ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel
Sep24

ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel

Annajah Center Sidogiri (ACS) adakan pelatihan bagi anggota semester 1 yang bertempat di ruang Istirahat Guru Gedung al-Ghazali, malam Rabu (24/09). Tujuan diadakannya pelatihan ini untuk mengetahui cara menulis artikel pendek. Sebagai pelatih adalah Ust. Achyat Ahmad. Tidak seperti kebanyakan pelatihan-pelatihan menulis yang ada, untuk pelatihan di ACS ini lebih menekankan caranya bukan sekedar hanya motivasi menulis saja. Ust. Achyat, selaku Direktur Utama ACS mengawalinya dengan memberitahukan cara menulis harus memiliki kerangka tulisan. Baca juga: Seminar OMIM-UKPI: Hadirkan KH. Safrijal Bin Muhammad Subadar Dalam kerangka tulisan, terdapat tiga poin yang disebutkan Ust. Achyat. Yang pertama, kerangka tulisan itu diawali dengan deskripsi masalah. Deskripsi masalah kaitannya dengan hal yang sedang terjadi. Dari masalah yang terjadi lalu diarahkan ke bagian kerangka tulisan yang kedua, yakni pertanyaan. Pada poin ini, masalah yang akan dibahas atau ditulis dimunculkan pertanyaan atau rumusan masalah sehingga nantinya akan diketahui sisi dari masalah yang akan ditulis. Pada poin ketiga pertanyaan tadi dijawab. Dalam poin jawaban ini, penulis bisa memasukkan solusi, rekomendasi dan dalil sebagai penguat. Pembahasan selanjutnya, ust. Achyat mengiring kita untuk mengetahui hal-hal yang harus dipikirkan setelah membuat kerangka. Pertama harus dipikirkan masalah apa yang terjadi, lalu menemukan hal menarik dan unik dari yang akan ditulis. Dan pikirkan referensi yang diperlukan. Baca juga: Ust. Moh. Achyat Ahmad: Kufur Terhadap Ghaibiyat Merusak Akidah “kalau kita menulis tidak mempertimbangkan keunikan tulisan, lalu apa bedanya kita dengan yang lain”, kata Ust. Achyat. Penjelasan berikutnya, adalah tahapan dalam menulis artikel. Yang pertama kali, tulis seperti kerangka yang ada. Perkuat masing-masing poin dengan data yang valid. Berikan judul yang sesuai dengan inti gagasan. “Mengapa untuk pemberian judul saya taruh dibelakang? Karena jika kita menaruh judul diatas tahapan menulis, maka yang terjadi kita akan tersetir oleh adanya judul, kita diharuskan mengikuti judul yang sudah dibuat”, jelas Ustadz dengan kacamata ini. Baca juga: Peresmian SOP Pondok Pesantren Sidogiri ____________ Penulis: Musafal Habib Editor  : Saeful Bahri bin Ripit...

Selengkapnya
Perkembangan MTQ Selama 3 Tahun
Sep23

Perkembangan MTQ Selama 3 Tahun

Pada usia yang hampir menginjak tiga tahun ini, MTQ (Madrasah Taklimul Quran) sudah banyak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada generasi tahun pertama MTQ (1438-1439 H) masih bisa dibilang cukup amburadul. Tetapi pada tahun kedua, dengan menyusun strategi baru, pengurus MTQ cukup peka menggali kekurangan yang ada di tahun sebelumnya. Dengan itu pihak pengurus MTQ membuat banyak perubahan dari berbagai sektor. Semisal, lebih disiplinnya peraturan bagi para mualim, bekerjasama dengan pihak Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) PPS dengan menyetorkan nama-nama bagi para peserta didik yang indisipliner. Pembenahan yang cukup jitu ini, juga merembet pada sistem penilaian ujian MTQ. Dengan rincian, nilai rata-rata harus mencapai angka minimal tujuh puluh. “ Tujuan diperketatnya sistem penilaian seperti ini, dikarenakan poin-poin yang dinilai dalam al-Quran adalah mengenai cara ucap huruf yang sangat vital atau rentan terhadap kesalahan. Bedahalnya dengan ujian di madrasah yang bisa dipelajari dengan satu kali tatap muka”. tutur Ust. Zaidul Khoir selaku ketua Panitia Ujian Quran (PUQ) dengan nada tegas. Pada dasarnya perkembangan yang paling mencolok ada pada usia MTQ yang ketiga tahun ini, tepatnya tahun sekarang. Kendati demikian dapat kita lihat dari berhasilnya pencetakan materi baru bagi semua peserta didik, rapat rutinan para mualim MTQ yang terjadwal setiap bulan. “Kami sangat berharap untuk kedepannya, MTQ selalu selangkah lebih maju. Karena MTQ merupakan program vital di pondok ini”. tambah Ust. Zaid dengan penuh semangat. ________ Penulis: Ufi* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Datangkan Genset Baru untuk Kemaslahatan Pesantren
Sep22

Datangkan Genset Baru untuk Kemaslahatan Pesantren

Jumlah santri yang semakin bertambah setiap tahunnya menyebabkan fasilitas yang ada di Sidogiri menjadi kurang efisien terutama dalam pengunaan listrik, sebab populasi santri yang meningkat derastis. Ketua P3S  Ust. Hanafi Basri mengatakan bahwa genset pesantren akan disiapkan sebanyak dua unit untuk kemaslahatan pesantren, karena ada perintah dari Pengurus Harian untuk diperbarui. “Genset kemarin tidak rusak, masih bisa digunakan, tapi  sering terjadi kemacetan ketika dioperasikan,” tambahnya. Genset baru ini, memiliki kelebihan dari sebelumnya. Alat tersebut dapat diaktifkan secara otomatis serta, tidak membutuhkan banyak tenaga untuk mengaktifkannya. Genset seharga Rp. 480. 000.000.- ini juga terdapat kekurangan. Seperti penggunaan bahan bakar yang masih terbilang boros. “empat tong solar digunakan untuk satu kali pemakaian,” jelas Ust Hanafi. Sedangkan anggaran solar pertahun hanya 7 juta rupiah, dan harga pertrimnya senilai Rp.1.030.000.-. Jika terjadi pemadaman listrik selama tiga kali akan membutuhkan biaya tiga kali lipat dari sebelumnya. Beliau juga menegaskan, agar petugas diesel saling berkomunikasi jika ada penambahan barang, yang memanfaatkan tenaga listrik. Supaya bisa dikira-kirakan atau membatasi penggunaan tenaga listrik. “Insya Allah, Genset 250.000 WATT ini mampu untuk menampung cadangan listrik pesantren,” harapnya. Di akhir wawancara, beliau berpesan agar menjaga inventaris pondok dengan baik. “Untuk kedepannya, mulai dari sekarang mari bersama saling menjaga sarana pesantren. Mencangkup inventaris, penggunaan listrik dan lain sebagainya,” pesan beliau. _____ Penulis: Nun* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Ust Fauzan Imron: Perbedaan Ilmu Kalam dan Filsafat
Sep21

Ust Fauzan Imron: Perbedaan Ilmu Kalam dan Filsafat

Malam sabtu (21/09) Annajah Center Sidogiri (ACS) mengadakan mentoring sebagaimana yang telah terjadwal, mulai dari jam 09.00 sampai 10.10 Wis.  Bertempat di ruang istirahat guru mabna al-Ghazali, mentoring kali ini mennghadirkan Ust. Fauzan Imron, dewan pakar Aswaja, sebagai pemateri untuk membahas tema “Ilmu Kalam dan Filsafat dalam Pandangan Aswaja”. Acara ini di ikuti oleh seluruh anggota ACS semester I. Diawal penjelasannya Ust. Fauzan Imron menerangkan ta’rif dari ilmu kalam dan filsafat dengan panjang lebar. Filsafat secara etimologi  adalah diambil dari bahasa latin, Philosopiah (philen = cinta dan sephos = kebijaksanaan). Sedangkan secara terminologi, adalah pembahasan segala hakikat sesuatu secara logika yang dapat mendatangkan kebijaksanaan (Socrates). Ilmu kalam secara etimologi adalah pengetahuan tentang hakikat tunggal sesuatu. Dan secara terminologi adalah ilmu tentang aqidah yang diambil dari dalil-dalil yakin. Ibnu Khaldun dan Imam al-Ghozali mengatakan, ilmu kalam adalah ilmu yang menyimpan beberapa hujjah tentang akidah. Ilmu kalam juga digunakan untuk menolak kelompok-kelompok menyimpang. Nama lain Ilmu kalam: 1.) Ilmu akidah 2.) Ilmu usuluddin 3.) Al-Fiqh al-Akbar 4.) Ilmu tauhid. Mengenai ilmu kalam ulama berbeda pendapat dalam legalitas pempelajari ilmu ini, alasan beberapa ulama yang menolak ilmu kalam adalah karena ‘trauma’ dengan ilmu filsafat. Karena secara garis besar, pokok keyakinan para ahli filsuf klasik tidak lepas dari: Alam qadim Para filsuf derajatnya lebih tinggi dari Nabi Tidak percaya pada hari kebangkitan Kenikmatan surga dan siksa neraka hanya bersifat rohani bukan fisik. Sehingga para ulama khawatir orang yang mempelajari ilmu kalam akan terjerumus ke lembah kesesatan sebagaimana Qadariyah, Muktazilah dll. Jika meninjau keterangan di atas, jelas mempelajari ilmu yang dapat mengantarkan pada pengertian sebagaimana yang diyakini oleh para filsuf, yang notabene timbul dari ilmu filsafat, hukumnya tidak diperbolehkan. Seperti ilmu kalam, karena ilmu kalam mempunyai keserupaan dengan ilmu filsafat, yakni keduanya sama-sama menggunakan akal dalam peng-istidlalannya. Baca juga: Gus Muhib: Ahlusunah Wal Jama’ah Tidak Menempatkan Akal di Atas Teks-teks Agama Namun perlu di ketahui, tidak seperti ulama Mutakallimin, para filsuf selalu menggunakan akal sebagai tendensi mereka, sehingga ketika ada hal dalam agama yang tidak masuk akal akan mereka tolak, “jadi harus masuk akal dulu baru mereka akan mengimani” tutur Ust. Fauzan Imron. Berbeda dengan ulama Mutakallimin yang menempatkan teks agama di atas logika, sehinga ketika ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam agama maka logika tidak boleh dimenangkan. Terlepas dari itu semua, Ibnu Khaldun memberi penjelasan mengenai perbedaan ilmu kalam dan filsafat. Perbedaan keduanya dapat ditinjau dari tiga sisi: Obyek kajian: kajian ilmu filsafat mencakup fisika, sains dan etika. Sedangkan obyek kajian ilmu kalam adalah pokok-pokok agama (Usuluddin). Metode: Filsafat menggunakan akal sebagai tendensi dan membuang semua hal yang tidak masuk akal. Sedangkan ilmu kalam tendensi utamanya adalah naql dan diperkuat dengan istidlal akal....

Selengkapnya
132 Anggota KUD Minatani Datangi Kopontren Sidogiri
Sep21

132 Anggota KUD Minatani Datangi Kopontren Sidogiri

Sabtu (21/09) Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri lagi-lagi kedatangan tamu studi banding dari Lamongan. Tepatnya, dari Koperasi Unit Desa (KUD) Minatani. Berjumlah 132 peserta. Berlokasikan di lantai III Sidogiri Excellent Center (SEC). Studi tiru ini diadakan guna menambahkan wawasan tentang pengelolaan koperasi. Baca juga: Musyawarah Kerja Pengurus Pusat dan Laporan Pengurus Wilayah IASS Serangkai acara utama hanya ada tiga: 1) Acara ceremonial, 2) Dialog, dan 3) Kunjungan lapangan. Pada acara kedua, peserta menanyakan seputar pemberdayaan anggota, managemen toko, kemitraan secara umum, dan kemitraan usaha. “Kami memang bertujuan untuk menambah wawasan tentang koperasi lain, menimba pengalaman baru, menambah cakrawala berpikir, dan tentunya meniru apa-apa yang dilakukan di Kopontren Sidogiri,” ujar salah-satu peserta acara. Acara yang bertajuk,”Study Tiru Anggota KUD Mitani Lamongan ke Kopontren Sidogiri Kraton Pasuruan” ini bertemakan slogan, “Anggota berdaya anggota Minatani jaya”. Baca juga: Gebrakan-gebrakan E-Maal Sebelum 2020 ____ Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
TTQ Tekankan Kedisiplinan Qori’ Kitab
Sep20

TTQ Tekankan Kedisiplinan Qori’ Kitab

Taklimiyah wa Tahfidz al-Quran (TTQ) melalui Wakil II TTQ yang menangani bagian kitab, mengadakan kegiatan rutin setiap bulan berupa acara koordinasi qori’ kitab. Acara ini dimotori oleh Ust. Misbahul Umam selaku Sekretaris I Bagian Kitab sebagai pembawa acara yang dihadiri langsung oleh Ust. Fahmi Aziz Kepala Bagian TTQ, Ust. Angsuriadi, Bansus Kitab TTQ, dan semua qori’ kitab. Pertemuan ini merupakan sosialisasi tentang pengajian kitab ma’hadiyah bakda Maghrib. Dalam kumpulan tersebut ada beberapa hal penting yang disampaikan oleh Pengurus TTQ: Pertama, bagi setiap qori’ kitab harus melapor kepada pihak TTQ atau bisa melalui anggota kontroling yang bertugas ketika tidak masuk majelis dikarenakan udzur.  ‘’Hal ini agar mempermudah mengetahui mana majelis yang kosong dari qori’ tetap, dan bisa digantikan oleh qori’ piket. Maksudnya, agar kegiatan pengajian kitab ini berjalan dengan kondusif.’’ Ujar Ust. Angsuriadi, selaku Bansus Bagian Kitab. Kedua, diharapkan kepada segenap qori’ harus disiplin.Ketiga, qori’ menjelaskan ‘ibarot-‘ibarot yang dianggap penting dan menimbulkan salah dalam pemahaman, jika dibaca oleh para muta’allim yang masih belum sempurna dalam memahami kitab kuning. Pengurus juga berharap agar qori’ menegur kawan-kawan dari muta’allim yang kurang sopan ketika masuk majelis baik dari sisi berpakaian atau tingkah laku, dan mengarahkan muta’allim menempati majelis yang telah ditetapkan oleh pengurus. Pengajian kitab ini juga memiliki target sebagaimana yang telah dituturkan oleh Kabag TTQ, bahwa dalam setahun minimal khatam 2 (dua) kitab. “Paling tidak ya minimal harus khatam 2 (dua) kitab selama setahun.” ________ Penulis: Mastur* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya