu, tapi belum tentu ia terima. Dan terkadang Allah  mentakdirkanmu berbuat dosa, tapi, justru itu sebab engkau wushul padanya.” Sekarang, jika ada...

Selengkapnya
Dakwah Kita Harus Seperti Mereka
Nov18

Dakwah Kita Harus Seperti Mereka

Sejatinya, santri adalah jiwa yang berpegang teguh terhadap al-Quran dan hadis nabawi, serta tidak menoleh ke kanan dan ke kiri (teguh pendirian) untuk selama-lamanya. Demikian yang disebut santri versi KH Hasani Nawawie sidogiri. Di era berkembangnya teknologi-informasi (IT) yang semakin memuncak, internet telah menjadi sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat di berbagai belahan dunia. Kecanggihan teknologi yang semakin bergaya telah menjadikan masyarakat gemar bergaul di dunia maya, dengan alasan menggali informasi seputar gaya hidup, kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, sederhananya, para santri harus bisa berbaur di dalamnya, bukan untuk membebek dan latah seperti mereka yang di luar sana, tapi supaya dapat mewarnai dan memberikan efek positif pada pengguna dunia maya. Mengapa dari sekian banyak media sosial, yang paling banyak diminati oleh para santri adalah facebook? Karena di facebook-lah setiap orang bisa terbuka untuk bergaul, berinteraksi bahkan dalam berbisnis sekalipun. Fasilitas yang diberikan facebook tidak tanggung-tanggung, selain daftarnya gratis, di dalamnya juga terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi, setidaknya untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran. Di dalamnya juga bisa terdapat grup dan fanspage yang bisa kita utak-atik sesuka hati, serta bisa bertemu dengan teman lama di beranda yang terdapat di dalamnya. Facebook merupakan jejaring sosial yang paling sukses dalam perjalanan dunia di abad ke 21. Jejaring tersebut dirintis oleh beberapa anak muda yang berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang dikomandani oleh pemuda yang bernama Mark Zuckerberg, pada 28 Oktober 2003. Jejaring ini awalnya diberi nama Facesmash, lalu pada 04 Februari 2004 berganti nama menjadi Facebook. Dan secara resmi baru diluncurkan pada 26 September 2006 ke seluruh dunia, kemudian bisa digunakan oleh setiap orang minimal berusia 13 tahun. Melihat perkembangan yang ada saat ini, fenomena maraknya media sosial bisa diibaratkan pisau bermata dua yang menyimpan nilai positif dan negatif sekaligus. Kita tidak bisa menghindari kemajuan sebuah teknologi sepenuhnya, itulah sebabnya kita harus berhati-hati dan waspada, jangan-jangan, kita adalah korban pisau jejaring sosial yang bisa membunuh moral-religius kita. Bergaul di facebook itu sama halnya kita bergaul di dunia nyata. Itu sebabnya, kita jangan kelewat batas mentang-mentang bebas tanpa ada hambatan, rasa takut, rasa malu, dan minder. Kita selalu dituntut untuk bisa menjaga kesopanan seta tidak boleh melempar fitnah, berbohong, menipu, dan sejenisnya. Hindarilah ngawur dalam segala hal seperti obral diri apalagi menghina dan menyakiti perasaan orang lain, meski itu hanya berupa sindiran. Nah sekarang kita sedang berada di kondisi yang serba elektronik, oleh karena itu kita dituntut cerdas dan tanggap dalam merespon dan menangkap momen ini. Jika dahulu wali songo berdakwah dengan berbaur pada tradisi dan kebiasaan masyarakat pribumi, maka kenapa tidak bagi orang pesantren seperti kita berdakwah dengan cara ikut berbaur dengan...

Selengkapnya
Setetes Air Mata Orang Tua, Jalan Menuju Neraka
Nov17

Setetes Air Mata Orang Tua, Jalan Menuju Neraka

Prolog Santri itu marah melihat perempuan tua berbaju lusuh -bahkan banyak roberakan- mendatanginya ke Sidogiri. Apalagi ketika melihat sandal yang dia gunakan ternyata “berselingkuhan”-yang kanan bermerek Swallow warna merah, yang kiri bermerek Skiway berwarna biru, hatinya semakin tenggelam dan terhanyut perih dalam amarah. Pergaulannya yang penuh kemewahan di Sidogiri, meski hasil ngutang sana-sini, telah membuat hatinya tertutup untuk bisa mengerti arti perjuangan yang selalu dilakukan oleh perempuan tua yang tak lain adalah ibunya sendiri. Jauh-jauh dari pulau Madura bersimbahkan peluh dan lesu, semuanya terobati ketika anaknya terlihat dari kejauhan, pelan-pelan mulai menghampirinya. Dia tahu, bahwa di akhir tahun seperti ini, banyak wali-santri yang datang ke Sidogiri. Dia tidak mau melihat anaknya hanya bengong sendirian. Karena alasan itulah, sekarang dia berada di sana. Namun, bukannya bahagia melihat ibunya datang, anak itu justru merasa malu. Dia takut teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya tahu bahwa dirinya tak lebih hanyalah anak orang miskin dan melarat. Menoleh kesana-kemari, melihat-melihat anak santri yang lalu lalang di sekitarnya. Jangan sampai teman-teman melihat ibu saya, doanya dalam hati.                 Skenario Tuhan akhirnya terjadi. Gerombolan teman-temannya berjalan, dan –mungkin hanya kebetulan- melewati dirinya yang sedang terpaksa menemui ibunya. Anak itu panik. Diam-diam dia berdiri. Agak menjauh dari lemek usang tempat ibunya duduk. Teman-temannya yang melihat kemudian bertanya, “Kiriman? Orangtuanya mana?” Anak itu kebingungan. Haruskah saya beritahu ibuku yang seperti ini. Namun dengan penuh kesadaran, dia tunjuk perempuan paruh baya yang dari penampilannya terlihat jelas bahwa dia orang kaya. Perempuan itu berada tepat di samping ibunya. Sungguh sangat keterlaluan! Dia tidak menunjuk ibunya sendiri! Ibunya yang melihat jelas semua kejadian yang diperankan anaknya yang seperti Malin Kundang itu hanya diam penuh keheranan, sebelum akhirnya dia menangis karena sadar, bahwa anaknya tidak pernah mengharapkan disini. Di Sidogiri. Bahkan, kini dia tahu bahwa anaknya malu memperkenalkan dirinya kepada teman-temannya sebagai ibu sendiri.   Mereka Surga Kita Sebuah cerita yang cukup membuat hati ngilu. Kita tahu, salah satu busur panah yang bisa membuat perih hati nurani adalah, tidak diakui di hadapan diri sendiri. Apalagi dengan orangtua yang tidak diakui oleh anaknya di depan teman-temannya!? Dalam firman-Nya, Allah banyak memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, khususnya kepada ibu. Sepeti dalam surah an-Nisa’ ayat 36; al-Isra’ 23-24; al-‘Ankabut 08; dan surah Luqman ayat 14. Lebih dari itu, Allah kadang menyandingkan berbuat baik kepada orangtua dengan menundukkan jiwa menyembah kepada-Nya. Semua itu menunjukkan betapa birul walidain (berbuat baik kepada orantua) sangatlah tinggi derajatnya. Bahasa sederhananya, derajat birul walidain “menyamai” menyembah kepada-Nya. Di samping al-Quran, birul walidain juga banyak dijelaskan dalam hadis nabi. Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, “Pekerjaan apa yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad menjewab, “Shalat tepat...

Selengkapnya
Bentuk Romatisme Ala Nabi Muhammad
Nov16

Bentuk Romatisme Ala Nabi Muhammad

Ketika hendak membicarakan keromantisan Nabi Muhammad dalam rumah tangga, ada baiknya jika kisah demi kisah yang ada, kita lihat sabagaimana berikut: Memanggil istri dengan sebutan mesra dan manja Praktek yang berlaku saat ini, memanggil pasangan dengan kata sayang seperti my darling dan yayang, adalah bentuk etika bermanja yang telam lama dipaktekkan oleh Nabi Muhammad 14 abad silam. Sering Nabi Muhmmad memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira (panggilan sayaang Nabi kepada Aisyah) yang memiliki arti perempuan yang rada merah pipinya. Selain itu, nabi juga suka memanggil istrinya itu dengan panggilan Aisy, dengan mengikuti kode tashghir (membuang kata akhir). Dengan ini, jelas Nabi Muhammad ingin bermanja-rayu dengan istrinya itu. Rasulullah berkata pada Aisyah, “Wahai Aisy, ini dia Malaikat Jibril menyampaikan salam padamu.” Aisyah menjawab, “Dan baginya pula keselamatan serta rahmat Allah dan barakahnya.” (HR Bukhari.) Bercanda dengan istri Meski Nabi Muhammad suka bercanda dan tertawa bersama istrinya, tapi sopan santun dan akhlaq yang beliau ajarkan, tetap terlihat dan selalu menghiasi tingkah lakunya. Hal itu semakin menumbuhkan kekaguman yang mendalam di hati para istrinya. Suatu hari Nabi Muhammad duduk di antara Asiyah dan Saudah. Satu kaki beliau berada dipangkuan Aisyah, sedangkan yang lain berada di pangkuan Saudah. Aisyah lalu memberi Saudah makanan semacam kue yang terbuat dari tepung dan susu, tapi dia menolak dengan alasan tidak enak makan. Asiyah terus memaksa Saudah untuk memakannya, tapi tetap saja Saudah menolak. Makanan itu kemudian diambil oleh Aisyah dan dilumuri ke wajah Saudah. Nabi yang melihat itu tertawa. Beliau lalu mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah, agar dia bisa membalas permainan Aisyah. Sejenak, wajah keduanya telah belepotan dengan kotoran kue disana-sini. Tidur Berpelukan tidak hanya sebatas pujian di lisan, kemesraan yang diajarkan ole Nabi juga berlanjut ketika dua pasangan berada dalam kamar. Meski mungkin sedikit tabu dan kurang etis untuk dibicarakan, tapi itu juga harus disampaikan, agar kehidupan rumah tangga yang dijalani umat ini  bisa brlangsung dengan sempurna. Pernah suatu malam Nabi Muhammad berada di luar rumah. Sedangkan Aisyah telah terlelap tidur di dalam. Angin malam lantas mengusik Nabi, hingga beliau memasuki kamar dan membangunkan Aisyah. “Mendekatlah padaku! Hangatilah aku! Hangatilah aku!” kata beliau kepada Aisyah. Aisyah yang ketika itu haid bertanya pada Nabi. Lantas Nabi menjelaskan bahwa bercumbu-rayu itu tidak apa-apa dalam keadaan haid. Aisyah kemudian menghangati tubuh Nabi dengan tubuhnya sendiri. Hingga kahirnya beliau terlelap dan tidur. (HR Abu Dawud) Mandi Bersama Hal yang banyak dilupakan oleh pasangan suami-istri saat ini adalah indahnya mandi bersama. Padahal, bisa kita bayangkan kemesaraan seperti apa yan akan kita dapatkan, jika cara yang satu ini benar-benar dilakukan. Kemesaraan semacam ini, diam-diam telah begitu lama diajarkan secara tersirat oleh junjungan kita Muhammad. Aisyah berkata, “Aku mandi bersama Rasulullah dalam satu...

Selengkapnya