Konsulat Terbesar Kenalkan Pengurus Baru
Agu16

Konsulat Terbesar Kenalkan Pengurus Baru

Malam Jumat (15/08) Ikatan Santri Sidogiri (ISS) Konsulat Pasuruan mengadakan kumpulan di Gedung Sidogiri Excellent Center (SEC) lantai III, dengan motto “Eratkan Silaturrahim, Kuatkan Zahir Batin”. Acara dimaksudkan untuk mengenalkan pengurus baru ISS Konsulat Pasuruan periode 2019-2020  M/1440-1441 H. Pengurus baru ISS Konsulat Pasuruan dilantik oleh Ustadz Fathurrozi perwakilan dari Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PW-IASS) Pasuruan. Sebagai Ketua Konsulat yang baru adalah Ustadz Muhammad Nurul Hakim asal Wangkal Pasuruan yang berdomisili di Asrama Daerah H. Acara dimulai setelah shalat Isya. Dibuka dengan pembacaan shalawat ad-Dibai yang dipimpin oleh tim Dhufuf santri Konsulat Pasuruan. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan dan pelantikan pengurus inti, setelah itu dilanjutkan dengan pelantikan pengurus Komisaris perdaerah yang berjumlah 17 orang, dan terakhir pelantikan 14 Ketua Komisariat Pasuruan. Dalam acara tersebut, Ustadz Fathurrozi selaku perawakilan PW-IASS, menyampaikan bahwa IASS dengan ISS sama. Dalam artian keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk berkhidmah dan mendapat ridho Masyayikh Sidogiri. “PW-IASS Pasuruan sangat bangga dengan ISS Pasuruan. Kami sangat berharap bisa saling bersinergi atau bekerjasama dalam segala bentuk kegiatan termasuk salah satunya pada saat Haul Masyayikh”, kata beliau. Selain Ustadz Fathurrozi, hadir juga Ustadz Ismail dan Ustadz Abdurrosyid sebagai perwakilan PW-IASS. Ketua ISS Pasuruan, Ustadz Nurul Hakim, dalam sambutannya menginformasikan bahwa jumlah seluruh santri asal Pasuruan berjumlah 2800, dan hal ini menjadikan Pasuruan sebagai konsulat terbesar  di Sidogiri. “Kami berharap Konsulat Pasuruan untuk tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemarin. Dan kami menghimbau agar semua anggota bisa ikut mensukseskan program konsulat dan komisariat. Karena nanti, setiap komisariat akan mengadakan Haul Masyayikh”, himbau beliau. __________ Penulis   : Musafal Habib Editor     : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Gus Muhib: Ahlusunah Wal Jama’ah Tidak Menempatkan Akal di Atas Teks-teks Agama
Agu15

Gus Muhib: Ahlusunah Wal Jama’ah Tidak Menempatkan Akal di Atas Teks-teks Agama

Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali mengadakan mentoring dengan mendatangkan KH. Muhibbul Aman  Aly sebagai mentor, dengan tema Khasais Aswaja pada malam Kamis (14/08). Bertempat di ruang istirahat guru di gedung al-Ghazali, mentoring ini dihadiri oleh seluruh anggota ACS semester I. Dalam penjelasannya, Gus Muhib (sapaan akrab beliau) menerangkan bahwa ciri-ciri Ahlusunah wal Jama’ah adalah berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis. Namun, di dalam berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah, Ahlusunah wal Jama’ah tidak pernah menggunakan daya akal sebagai prioritas utama dalam beragama, dalam artian, Ahlusunah wal Jama’ah tidak menempatkan akal di atas teks-teks agama, sebagaimana orang-orang yang menggunakan daya akal sebagai petunjuk dalam beragama. Sebagaimana yang terjadi pada sejarah perkembangan teologi Islam, yakni munculnya kelompok al-Mu’atthilun (kelompok yang ada jauh sebelum rumusan Asy’ari-Maturidi). Secara harfiyah makna dari al-Mu’atthilun adalah, kelompok yang mengabaikan teks-teks agama yang bertentangan dengan logika. Artinya ketika teks agama bertentangan dengan akal maka yang dimenangkan adalah akal, ini adalah akar dari pada pemikiran islam Liberal. Berbeda dengan Ahlusunah wal Jama’ah yang menempatkan akal di bawah teks agama. “Sudah sewajarnya jika segala yang menentukan baik dan buruk itu harus dikembalikan kepada akal.” Jelas Gus Muhib. Hanya saja ketika akal dan teks-teks agama bertentangan, maka akal tidak boleh dimenangkan.  “Dalam usul fikih kita mengenal at-Tahsin wat-Taqbikh al-Akliyaini.” Lanjut beliau.  Oleh karena itu, ketika ada teks agama bertentangan dengan akal, sebagai manifestasi dari anugerah Allah, kita dituntut untuk menimbang. Dan akal lah yang menentukan kebenarannya. Sebab inilah, menurut Ahlusunah wal Jama’ah, setiap sesuatu yang datang dari tuhan, semuanya diterima. Sekalipun bertentangan dengan akal. “Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang berada di awal surat, seperti Alif Lam Mim, menurut Ahlusunah wal Jama’ah memiliki makna. Namun kalau ditanya apa maknanya, maka jawabannya adalah Allahu A’lamu Bimuradihi. Berbeda dengan al-Muatthilun yang berpandangan bahwa kalimat tersebut tidak memiliki makna.” Terang beliau, panjang lebar. Selain itu, adanya kalimat-kalimat di awal surat yang tidak diketahui maknanya, mengindikasikan bahwa ilmu Allah itu tidak terbatas. Karena dengan demikian, maka terdapat beberapa makna dalam ayat al-Quran yang hanya diketahui oleh Allah.   _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Perpustakaan Sidogiri: Ruang Anak Hadir dengan Desain Baru
Agu14

Perpustakaan Sidogiri: Ruang Anak Hadir dengan Desain Baru

Sebagai pusat wahana keilmuan santri, Perpustakaan Sidogiri tiap tahun ajaran selalu mendapat perhatian dari pengurus pesantren, tidak terkecuali tahun ini. Pada tahun ajaran 1440-1441 ini, Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri memberikan instruksi pengurus perpustakaan untuk menjaga koleksi dokumentasi dan kearsipan. Abdul Latif Romadani, TU Perpustakaan, membenarkan tentang hal ini. “Perpustakaan tahun ini mendapat mandat langsung dari Pengurus Harian untuk menjaga koleksi kearsipan dan dokumentasi. Oleh karena itu, kami (pengurus perpustakaan, red) memilih ruang anak untuk dijadikan ruang dokumentasi, serta memindahkan koleksi di ruang anak ke ruang lainnya,” jawabnya saat dihubungi via WhatsApp. Akhirnya, dipilihlah ruang penyampulan sebagai ruang anak yang baru. Meski lebih kecil dan lebih sempit dari sebelumnya, pihak perpustakaan menjamin ruang yang baru ini suasana dan tempatnya lebih nyaman. Latif, sapaan akrab TU kelahiran Lumajang itu menambahkan, “Untuk ruangan yang baru ini, kami berusaha memberikan suasana yang lebih kekanak-kanakkan, dengan memberi stiker, poster, dan evamat puzzle. Tujuannya supaya santri yang masih kecil-kecil itu tambah semangat untuk membaca dan mempelajari ilmu di Perpustakaan.” Perenovasian dan penambahan fisilitas baru ini ditaksir menghabiskan dana 2 juta rupiah. Sedangkan ruang anak yang baru ini sudah bisa dikunjungi oleh pemustaka sejak Selasa (12/12) kemarin. “Kami berharap bisa memberikan yang terbaik kepada Sidogiri, serta memberikan keyamanan bagi pemustaka, “imbuh santri berbadan gemuk ini. ____ Penulis: Muhammad Ilyas Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Pasca MTQ, Wadah Mempelajari Qiraah Sab’ah
Agu13

Pasca MTQ, Wadah Mempelajari Qiraah Sab’ah

Malam Rabu (13/08) seluruh kegiatan di bawah naungan Taklimiyah wa Tahfidz al-Quran (TTQ) berupa pengajian al-Quran atau Madrasah Taklimul Quran (MTQ) serta pengajian kitab ma’hadiyah resmi dimulai kembali. Yang paling menarik adalah pengajian al-Quran Qiraah Sab’ah yang menjadi materi pasca MTQ. Salah satu contoh adalah majelis Ustadz Abdul Mutholib di ruang 02 Mabna an-Nawawi. Berjumlah 10 mutaalim, pembacaan qiraah Imam Warsy yang dipimpin beliau diikuti dengan penuh semangat. Pasca MTQ merupakan program lanjutan dari program pembelajaran al-Quran MTQ dan menjadi wadah bagi murid tingkat Aliyah untuk mengaji al-Quran. Dengan motto “Mengantarkan Mutaalim untuk menguasai ilmu Qiraah Sab’ah sesuai dengan kaidah yang benar dan tepat”, Pasca MTQ bisa menjadi perantara bagi murid Aliyah dalam mempelajari ilmu yang baru bagi mereka. “Alasan kami ikut pasca MTQ selain karena daripada nganggur, atau hanya shalawatan saja, kami juga ingin memanfaatkan kesempatan bisa mempelajari ilmu yang baru menurut kami”, komentar salah satu santri yang berada di majelis ruang 02 Gedung An-Nawawi. Saat ini, rata-rata Mutaalim Pasca MTQ masih mempelajari bacaan Imam Warsy yang menjadi target untuk pertengahan tahun. Dalam program Pasca MTQ untuk tahun ini diharapkan Mutaalim mengetahui Tiga macam Qiraah, yakni; Imam Nafi’, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Abu Amr. Dalam program Pasca MTQ ini menggunakan metode akselerasi dengan arti Mutaalim bisa lanjut ke tingkatan berikutnya sesuai kemampuan tanpa ada batas waktu. Hanya saja dari TTQ sangat menekankan bagi Mutaalim pemula mampu tiga macam Qiraah yang telah disebutkan tadi. “Dengan mempelajari Qiraah Sab’ah, kita menjadi tidak mudah menyalahkan orang lain, karena semua bacaan kembalinya ke Rasulullah, dan walau begitu makharij al-huruf dan tajwid harus tetap dipakai, karena itu prioritas utama”, jelas Ustadz Tholib, salah satu Muallim Pasca MTQ. “Hebatnya Sidogiri dibandingkan pondok pesantren lainnya di Jawa Timur, materi Qiraah Sab’ah masih belum jadi kurikulum, tapi sudah punya Al-Quran Qiraah Sab’ah sendiri, selain itu menjadi Al-Quran Qiraah Sab’ah berbahasa indonesia pertama kalinya”, tambahnya. _______ Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Semut Ibrahim di Liburan Idul Adha 1440 H
Agu12

Semut Ibrahim di Liburan Idul Adha 1440 H

Sebagaimana diketahui, Hari Raya Idul Adha 1440 H jatuh pada Minggu 11 Agustus 2019. Dalam momen ini, Pondok Pesantren Sidogiri setiap tahunnya meliburkan kegiatan Madrasiyah dan beberapa kegiatan Makhadiyah selama dua hari (untuk tahun ini jatuh pada hari Ahad dan Senin). Hari libur ini menjadi momen tersendiri bagi beberapa keluarga yang hendak menjenguk putranya di Sidogiri. Bisa dibayangkan, betapa sesaknya jika sehari saja terdapat setengah dari belasan ribu santri yang kiriman. Berapa ton sampah yang akan dihasilkan?. Untuk mengantisipasi banyaknya sampah, Pengurus Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) Pondok Pesantren Sidogiri mengerahkan pasukan pembersih, Semut Ibrahim, dibantu oleh pihak Ketertiban dan Keamanan (Tibkam), Petugas Balai Tamu dan petugas parkir, untuk memungut sampah yang berceceran. Semut Ibrahim bergerak dari Gedung Mabna al-Ghazali dan beberapa daerah sekitarnya seperti Gedung as-Suyuti, an-Nawawi dan Balai Tamu yang menjadi titik pertemuan antara santri dan wali santri, sejak hari Ahad (11/08) sampai Senin (12/08), sore ini. “Saya bersyukur bisa jadi anggota pasukan semut Ibrahim, semoga khidmah saya ini diterima oleh Masyayikh Sidogiri, dan semoga ini menjadi tirakat saya untuk Imni saya tahun ini.” Ungkap salah satu pasukan Semut Ibrahim yang duduk di kelas 3 Aliyah. Pasukan pembersih dengan nama Semut Ibrahim ini, pertama kali diterapkan pada pemberian hadiah Imtihan Dauri (Imda) II tahun ajaran 1437-1438 H. Penggagas pasukan ini adalah Ust. Abdul Qodir Ghufron, Kepala Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah yang waktu itu menjadi Ketua Panitia Pemberian Hadiah Imda II. Pasukan ini rupanya terinspirasi oleh Aksi Bela Islam 212 beberapa tahun lalu. Pasukan ini kemudian mendapat sambutan positif dari para tamu yang berkunjung ke Sidogiri. Hingga saat ini, pasukan ini tetap eksis menjaga kebersihan Pondok Pesantren Sidogiri dalam beberapa perayaan besar di Sidogiri, termasuk pada Hari Raya Idul Adha. Tujuan diadakan kegiatan pungut sampah ini merupakan bentuk sosialisasi agar santri ikut menyukseskan cita-cita pengurus, yakni menciptakan Sidogiri bersih. Pasukan kebersihan ini memiliki jargon “Satu Sampah Sejuta Berkah”. Baca juga: Gebrakan-gebrakan E-Maal Sebelum 2020 _____ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Libur Idul Adha dan Bazar Terpadu Instansi Sidogiri
Agu11

Libur Idul Adha dan Bazar Terpadu Instansi Sidogiri

Ahad (11/08), libur Idul Adha adalah momen santri bisa bertemu dengan keluarga, ini bagi yang kiriman, sementara santri yang lain bisa sejenak beristirahat dari rutinitas yang ada, karena kegiatan Ma’hadiyah dan Madrasiyah dalam dua hari libur, hanya saja untuk shalat jamaah dan shalawat sebelum dan setelah shalat Maghrib tetap ada. Hingga sore tadi, jumlah wali santri yang berkunjung terbilang melebihi 500 kepala keluarga, namun angka bisa saja lebih dikarenakan tidak dapat dipastikan secara spesifik.  Untuk area pertemuan wali dan santri adalah sekitar balai tamu Sidogiri, halaman depan Mabna as-Suyuti, serta Mabna al-Ghazali. Selain itu, libur Idul Adha juga diramaikan dengan adanya stan penjualan dari beberapa instansi Pondok Pesantren Sidogiri, seperti; Sidogiri Penerbit, Sidogiri Media, Kopontren Sidogiri, TTQ, MQS, ISS, LPBAA, dan lain-lain. Lokasi Stan berada di depan Mabna as-Suyuti dan sekitar Balai Tamu. Semua dibuka dengan menghadirkan potongan harga hingga 60%. Selain buku dan kitab, stan juga menyediakan berbagai model pakaian dan souvenir, serta hasil karya lukis bakar dari teman-teman Ikatan Santri Sidogiri (ISS). “Silahkan dibeli, bapak ibu, ada Buku Sufi Berduit, jadi orang kaya juga bisa jadi sufi bapak ibu, silahkan dipilih, ada juga lukisan bakar mbah Moen yang pastinya keren abis, silahkan dijadikan oleh-oleh buat orang rumah, nanti apa kata tetangga kalau dari Sidogiri tapi tidak bawa oleh-olehnya”, seru santri dari salah satu stan menawarkan koleksinya. Stand terpadu ini dibuka selama libur Idul Adha ini, hingga Senin (12/08) besok, jadi bagi Anda yang berkunjung ke Sidogiri dalam rangka mengirim puteranya, silahkan mampir di Stan yang buka mulai pagi hingga sore pukul 05.00 waktu setempat. Berikut ini foto-foto yang kami ambil saat mengunjungi stand terpadu tersebut:                               ______ Penulis : Musafal Habib Editor    : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya