Berkah Sungai Sidogiri
Des14

Berkah Sungai Sidogiri

Saat itu Belanda mengepung Pondok Pesantren Sidogiri (PPS). Para thullâb bergegas melindungi kiainya. Satu-persatu gugur. Hingga irama nyawa tak lagi terdengar. Tapi masih ada satu orang yang bertahan. Beliau adalah KH Abd. Jalil bin Fadhil, pengasuh PPS pada saat itu. Tak satu pun santri yang mampu melindunginya. Puluhan tentara belanda memergokinya. Tapi, lesatan kerisnya sangat licah. Tak ada seorang pun tentara yang mampu mendekat. Hingga… “Dor!” Tembakan menggaung di atas lisan sucinya. Beliau syahid dan terbuang di Sungai Sidogiri. Risau semua hati santri. Mengkhawatirkan kabar maha gurunya. Semerebak seribu bunga mengambang di atas Sungai Sidogiri. Kayaknya, ada yang aneh dengan sungai itu! Beberapa santri dan segelintir warga menelitinya. Ternyata, jasad sang maha guru mengambang di sana. Semua santri berduka cita. Sejak tragedi tersebut, gelar ‘barokah’ disandangkan kepada sungai itu. Beribu-ribu santri menceburkan diri, demi mendapat barokah. Berbagai aktivitas mengalir disana. Seperti mandi, berenang, wudhu’, qadhil-hajah bahkan sikat gigi. Semua itu karena istilah ‘barokah’. Bertahun-tahun ritual itu berlangsung. Hingga slogan “Bukan santri Sidogiri, bagi yang belum merasakan sungainya” populer di telinga kita. Mengingat selain ilmu manfa’at, barokahlah yang mereka impikan. Entah berapa tahun sungai itu begitu mulya. Hingga akhirnya tercap menjadi markas salah satu gangstar ‘terganas’, yaitu BONAIS (bocah nakal ingin sukses). Sejak itulah barokah mulai terkikis. Kini, malah kata ‘jijik’ yang disandangnya. Tak seorangpun merelakan tubuhnya mandi di sana. Entah gelar ‘barokah’ hanyut kemana. Padahal tak ada beda antara Sidogiri sekarang dengan Sidogiri dulu. Beberapa tindakan pun diluncurkan, demi melestarikan barokah Sungai Sidogiri. Mulai dari hukuman menguras sungai, hingga program rutin yang diadakan kesehatan. Tapi entah, jerih payah begitu sia-sia. Sungai Sidogiri tetap kumuh dan kotor. Tak ada orang yang mandi di sana. Bahkan berak pun tak ada. Meski begitu, bukankah hal yang seperti itu yang patut kita gelari ‘barokah’. Bahkan seharusnya kita tetap membudayakan tradisi zaman dahulu. Sebab kini sungai itu lebih banyak barokahnya. Barokah bukanlah perkara yang enak. Barokah adalah perkara yang menyamarkan keenakan. Lebih tepatnya istilah “Di balik kesusahan tersimpan kemudahan”. Maka dari itu, tunggu apa lagi? Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Santri dan Antri
Des13

Santri dan Antri

Ketika bangun dari tidur qailulah, aku segera pergi ke kamar mandi, mengingat aku belum makan. Padahal satu jam lagi, bel sekolah berdering. Alangkah terkejutnya saat aku melihat lima kepala manusia menunggu di setiap jeding. Tanpa pikir panjang, aku pun ikut mengantri bersama lima orang itu. Meskipun aku tahu, antrian ini memakan waktu minimal 50 menit. Tapi hal ini bagiku adalah kebiasaan, mengingat statusku adalah santri. Jika kita teliti, kata ‘SANTRI’ secatra tekstualnya, maka kita menyimpulkan bahwasannya ‘SANTRI’ adalah gabungan huruf ‘S’ dengan kata ‘ANTRI’. Dari itulah, aku menyimpulkan bahwa santri itu harus antri. Setelah kejadian tersebut, aku teringat akan update status kakakku di dumay (dunia maya) pada saat pulangan kemarin. Kurang-lebihnya begini, “Perbedaan antara pendidikan pesantren dengan lembaga lain adalah: Kalau pesantren pendidikannya 24 jam non-stop. Sedangkan lembaga lain pendidikannya hanya tiga jam pelajaran”. Status ini menyiratkan bahwa pendidikan di pesantren itu lebih maksimal dari pada lembaga lain, baik dalam segi moralitas maupun ilmu pengetahuan. Karena jarang sekali di lembaga non-pesantren yang layak dibuat latihan untuk bersabar dalam melintasi lika-liku kehidupan. Seperti: antrian, desak-desakan, kiriman telat, rindu akan tanah airnya dan lain semacamnya yang sering terjadi di pesantren. Aku jadi teringat tragedi seusai shalat Jumat dua minggu kemarin. Pada saat itu, saat aku hendak turun dari lantai dua, terjadilah saling dorong-mendorong antara ribuan santri, rebutan ingin lebih dahulu turun. Anehnya, teman saya malah berucap “Alhamdulillah!” berkali-kali. Lantaran penasaran, aku pun menanyakan alasannya. “Alhamdulillah! Aku ditakdirkan naik Haji! Buktinya, sekarang aku dilatih berdesak-desakan dengan ribuan orang, agar kelak di Masjidil-Haram tidak kaget!” Terangnya. Hal itulah yang menyebabkan para alumni pesantren lebih lihai dalam mengatasi berbagai cobaan yang menimpanya, dari pada alumni lembaga non-pesantren. Oleh karena itu, tidak heran jika para santri lebih diidam-idamkan oleh gadis-gadis cantik melebihi para artis yang belum mencicipi ‘garam’ di pesantren. Pernah kumembaca pepatah ulama dalam kitab Ihya’ Ulûmid-dîn “Kesabaran yang patut diberi apresiasi adalah kesabaran sesorang akan musibahnya—saking sabarnya—sahabat karibnya sendiri tidak tahu pada musibah yang dialaminya” kemudian ulama itu membahkan “Kita tidak akan sampai pada tingkat semacam itu kecuali apabila kita latihan ekstra”. Satu-satunya tempat untuk melatih kesabaran dalam menghadapi lika-liku kehidupan adalah pesantren. Karena di sanalah kita belajar mandiri dan istikamah. Sedangkan di lembaga lain wa bil-khusus sekolah formal? Tanyakanlah pada diri sendiri! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Awal Mula Madura
Des12

Awal Mula Madura

Tersebutlah di Negara Mendangkawulan, seorang raja dalam Keraton Willing Wesi, yang bernama Sanghiang Tunggal yang memiliki putri sangat cantik jeita. Pada suatu hari, putri Sang Raja hamil, tanpa diketahui ayah dari anak yang dikandungnya. Spontan, Sanghiang Tunggal murka dan meminta penjelasan pasti. Tapi, sang putri malah menjawab dengan aneh, “Saya bermimpi melihat rembulan masuk ke dalam tubuh melalui mulut, kemudian masuk keperut. Setelah itu, tidak keluar lagi!” Karena Sanghiang Tunggal merasa dipermainkan, ia menyuruh patih untuk segera membunuh putrinya, dan tidak diperkenankan kembali ke istana, sebelum membawa kepala sang putri. Tapi karena perasaan iba, patih hanya menyuruh sang putri untuk merantau ke Gunung Geger. Demi sang putri, patih tidak kembali lagi ke istana. *** Di Gunung Geger, putri sendrian, tanpa ada yang menemani. Selang beberapa lama, saat perutnya tersa sakit, datanglah seorang pria gagah mendekati sang putri. Pria itu bernama Kijahi Poleng. Pria itulah yang merawat sang putri, serta membantu prosesi kelahiran bayi yang dikandungnya. Kemudian lahirlah bayi yang diberi nama Raden Segoro. Raden Segoro sering bermain ditepi laut, hingga pada suatu saat, datanglah dua naga besar yang menakutkan. Raden Segoro pun melarikan diri, dan memberitahu kajadian itu pada Kijahi Poleng. Tapi anehnya, oleh Kijahi Poleng disuruh membanting keduanya. Atas perintah Kijahi Poleng, Pangeran Segoro mentaatinya. Ajaib, kedua naga itu menjadi keris yang sangat masyhur di Bangkalan, yakni Kijahi Nenggolo dan Kijahi Aluquro. *** Selang tujuh tahun dari kelahiran Pangeran Segoro, Negara Mendangkawulan mendapat serangan besar-besaran dari Cina. Prajurit Keraton Willing Wesi banyak gugur. Dan hampir Saja Raja Sanghiang Tunggal menyerah. Hingga ia bermimpi ada seorang tua renta mendekati dirinya, seraya berkata, “Jika engkau ingin mempertahankan kerajaanmu, panggillah Pangeran Segoro di kepulauan Madu Oro (Lemah Dhuro).” Tanpa pikir panjang, Raja Sanghiang Tunggal menyuruh prajurit untuk memanggil Pangeran Segoro. Setelah prajurit menemukan Pangeran Segoro, segeralah ia menyampaikan maksud utamanya. Karena mendesak, Pangeran Segoro segera minta izin pada ibunda, yang tak lain adalah putri dari kerajaan Willing Wesi sendiri. Meski memendam perasaan dendam, sang putri tetap mengizinkan Pangeran Segoro, demi kesejahteraan kerajaan ayahanndanya. *** Setelah mendapat restu dari ibunda, Pangeran Segoro berangkat bersama prajurit, yang diawasi oleh Kijahi Poleng dengan membawa pusaka Kijahi Nenggolo. Anehnya, tak satupun prajurit dapat melihat Kijahi Poleng, selain Pangeran Segoro. Setelah sampai di Negara Mendangkawulan, Kijahi Poleng mengarahkan pusaka Kijahi Nenggolo ke perkemahan pasukan Cina. Spontan, semua pasukan Cina terserang penyakit parah. Sehingga semuanya angkat kaki dari Negara Mendangkawulan. Akhirnya, karena kemenangan keraton Willing Wesi, Raja Sanghiang Tunggal mengadakan pesta besar-besaran, dan meganugerahkan gelar Tumenggung Gemet (lawannya pasti kalah) kepada Pangeran Segoro, yang tak lain adalah cucunya sendiri. *Disadur dari Ensiklopedi Asal Usul (910.3/kha/e/C.01) Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Iklan Youtube Mengancam Akidah
Des12

Iklan Youtube Mengancam Akidah

Oleh: Muhammad ibnu Romli Hal ini bukan perkara remeh. Kita perlu waspada kepada semua hal, yang bersinggungan langsung dengan keyakinan. Ideologi merupakan hal pokok dalam beragama. Sealim apa pun, dan sesufi apa pun orang itu, jika akidahnya salah, sangatlah berakibat fatal kepada status keagamaan seseorang. Termasuk pengaruh Iklan di Youtube. Kita tidak boleh menyepelekan hal ini. Terkadang, pada tahun politik, kita selalu membesar-besarkan masalah kepemimpinan, sehingga saling tikam satu-sama lain, padahal, dalam waktu yang sama, kita lengah, dan tidak tahu-menahu kepada masalah yang bisa merusak akidah, sehingga mereka beranggapan hal itu merupakan masalah kecil, padahal sebaliknya. Inilah yang membuat bencana datang bertubi-tubi menghantam negeri. السكوت عند أول الفساد يعرو ما ما تعتنقه من العقائد، داع لسريان الفساد إلى سائره. “Mendiamkan awal kerusakan yang berkaitan dengan akidah, akan mengundang kerusakan-kerusakan yang lain,” tulis Syekh Mushthafa al-Ghalayayni, dalam kitab ‘Idzâtun-Naâsyi’în. Youtube merupakan media informasi yang bersifat universal. Tidak harus tua, bahkan keponakan saya yang masih berumur dua tahun, sangat gemar menonton tanyangan yang disajikan. Setiap lima detik, biasanya, sebuah channel Youtube menayangkan sponsor beberapa produk, yang menurut hemat saya, sangat rentan menumbuhkan keyakinan yang menyimpang. Sering kita lihat, pasta gigi yang menggoda kita dengan tawaran langsung sembuh saat menggunakan. Juga tayangan wajah seseorang halus seketika setelah menggunakan sabun wajah. Ada juga—dan ini yang banyak—orang sakit kepala atau pilek, bisa langsung sembuh dengan sekali minum obat yang ditawarkan. Ini sangat berbahaya. Terlebih kepada anak dibawah umur, yang hidup di lingkungan jauh dari pendidikan agama. Di pesantren, kita diajarkan akidah Ahlusunah Waljamaah yang benar. Kita meyakini, setiap sesuatu itu, murni atas kehendak Allah. Mâ syâal-Lâh kâna, wa mâ lam yasya’ lam yakun. Segala sesuatu yang dikehendadi Allah, maka tercipta. Begitupun, setiap sesuatu yang tidak dikehendaki Allah, tidak akan tercipta. Jika Allah menghendaki mereka sakit kepala, sebanyak apa pun obat yang mereka konsumsi, tidak akan bisa menyembuhkan. Mereka akan sembuh, jika Allah menghendaki sembuh. Bukan obat itu, yang menyembuhkan. Bukan pula Allah memberikan kemampuan tersendiri pada obat itu agar bisa menyembuhkan. Hal itu murni atas kekuasaan Allah sendiri. Sejak dulu, hal semacam ini sudah ditegor oleh Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dalam karyanya Ummul-Barâhîn: والربط العادي، هو أصل كفر الطبائعين ومن تبعهم من جهلة المؤمنين قرؤوا ارتباط الشبع بالاكل والري بالماء وستر العورات بالثوب والضوء بالشمس ونحو ذلك مما لا ينحصر. ففهم من جهلهم أن تلك الأشياء هي المؤثرة في ما ارتبط وجوده معها. إما بطبعها، أو بقوة وضعها الله فيها. و أهل السنة –رضي الله تعالى عنهم نور الله تعالى بصائرهم– لم يفتتنوا بشيء من الاكوان. “Kaitan adat, merupakan asal kekafiran dari kelompok Thabai’in dan para pengikutnya dari golongan orang mukmin yang bodoh. Mereka berpendapat ada hubungan antara kenyang dengan makan, segar dangan...

Selengkapnya
Masih Mengenai Zaman Now
Des11

Masih Mengenai Zaman Now

Pernah suatu ketika, saya memergoki santri membawa beberapa kitab gede ke masjid pada saat malam. Karena saya ingin mengikutinya, meski tidak kenal saya berani bertanya. “Malam-malam begini, masih ngadakan halakah. Ngak ngantuk, ya?” “Lha, justru itu!” “Maksudmu?” “Ya, saya ingin tidur!” “Lha, lantas kitab ini untuk apa?” “Buat bantal!” Ujarnya sambil meniduri kitab besar itu. Saya hanya bisa mengelus-elus dada. Rupanya santri zaman now, memang beda dengan zaman old. Kalau zaman old, para santri sangat menghormati pada kitab. Jangankan diletakkan sembarangan, ditaruh di bawahnya pinggang saja tidak berani. Khawatir ilmunya tidak berkah. Selesai belajar, kitabnya tidak langsung diletakkan, melainkan dicium sebagai bentuk takzim dari santri zaman old. Sedangkan zaman now, lihatlah mereka yang sedang belajar. Setelah mereka selesai, jangankan mencium kitabnya, tidak dibuat bantal pun sudah untung. Bahkan sudah menjadi kebiasaan, setelah selesainya ujian, asrama dan ruangan menjadi kotor, penuh dengan sampah kitab yang dibuang. Innalil-Lâh! Satu lagi, santri zaman old sangat hormat pada bangunan yang benama masjid. Keluar-masuk mereka pasti membaca doa. Mereka enggan bergurau, rame-rame apalagi sampai tidur di “rumah” Allah. Sedangkan sekarang, datanglah kalian ke Masjid Jami’ Sidogiri saat tengah malam, niscaya kalian menemukan santri zaman now tergeletak di sana. Ya, zaman memang sudah berubah. Entah apa yang mereka harap dari perubahan itu. Masihkah mereka menghafal i’lal  di tengah rerumpun tebu dan senandung Alfiyyah dan Imrithi membuai merdu, atau malah digantikan lagu-lagu Melayu? Masihkah perdebatan pendalaman dalam halakah musyawarah menghidupkan malam mereka penuh semangat dan gairah, atau malah diskusi sarat istilah dinilai lebih bergengsi dan bergaya? Masihkah mereka memburu pahala berlipat dua puluh tujuh, atau malah sudah tidak memiliki waktu? Masihkah mereka mengirim fatihah pada masyayikh setiap hari, atau hanya setiap ada haul? Masihkah mereka memiliki jiwa santri zaman old? Beginilah santri zaman now Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Kecocokan al-Quran dan Sains Modern
Des10

Kecocokan al-Quran dan Sains Modern

“Dan jika kamu meragukan (Al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah suatu arah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kamu orang –orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya dan (pasti) kamu tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 23-24) Pada ayat itu, Allah SWT—dengan terang-terangan—menantang untuk membuat karya yang bisa menandingi Al-Quran. Tapi, sampai detik ini tak satu pun yang berani unjuk gigi. Mengingat, Al-Quran tidak sekedar kitab sastra, akan tetapi penuh keajaiban keajaiban; menjadi mukjizat terbesar dari nabi termulia; dan yang pasti, membuat orang mengaga. Akhir abad ke-19 Masehi, dunia kembali mencatat torehan penting. Pasalnya, ada penemuan penting tentang asal-mula terciptanya alam semesta. Setelah melakukan observasi dan eksperimen selama beberapa dekade, ahli astrofisika menjelaskan bahwa, awal-mula terciptanya alam semesta adalah Big Bang (ledakan besar). Dalam teori Big Bang, seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk Nebula Primer. Kemudian terjadilah ledakan yang memecah belah Nebula Primer, yang disebut dengan teori Big Bang. Akan tetapi, 14 abad yang lalu, Al-Quran telah memaparkan teori Big Bang dalam surah QS. Al –Anbiya’: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya’: 30) Selain itu, para ilmuan menyatakan bahwa asal-usul alam semesta—sebelum menjadi Nebula Primer—adalah gas yang berupa asap. Hal ini sama persis dengan firman Allah: “Kemudian dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap”. (QS. . Al-Fushilat: 11) Subhanallah! Mana mungkin kitab biasa dapat melakukan riset sedetail ini?! Sebab itulah Al-Quran menjadi kitab yang paling banyak dibaca di dunia, serta menjadi musuh-musuh Islam kikuk dihadapan Al-Quran. Muhammad ibnu...

Selengkapnya