Ketika Jurnalis Bungkam, Sastrawan Enggan Diam!
Des20

Ketika Jurnalis Bungkam, Sastrawan Enggan Diam!

Kekuatan sastra—dibanding jenis tulisan lainnya—adalah jalur pemahaman dari “bawah tanah”. Kecepatan pencernaan, memang bisa dianggap kalah. Tapi, dari situlah keunggulan sebenarnya. Jurnalis, dari saking lugasnya, ancap kali dicampakkan, serta dilarang untuk menyuarakan kebenaran. Sehingga, hak-hak seringkali terkurung. Dari sanalah, jika jalur atas ditutup, maka—sebagaimana taktik militer—gunakanlah jalur bawah tanah. Dari halusnya penyampaian, dari sana pula pena sastrawan berjalan lancar. Entah itu penyair, cerpenis, esais, novelis atau sastrawan genre lainnya. Itulah juga, penyebab lahirnya Sanggar Iqra’, dari naungan Ihya’ Ulumiddin Community (IC). Sebab—sebagaimana judul di atas—ketika jurnalis bungkam, sastrawan enggan diam. Atau lebih jelasnya, ketika Buletin Bangkit (buletinnya IC) dikekang, maka Garis Kata (majalahnya Sanggar Iqra’) tak akan pernah diam. Sampai kapan pun, kebenaran haruslah diserukan. Dan, dari itu pula, kebenaran membutuhkan kita untuk tetap siaga membela perkara hak, dan membongkar perkara batil. Tak ada jurnalis, sastrawan pun jadi. Dengan begitu, jika seandainya media-media mulai mempersempit kemerdekaan pribadi (‘Idzatun-Nasyi’în juga menyebut kebebasan wacana), maka, kitalah sebagai sastrawan yang berhak maju, untuk menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Yang pastinya, maju melalui jalur bawah tanah. Sekian! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Mengenang Kembali Slogan, “Satu Mimpi Satu Barisan”
Des19

Mengenang Kembali Slogan, “Satu Mimpi Satu Barisan”

Sebelumnya kami mohon maaf. Judul di atas seakan-akan kami sok menjadi syarîh (seseorang yang menyarahi suatu karya). Tapi, sesungguhnya kami hanya ingin menganalisa makna tema Milad PPS ke-280 yang bertajuk ‘satu mimpi satu barisan’, dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Bukan malah menghakimi makna tema tersebut secara mutlak. Saat membaca tema tersebut, kami mencium aroma Sidogiri. Karena kami sadar, bahwa tema tersebut adalah tema Milad PPS sendiri. Sehingga sangat tidak masuk akal jika tema tersebut ditujukan pada problem eksternal. Untuk itu, kami lebih cendrung mengaitkan tema tersebut dengan problem internal, yakni Sidogiri sendiri. ‘Satu mimpi’ kami arahkan pada satu harapan masyayikh Sidogiri atau yang lebih sering kita sebut dengan visi dan misi Pondok Pesantren Sidogiri. Karena tidak mungkin pembangunan yang sangat menguras keringat dan pikiran ini dengan tanpa inisiatif. Kalau kita buka lembaran sejarah, awalnya Sidogiri berupa hutan belantara yang sangat angker. Pembabatan hutan tersebut tidaklah mudah. Mengingat, lawannya bukan hanya pepohonan kokoh dan hewan-hewan buas. Melainkan jin-jin yang sangat ganas. Maka dari itu, pasti ada harapan di balik pembabatan ekstra itu. Sidogiri mulai dari berbentuk gubuk, hingga beberapa asrama dan gedung berlantai berdiri, tujuannya hanya satu, yaitu mencetak‘ibâdil-Lah ash-shâlihîn. Semua program dan metode dalam pesantren ini tidak akan terlepas dari tujuan itu. Coba kita amati, Pesantren Sidogiri menyeimbangkan antara kegiatan ubudiyah dan ‘ilmiyah. Beda halnya dengan pesantren lain, ada yang kegiatannya didominasi ubudiyah adapula yang didominasi‘ilmiyah. Di dalam mencetak‘ibâdil-Lah ash-shâlihîn, kedua kegiatan itu sangat berperan. Kegiatan ubudiyah mendorong para santri untuk menjadi ‘ibadil-Lah yang sebenarnya. Karena jika kita amati secara literal, kata‘ibad adalah kata fleksi dari kata verba ubud. Maka, keduanya sangat berkaitan. Sedangkan kegiatan‘ilmiyah tak kalah penting dengan kegiatan ubudiyah. Karena jangan harap, sebuah ibadah tanpa didasari ilmu pengetahuan dapat diterima di sisi Allah SWT. ‘Satu barisan’ kami deret pada kesatuan dan kebersamaan para santri dalam meraih mimpi masyayikh Sidogiri dengan menaati tata tertib dan aturan yang telah disiapkan oleh beliau. Hal ini sesuai dengan arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu: kesatuan tentara yang telah disiapkan (untuk bertempur dsb). Karena mimpi masyayikh tidak akan terwujud jika santrinya sering melanggar dan tidak mengikuti ketentuan-ketentuan untuk menjadi ‘ibâdil-lah ash-shâlihîn yang sudah disiapkan oleh beliau. Maka dari itu, syarah ini kami anggap sangat relevan jika dikaitkan dengan problem...

Selengkapnya
Santri Sampai Mati
Des18

Santri Sampai Mati

Tujuan yang benar, hanya bisa tercapai melalui jalan yang benar pula. Mustahil kita menemukan kebenaran tanpa pelantara sedikit pun. Sebab kita tahu, hanyalah Allah Yang Maha Benar-Benar Benar. Begitupun utusan-Nya. Nabi Muhammad sudah di-nash sebagai utusan terakhir. Pada abad ke-20 ini, tidak ada seorang pun yang menjadi nabi. Karena itu, butuh jalur yang berhubung pada 14 abad silam untuk muwajjahah langsung kepada nabi. Mencari jalur itu memang sangat sulit. Tapi kata “sulit” bukan berarti “mustahil”. Pepatah mengatakan, “Ada kesempatan di balik kesempitan”. Kalimat itu menunjukkan bahwa, setiap ada kesulitan pasti ada alternatifnya. Satu-satunya alternatifnya adalah “pesantren salaf”. Hanyalah pesantren salaf alternatif terakhirnya. Tidak ada lain! Sebab untuk menjangkau beberapa abad yang silam, harus melalui lembaga yang memang mempertahankan tradisi silam (salaf). Hal itu hanya ada di pesantren, bukan di sekolahan formal. Kita—yang berstatus santri—sudah berada di zona aman. Tapi itu bukan jaminan keamanan. Sebab, yang namanya santri pasti akan boyong, alias pulang kerumahnya masing-masing. Pada fase itulah pemikiran kita mulai tercemar. Saat itu, ribuan “pertigaan” membingungkan kepala kita. Beda jalur, beda juga akhirnya. Pada waktu itu, kita masih punya petunjuk, yaitu guru. Jika ada banyak orang yang memberi petunjuk, kita harus prioritaskan penunjuk jalan alternatif kita. Hanya satu cara agar pemikiran tidak tersesat. Yaitu, fokus pada jalan alternatif yang kita tempuh. Ingat, mencari ilmu bukan sampai boyong. Melainkan, mulai terjun dari rahim ibunda, hingga terjun ke liang lahad. Meskipun status kita alumni, kita tetaplah santri; yang berpegang teguh pada tali Ilahi; mengikuti jejak langkah sang nabi; tidak toleh kanan kiri; dan—yang terpenting—tetap sam’an wa tha’atan kepada murabbi (guru). Laulakal-murabby, ma ‘alimtu rabby, tanpa ada yang mengajari, takkan tahu pada Ilahi. Kita harus menjaga arah. Semua pendapat guru harus kita prioritaskan. Jangan sampai bengkok di jalan yang lurus. Ingat, kita berada di jalan alternatif—yang harus konsentrasi mengikuti petunjuk jalan—bukan di jalan tol yang tinggal tancap. Jika pada fase itu kita konsisten, maka bahagialah! Mengingat, cobaan sudah berakkhir. Tinggal satu langkah lagi kita akan menggapai visi prima kita, yaitu wushûl kepada Sang Pencipta. Jadilah santri sampai mati! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Pesantren atau Pesar Trend
Des17

Pesantren atau Pesar Trend

Mondok, atau yang kita kenal dengan sebutan nyantri, adalah sebuah perbuatan yang tiada tara, yakni mengembara ilmu di pesantren. Pesantren tidak sama dengan pasar trend. Di sana para santri mengais ilmu manfaat lagi barokah. Bukan malah memborong barang-barang mewah. Jadi, sangat tidak nyambung, jika seorang santri pulang dengan membawa kado berupa pameran harta, bukan malah oleh-oleh akhlaqul-karimah. Kita—sebagai santri—jangan campur adukkan hadiah dari pesantren dengan dari pasar trend. Kita memiliki hadiah dua J yang spetakuler, dengan keduanya semua akan berubah. Yakni jaim (jaga image) dan jihad. Image santri bagaikan berlian. Keduanya sama-sama tak mudah didapatkan. Betapa bodoh kita jika mendapatkannya malah ditelantarkan. Kita harus menjaganya sebaik mungkin. Dengan cara amalkan ilmu yang didapat, serta lakukan apa yang kita lakukan di pesantren. Dengan itu, kita dapat menyegel image kita dengan rapat. Respon masyarakat sekitar pun juga akan lain kepada kita. Sehingga hadiah dari pesantren sangalah nampak. Sungguh rugi orang yang pergi ketempat yang agung tapi tak berbuah secuil biji pun. Selain itu, kita harus berjihad. Menebak isi kado kedua ini tidaklah mudah. Lebih dari 70% telah salah kaprah menafsirinya. Karena sudah menjadi kebiasaan (kaprah) maka kesalahan itu dianggap kebenaran. Kado kedua ini memiliki arti i’lau-kalimatil-lah (menjunjung tinggi agama). Jihad di sini tidak sedikit pun berbau ekstrim, sebagai mana yang telah masyhur. Malah esensi sebenarnya ialah menyebarkan ilmu kita. Kata ‘menyebarkan’ disini tidak harus bermakna mengajar, bahkan penafsiran kata ini sangatlah luas. Mulai dari mengajak masyarakat mencari ilmu di pesantren salaf, hingga menyadarkan orang berandalan. Jadi, semua santri bisa berjihad. Bukankah Tuhan tak akan memaksa hambanya akan perkara yang tidak ia mampu? Bukankan Rasulullah SAW menurunkan titah sesuai kemampuan umatnya? Ingat, Islam itu sudah mudah, jangan dipermudah lagi! Sangat jelas, virus utamanya adalah malas, bukan tidak mampu. Coba kita putar otak kita berkali-kali. Sangat rugi orang yang memilih kenikmatan sementara dari pada yang abadi. Maka dari itu, ayo kita semarakan oleh-oleh kita dari pesantren. Tandingilah mereka yang dari pasar trend. Bukan malah kita ikut serta meramaikannya. Sungguh aneh santri yang berbau pasar. Sama halnya penjual minyak berbau ikan. Padahal hadiah dari pesantrenlah yang diharapkan. Bukan malah trend-trenan di jalanan. Mengingat nilai seorang santri tak tertandingi. Mulai dari sopan-santunya hingga ibadahnya yang indah. Abdullah...

Selengkapnya
Hormat kepada Guru ABC atau Wali Kelas?
Des16

Hormat kepada Guru ABC atau Wali Kelas?

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya/ Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar/ Ketika aku besar dan menjadi pintar/ Kulihat dia begitu kecil dan lugu/ Aku menghargainya dulu/ Karena tak tahu harga guru/ Ataukah kini aku tak tahu/ Menghargai guru? Itulah teks dari puisinya Gus Mus, seorang penyair pesantren, yang berjudul Guruku. Saya sangat kagum saat membaca puisi itu, seakan beliau mengupas problematika yang sering terjadi pada abad XX ini. Puisi itu menceritakan siswa yang tak menghargai gurunya di kala ia sukses. Seakan ia sudah lebih pintar dan alim dari pada gurunya. Ia telah lupa dengan peran gurunya. Ia tidak menyadari bahwa yang menaruh pondasi ilmu adalah gurunya. Apalagi guru langgarnya (Ghuruh Tholang—Madura). Guru langgaran sering ditelantarkan oleh para alumninya. Padahal tidak semua guru bisa mengajar seseorang yang masih nol, sebagai mana guru langgaran. Ia menyangka mengajar Alif, Ba’, Ta’ lebih mudah dari pada mengajar baca kitab ‘gundul’. Ia menyangka bahwa mengajar 1+1=2 lebih mudah dari mengajar Aljabar. Tapi faktanya tidak seperti itu, bahkan sebaliknya. Bila suatu saat—di hati kita—terjadi perang antar peran guru langgar VS peran dosen, maka hati-hatilah dalam memilih. Kita tidak boleh memilah dan memilih peran dari berbagai peran guru. Kita harus ingat semua peran tersebut, jangan sampai terlupakan satupun darinya. Saya jadi teringat suatu tragedi yang pernah diderita Indonesia. Konon, KH Abdurrahman Wahid ad-Dakhil (yang masyhur dengan julukan Gus Dur) pernah dihujat dan dicaci-maki oleh berbagai pihak, bahkan oleh para kiai. Tapi KH Nawawie bin Abd. Jalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, malah membagikan surat edaran yang berisikan intruksi kepada semua santri, alumni dan simpatisan Sidogiri agar tidak ikut-ikutan mencaci-maki. Alasannya sangat senderhana. Yakni, peran kakeknya Gus Dur, Syaikh Hasyim ‘Asy’ari dalam mendidik KH Cholil Nawawie, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Sebegitu besarnya masyayikh Sidogiri dalam mengingat peran. Karena dengan mengabadikan peran seorang guru, maka perpecahan pun tidak akan terjadi. Ingat, ending dari perpecahan hanyalah kehancuran. Coba kita buka kembali lembaran sejarah, penyebab hancurnya dinasti Abbasyiah—suatu dinasti umat Islam terbesar pada masa itu—tidak disebabkan dinasti kafir, bahkan disebabkan dinasti-dinasti Islam yang terpecah dari dinasti Abbasyiah. Sejarah itu tidak jauh berbeda dengan kehancuran Andalusia, kehancuran dinasti Utsmaniyyah—satu-satunya dinasti yang pernah menguasai tiga benua—dan banyak lagi kisah yang tidak jauh berbeda dengan sejarah dinasti Abbasyiah. Terakhir dari saya, hargai peran seseorang jangan sampai perangi peran seseorang. Wassalam! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Musyawarah; Antara Kebenaran dengan Ketenaran
Des15

Musyawarah; Antara Kebenaran dengan Ketenaran

Di kalangan pesantren, musyawarah adalah suatu program yang bersifat primer. Selain karena lebih diingat, hasilnya lebih detail dan rinci. Program ini telah berlangsung dari zaman Rasulullah SAW dan terus diabadikan hingga kini. Akan tetapi, pengabadiannya tidak seratus persen. Nama dari program ini saja yang kekal, sedangkan tujuan utamanya berubah total. Mencari kebenaran sudah sangat jauh dari program ini. Parahnya lagi, program musyawarah dijadikan ajang mencari ketenaran. Na’udzubillah! Antara kebenaran dangan ketenaran sangat berbeda 100 derajat. Sebab, jika tujuan kita adalah mencari kebenaran, maka musyawarah itu dapat menelurkan suatu hukum yang klarifikasinya kuat, tanpa menimbulkan percekcokan yang endingnya permusuhan. Sedangkan jika yang kita cari adalah ketenaran, maka hukum yang kita bahas tidak akan pernah terselesaikan. Lebih parahnya lagi akan menimbulkan permusuhan antar musyawirin. Kalau membuka lembaran sejarah, kita akan mengetahui suasana musyawarah tempo dulu. Coba kita amati cara musyawarahnya KH Abd. Jalil bin Fadhil, beliau tidak akan bicara sepatah kata pun jika moderator belum memberikan waktunya. Beliau tidak pernah akar-kar apalagi memberikan komentar pedas pada masyawirin lain sebagai mana lazimnya musyawarah pada abad XX ini. Para musyawirin kontemporer tidak akan pernah percaya pada fakta ini. Karena mereka sendiri telah terbiasa melakukan perkara buruk tersebut. Karena keanehan adalah suatu kelaziman pada masa mendatang. Konon, ketika orang yang lebih senior berbicara, tak seorang pun yang berani memotongnya. Tapi kini, bukan hanya yang lebih senior, mushahhih-pun berani dibentak dan diolok-olok oleh para musyawirin. Musyawarah yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu, suasana musyawarah tidak jauh berbeda dengan biasanya. Ketika ada musyawir berbicara, maka para musyawirin lainnya menyimaknya. Sekarang, suasana musyawarah lebih ribut dari pada pasar. Walaupun ketika salah satu musyawir dipersilahkan oleh moderator, malah musyawirin lain ikut-ikutan berbicara, entah tenar atau sensasi belaka yang mereka harapkan. Dulu, tutur bahasa yang diucapkan sangalah lembut, meskipun ketika i’tirad. Tapi sekarang, olok-olokan bahkan perkataan kotor sering keluar dari mulut para musyawirin. Faktor perubahan suasana ini dikarenakan tujuannya berubah, yang asalnya mencari kebenaran kini malah mencari ketenaran. Mengingat, niat adalah pengemudi dari pekerjaan itu sendiri. Mungkin sudah cukup dengan satu sabda Rasulullah SAW, “Setiap pekerjaan tergantung pada niatnya”. Bahkan, salah-satu pembina musyawarah, dengan entengnya mengucapkan, “Letakkan dulu (jangan diamalkan) Ta’lîmun Muta’alîm-nya”. Padahal, sebenarnya, kitab itulah yang menyarankan kita musyawarah. Kitab itu pula yang mengajarkan tata caranya. Musyawarah atau yang kita kenal dengan metode syawir, memiliki tujuan untuk mencari kebenaran. Mencari kebenaran ini hanya diperoleh dengan berfikir (ta’ammul), enjoy (taanni) dan netral (inshaf). Dan forum inilah yang diperbolehkan. Bila musyawarah hanya diperuntukkan mencari ketenaran, dengan artian kita berkicau dalam forum dengan berapi-api (ghadhab) dan menimbulkan percekcokan dan keramaian (syaghbun) maka forum semacam ini tidak diperbolehkan, bahkan dikategorikan perkara madzmûm. Na’udzubillahhi min dzalik! Muhammad ibnu...

Selengkapnya