Dunia Pendidikan ala Humor Sufi
Pendidikan kita saat ini, kata Dr. Muhammad Hassan, lebih mirip dengan kisah Nasruddin Joha, seorang tokoh anekdot dari Asia Kecil yang melahirkan humor-humor segar dengan segala keluguannya. Suatu waktu, dia membuat sebuah kanal, dari sungai menuju sungai. Orang-orang pun heran. “Tuan Joha, aneh sekali. Engkau mengalirkan air dari sungai untuk dialirkan kembali ke sungai,” kata mereka. Lalu apa kata tokoh Humor Sufi itu!? “Sudah cukup bagiku gemercik kanal itu, bukan airnya!” Pendidikan kita seringkali lebih mementingkan gemercik ketimbang airnya. Hanya mementingkan suara-suara yang didengarkan dengan seksama untuk memenuhi rongga telinga. Bukannya mementingkan air kemuliaan yang mendatangkan kesejukan dan menghilangkan rasa ‘dahaga’. Dunia pendidikan sudah lebih mementingkan informasi-informasi, dan tidak lagi melahirkan inspirasi. Semua itu lantaran dunia kita sudah hampir kehabisan guru-guru panutan yang mengedepankan aspek keteladanan. Akibatnya, keberadaan nilai-nilai kemuliaan menjadi seperti hantu. Begitu banyak orang yang membicarakannya, tapi sedikit sekali orang yang melihatnya. Keteladanan merupakan model pendidikan mutlak yang dibawa oleh para Rasul. Dalam akidah Ahlusunah, para Rasul wajib memiliki sifat shidq dan amanah, selain tablîgh dan fathânah. Shidq adalah kejujuran dalam berbicara, sedangkan amânah adalah kejujuran dalam berbuat. Lawan amânah adalah khiyânah atau pengkhianatan. Maksudnya, mustahil para Rasul melanggar ajaran yang mereka bawa atau melanggar kata-kata mereka sendiri. Maka dari itu, keteladanan dalam misi dakwah yang dijalankan oleh para Rasul merupakan sesuatu yang final dan mutlak. Misi keteladanan disebut-sebut sebagai salah satu rahasia di balik pilihan Allah mengutus para Rasul dari kalangan manusia, bukan dari kalangan malaikat. Sebab, malaikat memiliki unsur yang berbeda dengan manusia, sehingga apa yang dilakukan oleh malaikat tidak bisa dijadikan sebagai obyek yang hendak ditiru oleh manusia. Karena para Rasul sama-sama manusia, maka tidak ada peluang bagi umat manusia untuk menjadikan anasir penciptaan sebagai alasan untuk menafikan kemampuan mereka untuk meniru para Rasul. Rasulullah r sendiri memang menyatakan bahwa tugas utama beliau adalah menjadi guru. Dalam beberapa Hadis beliau menyatakan, “Innamâ bu’itstu mu’alliman, Aku diutus untuk menjadi seorang guru.” Dan, al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah r merupakan uswah atau teladan bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan beriman kepada hari akhir (QS al-Ahzab [33]: 21). Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Nabi Ibrahim dan para pengikutnya merupakan teladan bagi umat manusia (QS al-Mumtahanah [60]: 4-6). Seiring dengan perjalanan waktu, model keteladanan ala para Rasul ini terus luntur dan menghilang dari dunia pendidikan. Semakin akhir, dunia pendidikan hanya memperhatikan tablîgh dan fathânah, atau kemampuan intelektual dan kemampuan untuk menyampaikan informasi; sementara shidq dan amânah atau komitmen untuk memberi teladan, seringkali luput dari perhatian. Padahal, dunia pendidikan tidak akan pernah bisa membangun kecerdasan emosional, apalagi spiritual, jika pilar keteladanan tidak dikokohkan. Berkaca kepada sejarah pendidikan di dunia Islam, sarjana-sarjana Muslim tempo dulu hampir selalu merupakan ulama yang zuhud,...
Quo Vadis Madrasah Diniyah?
Boleh jadi, ini adalah waktu yang paling mendesak bagi madrasah diniyah untuk melakukan revolusi dalam dirinya sendiri. Terkecuali, di pesantren-pesantren ternama, madrasah diniyah bisa disebut sedang mati suri. Ada banyak sekali faktor yang mungkin mempengaruhi, tapi yang paling menonjol adalah minat masyarakat dan regulasi pemerintah di dunia pendidikan. Dua faktor ini saling berkaitan satu sama lain. Meluasnya opini “minimnya peluang kerja bagi yang tak memiliki ijazah formal” merupakan racun yang sangat mematikan bagi perkembangan madrasah diniyah, karena pada saat bersamaan pemerintah terkesan “sangat malas” untuk mengakomodir madrasah diniyah dalam sistem pendidikan nasional. Sikap pemerintah ini cukup bisa dimaklumi, mengingat sejak semula pesantren dan madrasah diniyah memang sengaja memposisikan, bahkan mendeklarasikan diri sebagai pendidikan kultural yang berada di luar sistem. Mereka memakai kurikulum dan sistem yang mandiri, tidak berkenan diintervensi sedikitpun oleh pemerintah. Maka, merupakan salah satu bentuk sikap ksatria, jika saat ini madrasah diniyah tetap memilih merdeka dengan senantiasa melihat ke dalam dirinya sendiri, tidak mencari kambing hitam dan tidak serba terusik dengan hak dari “sistem” yang lain. Kebiasaan mencari kambing hitam hanya akan membuat madrasah diniyah semakin runtuh, karena dia hanya akan sibuk mencari-cari kesalahan “sistem” lain sampai lupa berkonsentrasi untuk mengembangkan dirinya sendiri. Ada beberapa perkembangan penting yang perlu diperhatikan agar madrasah diniyah tetap bisa berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pertama, madrasah diniyah sebenarnya memiliki adik kandung baru, yaitu TPQ atau TPA yang saat ini sedang marak di mana-mana. Saat madrasah diniyah sedang lesu, justru TPQ dan TPA sedang bergairah. Eksisnya TPQ dan TPA ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: (a) dalam pemahaman masyarakat Muslim secara umum, kemampuan membaca al-Qur’an merupakan ukuran standar yang hampir niscaya. Orangtua merasa malu jika anaknya tidak bisa membaca al-Qur’an, meskipun mereka tidak malu jika anaknya tidak bisa salat. (b) TPQ dan TPA memiliki jaminan kompetensi yang jelas, terukur, mudah dipahami dan disosialisasikan kepada wali murid. (c) TPQ dan TPA biasanya memiliki induk organisasi, sehingga mereka bisa memakai kurikulum dan sistem yang sama, membuat even bersama semacam festival dan wisuda. Faktor (a) sulit dimiliki oleh madrasah diniyah. Sedangkan faktor (b) dan (c) bisa ditiru dan diusahakan, apabila masing-masing madrasah diniyah mau berbesar hati untuk duduk bersama dan membuat sebuah jaringan. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil agar jaringan tersebut bisa terbentuk. Di antaranya, hubungan emosional dengan pesantren tertentu, seperti yang dipelopori oleh Pondok Pesantren Sidogiri dalam membentuk Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Ranting. Sudah ada ratusan madrasah yang menjadi ranting Sidogiri, dengan memakai kurikulum yang sama, soal ujian yang sama, seragam sekolah yang sama, serta pengadaan even bersama. Festival madrasah ranting yang diadakan Sidogiri, khususnya di kabupaten Pasuruan, membuat denyut nadi madrasah diniyah di Pasuruan berdetak keras di desa-desa. Dalam kasus MMU Ranting,...
Ibu adalah Sekolahmu yang Pertama
Selalu ada dilema antara karir dan keluarga, khususnya untuk kaum wanita. Hal itu tidak terlepas dari kodrat alamiah dan kodrat sosial kaum hawa itu sendiri. Secara alamiah, mereka cenderung memiliki naluri ‘seni’ mengasuh anak, melebihi kaum lelaki. Dan, secara otomatis, naluri alamiah ini diikuti oleh kecenderungan sosial yang terjadi pada masyarakat secara umum. Sebenarnya ini merupakan konfigurasi sosial yang ideal. Itu pula yang menjadi gambaran umum kaum Muslimah dari generasi pertama umat ini. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu sebagai istri, ibu rumah tangga dan inang pengasuh bagi anak-anak mereka. Yang menjadi persoalan, pola tersebut mulai bergeser seiring dengan arus perkembangan waktu. Naluri keibuan kaum hawa sedikit demi sedikit mulai menjadi tumpul, barangkali sebagai akibat tidak langsung dari misi kesetaraan gender yang terus menerus dihembuskan oleh Barat. Sebenarnya, dalam Islam sendiri, tidak pernah ada larangan bagi kaum hawa untuk menekuni karir, senyampang hal itu dijalani sesuai dengan batas-batas yang ditentukan oleh syariat. Kalaupun kemudian cukup sering terjadi polemik mengenai hal itu, fokus utamanya bukan tertuju pada boleh tidaknya berkarir, akan tetapi mengenai apakah mereka bisa memenuhi tuntunan agama selama menekuni karir tersebut. Secara umum, munculnya polemik mengenai wanita karir bersumber dari dua motivasi utama. Motivasi pertama, karena besarnya harapan terhadap kaum hawa sebagai pilar pendidikan generasi. Mengenai hal ini, Ahmad Syauqi, pujangga termasyhur dari Mesir, menyatakan: الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا … أَعْدَدْتَ جَيْلاً طَيِّبَ الأَعْرَاقِ Ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya (dengan baik), maka engkau menyiapkan sebuah generasi yang berkualitas tinggi. Syekh Musthafa al-Ghulayaini, jubir dan motivator Dinasti Utsmani, menyatakan: النِّسَاءُ عِمَادُ البِلاَدِ Kaum hawa adalah pilar (keberhasilan generasi di) berbagai negeri. Ibu berperan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jika ibu menghabiskan waktu untuk menekuni karir, maka anak-anak akan kehilangan sentuhan pendidikan dasar yang sangat menentukan perkembangan psikologi mereka. Hilangnya sentuhan tersebut ditengarai menjadi salah satu penyebab utama maraknya kenakalan remaja, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan. Motivasi kedua, kekhawatiran tidak bisa mematuhi ajaran hijab, atau aturan interaksi antara lelaki-perempuan. Pada umumnya wanita karir memang tidak terlalu memperhatikan aturan-aturan syariat yang terkait dengan mereka. Di antara beberapa kebiasaan wanita karir yang tidak sesuai dengan ajaran agama adalah: (1) Tampil menarik atau berhias di hadapan lelaki yang bukan suami atau mahramnya; (2) Biasa terjadi ikhtilâth (campur baur), khulwah (berduaan), dan saling bersentuhan dengan lelaki bukan mahram; (3) bepergian tanpa disertai oleh mahram; (4) keluar rumah tanpa seizin dari suami atau wali; (5) terbengkalainya tugas-tugas kerumahtanggaan; (6) adanya kecenderungan dunia usaha untuk menjadikan pesona jasmaniah perempuan sebagai daya tarik, khususnya dalam konteks pelayanan prima; (7) terjadinya kepemimpinan perempuan atas lelaki yang selalu menjadi polemik hangat dalam wacana hukum fikih; (8) dan lain sebagainya. Secara umum, ajaran Islam memang meletakkan batas ruang yang ketat...
Sayangi Binatang Agar Disayang Tuhan
Tentu kita geram bila ada kucing atau binatang lain memakan makanan kesukaan kita tanpa sepengatahuan. Bahkan, karena ulahnya itu terkadang kita lepas kontrol. Memukulnya habis-habisan. Padahal, jika kita mau berfikir sejenak, kita akan menyadari bahwa tindakan yang sedemikian itu salah. Binatang seperti kucing tidak akan memakan makanan seseorang kecuali pemiliknya lalai, tidak menjaganya atau tidak menaruh pada tempat yang aman. Sebagai seorang Muslim, kita dilarang berbuat semena-mena terhadap binatang, apalagi menyiksanya. Sebagai agama yang tinggi dan luhur, Islam mengajarkan kepada umatnya berbuat baik bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada binatang. Bahkan binatang yang najis sekalipun, semisal anjing. Sebab, pada hakikatnya segala makhluk di dunia ini seperti binatang dan lainnya senantiasa bertasbih (memuji) Allah SWT. (17/44). Berikut akan dijelaskan adab-adab terhadap binatang. Memberi Makan dan Minum Sama seperti halnya manusia binatang juga butuh makan dan minum. Binatang juga merasakan lapar, haus. Untuk itu kita diharuskan memeliharanya dengan memberinya makan dan minum. Kita dilarang membiarkannya kelaparan atau kehausan, karena perbuatan ini dapat menjerumuskan pelakunya pada api neraka. Rasulullah Saw pernah menceritakan ada seorang perempuan disiksa karena seekor kucing dikurungnya sampai mati. Menyayangi Menyangi dan mengasihi hewan sangat dianjurkan oleh agama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis, orang yang menyayangi siapa saja, termasuk binatang, akan disayangi oleh siapa saja yang di langit. Beliau sendiri sangat menyangi terhadap binatang. Terbukti, beliau memilih memotong lengan jubbahnya yang ditiduri kucing, dari pada membangunkan dan mengusirnya. Tidak Mendzalimi Zalim adalah perbuatan yang dilarang agama. Kepada siapa saja kita tidak diperbolehkan berbuat zalim, termasuk terhadap hewan. Misalnya, membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang di luar kemampuannya. Allah mengaruniaikan binatang untuk kita pelihara dan kita gunakan dengan baik. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tak dapat bicara ini. Tunggangilah mereka dengan baik, dan berilah makan dengan baik pula.” Termasuk tidak menzalimi hewan adalah tidak memberi cap dengan besi yang dipanaskan pada wajah binatang, karena hal ini Allah akan melaknat terhadap orang yang melakukannya.(HR Muslim) Menyembelih dengan Menyenangkan Jika kita ingin menyembelih atau membunuhnya, hendaknya kita melakukannya dengan baik, karena Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dan kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya, (Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad). Menunaikan Hak Allah Orang yang sibuk mengurus hewan peliharaannya hendaknya tidak melalaikan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT. Seperti mengeluarkan zakat hewan yang wajib dizakati, tidak meninggalkan salat dan sebagainya. Mungkin hanya ini yang penulis bisa jelaskan. Masih banyak penjelasan lain yang berkaitan dengan etika terhadap binatang. Misalnya tidak mengadu binatang, tidak membunuhnya dengan cara...