Israiliyat, Terima yang Bercahaya Campakkan yang Bernoda
Sep24

Israiliyat, Terima yang Bercahaya Campakkan yang Bernoda

Pengusikan terhadap ayat Tuhan ternyata bukan hanya terjadi pada kitab Injil. Kitab termulia sekaligus terbaik, al-Quran, juga mengalami pengusikan. Bedanya, jika Injil diusik dengan cara didistorsi (tahrif) maka al-Quran diusik dengan dongeng-dongeng israiliyat. Memang benar, Allah menjamin orisinalitas (keaslian) al-Quran, tapi hal ini tidak berlaku bagi tafsirnya. Laporan: Gus Muhammad Ilyas Malam sabtu (26/12) kemarin, semua pustakawan terlihat sibuk menyiapkan acara rutinan tiap semester Perpustakaan Sidogiri. Beberapa petugas bagian Kebersihan dan Meubelir mondari-mandir berbelanja konsumsi dan hidangan, sedangkan yang lain menyiapkan tempat acara. Tiga pustakawan stand by di ruang Resepsionis untuk melayani pembelian materi, sedangkan lainnya membantu dengan caranya masing-masing. Tidak lupa, dua petugas (Elektro, red) didatangkan untuk mengatur sound system. Ya, acara konsultan non-reguler dengan judul “Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran al-Quran” yang bertempat di lantai dasar Perpustakaan membuat suasana Perpustakaan tak seperti biasanya. Bila di hari-hari biasa Perpustakaan sudah ramai oleh kegiatan Kaffah, malam itu tak biasa. Perpustakaan semakin ramai oleh para santri yang berminat mengikuti seminar ilmiah itu. Bahkan lantai dasar penuh sesak oleh ratusan santri, hingga membuat ruang baca terbuka harus difungsikan juga sebagai tempat menampung peserta yang datang agak terakhir. Setelah sekitar 30 menit lebih menunggu, KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim, konsultan non-reguler pada kesempatan kali ini datang dan langsung menuju ke tempat acara, tanpa istirahat terlebih dahulu di Kantor Perpustakaan. Pemred Maktabati, Muhammad, ditunjuk sebagai MC acara, sedangkan hadir sebagai moderator, Ust. Afifuddin, Kepala Kuliyah Syariah sekaligus Konsultan Reguler Alhi Sejarah. Pada awal pembicaraan, Gus Baha, biasa beliau dipanggil, mengutip sebuah petuah Arab yang populer di kalangan pesantren yang artinya, “Ambil yang bersih buang yang kotor.”  Hal ini beliau pesankan pada segenap yang hadir jika berkeinginan mempelajari kisah israiliyat yang tersebar di berbagai kitab tafsir. “Sebab bisa saja yang dikatakan mereka adalah gubahan atau perubahan yang mereka lakukan, bahkan sebagian diniatkan oleh mereka untuk menjatuhkan derajat para nabi, utamanya nabi-nabi yang tidak dari kalangan mereka (bani israil),” tambahnya. Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3iA Narukan Kragan Rembang Jateng ini selanjutnya membeberkan beberapa kisah israiliyat yang harus kita tolak. Salah satunya adalah kisah sakit Nabi Ayub. Sedangkan beberapa yang harus kita terima adalah seperti kesaksian Rahib Bahirah, kesaksian Siti Khadijah, dialog Hiraql dengan Abu Sufyan. Ada banyak kisah Israiliyyat yang keliru dan menyebabkan menjadi semacam pengganggu terhadap aqidah Umat Islam. Pertama, Dalam Riwayat Israiliyyat terdapat unsur-unsur penafikkan terhadap sifat maksum para Nabiyullah dan Rasulullah. Kedua, Riwayat-Riwayat Israiliyyat berpotensi menyimpangkan kepercayaan umat Islam terhadap sebagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in karena ada banyak dongeng Israiliyyat dinisbatkan kepada kalangan salafus salih seperti; Abu Hurairah Ra. Ketiga, Berpotensi memalingkan manusia dari tujuan al-Quran yang sesungguhnya. “Inilah akibat Riwayat Israiliyyat terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap...

Selengkapnya
Bedah Buku: Memahami Kesalahan Pemikiran Wahabi
Sep20

Bedah Buku: Memahami Kesalahan Pemikiran Wahabi

Bedah buku ‘Wahabi Gagal Paham 2‘ yang diselenggarakan oleh Sidogiri Penerbit pada Senin (07/01) lalu, menghadirkan penulisnya sebagai narasumber, Ust. Idrus Ramli. Acara yang dilaksanakan di Sidogiri Excelent Corporation (SEC) dimoderatori oleh Ust. Alil Wafa, Pemred Sidogiri Media. Ust. Idrus menjelaskan bahwa kelompok Salafi-Wahabi tidak paham. Penyebab mereka tidak paham, adalah adanya salah satu doktrin Wahabi yang tidak memperbolehkan membaca tulisan ulama di luar Wahabi. “Oleh karena itu, mereka tidak paham, karena mereka tidak mau memahami,” jelas Ust. Idrus diiringi gelak tawa para audiens. Selain itu, menurut beliau, yang menjadi penyebab kaum Salafi-Wahabi gagal paham karena mereka tidak mau memahami ilmu kalam yang merupakan salah satu ilmu mempertahankan akidah dengan berlandaskan al-Quran dan Hadis. “Mereka bukan hanya tidak mau paham pada ilmu kalam, bahkan mereka sampai mengharamkan belajar ilmu kalam. Andaikan mereka mau paham dan mempelajarai ilmu kalam pastinya mereka paham pada apa yang mereka tidak paham saat ini,” kata sosok yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar Annajah Center Sidogiri (ACS). ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Ust. Muntahal Hadi: Saat Ini bukan Toleransi tapi Partisipasi
Sep16

Ust. Muntahal Hadi: Saat Ini bukan Toleransi tapi Partisipasi

  Pengurus Annajah Center Sidogiri (ACS) menggelar acara bertajuk Friday Forum, Jumat (14/10) di halaman Mabna Al-Ghazali. Acara yang diikuti oleh anggota ACS serta anggota Annajah Tsanawiyah tersebut menghadirkan Ust. Mutahal Hadi, Direktur ACS periode 1437-1438 H, dan Ust. Achyat Ahmad, Direktur ACS saat ini, sebagai musahih. “Pemikiran liberal itu rancu, di sisi lain mereka menyebarkan pluralisme, tapi di sisi lain mereka memaksa orang untuk mempercayai keyakinannya,” kata Ust. Muntahal. Dalam acara yang mengangkat tema Menelisik Akar dan Bias Pluralisme Agama di Indonesia tersebut, Ust. Muntahal membeberkan secara gamblang kerancuan dan kesalahan fatal pemikiran kaum liberal. Banyak pemikiran yang perlu diluruskan, bahkan disalahkan karena bertentangan dengan ketentuan aslinya. “Pada saat ini sebenarnya bukan toleransi beragama, tapi partisipasi agama. Mereka (aktivis Islam Liberal, red) memeragakan pluralisme agama dengan kedok toleransi agama yang kebablasan. Sebagaimana yang banyak kita lihat para pemuda Islam masuk ke dalam gereja juga ikut beribadah bahkan ikut pembaptisan. Kalau urusan menjaga gereja itu masih dipermasalahkan, tapi ini (ikut beribadah dan pembaptisan) keterlaluan.” Katanya geram. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Friday Forum: Wadah Penerapan Ilmu yang Diperoleh Selama Satu Semester
Sep15

Friday Forum: Wadah Penerapan Ilmu yang Diperoleh Selama Satu Semester

Kali pertama mengadakan talkshow bernama “Friday Forum”, Kamis (13/09) di lantai dasar Mabna al-Ghazali, Pengurus Annajah Center Sidogiri (ACS) menilai acara tersebut sukses. Meskipun ada beberapa keluhan dari sebagian panitia, namun hal itu terbilang wajar, mengingat acara tersebut masih perdana. Agar persiapan yang dilakukan para peserta talkshow dari masing-masing semester, baik I, III, dan anggota Litbang (penelitian dan pengembangan) semakin matang, beberapa hari sebelumnya, pihak ACS menyebarkan selebaran berisi beberapa poin yang akan dibahas pada acara tersebut. “Sebenarnya, kegiatan talkshow ini sudah direncanakan mulai tahun kemarin, akan tetapi bisa terealisasi sekarang. Sebab, pada tahun kemarin masih ada bebera hal yang menjadi kendala, seperti konsep acara yang kurang matang dan lain sebagainya. Kemudian, Rizqon (Ketua Litbang) mengusulkan, agar tahun ini kegiatan talkshow tersebut direalisasikan. Akhirnya, kami berdua membuat konsep dengan matang dan kemudian diserahkan ke Ustaz Achyat sebagai Direktur ACS. Beliau pun menyetujui dan akhirnya talkshow ini sekarang terealisasi,” ujar Ustaz M. Zaki Ghufron, Wakil II Direktur ACS. Dibawakan dengan tema “Menelisik Akar dan Bias Pluralisme Agama di Indonesia”, acara tersebut diharapkan menjadi salah satu simbol kesuksesan instansi ACS, serta menjadi wadah penerapan ilmu yang telah didapatkan selama satu semester bagi semua anggota. === Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor : N. Shalihin...

Selengkapnya
Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting
Sep15

Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting

Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri pada tanggal 26 Muharram 1433/21 Desember 2011 meresmikan badan penghimpun dana maslahah abadi yang diberi nama DIM (Dana Investasi Maslahah) Sidogiri. Badan ini bertugas untuk menghimpun dana dari para investor untuk digunakan pada kemaslahatan Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Dana yang terkumpul tersebut kemudian dikelola oleh pengurus pesantren dan hasilnya digunakan pada kemaslahatan di atas. Sehingga berapa pun nominal yang disumbambangkan, dana tersebut tetap abadi dan terus meningkat. Badan ini dibentuk sebagai bentuk konsistensi Sidogiri untuk terus mengembangakan sistem pendidikan dan melebarkan sayap dakwahnya ke berbagai tempat di nusantara. “Pondok Pesantren Sidogiri ini semakin lama ingin mengembangkan sayap dakwahnya dengan mengirimkan dai ke mana-mana. Dan dai itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi kita cari dana dari masyarakat agar dana yang sedikit itu bisa  menjadi besar dengan sendirinya. Jadi minta sekali, tapi bisa berhasil berkali-kali. Dengan artian, dana itu akan dibuat usaha sekiranya tidak minta setiap tahun,” tutur Mas d. Nawawy Sadoellah, Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, ketika ditanyakan latar belakang dibentuknya DIM Sidogiri. Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya objek dakwah yang saat ini masih belum tersentuh. “Kita kan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting,” ungkapnya. Beliau juga menjelaskan bahwa alasan dari minimnya guru-guru atau tenaga dai yang mau menggarap objek dakwah tersebut adalah sebab minimnya kemampuan finansial. Jadi dengan adanya DIM Sidogiri ini pengurus nantinya mengupayakan untuk membiayai kebutuhan hidup guru-guru atau dai yang dikirim. Sebab dari tahun ke tahun permintaan guru tugas kian meningkat. Dan secara otomatis pula biayanya juga semakin besar. Beliau juga menggugah alumni Sidogiri untuk meneruskan perjuangan dakwah tersebut. “Karena intinya Sidogiri itu ya di perjuangan. Keberhasilan santri menurut dawuhnya KH. Cholil Nawawie itu adalah yang mempunyai kemauan untuk mengajar. Jadi, santri sukses itu bukan hanya yang kaya,” tutur beliau. Beliau juga berpesan kepada santri menjelang kelulusan ini, “Semangat belajarnya harus tetap tinggi. Dan yang penting kejujurannya. Santri sekarang itu masih senang lulus daripada jujur. Padahal kesuksesan yang benar itu menurut saya adalah santri yang jujur meskipun akibatnya dia tidak lulus. Dan lulus-tidak lulus itu cuma efek atau bonus. Yang paling gagal adalah yang senang lulus biar pun curang, itu santri yang gagal,” ungkapnya...

Selengkapnya
Ikuti Perkembangan, Pengurus Bekali Desainer Sidogiri Pelatihan Graphic Design
Sep12

Ikuti Perkembangan, Pengurus Bekali Desainer Sidogiri Pelatihan Graphic Design

Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri sukses menyelenggarakan rangkaian pelatihan Graphic Design bersama seluruh desainer Sidogiri, Rabu (12/10). Pelatihan yang bertempat di Lab. Komputer SEC (Sidogiri Exelent Center) tersebut menghadirkan Nur Hadi Ismail, Ketua Umum Muslim Designer Community (MDC), dari kota Solo Jawa Tengah. Menurut keterangan Abd. Aziz, Panitia Acara, kegiatan rutinan ini bertujuan meningkatkan kualitas desainer yang ada di Sidogiri. “Selain untuk meningkatkan kualitas dari desainer Santri Sidogiri, kegiatan ini merupakan cara pengurus untuk memotivasi santri lebih semangat dalam mengembangkan bakatnya dalam dunia desain.” Ia melanjutkan bahwa materi yang disajikan dalam pelatihan ini menyangkut masalah tipografi, kode etik, serta kerapian. Menurutnya semua desainer yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri harus sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh pengurus. “Di Sidogiri ada sekitar 30 desainer tingkat pemula. Dan semua desain harus sesuai standar yang sudah ada,” terang santri yang juga menjabat sebagai desainer majalah Sidogiri Media. Salahuddin, salah satu desainer mading, mengaku bersyukur dengan adanya pelatihan ini. Menurutnya pelatihan semacam ini membuat para desainer lebih memiliki wawasan seputar desain. “Selama ini kita hanya bisa memperhatikan dan meniru bagaimana desain bagus yang ada di luar dengan melihat dari internet. Namun dengan adanya pelatihan, kita bisa belajar bagaimana membuat desain yang bagus melalui pakarnya langsung,” akunya. ====== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya