Gedung Al-Ghazali Belum Sempurna
Okt23

Gedung Al-Ghazali Belum Sempurna

Mabna al-Ghazali bisa dikatakan sebagai mega proyek yang belum selesai hingga saat ini. Menurut keterangan Ust. Imam Hanafi, selaku pelaksana P3S Pondok Pesantren Sidogiri, hal tersebut dikarenakan belum ada instruksi lanjutan dari Ketua Umum dalam hal penyelesaian Mabna al-Ghazali. “Kenapa Mabna al-Ghazali tidak diteruskan, karena belum ada instruksi dari Ketua Umum. Kami hanya sebagai pelaksana saja, tidak ada hak untuk memutuskan,” terang beliau. Beliau melanjutkan, banyak hal yang belum diselesaikan dalam pembangunan Mabna al-Ghazali ini, mulai dari rencana pemasangan lift, hingga pemasangan fiber glass dan dekorasi tambahan. Pemasangan lift yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar 500-600 juta, daya listrik yang juga tidak sedikit dan kekhawatiran pengurus kondisi santri saat ini, menjadi faktor utama keterhambatan pemasangan fasilitas tambahan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa kerusakan fasilitas, seperti keramik terjadi karena kesalahan teknis pada saat pemasangan. “Masalah keramik yang lepas, atau bahkan sampai retak, ini adalah kesalahan saat pemasangan. Menurut hasil pengamatan saya ketika di Bandung, setiap gedung tinggi itu pasti mengalami getaran. Mereka menggunakan plastik dan pasir sebelum pemasangan keramik, agar keramik tidak menempel dengan gedung dan tidak terpengaruh getaran tersebut. Namun, cara ini belum diterapkan dalam pembangunan Mabna al-Ghazali,” ungkapnya tentang tata cara pemasangan keramik yang benar. “Untuk fiber glass (dekorasi depan) yang sekarang, sebenarnya itu adalah inisiatif dari pihak BATARTAMA untuk mencegah santri melempar sesuatu dari atas ke bawah.” Pungkasnya. __________ Penulis: Alfin Nurdiansyah Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
🔴 Live Hari Santri
Okt22

🔴 Live Hari Santri

Selengkapnya
Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan?
Okt21

Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan?

  Adakan evaluasi setengah tahun, sejumlah redaksi Sidogiri.Net dan Koordinator berkumpul di mushalla Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri, Malam Senin (21/10). Tujuan evaluasi untuk mengukur apakah Sidogiri.Net telah berjalan sesuai program atau tidak, serta mengumpulkan kritik saran segenap redaksi. Evaluasi juga membahas perubahan penampilan web yang tengah dinantikan segenap redaksi. Untuk itu, Evaluasi mengundang Ust. Samsul Huda Mahfudz selaku Sekretaris I dan atasan Sidogiri.Net serta Ust. Muhammad Iqbal Akkad selaku Kepala Badan Pengembangan Sistem dan Teknologi Informasi (BPSTI). Namun, Ust. Iqbal berhalangan hadir sehingga pembahasan terkait tampilan web masih berhenti di Sekretaris I untuk dilaporkan kembali dalam rapat bulanan. Pada rapat perdana yang dilaksanakan pada bulan Juni yang lalu, telah disepakati bahwa Sidogiri.Net memiliki program salah satunya adalah update sehari. Dan itu telah dibuktikan dengan dalam sehari, ada satu berita, dan itu telah berjalan hingga kini. Maka, untuk memantapkan kembali program yang telah ada, Sidogiri.Net melalui Koordinatornya, Ust. Albilaluddin al-Banjari adakan evaluasi ini. Selain Ust. Samsul Huda, Evaluasi juga dihadiri oleh Editor dan Pembina Badan Pers Pesantren (BPP) untuk Sidogiri.Net, Ust. Saeful Bahri dan Ust. Saharuddin. Keduanya juga memberikan masukan dan menyampaikan beberapa hal terkait redaksi Sidogiri.Net. “Dibandingkan dengan awal tahun, tulisan redaksi sudah lebih baik. Namun, perlu banyak latihan lagi agar menghasilkan berita yang baik”, kata Ust. Saeful Bahri ketika diminta menyampaikan perkembangan tulisan redaksi. Beberapa kendala telah disampaikan masing-masing redaksi. Kendala yang paling nampak dan dirasakan oleh pengunjung web adalah setiap berita yang telah di-update akan hilang jika sudah mencapai empat hari. Karena, Sidogiri.Net untuk rubrik berita yang ditampilkan pada Home hanya mampu menampung sebanyak empat berita saja. Selain itu, ada masukan dari Ust. Saharuddin, Pembina BPP. Beliau menyampaikan bahwa jarang masyarakat yang mencari berita ke website. Lebih banyak mencukupkan pada berita di media sosial. Menurut beliau, kebanyakan orang membuka web untuk mencari solusi dan prosedur suatu lembaga terkait pendaftaran sehingga apabila Sidogiri.Net hanya menyampaikan informasi, media sosial Sidogiri telah berperan banyak disana. Hal ini membutuhkan perubahan, apakah kedepan Sidogiri.Net hanya fokus pada informasi atau akan menambah kembali rubrik dakwah yang pernah ada saat masih bernama Sidogiri.Com. Dan semua itu, juga membutuhkan pada perubahan penampilan website, karena tampilan sangat berkontribusi terhadap daya tarik dan minat untuk berkunjung ke Sidogiri.Net. Jadi, apakah Sidogiri.Net perlu berubah? Penulis: Musafal Habib Editor:    Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu!
Okt20

Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu!

Untuk pertama kalinya di semester pertama tahun ajaran 1440-1441 H buletin Nasyith mengadakan bedah majalah dengan tema “Membahas Film The Santri”. Ust. Nahdlor Tsana’i, sebagai pengisi seminar menjelaskan beberapa hal yang menuai kontroversi. Beliau juga menekankan kepada para santri untuk membenahi diri sebelum berkomentar mengenai film The Santri. Dalam penyampaiannya beliau menjelaskan bahwa santri memiliki dua alam kehidupan, Pertama  Hala kaunihi thaliban, ketika masih menjadi santi (menetap di pesantren). Kedua, Halal-Khuruj minal-Ma’had, ketika sudah keluar (boyong) dari pesantren. Dari dua keadaan ini, kita bisa memahami, ketika seorang santri telah keluar dari lingkungan pesantren, dia tetap dikatakan santri dan tidak boleh berubah, karena di pesantren telah dibekali dengan banyak ilmu pengetahuan dan akhlaqul-karimah, bahkan hanya dengan melihat pada takrif santri yang disampaikan oleh Kiai Hasani kita bisa tahu siapa santri yang sebenarnya. Santri adalah orang yang berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis, serta teguh pendirian. Sedangkan santri menurut dawuh Nabi Ibrahim adalah sebagaimana tercantum dalam al-Quran: رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Baca Juga:  Bedah Majalah Nasyith, Menyikapi Film The Santri Dari ayat diatas kita mendapat gambaran bahwa kehidupan santri tidak mementingkan dunia, Nabi Ibrahim berkata, “sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman”. Sangat sesuai dengan realita yang ada di beberapa pesantren salaf, di mana di sana bukan tempat untuk bersenang-senang dan bermewah-mewahan, melainkan mencari ilmu tanpa menghiraukan urusan duniawi. Tujuan seorang santri adalah untuk menegakkan salat, sebagaimana kelanjutan perkataan Nabi Ibrahim, “agar mereka mendirikan shalat”,  karena salat merupakan inti dari seluruh ibadah. Di akhirat kelak hal pertama yang akan dihisab oleh Allah adalah salat. Jika dikaitkan dengan film The Santri yang banyak diperbbincangkan akhir-akhir ini, menurut beliau itu bukan perilaku santri, karena tidak sesuai dengan realita yang ada. “Santri tidak seperti itu! Di sana ada Khalwat, berduaan antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat.” Tegas salah satu staf pengajar Aliyah ini. Dalam hal ini, ada sesuatu yang dapat mengantarkan atau mendekatkan pada zina, yang mana jelas telah dilarang oleh al-Quran. Allah berfirman, La Taqrabuz-Zina. Sekalipun dalam suatu tempat terdapat banyak orang, jika disana terdapat hal-hal yang mendekatkan pada perzinahan maka juga haram, seperti saling melirik, berbicara sehingga menimbulkan perasaan suka dan lain sebagainya. Sangat tidak sesuai dengan takrif santri dari Kiai Hasani, yakni berpegang teguh pada...

Selengkapnya
Ulasan Singkat Pelatihan Menulis Sidogiri.Net
Okt19

Ulasan Singkat Pelatihan Menulis Sidogiri.Net

Dua bulan yang lalu, Pemimpin Redaksi (PemRed) Sidogiri.net, Muhammad, adakan pelatihan menulis berita di Ruang Perpus Digital Sidogiri, tepatnya pada Rabu (27/08). Turut mengundang semua kru majalah dinding Maktabati dan Attahqiq. Tujuan pelatihan untuk meningkatkan ghirah dalam membuat berita. Dalam pelatihan tersebut, Muhammad mengajak untuk mulai menseriusi dalam mengolah berita. Beliau menjelaskan maksud mengajak redaksi dari Majalah Dinding Maktabati dan Attahiq adalah selain karena keduanya merupakan mading berlatar belakang berita, tetapi juga untuk memupuk fastabiq al-khairat antar keduanya. Nantinya akan dijalin kerjasama antar kedua Mading untuk berpartisipasi dalam mengirim berita ke Sidogiri.net. Terbukti, beberapa tulisan yang dimuat berasal dari salah satu redaksi dari kedua Mading tersebut. Baca juga: Seminar OMIM-UKPI: Hadirkan KH. Safrijal Bin Muhammad Subadar Baca Juga :  Perkembangan MTQ Selama 3 Tahun Muhammad, yang pernah menjabat Pemred Maktabati ini, memulai pelatihan dengan menjelaskan apa arti berita melalui media ilmu nahwu, yakni kalam. “Kalam itu dibagi menjadi dua, ada kalam khabar dan ada kalam insa’. Yang menjadi pembahasan adalah kalam khabar. Kalam khabar ada kalanya benar dan ada yang salah,” Jelas sosok yang pernah menjadi Sekretaris Majalah Dinding Matabaca ini. Kemudian, Muhammad menjelaskan perbedaan antara berita dengan non-berita. Berita dalam melakukan pencarian data itu lebih sulit. Sedangkan dalam penulisan lebih mudah. Dan setiap reporter memperoleh berita bisa melalui reportase dan wawancara. “Kalau ada reporter yang kebingungan dalam menulis berita itu berarti kurang data”, ujarnya. Muhammad  menyarankan agar para reporter tidak menyelipkan pendapat pribadi dalam berita. Beliau juga menambahkan supaya lebih meluaskan skala pembaca. Dan menurutnya, judul itu harus informatif, bedakan dengan artikel. ______ Penulis: Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Bedah Majalah Nasyith, Menyikapi Film The Santri
Okt18

Bedah Majalah Nasyith, Menyikapi Film The Santri

Malam Jumat  (17/10), buletin Nasyith mengadakan bedah majalah dengan tema “Menyikapi Film The Santri”. Acara berlangsung sejak pukul 08:30 Wis malam sampai 10:30 Wis. Ust. Nahdlor Tsana’i, salah satu staf pengajar Aliyah diundang sebagai narasumber tunggal pada acara ini. Bertempat di Sidogiri Exellent Corp (S.E.C), acara ini dihadiri oleh ribuan santri pelanggan buletin Nasyith. Baca Juga: Seminar Ilmiah UKPI Jurusan Tarbiyah Sebagai majalah yang membahas masalah seputar keremajaan, setiap bulannya buletin Nasyith selalu tampil dengan tema-tema unik seputar keremajaan yang digandrungi oleh para remaja santri. Pada bulan ini Nasyith membahas tentang cinta yang terhalang restu. Tak luput juga di sana menampilkan beberapa kekontroversian film the santri dari beberapa ulama Indonesia, sehingga ada inisiatif untuk mengadakan seminar khusus yang membahas film ini, agar tidak terjadi salah paham di kalangan santri sendiri. Baca Juga: Seminar OMIM-UKPI: Hadirkan KH. Safrijal Bin Muhammad Subadar Dalam acara dimaksud, panitia mengundang Ust. Nahdor Tsana’i, salah satu staf pengajar Aliyah, untuk mengisi seminar dan memberi nasehat pada santri terkait dengan film yang mangatas namakan santri tersebut. Menurut beliau sebelum menyoroti film The Santri, sebaiknya perbaiki diri sendiri dulu sebagai santri. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa banyak santri yang ketika pulang, secara tidak langsung telah melanggar batas-batas santri yang telah diajarkan di pesantren. “Ketika kita menyoroti santri, kita harus perbaiki diri kita sendiri sebagai santri, karena ‘Lisanul-Hal Afsahu min Lisanil-Maqal’”  jelas  beliau. Baca Juga: Seminar SJH Bagi Unit Usaha Sidogiri _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya