Para Cendekiawan yang Dungu (Bag-1)
Jan08

Para Cendekiawan yang Dungu (Bag-1)

Sejak iblis dikeluarkan dari surga, dendam kesumat untuk menyengsarakan Nabi Adam dan keturunannya tidak pernah lekang. Seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an yang artinya: Artinya : Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-a’raf : 007: 16-17) Sesumbar iblis ini tidak hanya ditujukan kepada keturunan Nabi Adam yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tapi juga ditujukan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi. Imam al-Ghazali dalam karyanya Ashnâful-Maghrûrîn menyatakan bahwa terdapat sebelas kelompok orang-orang alim yang telah masuk dalam perangkap iblis. Di antara sebelas kelompok itu adalah: Pertama, orang-orang yang mendalami ilmu-ilmu syariat dan ilmu-ilmu yang lain tapi tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan ia mengabaikan ajaran-ajaran syariat. Mereka adalah orang-orang berilmu yang yang ilmunya tidak bermanfaat. Mereka mengira bahwa dirinya sudah memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah sebab ilmu yang telah mereka miliki. Mereka mengklaim tidak akan mendapat siksa dari Allah dan diperkenankan memberi pertolongan terhadap hamba-hamba yang sengsara di akhirat. Mereka juga mengira bahwa segala dosa dan kesalahannya tidak akan pernah diurus oleh Allah. Penyebab utama seseorang terjerumus dalam kubangan kelompok ini adalah karena terlena dengan kemilau dunia. Mereka mengira bahwa ilmu yang mereka miliki bisa menyelamatkannya kelak di akhirat tanpa harus diamalkan. Orang-orang ini oleh Imam al-Ghazali diibaratkan seorang dokter yang mengobati pasiennya padahal dia sendiri sedang sakit. Sebetulnya ia bisa mengobati dirinya tapi enggan melakukannya. Kedua, kelompok yang menekuni berbagai disiplin ilmu dan tekun mengamalkannya, namun mereka tidak meninggalkan sifat-sifat tercela, seperti sifat sombong, ingin disanjung, iri dengki, mencari popularitas, dan lain sebagainya. Mereka lebih cenderung menata aktivitas lahiriah tanpa menghiraukan batiniah. Padahal, bila hati kotor, aktivitas lahiriah menjadi kurang berguna. Ibarat seorang yang terkena penyakit borok. Dokter menyarankan agar menggunakan pengobatan luar dan dalam, tapi dia hanya menggunakan pengobatan luar, sehingga tampaknya dari luar sudah sembuh tapi sebenarnya virus penyakit itu masih bersarang kuat di dalam tubuhnya. Faktor yang menyebabkan seseorang masuk dalam golongan ini adalah karena mereka tidak mengindahkan sabda Rasulullah swt yang menjelaskan bahwa sifat-sifat di atas memiliki dampak besar dalam kehidupan seseorang. Di antara Hadis-Hadis tersebut adalah sebagai berikut :  Artinya: Riya adalah syirik yang kecil  Artinya: Iri hati akan menghapus kebaikan laksana api yang melalap kayu bakar  Artinya: Gila harta dan kedudukan menumbuhkan kemunafikan dalam hati bagaikan air yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan Ketiga, orang-orang yang tahu tentang sifat-sifat tercela dan faham akan akibatnya, tapi karena mereka bangga dengan ilmu yang dimiliki dan amal yang dilakukan, lalu mereka mengira sudah...

Selengkapnya
Mengontrol Bisikan Hati Menuju Intuisi Ilahi
Des22

Mengontrol Bisikan Hati Menuju Intuisi Ilahi

Diriwayatkan dari Wâbidhah bin Ma’bad, ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu datang bertanya tentang kebajikan?” Saya menjawab, “Ya.” Nabi swt bersabda, “Bertanyalah pada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa menjadi tenang. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan meragukan hati, sekalipun orang-orang terus membenarkanmu.” (HR Ahmad bin Hanbal dan ad-Dârimy, dengan sanad Hasan)  Semua gerak-gerik hati oleh para sufi selalu diawasi dan diperhatikan, ini tidak lain  karena hati adalah modal pokok dalam sulûk yang mereka tempuh. Hati menjadi komandan dari semua aktivitas seseorang. Jika hati bersih, tingkah laku pun menjadi terarah pada hal-hal yang bersih. Tapi jika hati kotor, kecenderungan terhadap hal-hal yang kotor akan lebih dominan. Hati adalah garapan utama para sufi, karena bagi mereka, hati di hadapan Allah I sama dengan lisan di depan makhluk. Imam Sahal at-Tasturi (w. 283 H.) berkata, “Paling buruknya perbuatan maksiat adalah omongan hati.” Dalam hati berseliweran bisikan-bisikan yang mendorong untuk melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Bisikan-bisikan itu berlomba-lomba untuk dapat menundukkan orang yang dibisiki: bisikan yang buruk menggoda agar orang yang dibisiki melakukan kejahatan, sebaliknya bisikan yang baik mengajak pada kebaikan. Bisikan yang ada di hati diisitilahkan dengan khâtir atau wârid. Lebih jelasnya definisi khâtir ialah bisikan yang menghunjam ke dalam hati seseorang tanpa diduga olehnya. Definisi wârid juga hampir sama dengan khâtir, tapi keduanya memiliki perbedaan. Bisikan pada khâtir lebih terarah pada perintah untuk melakukan sesuatu, sedangkan wârid bersifat pada keadaan-keadaan spiritual yang dialami seorang sâlik. Dengan kata lain, wârid lebih mirip dengan maqâmât (kedudukan) dan ahwâl (keadaan) spiritual. Empat Macam Bisikan Secara umum, bisikan dalam hati terbagi menjadi empat bagian: (1) bisikan yang datangnya dari Allah, yang disebut bisikan rabbânî; (2) bisikan malaikat, disebut dengan ilham; (3) bisikan nafsu, disebut dengan hâjis; dan (4) bisikan setan yang disebut dengan waswas. (Isthilâhâtu ash-Shûfiyah, karya Syekh Kamaluddîn Abdur Razzâq al-Fâsyâny) Bisikan rabbânî atau intuisi Ilahi akan diraih ketika berusaha menghidupkan hati dengan ma’rifatullâh. Bisikan itu bukan sekadar bisikan biasa, tapi merupakan nur Ilahi yang memenuhi seluruh sudut hati. Nur Ilahi ini terbagi menjadi tiga tingkatan dengan meninjau kelas dalam sulûk, yaitu kelas permulaan (bidâyah), kelas pertengahan (wasth), dan kelas puncak (nihâyah). Nur Ilahi yang masuk pada kelas pertama ialah wârid al-intibâh, yaitu cahaya yang mengeluarkan dari kelalaian yang gelap-gulita menuju kesadaran dan ingat kepada Allah I. Kelas pertengahan akan dimasuki wârid al-iqbâl, yakni cahaya yang dihunjamkan ke dalam hati yang menyebabkan hati akan selalu berzikir kepada Allah I dan melupakan segala selain Allah I. Kelas terakhir akan dimasuki wârid al-wishâl, yakni cahaya yang menguasai hati seorang hamba lalu menguasai lahir dan batinnya, sehingga ia menjadi sirna dari dirinya. (Iqâdz al-Himâm fî...

Selengkapnya
Mukjizat Salat Lima Waktu
Des22

Mukjizat Salat Lima Waktu

“Amal yang  pertama  kali akan diperhitungkan mengenai diri seorang hamba kelak pada hari Kiamat ialah salat; Jika salatnya baik, maka baik pulalah seluruh amalnya, dan jika salatnya rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah) Dari Hadis ini, agaknya salat merupakan ‘suplemen’ atas keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan, sehingga salat oleh Allah I dijadikan barometer untuk ibadah lainnya. Buktinya, salat dijadikan tolok ukur baik dan tidaknya bermacam-macam kebajikan dan bentuk kegiatan yang telah ditetapkan oleh Allah I; jika salatnya baik, maka baik pulalah segala amalnya, dan jika salatnya rusak, maka rusak pulalah segala amalnya. Di satu sisi salat juga menuntut pelakukanya untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Allah I menjelaskan dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut [29]: 45). Diberlakukannya kewajiban salat lima waktu mungkin masih menyisakan pertanyaan, apa hikmah yang terkandung di dalamnya? Mengapa lima waktu harus kerjakan dengan cara dicicil, tidak sekaligus dalam satu waktu? Pertanyaan itu tentunya harus dijawab meskipun dengan jawaban yang bersifat rabaan, karena menyangkut hikmah. Namun, baiklah di sini penulis akan memberikan sedikit gambaran mengenai mengapa umat Islam diwajibkan salat lima waktu? Sebelumnya, kita coba untuk mengingat kembali tujuan dari salat, yang merupakan tindakan intraktif antara hamba dan Tuhannya, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah e bahwa salat sebagai mi‘râjul Mu’minîn. Di satu sisi, sebagai seorang hamba tentunya manusia dituntut untuk selalu mengingat Allah I setiap waktu. Maka di sini Allah I menfasilitasi hamba-Nya untuk menghadap setiap waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebab, dengan melaksanakan salat lima waktu sehari semalam, seorang hamba akan selalu ingat kepada Tuhannya setiap saat, sehingga hubungan itu terus terjalin. Jika salat lima waktu hanya dikerjakan satu kali dengan diropel, tentunya lebih banyak nganggurnya daripada mengingat Allah I, sehingga kontinuitas pengaruh ibadah berupa pertemuan dengan Allah I tidak tercapai. Asy-Sya’rani dalam Mîzânul-Kubrâ-nya menyatakan, justru dijadikannya salat lima waktu secara berulang-ulang setiap hari adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah I. Setiap kali seseorang melakukan wudhu, maka ia akan mengingat dosa-dosa yang telah diperbuatnya hari itu, kemudian bersimpuh di hadapan Allah I untuk memperoleh ampunan-Nya. Di sisi lain, saat wudhu, secara khusus seseorang dapat memohon ampunan dari-Nya dari dosa-dosa yang telah diperbuat melalui doa-doa yang diajarkan. Kemudian dilanjutkan dengan salat secara intens dan berharap ampunan-Nya, maka dosa-dosanya akan rontok satu persatu setelah mendapat ampunan dari Allah I. Mungkin kenyataan seperti ini kelihatannya konyol, namun orang-orang yang diberi kemampuan lebih oleh Allah (al-Kasyfu) pasti akan melihat rontoknya dosa-dosa seorang hamba yang melakukan ibadah. Dan, merupakan nikmat dan rahmat dari Allah I agar manusia tidak selalu menumpuk-menumpuk dosa. Imam Bujairami mengakui...

Selengkapnya
Melepas Kopyah Menjatuhkan Murûah
Des10

Melepas Kopyah Menjatuhkan Murûah

Apa Murûah? Secara bahasa murûah memiliki arti istiqâmah (konsisten). Secara istilah ada beberapa definisi, antara lain: memelihara tingkah laku sehari-hari dengan melakukan hal-hal yang baik, sehingga tidak tampak sesuatu yang tidak baik pada dirinya dan tidak mendapat celaan dari orang lain. Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda: مَن عَامَلَ النَّاسَ فَلَمْ يَظْلِمْهُمْ ، وَحَدَّثَهُمْ فَلَمْ يَكْذِبْهُمْ ، وَوَعَدَهُمْ فَلَمْ يُخْلِفْهُمْ ، فَهُوَ مِمَّنْ كَمُلَتْ          مُرُوءَتُهُ وَظَهَرَتْ عَدَالَتُهُ وَوَجَبَتْ أُخُوَّتُهُ                                                                     Artinya: “Barangsiapa bergaul dengan orang lain lalu dia tidak berbuat aniaya; dia berbicara lalu tidak berdusta; dia berjanji lalu menepatinya, maka dia tergolong orang yang sempurna murûahnya, jelas sifat adilnya dan layak untuk dijadikan saudara. Ada lagi yang mendefinisikan murûah dengan “berperangai atau bersikap layaknya orang yang setingkat/sekelompok dengannya, pada masa dan tempat/lingkungan di mana ia berada.” Murûah perlu diberi embel-embel atau dibatasi dengan “masa dan lingkungan di mana seseorang berada”, sebab murûah itu sangat erat kaitannya dengan budaya atau kebiasaan (urf). Sedangkan kebiasaan (urf) jarang sekali bisa diberi batasan yang jelas, tapi lebih tergantung pada masing-masing individu, masa dan tempat/ lingkungan masyarakatnya. Pendapat lain mendefinisikan murûah dengan menjaga diri dari perbuatan hina yang tidak mengandung dosa. (Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Dîn, I/401, Sayid Muhammad Syatha ad-Dimyati dalam I’ânatu ath-Tâlibîn, IV/318 dan Mughni al-Muhtâj ilâ Ma’rifati Alfâdz al-Minhâj, XIX/359 [disarikan] ) Murûah dan Akal yang Sempurna Bukanlah yang dimaksud dengan murûah hanya memperhatikan penampilan lahiriah. Murûah yang sejati ialah rela mengorbankan apa yang dimiliki untuk kepentingan orang banyak dan menjauhkan diri dari sebab-sebab yang menjatuhkan pada kehinaan, sebagaimana yang disampaikan para ahli hikmah. Seseorang yang memiliki murûah senantiasa mengekang hawa nafsunya dan menempatkan hak pada tempatnya. Demikian ini bisa diraih oleh orang yang memiliki akal yang sempurna, dan dengan akalnya itulah dia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiilki oleh mahluk lain yang tidak berakal. (Syekh Abdur Rauf al-Manawi dalam Faidhu al-Qadîr, IV/719 [disarikan] ) Hadits dan berbagai Komentar tentang Murûah Diriwayatkan dari Sahabat Umar dari Nabi e bahwa beliau bertanya kepada seseorang dari Bani Tsaqif: ”Apakah murûah itu?”. Orang itu menjawab: “Kesalehan dalam agama, meningkatkan kesejahteraan, kedermawanan diri dan menjalin tali persaudaraan”. Lalu Nabi bersabda: ”Begitulah murûah dalam pandangan kita sebagaimana dalam hikmah keluarga Dawud”. Sutu ketika, para Sahabat berdiskusi tentang murûah di sisi Nabi e, lalu beliau bersabda:  أَمَّا مُرُوءَتُنَا فَأَنْ نَغْفِرَ لِمَنْ ظَلَمَنَا ، وَنُعْطِيَ مَنْ حَرَمَنَا وَنَصِلَ مَنْ قَطَعَنَا ، وَنُعْطِيَ مَنْ حَرَمَنَا Artinya: “Adapun murûah  kita adalah memaafkan orang mendzalimi kita, memberi kepada orang yang tidak memberi kita dan menyambung persaudaraan...

Selengkapnya
Pers Sebagai Pasar bagi Agama
Nov20

Pers Sebagai Pasar bagi Agama

“Sebuah perang, senjatanya pena!” tulis Dr. Muhammad Ismail Muqaddam dalam bukunya, Audatul-Hijâb. Psikiater religius di Mesir itu bercerita panjang lebar mengenai gencarnya serangan media massa terhadap ajaran aurat dan ruang perempuan dalam Islam. Memang, ada beberapa aspek ajaran Islam yang hampir selalu menjadi sasaran tembak media massa, seperti hijab, poligami, politik Islam, jihad, kisas-had, dan lain sebagainya. Hal itu, karena gaya hidup dan opini dunia memang sedang berada di bawah pengaruh hebat dunia Barat. Akibatnya, ajaran-ajaran yang bertentangan dengan misi Barat senantiasa menjadi wilayah sasaran dalam perang pena tersebut. Televisi, radio, koran, majalah, internet dan media-media yang lain, secara sengaja atau tidak, umumnya telah menjadi pemasar gaya hidup dan opini yang dimiliki oleh bangsa-bangsa yang sedang mencengkramkan hegemoni di dunia. Ini sebetulnya fenomena alamiah, sebab umat manusia memang cenderung meniru hal-hal yang dimiliki oleh kelompok/bangsa yang sedang menghegemoni. Kehidupan dan pemahaman terhadap agama, secara otomatis, juga menjadi sasaran hegemoni atau minimal mengalami imbas buruk dari perang tersebut. Dr. Thaha Abdul Fattah, pakar Ushuluddin di Universitas Islam Madinah, menyatakan: “Saat ini, kita banyak menemukan siaran-siaran yang memasarkan akidah dan aliran-aliran sesat, baik secara teoritis maupun praktis. Bahkan, siaran-siaran itu senantiasa berjuang keras untuk memberikan pemahaman bahwa dalam Islam, agama bukanlah dunia. Ironisnya, yang berangkat dari ketidaktahuan akan hakikat Islam ini, telah meracuni banyak kaum terdidik di negeri-negeri Islam, akibat dari pengaruh materialisme dan sekularisme.” Pernyataan ini, sebagaimana sebelumnya, juga memiliki keyakinan kuat bahwa dunia pers seringkali menjadi corong untuk menanamkan pemahaman yang salah tentang agama. Ada yang secara khusus memiliki misi untuk itu, ada pula yang hanya sekadar terikut oleh trend opini dan gaya hidup yang sedang dominan. Dulu, di Abad Keempat Hijriah, di masa Abbasiyah, kelompok intelektual yang tergabung dalam Ikhwanus Shafa, aktif menerbitkan risalah sampai sekitar 50 edisi. Melalui gerakan intelektual bawah tanah, mereka ingin mempengaruhi masyarakat dengan paham-pahamkeagamaan yang dihegemoni oleh pikiran-pikiran filsafat. Bersama dengan karya filsuf-filsuf lain, risalah Ikhwanus Shafa ditengarai memiliki pengaruh besar dalam membawa umat Islam memuja filsafat dan menjadi penganut aristotalian. Hal ini tidak hanya terjadi di Basrah, tempat kemunculan Ikhwanus Shafa, tapi juga di pusat-pusat keilmuan yang lain. Hingga akhirnya, Imam al-Ghazali merobohkan pengaruh itu melalui karya beliau Tahâfutul-Falâsifah. Oleh karena itu, para pakar dakwah, seperti tidak pernah lupa menyelipkan pesan akan pentingnya dunia pers sebagai alat dakwah. Ibarat sebuah pertempuran: menangkis pedang dengan pedang; melumpuhkan rudal dengan rudal; dan kalau mungkin berbalik menyerang dengan senjata yang digunakan lawan. “Hiya silâhun dzu haddain (media massa adalah pisau bermata dua),” tegas Abdul Aziz bin Baz, tokoh ulama Wahabi di Makkah dalam fatwanya. Dulu, Rasulullah r menggunakan para penyair Muslim sebagai senjata untuk menangkis sajak-sajak orang-orang kafir yang mengejek beliau dan menghina agama Islam,...

Selengkapnya
Garansi Hizib Bukan Khurafat
Nov20

Garansi Hizib Bukan Khurafat

“Seandainya hizibku dibaca di Baghdad, maka kota itu tak akan jatuh.” Imam Abul Hasan asy-Syadzili menegaskan hal itu mengenai keampuhan Hizbul Bahr. Bagi kalangan tertentu, boleh jadi pernyataan beliau itu dianggap terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin sebuah bacaan doa dapat menghalau gelombang serangan tentara Tartar yang begitu tangguh. Kalau dilihat dengan kalkulasi lahiriah, sepertinya pernyataan asy-Syadzili memang terlalu mengada-ada. Namun, perlu juga diketahui, bahwa urusan hizib bukanlah urusan lahiriah. Hizib adalah doa yang ketajamannya tak bisa dikalkulasi dengan akal, karena murni bersandar kepada kekuatan Tuhan. Sebagai sebuah doa yang didapatkan oleh seorang waliyullah dari ilham, maka sangat mungkin doa itu memiliki sisi-sisi keluarbiasaan sebagaimana yang biasa dilihat sebagai karamah dari para wali. Sebagaimana, kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar, sudah berada di luar kalkulasi lahiriah. Hizbul Bahr, konon dikarang oleh Imam asy-Syadzili di Laut Merah. Saat itu, beliau sedang berlayar menaiki sebuah kapal. Di tengah Laut Merah, angin tiba-tiba berhenti. Kapal tak bisa bergerak selama beberapa hari. Namun, tak berapa lama kemudian, Imam asy-Syadzili melihat Rasulullah r datang dengan membawa berita gembira. Rasulullah r menuntun asy-Syadzili membacakan sebuah doa. Syahdan, dengan tiba-tiba angin datang dan kapal bisa bergerak kembali. Hizib yang dikarang oleh para tokoh sufi, memang tidak seperti penulisan karya-karya ilmiah. Hizib ditulis dengan pengalaman spiritual yang mendalam. Hanya melibatkan kekuatan hati, hampir tak melibatkan ketajaman pikiran sama sekali. Dalâ’ilul-Khairât  yang luar biasa mengakar dalam tradisi wiridan umat Islam hingga saat ini, ditulis oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli sama sekali bukan karena tantangan ilmiah yang bergejolak di pikiran beliau saat itu, tapi murni karena getaran spiritual yang menguasai hatinya. Konon, Syekh al-Jazuli hendak melaksanakan salat. Datang ke sumur, tak ada timba yang bisa dibuatnya untuk mengambil air wudu. Syekh al-Jazuli kebingungan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil yang tidak ia kenal datang menghampiri. “Siapa engkau?” tanya gadis itu. Syekh Al-Jazuli memperkenalkan dirinya. “Oh, ternyata Tuanlah yang dipuji oleh begitu banyak orang. Tapi, kenapa masih bingung untuk mendapatkan air sumur ini!?” Gadis kecil itu meludah ke dalam sumur. Sungguh aneh, airnya naik sampai ke permukaan. Syekh al-Jazuli dibuat terperangah. Beliau langsung berwudu dari air itu, lalu bertanya, “Nak, apa yang membuat engkau bisa mencapai derajat ini?” “Banyak bersalawat kepada Nabi yang apabila beliau berjalan di darat, maka binatang-binatang liar menjadi  begitu jinak,” jawab gadis kecil itu. Berangkat dari pengalaman itu, Syekh al-Jazuli bersumpah untuk menulis sebuah kitab kumpulan salawat. Dan, dari pengalaman spiritual itu pula muncul karya agungnya Dalâ’ilul-Khairât. Cukup banyak syekh-syekh sufi yang menyebarkan karya  al-Jazuli ini kepada murid-murid mereka. Misalnya, Syekh Abdul Haqq di India, pada awal-awal abad 20, dikenal dengan julukan Syaikhud-Dalâ’il. Meski tidak sampai mendapat julukan semacam ini, sangat banyak syekh-syekh di seluruh penjuru dunia Islam yang menyebarkan...

Selengkapnya