Tetap Mengikuti Kegiatan Meskipun Banjir Melanda
Mendung mulai tampak di langit Sidogiri sejak sore (22/02) tadi. Tidak di sangka, awan yang semula cerah, seketika mendung, sesekali bunyi gledek menyambar. Hujan kemudian turun dengan sangat deras, angin kencang ikut menyertai hujan yang sangat deras itu, membuat santri yang sedang bersua dengan orangtua mereka lari pontang-panting mencari tempat berlindung. Alhasil Mabna as-Suyuthi dan al-Jadid (gedung madrasah baru yang dibangun di barat Mabna as-Suyuthi), menjadi sasaran empuk para santri yang sedang melepas rindu dengan orangtuanya. Jam 05:15 Wis sore hujanpun reda. Santri kembali melanjutkan pertemuan dengan orangtuanya yang sempat terhenti karena hujan yang turun amat sangat deras. Namun tidak disanka, meskipun hujan telah berhenti, sehabis salat Maghrib air sepanjang sungai Sidogiri meluap, membuat aktivitas di Pondok Pesantren Sidogiri terhambat. Banjir setinggi betis orang dewasa ini, di sinyalir akan terus meninggi. “Sepertinya banjir ini memang terus akan bertambah. Tapi saya yakin tidak akan lama, mungkin hanya satu jam. Setelah itu paling menyusut lagi,” ujar Ulin Nuha, santri asal Bankalan. Setiap tahunnya, Pondok Pesantren Sidogiri sering terkena luapan sungai yang menyebabkan banjir melanda. Namun ada hal yang berbeda pada malam ini. Usai salat Maghrib, banjir terus naik, namun pihak TTQ tetap konsisten untuk tidak meliburkan kegiatan MTQ (Madrasah Taklim al-Quran) dan ngaji kitab, walaupun banjir sedang mengepung area Pesantren. Oleh sebab itu, dengan senang hati para santri mengikuti kegiatan tersebut. “Males pak. Tapi ini, kan, kewajiban. ya saya harus menjalaninya,” ungkap Moch. Isomuddin, santri asal Bekasi, menjelaskan prihal ke sungguhannya untuk mengikuti kegiatan dalam bahasa Madura. Tidak ketinggalan pula, guru dan pembina ngaji kitab tetap semangat mengisi majlisnya masing-masing. “Saya ngisi di Perpustakaan, jauh, tapi khidmah,” ujar Ustadz Muhammad Nawawi. === Peulis : Ach Mustaghfiri Soffan Editor : N. Shalihin...
Habib Muhammad bin Anies Syahab Berbagi Ilmu Menjadi Youtuber
Badan Pers Pesantren (BPP) bekerjasama dengan Annajah Center Sidogiri (ACS) menggelar seminar bertajuk ‘Santri Youtuber‘, Rabu (20/02), di Surau Daerah O. Menghadirkan Habib Muhammad bin Anies Syahab, dai milenial dari kota Malang, sebagai narasumber dalam acara yang diikuti oleh anggota ACS, redaksi media dan murid Aliyah. Habib Bin Anies, demikian beliau dikenal, menerangkan bahwa saat ini dakwah menggunakan sosial media (sosmed) lebih cepat didengar dan dipahami oleh kebanyakan orang daripada berdakwah dengan tatap muka (pengajian). Karena sosial media sudah menjadi ruh tersendiri bagi masyarakat. “Contoh sekarang, ada orang mau bertaubat yang dibuka bukan kitab, bukan tanya pada kiai, tetapi mereka search di Google. Sedangkan ketika mereka buka Google yang keluar di Google semua bukan akun dari ahlusunah wal jamaah. Jadi, jangan salahkan mereka jika mereka lebih condong ikut mereka,” kata dai yang memiliki akun Instagram @binanies itu. “Jangan pernah meremehkan orang di luar kita. Mereka juga hebat-hebat.” Tambahnya. Beliau juga berbagi tips agar channel YouTube yang kita kelola cepat dikenal dan mudah diingat, salah satunya dengan membuat nama akun yang singkat. Tujuannya agar mudah diingat. “Selain nama, yang perlu untuk diperhatikan adalah cara pengelolaan. Mulai dari mic output dan pencahayaan, sudut pandang maksimal, materi, poin yang disampaikan, harus menarik di mata masyarakat. Itu menjadi bagian penting dalam mengelola channel YouTube.” Kata beliau. ===== Penulis: Tolhah Rowi Editor: N. Shalihin...
Eratkan Santri Madura Melalui Motivasi Akbar
Madura bersatu padu pada malam Jumat (14/2) bertempat di gedung SEC (Sidogiri Excellent Corp). Acara yang dikoordinatori oleh para Pimpinan Pengurus Konsulat (PPK) Ikatan Santri Sidogiri (ISS) Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep ini, bertajuk “Motivasi Akbar Madura” dengan menghadirkan Habib Muhammad Ridho bin Abdullah bin Abu Bakar BSA (bin Salim) dari Pasuruan sebagai narasumber. Perihal acara, Panitia berusaha merangkai bentuk acara dengan berbagai ciri khas Madura. Di antaranya, Pada awal acara Panitia menampilkan kedua pembawa acara memakai ciri khas baju dari daerahnya masing-masing. “Kami berusaha bentuk acara dengan format khas Madura, misalnya kami menampilkan bentuk desain bener tersebut merah, putih dan hitam. Itukan warna khasnya Madura yang sering ada di baju khas Madura,” ungkap Ust. Minhajul Abidin selaku ketua panitia. Selain itu, panitia juga menampilkan kepada semua santri Sidogiri bahwa santri Madura erat akan hubungannya dengan sesama warga Madura, ” Di Sidogiri saja ke-eretan hubungan antar santri Madura itu sudah diakui oleh semua santri Sidogiri dan kita tahu kekompakan ini sudah menjadi ciri khas kita (Madura, red) ,” jelasnya. Setelah vakum selama lima tahun, acara ini mulai terselenggara kembali pada tahun kemarin yang langsung dihadiri oleh Mas d. Nawawy Sadoellah. Berkat kekompakan antar santri Madura ini banyak pujian yang disematkan kepada santri Madura. ” Alhamdulillah, kekompakan ini sudah diakui oleh ketua ISS dan pengurus IASS yang berada di Madura dan yang kami banggakan sampai saat ini adalah pengakuan dari Mas d. Nawawy Sadoellah. Alhamdulillah! ” tuturnya pada reporter Sidogiri.net sembari memberikan sungging senyum khas Madura. === Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin Damiri ...
Pembagian Hadiah Imda II: Asah Bakat Murid Lewat Organisasi Annajah
Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) menggelar acara pembagian hadiah Imda II (Imtihan Dauri) pada malam selasa (11/02). Acara yang bertempat di gedung lantai tiga SEC (Sidogiri Excellent Corp), selain dihadiri oleh semua murid MMU Tsanawiyah para dewan guru juga turut hadir pada acara tersebut. Pelaksanaan acara pembagian hadiah Imda II oleh para Pimpinan Madrasah, dalam kepanitiaan diserahkan kepada para murid Tsanawiyah yang aktif di Organisasi Annajah dan Madinah (Majalah Dinding Annajah), ” Memang pada tahun ini yang mengatur pelaksanaan acara teman-teman Annajah, tapi tidak semerta-merta pimpinan madrasah memasrahkan semuanya pada mereka, oleh kami tetap dikontrol, mereka tetap kami motori, apa-apa tuangan ide mereka untuk kemaslahatan Madrasah itu harus dapat persetujuan dari kami, ” ungkap ust. Mostofa sebagai Koordinator Annajah. Kdidmah lil ma’had selain itu tujuan pimpinan terhadap kawan murid yang aktif di Annajah dan Madinah, harapan pimpinan madrasah juga mengasah bakat mereka, ” Memang di Tsanawiyah lebih difokuskan terhadap pelajaran, mumpung mereka aktif di Organisasi, kan biar enak nanti ketika sampai di Aliyah, mereka lebih kreatif dalam menahkodai organisasi karena sudah berpengalaman.” tutur ust. Mustofa yang juga menjabat sebagai wakil III MMU Tsanawiyah tersebut. === Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...
Omim; Menyikapi Kegaduhan Kaum Perempuan
Istilah ‘Kesetaraan Gender’ sering digaungkan oleh para aktivis sosial maupun politisi. Dampaknya, kegaduhan kaum perempuan akan ‘Kesetaraan Gender’ semakin meningkat seraya terus-menerus disuarakan untuk menuntut hak yang sama dengan laki-laki. Menyikapi hal tersebut Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual [UKPI] melalui Organisasi Murid Intra Madrasah [OMIM] melaksanakan Seminar Ilmiah dengan mengangkat tema “Potret kesetaraan ‘Gender’ dalam perspektif al-Quran” Kamis (06/02) di gedung Corporation Laz-Sidogiri, mengundang Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, MH. I. Ketua PCNU. Menurutnya, Dalam pembahasan mengenai ‘Kesetaraan Gender’ dalam perspektif Al-Qur’an maka kajiannya menggunakan tafsir ‘Maudu’i’. Dalam tafsir ‘Maudu’i‘ ada dua metodologi kajian yang harus diketahui yakni; kajian luar dan dalam. Kajian luar itu suatu yang tidak disebutkan dalam al-Quran. “Kalau kita mau membahas tentang kata al-Insan berati itu tema dalam, karena kata al-Insan klasifikasinya ada dalam al-Quran. Bedahalnya jika kita mau membahas kata demokrasi berarti tema luar, karena dalam al-Quran tidak ada kata demokrasi. Sama dengan ‘Gender’. Jadi, metodologi harus menggunakan Tafsir Maudu’i,” kata KH. Syamsul Arifin, mengawali pembahasan. Berarti yang harus kita lakukan adalah mencari kata yang berbanding lurus atau dekat maknanya dengan kata ‘gender’ walaupun kata ‘gender’ sendiri tidak ada dalam al-Quran. Jadi untuk menafsirkan kata Gender harus merujuk makna dari apa yang kita baca dalam kajian tafsirnya. “Jadi jangan sering-sering bilang suatu permasalahan bertentangan dengan al-Quran. Takutnya, yang kita paham bertentangan dengan al-Quran, karena belum tentu al-Quran bicara seperti apa yang kita pahami,” lanjut Kiai yang akrab disapa Gus Aab. Tentang ‘gender’ sendiri jika kita mau meninjau dari katanya adalah bahasa Inggris yang jika diartikan menjadi perbedaan yang tampak dari seorang laki-laki dan perempuan dilihat dari nilai dan tingkah laku itu disebut dalam ‘New name’, jika dilihat dari sudut konstruksi sosialnya bukan pada fitrahnya. Menurut Women’s Studies Encyclopedia ‘gender’ diartikan sebagai suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Atau juga berarti suatu yang dibentuk oleh budaya yang ditentukan oleh masyarakat. “Mereka memahami ‘gender’ tidak bicara tentang apa itu ‘gender’ dari sisi fitrahnya, tapi bicara dari kodratnya. Jadi, pemahaman lebih condong pada sisi perannya,” ujar beliau di depan Murid Aliyah dan dewan Asatidz. “Sehingga opini yang terbentuk dalam masyarakat adalah wanita lemah, laki-laki kuat. Perempuan disumur, di dapur dan dikasur. Disini letak kesalahannya, yang setarakan itu dalam hal apa,” lanjut Pengasuh PP. Darul Arifin. Bahwa pria dan wanita adalah setara, hanya saja yang perlu dipahami adalah setara itu tidak mesti sama. Perlu adanya peninjauan setara dalam perspektif apa. Dalam al-Qur’an surat al-Hujarat ayat 13 disebut: ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ…(الايه) Dalam ayat ini sebagai premis, kalau agama...
Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH, MA.; Mereka Memiliki Dua Muka
Tips untuk membumikan Ajaran Aswaja Melalui Lisan dan Tulisan ditawarkan oleh Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH, MA. Guru besar sosiologi Agama dan ketua Hukum MUI Pusat dalam acara yang dilaksanakan Annajah Center Sidogiri dan Badan Pers Pesantren di ruang Auditorium Lt. II kantor Sekretariat, Rabu [29/01]. Menurut beliau, saat ini semua orang sudah menjadi jurnalis dengan sendirinya. Hal tersebut cukup bermodalkan Handphone yang digenggam ditangan. Tugas santri dan model perjuangan media pesantren saat ini adalah membeli kepercayaan masyarakat. “Jadi sekarang orang Pesantren sudah ditunggu-tunggu untuk itu. Kita harus perjuangkan,” kata Habib Muhammad Baharun. Lanjut habib Baharun, juga mengingatkan kepada seluruh pegiat media Pondok Pesantren Sidogiri untuk berhati-hati dalam menggunakan sosial media karena bisa jadi secara perlahan dirinya akan mulai kehilangan jati diri sesungguhnya. “Thoriqoh salaf yang dipegang oleh Sidogiri kuat, jadi dalam segala hal kita harus berpegang teguh terhadap apa yang sudah ditanamkan oleh kiai dan guru kita,” pesan beliau, yang juga pernah aktif menjadi reporter Majalah Harian Tempo. Dalam hal aqidah beliau menyebutkan contoh sekte Syiah yang memiliki dua panggung yang harus kita suarakan dan lawan, panggung depan dan panggung belakang. Memang benar dimuka mereka sama dengan kita, mereka Islam, baca syahadat. Tetapi dibalik itu mereka memiliki misi yang sangat berbahaya. “Kebangkitan itu harus dimulai dari Pesantren. Jangan mau ditimang-timang oleh Hari Santri Nasional.” Tambah beliau. Acara ditutup dengan pertanyaan dari peserta terkait perkembangan media di Indonesia. ==== Penulis: M Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...