Ibu Teguh Hastin: Kami Ingin Belajar Dari Kesuksesan Sidogiri
Keterangan: Ust. Nahdlor Tsanai dalam tausiyahnya dihadapan ‘Jamaah Masjid Baitur Rahman PKK RW 14’. Keberadaan Air Minum Dalam Kemasan Santri (AMDK) menjadi icon tersendiri bagi para jamaah dari Kota Sidoarja. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Teguh Hastin, ketua pengajian ‘Jamaah Masjid Baitur Rahman PKK RW 14’ Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri, Ahad, (04/10). Menurutnya agenda kegiatan tersebut sebagai bentuk lanjutan dari apa yang telah dikaji di ‘Jamaah Masjid Baitur Rahman PKK RW 14’ Dengan harapan bisa menambah wawasan keilmuan dan memetik ilmu yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri. “Ini adalah agenda tahunan bagi ‘Jamaah Masjid Baitur Rahman PKK RW 14’. Dengan harapan dari kami bisa belajar, kami bisa menunjukkan kepada seluruh jamaah ini adalah bukti yang dikatakan ustadz kita,” kata Ibu Teguh Hastin, dalam sambutannya. Sementara itu, Ust. Edy Amin (Direktur Utama AMDK Santri) dalam sambutannya menjelaskan perihal sepak terjal Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri. Adanya koperasi merupakan bentuk kepedulian Massyayikh Sidogiri terhadap pemberdayaan ekonomi umat. “Selain untuk menjadi lahan praktek terhadap ilmu yang dipelajari di pesantren, koperasi ini didirikan untuk tempat mengabdi bagi santri,” kata Ust. Edy Amin, komisi Pemberdayaan Ekonomi di IASS. Kunjungan tersebut ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ust. Nahdlor Tsanai, staf pengajar Pondok Pesantren Sidogiri tingkat Aliyah. ==== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...
Habib Taufiq bin Abdul Qadir As-Segaf: Cinta Dunia Pangkal Segala Kerusakan
“Sesungguhnya yang aku hawatirkan terhadap umat adalah syirik. Syirik yang aku maksud bukanlah yang menyembah patung atau matahari. Tetapi melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah,” tutur Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf, dalam acara Haul 1000 hari wafatnya Mas Muhammad Kholilurrahman bin Kiai Abd. Alim bin Abdul Jalil, malam Rabu (22/02). Beliau menekankan, agar lebih berhati-hati akan sesuatu yang bersifat keduniaan, karena ia merupakan pangkal segala kerusakan. “Cinta dunia itu banyak. Bisa karena cinta terhadap kekayaan, bisa kedudukan atau kehormatan. Dan yang paling berbahaya adalah cinta terhadap kedudukan dan kehormatan,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren As-Sunny As-Salafiyah. Selain itu, Perintis Majalah Cahaya Nambawi tersebut juga mengingatkan, bahwa pada zaman ini, bukan hanya para pejabat yang terjangkit cinta dunia. Tapi para kiai, habaib pun banyak yang terjangkit cinta dunia. Mereka lebih mencari dipuji manusia, walaupun dihina oleh Allah. “Semoga kita semua bisa selamat dari yang namanya ‘hubbud dunya’, ” ujar beliau bersemangat. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: Ach. Mustaghfiri...
Konsulat Bangkalan: Kuatkan Misi dengan Silaturrahmi
Jumat malam (17/02) PK-ISS Bangkalan mengadakan acara istigasah kubra bertempat di lantai dasar gedung as-Suyuti, acara yang diawali dengan Pembacaan ad-Diba’i kemudian sambutan dari pengurus disusul dengan acara pungkas yakni Pembacaan Istighasah secara serempak oleh semua santri Sidogiri Konsulat Bangkalan yang dipimpin langsung oleh ketua konsulat Bangkalan sendiri. “Sebagai Salah satu wadah organisasi yang menangani santri untuk saling silaturahmi. Kami dari pengurus Konsulat Ikatan Santri Sidogiri (PK-ISS) Bangkalan membuat agenda Istighasah Kubra. Istighasah ini dilaksanakan setiap bulan,” ungkap Ustaz Abdul Latif, ketua Konsulat Bangkalan. Selain tujuan untuk mempersatukan antar santri Bangkalan. Materi yang dibaca dalam istigosah kubra ini adalah Madzah istighasah Syaikhana Kholil. selain untuk ngalap barakah, pengurus berharap dengan adanya Istighasah setiap bulan ini dapat membangkitkan semangat belajar santri sama dengan apa yang dilakukan Syaikhana Kholil. “Tentunya tabarrukan (mengambil berkah,red) karena yang dibaca adalah Madzah istighasah Syaikhana Kholil,” Ujar Ustaz Abdul Latif, juga Kepala Daerah P tersebut. “Dari sekian banyak konsulat di PPS, belum ada yang melakukan Istighasah seperti ini, meskipun sebagian konsulat mengadakan istighasah serempak tapi tak sebesar ini.” Tuturnya kepada reporter Sidogiri.net. ===== Penulis : A. Farid Muflihin Editor : N. Shalihin...
Bedah kitab Minhatul Hamid: Oase Baru Keilmuan Santri
“karya-karya yang saya karang itu, semua berasal dari permintaan,” Begitulah Ust. Qoimuddin mengawali presentasinya dalam acara Bedah kitab ‘Minhatul Hamid fi Syarh Jauharah at-Tauhid’ karya Ust. Qoimuddin yang diadakan oleh Annajah Center Sidogiri (ACS) Pondok Pesantren Sidogiri, Rabu (23/10). Setelah mendapatkan titah dari Habib Hasan bin Ahmad Baharun pendiri Pondok Pesantren Dalwa Bangil untuk menerbitkan karyanya, ia mulai tertantang untuk menyempurnakan karya yang pada awalnya adalah kutipan-kutipan dari kitab-kitab ulama dan hanya berbentuk foto copy. Dalam mengarang kitab ini, beliau lebih memilih forma t tanya jawab untuk mempermudah santri dalam memahami poin-poin penting yang ada dalam kitab . Hal tersebut didorong oleh kebanyakan santri saat ini kesulitan dalam memahami karya yang berbentuk dalam format buku bacaan. Selain itu, dalam penyusunan kitab ini beliau lebih mengutamakan dalil-dalil naqli daripada dalil aqli. Opsi itu beliau pilih karena ia memandang yang dibutuhkan oleh santri saat ini adalah bukan untuk melawan pemikiran-pemikiran dari luar ahlussunnah. Akan tetapi, untuk memperkuat aqidah yang ada dalam diri kaum santri. “Cara untuk memperkuat aqidah bukanlah dengan berdebat atau beradu argumentasi, akan tetapi dengan cara membaca serta mendalami al-Quran dan tafsir, membaca hadis-hadis nabi dan makna yang terkandung di dalamnya serta memperbanyak amal ibadah,” kata beliau mengutip pernyataan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddinnya (juz 1 hal. 342) Beliau mengaku, suksesnya karya tersebut tidak lepas dariarahan al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun. “Semua itu sesuai dengan permintaan dan arahan al-Habib Hasan Baharun,” ungkap beliau yang staf pengajar tingkat Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam kitab ini terdapat tiga pembahasan, yaitu: Berkisar pada muqaddimah, pembahasan asasi (dasar), dan pembahasan roisi (prinsip). Pembahasan yang terakhir inilah yang menjadi inti dalam kitab Minhatul Hamid. ” Inspirasi saya dapatkan dari kitab Ihya’ Uumuddinnya Hujjatul Islam Al-Ghazali yaitu berkisar tentang Ilahiyat, Nubuwat, Ruhaniyat dan Sam’iyat.” Tutur beliau. ===== Nama: Abdul Muid Editor: N. Shalihin...
Ust. Saifullah Muhyiddin; Indonesia Tidak Akan Hancur Karena Adanya Perbedaan
Seluruh santri dan asatiz Pondok Pesantren Sidogiri berkumpul dilapangan baru untuk merayakan Hari Santri Nasional 2018 (HNS), ahad (12/02). Acara tersebut di back-up dengan pembacaan istigosah yang ditujukan untuk para pahlawan bangsa. Dalam acara ini Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri memberikan pesan kepada seluruh Santri agar terus berpegang pada tali Sidogiri. Berikut pesan dari Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri yang disampaikan oleh Ust. Saifullah Naji, Ketua II Pondok Pesantren Sidogiri; Kita patut mengapresiasi terhadap apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah berkatan dengan Hari Santri dan terus berjuang agar pendidikan pesantren mendapatkan kedudukan yang sama dimata pemerintah. Mungkin benar Pondok Pesantren Sidogiri termasuk yang sudah di muadzalah (setera dengansekolah diluar ( formal)) namun yan belum di muadzalah jumlahnya jauh lebih banyak. Maka memperjuangkannya adalah tugas kita bersama. Di Hari Santri ini kami akan menyampaikan 2 hal; Pertama, Sebagaimana tema besar hari ini “Bersama Santri Damailah Negeri” kita akan menegskan bahwa santri adalah duta-duta perdamaian demi terciptanya “Baldatun toyyibatun warobbun gofurun”. Bahkan bukan lagi di sekala nasional tapi juga untuk perdamaian dunia, hal ini selaras dengan pembukaan UUD 1745. Perlu kita ingat mengapa santri disebut duta perdamaiaan yang bisa menebar kebaikan kepada seluruh bangsa. karena santri mampu menggabungkan jiwa relegius dan nasionalis. Santri tidak ikut ekstrim kanan sehingga menolak NKRI dan ekstrim kiri sehingga menolak nilai-nilai keagaamaan. Santri dididik oleh kiai untuk menjadi sosok yang tawasut, tasamuh. Hal itu telah diajarkan oleh ulama dan santri pendahulu kita. Bung tomo sebagai pelopor perjuangan Surabaya dengan lantangnya meniriakkan takbir ‘Allahu Akbar untuk menghancurkan pihak sekutu yang ingin merampas tanah kita. Begitu juga C (Putra Mbah Hasyim As’ari) tim sembilan yang melahairkan ‘piagam jakarta dan menjadi dasar pancasila. Maka santri tidak merasa risih dengan terikan nasionalisme karena jiwa nasionalisme sudah ada dalam diri santri. Dan apabila jiwa nasionalisme masuk dalam jiwa santri maka santri akan menjadi sosok yang menghargai nilai-nilai perbedaan dinegeri ini. Ingat bangsa Indonesia tidak akan hancur dengan adanya perbedaan, tapi bangsa Indonesia bisa hancur karena tidak menghargai perbedaan. Maka para santri harus membawa nilai-nilai kebenaran ini kepaada masyarakat. Sampaikan hal ini dengan baik dalam bingkai pengertian, begitulah kalian sebagai duta-duta perdamaian. Kedua, Bahwa santri harus menjadi aset bagi C bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka para ulama selalu setia menjaga bumi pertiwi. Entah sudah berapa jiwa yang dikorbankan oleh santri untuk menebus kemerdekan ini. Bahkan sebagaiman yang kita ketahui bahwa Sidogiri merupakan bagian dari itu semua. Makam para Kiai yang ada disini menjadi bukti bahwa perjuangan para santri tidak akan pernah padam, maka kita harus berfikir untuk selalu memberi untuk negeri tercinta ini. Itulah sebabnya para massyayikh tidak pernah mendidik kita untuk mengejar suatu profesi tertentu. Jadilah apa saja yang penting bermanfaat dan...
Taujihat Majelis Keluarga Warnai Semarak Idadiyah
Semarak Idadiyah tahun ini lebih lengkap dengan adanya taujihat dari Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah, yang dibacakan oleh koordinator Idadiyah, Ust. Qusyairi Ismail dalam acara bertajuk, “Merajut Akhlakul Karimah, Menggapai Ilmu Barakah,” Rabu (01/02). Menurut beliau, murid Idadiyah menjadi generasi santri Sidogiri yang beruntung, karena pertama kali mereka menginjakkan kaki di Sidogiri, ia langsung digembleng dengan program khusus membaca kitab. Beliau berpesan, agar senantiasa mengerjakan hal positif baik menghafalkan, memahami, serta mendalami pelajaran yang telah di pelajari. “Kalian saat ini merupakan gambaran apa dan seperti apa kalian di masa mendatang,” dawuh beliau pada sebuah petikan dalam taujihatnya. Menurut pria kelahiran Bondowoso ini, setelah mencari ilmu, ada dua hal yang lebih penting, yakni mengamalkan serta menyebarkan ilmu yang telah di dapatkan dari Sidogiri. “Pesantren itu hanyalah jembatan bagi kalian. Seindah apapun ia, hanyalah lintasan untuk sampai ke seberang. Kalian tidak boleh berdiam diri, tapi harus maju melangkah untuk sampai ke sana,” ujar Mas Dwy. Seperti biasa, pada acara yang sama pihak Idadiyah juga menggelar demonstrasi bagi beberapa murid yang telah menyelesaikan program Idadiyah al-miftah. Hal tersebut dianggap akan menjadi salahsatu pendorong sekaligus penyemangat bagi murid-murid yang lain. Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor : N. Shalihin...