Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah
Okt17

Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah

Sidogiri- Kamis (03/10), Pondok Pesantren Sidogiri melalui Tarbiyah Idadiyah mulai terkenal dengan programnya Metode al-Miftah lil Ulum untuk mudah membaca kitab kuning. Kini, mulai ada gebrakan baru sebuah metode mudah menghafal al-Quran. Sehingga Mushaf yang diterbitkan oleh Sidogiri ini merupakan paket lengkap dari serial metode baca kitab al-Miftah lil Ulum. Terlahir dari ide-ide para hafidz berpengalaman, dipadukan dengan karya-karya terbaik negeri para nabi, memfokuskan pada perpaduan warna yang didalamnya tersirat kandungan rabthul ayat, hal ini sangat membantu dalam menghafal. Apa saja yang ada di dalam Mushaf al-Miftah: Dominasi Warna Pada setiap halaman terdapat satu warna yang mendominasi sesuai urutan bagian (1/5) pada setiap juz al-Quran Tema Ayat Penjelasan pokok ayat-ayat al-Quran Pemilahan Mushaf 30 juz al-Quran dibagi menjadi 6 jilid, perjilid 5 juz. Setiap juz dipilah menjadi 5 bagian. Masing-masing juz dibagi dengan kombinasi warna disetiap  dua lembar. Dengan begitu seakan menghafal dua lembar. Pemilahan Ayat Setiap kolom ayat kelipatan lima Tema pembahasan berbeda Ruang Kosong Adalah ruang catatan Perihal Surah Nama surah, arti, dan nomor urut bagian dari al-Quran Perihal Juz Nomor urut bagian dari al-Quran serta batas nomor halaman yang memuat bagian tersebut Detail Surat Rincian suatu surat terkait dengan nomor urut dan jumlah ayat pada surat tersebut Perihal Halaman Untuk menunjukkan nomor urut serta nomor awal-akhir ayat yang terdapat pada halaman tersebut. https://youtu.be/tj4uuLQ0Iug Perlu diketahui bahwa untuk pertama ini baru mencetak sebanyak 2000 cetakan saja. Maka, sebelum kehabisan, bagi yang berminat dan bagi kalangan yang sudah lama menanti hadirnya mushaf ini, pemesanan dapat menghubungi numer berikut: Gus Rifqi                  : (0822-7697-5628) Kantor Idadiyah     :...

Selengkapnya
ACS Adakan Pelatihan Menulis Buku Ilmiah
Okt02

ACS Adakan Pelatihan Menulis Buku Ilmiah

Bertempat di ruang Auditorium gedung Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri, Annajah Center Sidogiri (ACS) adakan Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah, Malam Rabu (02/10). Sebagai pemateri adalah Ust. Masyhuri Mochtar. Tujuan diadakan pelatihan untuk memupuk semangat menulis para anggota ACS agar mau membuat buku. Acara yang dibuka oleh moderator bernama Ust. Badrutamam ini dimulai pada pukul 09.10 waktu setempat. Semua tingkatan di ACS mengikuti pelatihan ini, termasuk diantaranya; anggota semester 1 dan 3 serta Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Pelatihan ini sengaja menghadirkan Ust. Masyhuri Mochtar karena beliau termasuk salah satu guru dan penulis karya ilmiah yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri. Ust. Masyhuri dengan karyanya berjudul Dinamika Kajian Kitab Kuning di Pesantren merupakan karya nyata buku ilmiah asli buah cipta santri. Bahkan buku tersebut menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Jadi tidak salah apabila ACS menghadirkan beliau pada pelatihan semalam. Pelatihan dibuka dengan penjelasan biografi beliau yang ternyata pernah mondok di Pondok Pesantren Karang Panas, Pasrepan, Pasuruan. Beliau baru masuk ke Sidogiri pada tahun 1996. Untuk kebiasaan menulis, beliau mulai pada saat duduk di bangku kelas 2 Aliyah Sidogiri. Beliau sering mengirim karyanya ke Majalah Dinding Maktabati dan Himmah. Hingga beliau pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Maktabati sekaligus Redaktur Majalah Ijtihad. “Belajar nulis, ya pokok nulis. Bagi pemula mulailah dengan meniru karya orang lain, kemudian di modifikasi dan kirim ke mading”, jelas sosok yang menjabat Kepala Perpustakaan Sidogiri. Baca juga: ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel Dalam penjelasannya tentang menulis buku, beliau awali dengan cara menulis karya ilmiah terlebih dahulu. Karena menurut beliau, menulis buku itu mudah. Apalagi jika sudah mampu mengetahui dengan baik cara menulis karya ilmiah. Sebab buku adalah kumpulan karya ilmiah yang tersusun. “Menulis itu penting. Jika tidak ada tradisi menulis, maka umat Islam akan kehilangan ajarannya”, kata beliau yang pernah menjabat Naib 2 Kuliyah Syariah. Baca Juga: Seminar Ilmiah Pembukaan ACS 1440 H Menurut beliau, ajaran Islam dengan mudah bertahan karena salah satunya penyebabnya adalah ditulis. Imam Madzhab Fiqih yang empat merupakan contoh nyata bahwa menulis mampu mempertahankan ajaran syariah Islam. Sehingga menurut beliau, dakwah dengan tulisan itu efektif. Acara pelatihan ini berakhir pada pukul 11.15 malam waktu setempat. ______ Penulis : Musafal Habib Editor    : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Wujudkan Sidogiri Bersih 24 Jam
Okt01

Wujudkan Sidogiri Bersih 24 Jam

Satukan tekad dengan koordinasi Sihatda Se-Pondok Pesantren Sidogiri Malam itu, menunjukkan pukul 09.00 WIS. Teman-teman bagian kebersihan Daerah se-Pondok Pesantren Sidogiri baru saja menyelesaikan tugas rutinannya setiap malam, membersihkan Daerah dari sampah dan kotoran. Beberapa dari mereka mulai bersiap-siap untuk menghadiri “Acara Pelatihan Cleaning Service”.   Baca juga: Sidogiri Terima Kunjungan dari PG Tarjim BMQ AT-Tartil Sidoarjo Ruang Rapat Kantor Sekretariat lt II. Di sana diadakan semacam koordinasi atau musyawarah, untuk kembali menggalakkan prinsip hidup bersih yaitu, “Sidogiri Bersih 24 Jam” dengan anggota bagian kebersihan Se-Pondok Pesantren Sidogiri. Pengurus memaparkan program-program baru dan merevitalisasi semangat untuk selalu menjaga dan merawat kebersihan serta kenyamanan dimana pun mereka berada, terlebih di pondok tercinta ini. Baca juga: Santri Membeludak, Butuh Kesabaran yang Ekstra Mondok di Sidogiri Penggalakan ini juga didasari oleh semangat Majelis Keluarga tentang kebersihan dan kerapian, seperti dawuh Mas d. Nawawy, ketika siapa pun melihat ada yang membuang sampah sembarangan, tidak usah dipungut melainkan tangkap orangnya dan perintah untuk memungut sampahnya sendiri. Itulah salah satu wujud cinta Majelis Keluarga terhadap para santrinya, supaya santri-santri tetap selalu cinta dan peduli terhadap kebersihan. Acara yang berlangsung selama 4 malam ini, melibatkan ratusan petugas kebersihan yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri dengan kriteria dan waktu yang berbeda-beda, tetapi satu tujuan, yaitu bagaimana menciptakan Sidogiri bersih 24 Jam. Harapan Pengurus berawal dari para petugas dapat mengajak dan mengingatkan teman-teman santri untuk terus mengamalkan as-Sunnah. “an-Nadhofatu min al-Iman”, memang terkesan remeh, sebenarnya hal seperti ini yang memiliki nilai yang luar biasa. Baca juga: Ratusan Santri Ikuti Gurah Massal _________ Penulis: Fahmi Aqwa* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Kelas Menulis Pemula, BPP Hadirkan Ust. Yasir Zuhri
Sep30

Kelas Menulis Pemula, BPP Hadirkan Ust. Yasir Zuhri

Malam Senin (30/09) Badan Pers Pesantren (BPP) hadirkan Ust. Moh. Yasir Zuhri sebagai Pemateri dalam Kelas Menulis Pemula, yang bertempat di ruang Auditorium , gedung Sekretariat lantai II. Kelas Menulis diadakan untuk menambah motivasi serta tips-tips dalam menulis bagi redaksi pemula maupun yang lama. Ust. Yasir Zuhri merupakan Mantan Kepala BPP selama 4 periode. Dan Kelas Menulis Pemula merupakan salah satu dari program yang beliau cetuskan dalam masa-masa awal menjabat sebagai kepala BPP. Hadir sejumlah redaksi media Pondok Pesantren Sidogiri baik media cetak, online, dan majalah dinding. Baca juga: Ratusan Santri Ikuti Gurah Massal Setelah menjelaskan tentang perjalanan BPP mulai dari tahun 2007 hingga 2019, Ust. Yasir Zuhri akhirnya menyampaikan poin-poin penting terkait menulis. Menurut beliau, menulis merupakan salah satu dari proses dalam mendalami ilmu. “Perlu dipahami bahwa manfaat dari menulis itu merupakan salah satu dari tiga hal yang sangat membantu dalam belajar. Jadi, jangan hanya sekedar agar dianggap tahu”. Menurut beliau, tiga hal yang menjadi proses dalam mendalami ilmu adalah mengajar, kemudian berdiskusi atau musyawarah, dan terakhir adalah menulis. Proses menulis hingga mahir yang pertama dilakukan adalah perlunya membangun komitmen sejak awal. Punya jiwa idealisme, dalam hal dan kondisi apapun tetap berusaha menulis, sesibuk apapun tetap menulis. Menurut penjelasan dari Wali kelas 1-A Aliyah ini, menulis sebaiknya dengan berdasarkan referensi yang berjumlah puluhan sumber. Hal ini tentu semakin menambah isi dari apa yang akan ditulis. Sehingga seorang jurnalis harus memperbanyak membaca, menulis, dan memperbarui motivasi. Baca juga:Seminar Ilmiah UKPI Jurusan Tarbiyah Beliau menambahkan bahwa bagi semua yang mendapat amanah menjadi redaksi suatu media agar memanfaatkan tugasnya untuk terus menambah wawasan. Dan tidak ada penulis yang terlahir dari kelas menulis tetapi dari ketekunan dan ketelatenan membaca dan menulis. Ada pesan dari beliau agar membudayakan membaca. Termasuk salah satu guru senior, KH. Muhibbul Aman Aly yang juga sering tampil sebagai Mushahih Musyawarah juga memiliki waktu tersendiri untuk membaca kitab diluar jam pelajaran, yaitu 1 jam sebelum tidur. Harus istiqamah. Terakhir, Ust Yasir menjelaskan bagi penulis, menyusun konsep itu penting. Istilah dalam BPP-nya adalah outline. Hal ini sangat memudahkan dalam menyelesaikan tulisan dengan konsep yang tersusun, apalagi ditambah dengan mengadakan diskusi dengan teman. ___________ Penulis  : Musafal Habib Editor   :  Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Sidogiri Terima Kunjungan dari PG Tarjim BMQ AT-Tartil Sidoarjo
Sep29

Sidogiri Terima Kunjungan dari PG Tarjim BMQ AT-Tartil Sidoarjo

Ahad (29/09) Pondok Pesantren Sidogiri kedatangan tamu dari Sidoarjo, tepatnya Peserta Pembinaan Guru Madrasah Diniyah Tarjim (PG Tarjim) BMQ At-Tartil Kabupaten Sidoarjo. Berlokasikan di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat lt. II, acara ini dihadiri oleh Ust. Albilaluddin Albanjari (Staf Sekretaris I Pondok Pesantren Sidogiri), Ust. Jakfar Sodik  (Kualifi Kontrol al-Miftah) dan 160 peserta dari PG Tarjim BMQ AT-Tartil Sidoarjo. Acara ini merupakan Kegiatan Orientasi Lapangan (Rihlah Ilmiyah) PG Tarjim BMQ At-Tartil Kabupaten Sidoarjo ke Pondok Pesantren Sidogiri.. Baca juga: 132 Anggota KUD Minatani Datangi Kopontren Sidogiri Selanjutnya, Ust. Jakfar Sodik menjelaskan panjang lebar mengenai metode yang lahir sejak 8 tahun silam ini. “Metode al-Miftah ini memang dirangkai semudah mungkin agar anak dapat memahami Ilmu Nahwu dalam jangka empat bulan sampai sepuluh bulan.” Tutur beliau. Beliau juga menjelaskan metode pengajaran yang diaplikasikan oleh al-Miftah. “Kecerdasan orang itu berbeda-beda, ada yang kecerdasannya itu lebih ke visual (sekali melihat langsung hafal), ada yang lebih ke auditing (sekali mendengar langsung hafal), juga ada yang kecerdasannya harus melalui keduanya. Untuk menanggulangi tiga kecerdasan yang bervariasi ini, kami sudah mengantisipasinya dengan cara yang lebih ke visual. Kita bentuk al-Miftah dengan warna-warni. Manakala, anak yang lebih ke auditing, kami bentuk materi menjadi lagu-lagu.” Jelas beliau panjang lebar.   Baca juga: Gebrakan-gebrakan E-Maal Sebelum 2020 Pada acara ramah tamah, ada beberapa peserta yang mengapresiasi penjelasan Ust. Jakfar Sodik. “Penjelasan barusan sangat menginspirasi saya sehingga mengubah mindset saya yang selama ini menganggap ponpes itu hanya sebagai alternatif sekolah umum.” Ungkap salah satu peserta yang menggunakan jas ungu ini. Acara yang berlangsung pada pukul 10.30 Wis tersebut diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh kiai Kholison. Baca juga: Sidogiri Media Sambut LPMI __________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Antara NU dan Aswaja
Sep28

Antara NU dan Aswaja

Sebagai mana yang telah dijadwalkan, pada malam Sabtu (23/08) peserta Annajah Center Sidogiri (ACS) semester satu mengikuti mentoring yang bertempat di ruang istirahat guru Aliyah, lantai dasar mabna al-Ghazali. Mentor pada mentoring kali ini adalah Ust. Moh. Achyat Ahmat, Dewan Pakar sekaligus direktur ACS. Mentoring yang berlangsung mulai dari jam 09:00 sampai 10:00 Wis ini membahas tentang Posisi Nahdlatul Ulama (NU) dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam sejarahnya, NU merupakan organisasi yang didirikan oleh ulama yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah. Juga, memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang berakidah Ahlusunnah Waljamaah. Sekaligus kitab Qanûn Asâsi yang dikarang langsung Mbah Hasyim. Baca juga: ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel Dari sanalah, seseorang bisa dikatakan NU bila sesuai dengan undang-unadang NU sendiri. Semisal, ada nadliyyin yang tidak sesuai dengan Ahlusunnah Waljamaah, berarti dia tidak mewakili NU. Contoh mudahnya, santri yang tidak sesuai dengan peraturan pesantren, maka tidak bisa mewakili dari nama besar pesantren itu sendiri. Meski pun masih santri aktif sekali pun. Dalam NU sendiri ada beberapa orang, pengurus atau bahkan pemimpin di tubuh NU itu sendiri, yang menganut paham sedikit nyeleneh atau bisa dibilang kontroversial, sehingga tidak jarang mereka membuat umat menjadi ribut, bahkan ada yang sampai memilih mufaraqah karena merasa bermakmum pada imam yang kentut di pertengahan salat. Akan tetapi, itu semua tidak menafikan bahwa NU itu tetap Ahlussunnah wal Jamaah. “Jadi NU itu pasti Aswaja tapi Aswaja belum tentu NU” jelas salah satu staf pengajar Aliyah ini. Baca juga: Ust Fauzan Imron: Perbedaan Ilmu Kalam dan Filsafat “Selain NU juga bisa dikategorikan Aswaja jika sesuai dengan kriteria Aswaja” lanjut beliau. Karena NU itu lebih khusus dari Ahlussunnah wal Jamaah. Untuk menyikapi pemimpin yang kontroversial seharusnya kita menolak pemikiran kontroversial dari pemimpin itu, bukan malah menyalahkan NU apalagi mencacimaki. Baca juga: Ust. Moh. Achyat Ahmad: Kufur Terhadap Ghaibiyat Merusak Akidah _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya