Selfie antara Halal dan Haram?
Prolog Tanpa kita sadari, selfie telah menjadi tradisi orang-orang masa kini. Serasa berdosa jika tidak selfie di momen-momen penting yang dialami. Beragam cara yang dilakukan dan tempatnyapun milih-milih, bila hatinya memandang itu merupakan tempat yang layak, maka tidak perlu berfikir panjang, langsung jepret-jepret dengan gaya tersendiri. Ternyata, selfie tidak hanya digandrungi oleh satu-dua orang saja, bisa dikatakan hampir di seluruh dunia, bahkan ditempat pelosokpun selfie telah menjadi keharusan yang wajib untuk tidak dilewatkan. Orang-orang berselfie ria sering kita temukan ditempat-tempat umum. Begitu menyaksikan pemandangan yang dianggap istimewa, mereka langsung pasang kuda-kuda untuk berselfie. Kadang gemes juga sih melihat kelakuan-kelakuan unik itu. Kadang mereka sengaja memanyunkan bibir supaya menghasilkan foto yang lucu dan unik. Pose manyun ini sangat populer dikalangan para aktivis selfie dan mereka biasa menyebutnya dengan duck face (wajah bebek). Selfie juga tidak memandang umur, anak kecil, remaja atau bahkan orangtuapun juga tidak ingin ketinggalan selfie. Jepret sana, jepret sini, sudah biasa. Bukan menjadi hal yang tabu bahkan dianggap tidak memalukan. Komentar Agama sama sekali tidak melarang selfie, kita boleh saja berselfie di mana saja dan kapan saja. Sekalipun demikian, kita perlu menjaga etika selfie agar tidak melanggar norma-norma agama. Buat kaum hawa, foto-foto hasil jepretan selfie jangan dibagikan kepada laki-laki yang bukan mahram. Apa lagi sampai disebarkan di dunia maya dan disaksikan jutaan manusia. Tentu dosanya dapat berlipat ganda. Tatkala berselfie kita juga harus memperhatikan kiri-kanan. Tidak jarang anak muda terlalu bersemangat melakukan selfie di jalan hingga mengganggu lalu-lalang orang. Selfie juga jangan sampai menimbulkan kegaduhan di tempat-tempat yang menuntut ketenangan seperti di masjid dan yang lainnya. Suara jepretan kamera juga jangan sampai mengusik keseriusan orang-orang yang tengah berkegiatan di tempat itu. Demikian pula di majlis taklim, matikan HP tatkala ustad memberikan tausiyah. Juga, jangan berselfie pada waktu pengajian berlangsung, sebab hal itu akan merusak suasana khidmat majlis. Apabila kita hendak berselfie dengan orang lain, kita minta izin terlebih dahulu dari yang bersangkutan. Jangan langsung jepret aja, karena orang itu belum tentu berkenan dengan hasil jepretannya yang lalu disebarluaskan. Satu lagi yang amat sangat perlu diperhatikan dalam berselfie, jangan pernah berselfie dengan orang-orang yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan, karena ini tergolong perbuatan kejam. Orang yang terkena musibah seharusnya dibantu dan diberi santunan bukan diajak foto selfie. Ini namanya pelecehan yang maha dahsyat dan pelakunya layak diberi gelar “makhluk paling tidak beretika” . Konklusi Pada dasarnya, selfie tidak dilarang oleh syariat kecuali jika menimbulkan hal negatif seperti dilihat orang yang bukan mahramnya atau menyebabkan adanya fitnah di sebagian kalangan. Oleh karenanya, sebaiknya kita menjauh dari dunia selfie, minimal, tidak disebarkan ke dunia maya. Cukup diri kita sendiri yang tau. Supaya tidak terjerumus dalam hukum haram....
AWAS! Penyakit WAS-WAS!
Usholli……… Usholli……… kalimat di atas tidaklah asing kita temukan di sekitar kita. Kalimat tersebut akan keluar secara berulang dari pribadi seseorang yang terserang gangguan jiwa atau yang kita kenal dengan istilah was-was. Orang yang was-was condong kebingungan dalam menentukan sebuah sikap dan prinsip, ia terlalu berhati-hati dalam segala hal, lebih-lebih dalam beribadah. Dengan alasan khawatir tidak sesuai dengan standard fikih serta meragukan, apakah yang ia lakukan itu sah atukah tidak. Tentu jika yang dilakukan itu tidak sesuai dengan fiqih, konsekuwensinya bisa memasukkannya ke dalam neraka. Sekelumit, itulah pandangan orang was-was. Pribadi orang yang was-was akan terasa sulit dalam melakukan kebaikan, karena was-was lebih banyak terjadi dalam ibadah seperti bersesuci yang meliputi mandi, wudhu dan menghilangkan najis. Di samping juga dalam shalat, terlebih dalam shalat fardu. Karena menurut kebiasaan, tingkat was-was shalat fardu bisa lebih parah ketimbang shalat sunnah. Anehnya, jarang sekali ditemukan orang was-was dalam masalah makanan dan yang lainnya. Sebenarnya, tanpa kita sadari, kadang kita sendirilah yang terserang penyakit was-was. Mungkin tak asing lagi di telinga kita, bahkan sering dan tak sulit kita temukan orang di sekitar kita yang demikian sulitnya dalam mengucapkan niat. Terkadang hal itu membuat sebagian orang merasa jengkel dan terganggu mendengarnya, namun tak sedikit pula yang merasa kasihan dan tak tega melihatnya. Seolah ibadah yang sedang dilakukannya sebegitu sulit dan berat. Oleh karena itu, Islam menganggap penyakit hati yang satu ini tercela. Di samping telah mengesankan pengamalan beribadah kepada allah seolah begitu berat, kenyataannya hal tersebut juga dapat mengganggu orang yang ada di sekitarnya. Belum lagi yang bertanggungan justru merasa lebih baik dan benar sendiri dengan apa yang dilakukannya itu, padahal ia salah persepsi. Setelah berbincang tentang was-was, ada baiknya jika mengemukakan timbulnya penyakit tersebut agar kita terhindar dari penyakit yang satu ini. Berikut penanganannya: antara lain tidak mencaci orang yang sedang was-was serta menperbanyak meminta perlindungan kepada Allah supaya dijauhkan dari penyakit tersebut. Dan ketika tengah buang air kecil, sebisa mungkin tidak meludah selain memang ada larangan keras, hal itu juga dapat menyebabkan yang bersangkutan terkena penyakit was-was serta menbuat giginya bertambah kuning. Para santri dituntut cerdas dalam menyikapi penyakit ini serta tidaklah ragu dalam mengucapkan niat. intinya cukup dihati saja, setidaknya bagi yang was-was memakai hukum yang mudah saja. Dan percayalah bahwa penyakit tersebut merupakan gangguan atau bisikan setan yang bersemayam dalam hati manusia. Semoga amal ibadah kita diterima oleh allah dan menjadi bekal di akhirat nanti...
Kemuliaan Bukan Faktor dari Keturunan?
Pada masa Rasulullah ada dua orang yang saling mengatakan (membanggakan) leluhur mereka. Salah seorang dari keduanya berkata, “Aku fulan bin fulan, kamu siapa? Apakah kamu punya nasab? Mendengar hal itu, Nabi Muhammad tidak tinggal diam. Beliau secara tidak langsung memperingati mereka dengan sabdanya “Pada masa Nabi Musa, ada dua orang yang saling mengatakan (membanggakan) leluhur mereka. Salah satu dari keduanya mengatakan “Aku fulan bin fulan.” Hingga menyebutkan sembilan garis keturunannya. Dia berkata lagi, “Kamu siapa? Apakah kamu punya nasab?” Temannya itu menjawab, “Aku fulan bin fulan bin muslim,” lalu Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa dengan berfirman, “Sesungguhnya dua orang yang saling mengatakan leluhur mereka ini, yang mengatakan hingga sembilan garis keturunannya mereka masuk neraka, dan kamu yang kesepuluh. Adapun kamu yang mengucapkan hingga dua garis keturunanmu mereka masuk surga dan kamu yang ke tiga juga masuk surga.” (HR. Ahmad dan Nasa’i) Andaikata Nabi Muhammad tidak tanggap atau hanya diam tidak menyikapinya, tentu yang terjadi adalah hukum boleh (tidak dosa) dalam membanggakan leluhur tersebut. Leluhur dimiliki oleh setiap hamba, dan tidak bisa direncanakan dan di pesan oleh siapapun: apakah dia ingin menjadi keturunan dari orang mulia, tokoh, atau putra raja sekalipun. Oleh karena itu, kita tidak pantas jika bersedih dan merasa tidak berharga dengan alasan kita bukan keturunan orang yang tidak terpandang. Mengapa? Karena itu merupakan ketetapan dan kehendak Allah yang tidak bisa dipermasalahkan dan harus diterima dengan lapang dada. Islam menganggap, membanggakan leluhur merupakan perbuatan yang tercela, karena menyalahi sunnatullah dan fitrah manusia. Sederhananya, tidak ada keistimewaan bagi golongan tertentu dengan cara melihat asal-usul leluhurnya, kecuali hanya mendapat imbalan dari perbuatan baik dan doa yang dilakukan pendahulunya. Sebab itulah kita tidak pantas membangga-banggakan nenek moyang sendiri, karena kita tidak diciptakan dari emas ataupun perak, yang memiliki nilai begitu tinggi. Justru kita diciptakan dari air mani yang menjijikkan dengan berbagai proses yang kemudian menjadikan kita manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Lebih dari itu, membangga-banggakan leluhur dengan mencela orang lain karena nasabnya rendah dan tidak bermartabat, merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan hati nurani, serta menjadikan jiwa kotor dan busuk disebabkan keangkuhan. Selain juga akan menyebabkan berkobarnya api permusuhan dan kebencian di dalam tubuh masyarakat, yang kadang menyebabkan pertumpahan darah dan memutuskan hubungan saudara sesama muslim. Akibat dari membanggakan leluhur itu akan menjadikan orang terpedaya dan terlena, selain juga menyebabkan orang tersebut menjadi pemalas dan tidak berilmu, serta menjahui amal shaleh. Umat Islam harus sadar, bahwa membanggakan nasab atau leluhur termasuk panasnya api neraka. Kesombongan jahiliyah dan menbanggakan leluhur sebenarnya telah lenyap, yang ada adalah orang mukmin yang bertakwa dan orang fajir yang sengsara. Maka, sesuatu yang mesti kita banggakan adalah akhlak yang mulia dan ilmu yang munpuni. Itu...
Gitu Aja Kok Repot!
Kehidupan penuh dengan beberapa problematika dan masalah. Setiap masalah memang harus ditangani dengan baik, agar masalah kita bisa terselesaikan dengan baik. Sebagian manusia kadang mengatasi masalah dengan masalah, sehingga masalahnya akan bertambah banyak. Secara logika saja 1+1=2 bukan 0. Kalau kita menganalisa negeri kita, banyak orang yang mengatasi masalah dengan masalah, padahal masalah apabila di atasi dengan masalah maka akan bertambah banyak. sebagai mana 1+1=2. Dikalangan pesantren, kita sebelum melakukan suatu tindakan diharuskan berpikir dengan matang terlebih dahulu. Karena tindakan kita sama persis dengan seperti senapan AK 27, sebelum kita menembakkannya kita harus membidiknya terlebih dahulu, sebelum itu semua kita harus tahu caranya menggunakan senapan AK 27. Mulai dari memasang peluru, hinga teknik menembak/melontarkan peluru. Hal itu sama persis seperti mengatasi permasalahan, mengatasi permasalahan juga membutuhkan beberapa tahap tersebut. Tahap pertama, kita harus tahu asal-usul masalahnya, kita harus menganalisa seluk beluk dan sepak terjangnya terlebih dahulu. Sebagai mana kita hendak menembak seseorang dengan senapan AK 27. Kita harus tahu teknik penggunaannya dan ciri-ciri obyek sasaran kita dengan sangat detail, seandainya kita salah sasaran maka akan menambah masalah bukan malah menguranginya. Sama seperti kita apabila hendak mengatasi suatu masalah, apabila kita mengatasi suatu masalah akan tetapi belum mengetahui masalah itu secara detail maka akan bertambah masalahnya. Tahap kedua, Kita harus berpikir terlebih dahulu, kita harus pertimbangkan sisi positif dan negatifnya tindakan tersebut sebelum kita melakukan tindakan tersebut. Sebagai mana apabila kita menggunakan senapan AK 27. Sebelum kita melakukan tembakan, kita harus membidik obyek sasaran kita dengan sangat cermat. Kita juga mempertimbangkan peristiwa setelah meluncurnya peluru dari senapan tersebut. Hal itu sama seperti apabila kita ingin melakukan suatu tindakan. Kita harus mempertimbangkan apa yang terjadi setelah kita melakukan sebuah tindakan tersebut. Tahap terakhir, mengantisipasi semaxsimal mungkin, sehingga kita akan mendapatkan hasil yang juga maksimal. Sama seperti kita apabila menggunakan senapan AK 27, walaupun kita sudah tahu cara menggunakannya dan membidiknya dengan sangat cermat akan tetapi kita melakukan tembakan tersebut dengan sembarangan maka usaha dari dari sebelumnya baik tahap pertama dan kedua akan sia-sia sia-sia. Ketiga tahap inilah yang harus kita pegang apabila kita ingin menindak lanjuti masalah-masalah yang ada. Kita harus menyikapinya dengan tenang, jangan terburu-buru. Karena apabila kita terburu-buru melakukan tindakan, maka bukan malah masalahnya berkurang akan tetapi masalahnya akan bertambah besar. Itulah yang menyebabkan bangsa Indonesia disebut bangsa kagetan. Karena bagsa indonesia tidak bisa sabar untuk menyikapi suatu masalah dengan melakukan tiga tahap tersebut. Bangsa Indonesia selalu terbawa arus bagaikan kayu yang dilanda ombak. Bangsa Indonesia selalu langsung bersuara pada setiap masalah sebelum meneliti asal-usulnya terlebih dahulu. Maka dari itu, kita harus merubah kebiasaan itu, kita harus tenang tidak terburu-buru menyikapi suatu persoalan, agar masalah kita tertangani dengan baik....
Mencari Sahabat Yang Tepat
Salah satu makhluk yang ditakdirkan untuk selalu membangun jaringan dan berkoloni adalah manusia. Maka, kita lihat, sangat sulit bagi mereka untuk bisa hidup sendiri tanpa seorang teman. Watak manusia yang perlu adannya perubahan dan cepat jenuh dengan keadaan yang itu-itu saja, sepertinya menjadi faktor utama akan kebutuhan untuk membangun pertemanan. Ditambah lagi rasa saling bahu-membahu, batu-membantu, menyebabkan hubungan bertambah menyenangkan: bila kita kerepotan, kemudian datanglah bantuan atau jasa yang sangat kita dibutuhkan. Namun, kenyataannya, hubungan pertemanan tak selalu mendatangkan kebaikan. Kecendrungan manusia untuk cepat terpengaruh dapat menjadi fatal bila seseorang berteman dengan orang lain yang tidak dapat menanamkan benih-benih prinsip kehidupan yang bagus dan lurus. Justru, sangat mungkin seorang teman akan menjadi bumerang bagi diri sendiri: Datang bukan untuk menciptakan ketenangan, malah untuk membahayakan. Bisa jadi, dari sinilah kemudian agama ikut-andil untuk memperbaiki hubungan yang berantakan, sehingga ia mempunyai teman yang dapat menumbuhkan rasa takwa dan memotivasi temannya untuk selalu mengindahkan aturan-aturan dalam agama. Dalam Islam, hubungan pertemanan telah diatur sedemikian rapi, hingga bisa kita lihat, di sana ada tatakrama kepada teman, kepada siapa kita mesti menjalin hubungan, dan apa saja hak-hak yang harus kita penuhi dari seorang teman. Namun, karena space yang tak memungkinkan, kami tidak akan mengulas secara tuntas aturan-aturan di atas. Kami lebih tertarik untuk membahas tentang seseorang yang layak untuk dilirik dan pantas kita pilih menjadi teman. Sebab, kami melihat masalah inilah yang sangat prinsip, mengingat kesalahan seseorang dalam memilih teman dapat menyebabkan urusan agama menjadi terlalaikan. Setidaknya, ada lima poin yang mesti kita cari dari kepribadian seseorang, hingga kita benar-benar yakin bahwa dia memang pantas untuk kita jadikan sebagai lahan hubungan. Pertama, Pandai. Sangat penting bagi kita untuk mencari teman seorang yang pintar. Sebab, dengannya kita dapat saling sharing dan bertukar pendapat. Selain juga bisa memberikan masukan ketika kita dilanda kesulitan. Berbeda dengan orang bodoh, berteman dengan mereka hanya menghabiskan waktu saja. Tak ada manfaat yang dapat kita petik dari mereka. Paling tidak, mereka yang bodoh hanya akan ada disamping kepulan asap kopi, saat rokok yang disulut tak kunjung mati. Kedua, Saleh. Berteman dengan mereka dapat menumbuhkan semangat kita beribadah. Ketika kita melihat mereka sedang malakukan ibadah, secara naluri manusia, lambat laun kita juga akan terobsesi untuk meniru kebiasaan itu. Sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang fasik yang rutin melakukan maksiat, kita akan cenderung malas dan merasa ogah untuk hanya memikirkan nasib kita nanti di hari pembangkitan. Semua itu tidak mengherankan, karena melihat perbuatan maksiat saja, sudah dapat menyebabkan hati kita kotor dan sulit untuk melakukan aktifitas penghambaan. Ketiga, Berakhlak Mulia. Jika kita berteman dengan orang yang tidak bermoral maka biasanya pamor kita juga ikut jelek di mata orang lain. Itu sudah keniscayaan. Sebab,...
Influence, Pengaruh
Di saat dunia mulai terbalik sulit rasanya menemukan seseorang yang betul-betul dan bersungguh-sungguh meniti relnya sendiri. Sulit menemukan seseorang yang betul-betul paham pada dirinya sendiri. Sulit menemukan seseorang yang benar-benar eksistensialis. Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini sesuai dengan pasangannya. Padanannya. Aneh sekali bila ada manusia berbadan serigala. Sebaliknya dia tidak dianggap manusia atau pun serigala malah jadi serigala jadi-jadian, pesugihan atau arajha dalam bahasa Madura. Atau bagaimana jadinya bila ada harimau berkepala manusia. Tentu dia menjadi bulan-bulanan masyarakat. Apalagi tikus jadi-jadian. Tidak cocok itu membawa petaka. Setiap manusia lahir dengan apa yang diistilahkan oleh Ary Ginanjar Agustian sebagai God Spot. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka ingin/merubah keadaannya sendiri, begitulah disebutkan dalam al-Quran. Lagi, manusia itu lahir ke dunia dalam keadaan bersih dari hal-hal yang tidak baik kecuali orangtuanya ingin mereka menjadi Yahudi, Nasrani, atau semacamnya. Begitulah Baginda Nabi menasehati kita. Kemudian bila kita menjadi manusia yang beda dan menyimpang bagaimana dengan fitrahnya. Siapa yang salah? Entah. Bisa saja dari pergaulan. Bisa saja dari bahan bacaan. Bisa saja dari sekolahan. Bisa saja dari tulisan. Semua berpotensi mengubah kita. Tidak salah bila ada pepatah seperti ini, teman sebangkumu adala orang yang menentukan masa depanmu. Hal itu karena kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam bergaul. Anak-anak, istri, ibu, ayah bisa saja menjadi sumber fitnah bila kita lalai dengan apa yang kita lakukan. Dan tentu saja fitnah tidak hanya bersumber dari kita dan masyarakat. Fitnah di sini dalam arti sangat luas, bukan fitnah yang selama ini kita kenal. Bagaimana dengan bacaaan? Tentu untuk yang satu lebih banyak lagi. Banyak mahasiswa atau bahkan dosennya ‘bertingkah’ di luar kodrat kedosenannya dan kemahasiswaanya karena bacaannya. Dan ternyata segala sesuatu di dunia ini berpotensi mengubah kita. Karena manusia cenderung meniru dari apa yang dia lihat, dengar, dan...