Tempat yang Disediakan untuk Tamu
Libur Hari Raya Idul Adha menjadi momen tersendiri bagi wali santri yang hendak menjenguk putranya di Sidogiri. Namun, bila setengah saja dari belasan ribu santri kiriman, sedangkan balai tamu hanya terdiri dari satu lantai, bisa dibayangkan betapa sesak balai tamu. Dari itu, Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri menyiapkan beberapa tempat strategis, selain balai tamu. Berikut tempat-tempat strategis di Sidogiri, versi sidogiri.net. Mabna al-Ghazali Gedung pertama di Sidogiri yang memiliki empat laintai ini, menjadikan tempat ini paling nyaman, untuk melepas rindu bersama sanak-saudara yang sedang mondok di Sidogiri. Namun, hanya saat tertentu saja gedung ini bisa ditempati tamu. Termasuk hari raya. Di hari raya pun, gedung ini menjadi satu-satunya gedung yang bisa ditempati oleh tamu. Dibanding dengan halaman, gedung ini terbilang lebih efektif, dikarenakan tahan hujan, dan tidak tersengat terik matahari. Halaman Gedung Halaman Gedung as-Suyuthi, al-Jadid dan al-Ghazali ini menjadi salah-satu tempat strategis, sebab lokasinya yang terbuka lebih memudahkan santri menemukan wali santrinya. Selain itu, tempat ini juga dekat dengan balai tamu, atau bisa lebih dekat ke toilet. Namun, jangan menempati Mabna as-Suyuthi dan Mabna al-Jadid bagian dalam. Selain dilarang, tempat ini juga sangat tertutup. ____ Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor: Saeful Bahri bin Ripit Postingan ini sekaligus menjadi ralat akan berita yang berjudul, “3 Tempat Strategis untuk Tamu Saat Lebaran”. Tulisan yang diposting satu jam yang lalu itu, diralat lantaran ada perubahan. Mulanya, tim perumus menyatakan al-Jadid boleh ditempati. Kemudian, ada titah langsung oleh pengurus harian agar tempat menjumpai santri fokus di Mabna al-Ghazali saja....
Gema Takbir Idul Adha Sidogiri 1440 H
Malam Ahad (10/08), takbir massal bertajuk Gema Takbir Idul Adha untuk 16 daerah asrama santri Pondok Pesantren Sidogiri berlansung secara bergantian dimulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 03.30 waktu setempat. Untuk jadwal yang pertama adalah Daerah J, yang terdiri dari santri Idadiyah di bawah usia 14 tahun. Masing-masing daerah diberi waktu selama 30 menit. Lokasi bertempat di Masjid Jami’ Sidogiri lantai I sebelah utara. Sebagai pengawas kegiatan adalah Instansi Bagian Ubudiyah di bawah koordinasi Ketua III Pondok Pesantren Sidogiri, Mas H.M Abdul Djalil Kamil. “Kami dari Ubudiyah dalam menyambut Idul Adha ini ada takbir massal, berjamaah, yang diberi nama Gema Takbir Idul Adha yang dimulai pada jam setengah delapan Wis sampai 3.30 Wis, bergantian mulai dari daerah A sampai P dan Z, tiap daerah itu adalah bergantian setiap 30 menit, untuk penjagaannya adalah dari pengurus daerah serta temen-temen Wastib (Pengawas dan ketertiban Masjid, red)”, jelas Ustadz Muzammil selaku Kepala Bagian Ubudiyah. Beliau juga menambahkan keterangan tentang persiapan pelaksanaan shalat Idul Adha besok pagi. “Sama seperti pada kegiatan Shalat Jumat, tidak ada perbedaan jauh, hanya saja shalat Idul Adha dimulai jam 06.45 maka teman-teman santri maksimal harus keluar dari daerah pukul 06.00 Wis (Waktu istiwa’, red), jadi persiapan kita hanya 45 menit untuk merapikan shaf santri”, jelas sosok yang dikenal tegas oleh bawahannya ini. Untuk Asmara Daerah I, karena posisinya paling jauh di luar area dalam Pondok Pesantren Sidogiri, maka pelaksanaan Takbir Massal berada di surau Daerah I. Selain itu, agar lebih kondusif bagi pengurus daerah I dalam mengontrol warganya yang tambah banyak. __________ Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...
Puasa Tarwiyah dan Arafah: Rutinitas Santri Sidogiri Setiap Tahun
Berpuasa Tarwiyah dan Arafah telah menjadi rutinitas santri Sidogiri setiap tahunnya, karena tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah merupakan momen istimewa bagi umat Islam, sehingga umat Islam yang tidak berhaji dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pahalanya pun sangat besar, bisa menghapus dosa dua tahun (1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang). Namun untuk melaksanakannya, sebaiknya diawali dengan puasa Tarwiyah sehari sebelumnya atau pada 8 Dzulhijjah. Ini agar puasa yang dijalankan tidak hanya sehari dan agar tidak menyamai umat lain. Untuk membantu santri yang hendak sahur, Koperasi Unit 2 dan Giri Caffe buka pada jam 03:30, dan menyediakan beberapa menu untuk santapan santri yang hendak berpuasa. “Alhamdulillah saya bisa berpuasa pada tahu ini, semoga Allah menerima puasa saya dan menghapus dosa-dosa saya” Ungkap salah satu santri yang telah berpuasa Tarwiyah dan Arafah, ketika berbuka, tadi sore (10/08). Bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, puasa pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah memiliki berbagai keutamaan. Dan yang melaksanakn dua puasa ini akan dianugrahi oleh Allah dengan 10 macam kemuliyaan, yaitu: Allah akan memberi keberkahan pada hidupnya. Allah akan menambah harta. Allah akan menjamin kehidupan rumah tangganya. Allah akan membersihkan dirinya dari segala dosa dan kesalahan yang telah lalu Allah akan melipat gandakan amal dan ibadahnya. Allah akan memudahkan kematiannya. Allah akan menerangi kuburnya selama di alam Barzah. Allah akan memberatkan timbangan amal baiknya di Padang Mahsyar. Allah akan menyelamatkannya dari kejatuhan kedudukan di dunia ini. Allah akan menaikkan martabatnya di sisi-Nya. Alangkah banyak keberkahan dan kebahagiaan yang Allah berikan bagi orang yang menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah. Semoga puasa santri Sidogiri dan seluruh umat islam diterima disisi Allah. dan bagi yang tidak berpuasa, semoga dapat melaksanakannya pada tahun mendatang, jika Allah masih memberikan umur panjang. Amin. _____ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
CB3 Lantik 17 Anggota Baru
Cegah dan Berantas Barang Berbahaya (CB3) merupakan instansi Pondok Pesantren Sidogiri dibawah koordinasi khusus yang bergerak mengawasi, menangani, mencegah, dan memberantas makanan, minuman, dan obat-obatan berbahaya. Dalam kinerjanya, CB3 menjalin kerjasama dengan instasi lain di dalam maupun di luar pesantren, salah satunya dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pasuruan. Dan pada Jumat (09/08) pagi tadi, CB3 telah melantik 17 anggota baru melalui Ketua Umum yang diwakili Kepala Bagian (Kabag) CB3, Ustadz Anshori Ali di Ruang Auditorium Lantai II Kantor Sekretariat Sidogiri. Turut hadir, Kepala BNN Pasuruan, AKBP. Erlang Dwi Permata, S.E. “Kekurangan dalam perjalanan dua tahun ini adalah, kami tidak mempunyai anggota yang ada di daerah. Jadi, kiat yang berupa pencegahan ini kurang efektif, karena yang ditangani bukan cuma narkoba, tapi juga makanan yang dimakan santri. Nah, yang tahu tentang santri setiap harinya adalah daerah (Pengurus daerah, red). Tujuan pelantikan ini adalah untuk membantu pihak CB3 mengawasi di setiap daerah.” Jelas sosok pria mengenakan kacamata ini. Beliau menambahkan bahwa program melantik satu personel dari masing-masing daerah sudah ada sejak tahun kemarin, hanya saja ketika diajukan ke Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, Mas H. Baharuddin Thoyyib, masih belum dapat direalisasikan. Nantinya, ada jadwal piket untuk masing-masing anggota setiap harinya dari Bapak Arbi Sarbini selaku TU CB3 dan dalam satu bulan sekali ada kumpulan komunikasi dalam bentuk laporan. Acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala BNN Kabupaten Pasuruan, Bapak AKBP. Erlang Dwi Permata, S.E., sekaligus pengenalan narkoba dan zat adiktif. “Saya Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Pasuruan, di mana Kabupaten Pasuruan ini adalah Kabupaten ke-17 yang ada Badan Narkotikanya dari 34 kabupaten kota di Jawa Timur, saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri khususnya Ketua CB3 dan wakil serta seluruh anggota untuk dibentuknya CB3 karena bahaya narkoba itu bukan hanya bahaya di tempat pabrik-pabrik tapi bisa masuk ke semua sendi-sendi kehidupan maka kita tidak boleh lengah.” Sambutan Kepala BNN membuka pengenalan tentang narkoba pagi tadi. ______ Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin Ripit...
Story Sahur Tarwiyah
Jumat (09/08) bertepatan dengan tanggal 08 Dzulhijah, yang mana umat Islam dianjurkan menunaikan puasa tarwiyah. Bagaimana semangat santri menyambut kesunahan puasa Tarwiyah. Biarlah foto berikut bercerita kepada Anda! Basmalah unit II saat santri menunaikan ibadah sahur, sekitar pukul 04.00 Wis. Lantaran koperasi unit II penuh, sebagian santri sahur di luar unit II. Menu makanan yang disajikan Giri Caffe saat pelaksanaan sahur. Meski mengantuk berat, mereka rela mengantri untuk membeli sebungkus nasi. Santri yang sedang melaksanakan sahur di halaman Daerah A. Beginilah suasana kasir Basmalah unit II saat pelaksanaan sahur Tarwiyah berlangsung. Halaman Daerah N pun juga penuh dengan santri yang sedang sahur. Sebagian santri memilih sahur di Giri...
Mari Lestarikan Ajaran Salaf yang Mbah Moen Perjuangkan
“Kita kembali ke diri sendiri, kita semua tahu siapa beliau. Kita pasti kehilangan sosok seperti beliau, sosok seperti beliau ini sulit ditemukan,” Ungkap Mas Khalid ketika ditemui oleh Redaksi sidogiri.net di kediaman beliau, pada malam Rabu (07/08). “Ini sudah tidak bisa diungkapkan lagi.” Sedih, merasa kehilangan, semuanya bercampur jadi satu. Itulah yang dirasakan oleh Mas Khalid, ketika mendengar kabar wafatnya Mbah Moen. “Saya dulu punya harapan semoga Mbah Moen itu hidup selamanya, toh sekalipun itu tidak mungkin, tapi itu kan Cuma harapan.” Untuk mengenang sosok beliau, Mas Khalid, putra KH. Kholil Abdul Karim, menyampaikan pesannya, “Sebagaimana yang sering beliau sampaikan di pengajian, jadilah orang alim. Orang alim itu harus sadar zamannya. Jadilah orang yang kondisional, tau zaman!. Misalkan zamannya digital, kita gak mungkin dong melawan digital. Dulu panah sekarang pistol. Itu harus disikapi dengan bijak lah. Terus santri harus berkontribusi besar, pegang ajaran-ajaran salaf, karena memang ajaran salaf ini yang Mbah Moen perjuangkan. Mulai dari ngaji kitab kuning, ngaji bandongan atau sorogan itu benar-benar mewakili khas pesantren. Dan itu harus kita terus lestarikan jangan sampai hilang.” Pesan perintis chanel YouTube Guyonan Santri ini. Beliau juga menyampaikan beberapa pesan Mbah Moen yang sempat beliau dengar secara langsung, “Pesan beliau ke santri-santri baru itu gak muluk-muluk, yang beliau tekankan itu kerasan, karena kalau kerasan nanti bisa beradaptasi dengan baik.” Karena jika seorang santri betah berada di pesantren, meskipun awalnya jarang belajar, males beribadah, lama kelamaan karena sudah betah akan jadi terbiasa mengikuti arus. “Beliau juga pernah berpesan dalam bahasa arab, intinya Pelajarilah al-Quran itu, dalam arti mendalami.” Ungkap Mas Khalid, sambil mengingat-ingat pesan Mbah Moen tersebut. Karena seperti yang kita tahu, sekarang ini al-Quran memang sering dibaca, tapi jarang sekali ada yang merenunginya. Jika kita mau berkaca pada ulama-ulama salaf, sebenarnya kita harus berusaha memahami al-Quran, jangan hanya sekadar membaca. Mujtahid pertama, Imam Abu Hanifah, beliau adalah orang ‘Ajam, bukan orang Arab. Namun beliau mampu memahami al-Quran secara sempurna, itu karena jiwa beliau bersih. Bahkan banyak ulama-ulama Nusantara yang ‘tidak bisa’ bahasa Arab, tapi beliau mengarang kitab sampai berjilid-jilid. Pesan Mbah Moen yang paling sering beliau sampaikan adalah, “dadio wong alim, mergo wong alim iku uripe kepenak. (Jadilah orang alim, karena orang alim itu hidupnya pasti nyaman. Red)” Ucap Mas Kholid, sambil menirukan gaya Mbah Moen. Pesan Mbah Moen yang lain, yang Mas Khalid ingat adalah, “ngono yo ngono, keng ojo ngono. Itu yang masyhur!” terang Mas Khalid. Pemahaman yang Mas Khalid tangkap dari pesan tersebut adalah, kita boleh beribadah, tapi jangan memaksakan hal itu ke orang lain. Jangan paksa orang lain untuk meniru kita. Kalo kita merasa benar, kita tidak perlu menyalah-nyalahkan orang lain. Intinya, ke orang lain itu kita...