Orientasi Insan Pers: Mengulas Sejarah Dan Tantangan Media Sidogiri
Sep11

Orientasi Insan Pers: Mengulas Sejarah Dan Tantangan Media Sidogiri

                                          “Jangan sampai Khidmah kita itu kayaknya membantu tapi sebenarnya kita terjebak dengan urusan teknis yang teknis tersebut berlawanan dengan prinsip,” kata Ust. Dairobi Naji dalam acara Insan Pers yang dilaksanakan di kantor Sekretariat lantai II, Rabu (11/10), mengangkat tema “Mengulas Sejarah dan Tantangan Media Sidogiri”. Beliau, Ust. Dairobi mengatakan agar menulis terhindar keluar dari prinsip Sidogiri, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, mengenai prinsip (tradisi salaf) yang dipegang oleh para massyayihk, baik akidah, syariah ataupun ahlaq. Kedua, pintar membaca situasi sehingga tidak berpotensi menyebabkan keresahan di masyarakat. “Ketika ada khilaf (perbedaan pendapat ulama) maka pilihlah yang tidak meresahkan,” kata Ust. Dairobi, mengutip dawuh KH. Abdurrahman Syakur. “Jangan menulis sesuatu yang kayaknya cocok dengan masyarakat tapi bertentangan dengan tradisi salaf Massyayihk Sidogiri. Kita harus membela apa yang menurut ulama benar. Lebih baik majalah tidak jalan daripada tulisan menimbulkan keresahan,” lanjut pria asal Bangkalan. Dalam sesi kedua, Mas Syamsul Arifin Munawwir bercerita mengenai pertemuan awak media dalam acara ‘NU Media Ghatring’ yang dihadiri oleh awak media seluruh Indonesia. Dalam acara tersebut media Sidogiri mendapat aspirasi menjadi media terbanyak dan terbaik. “Kalau penggagas utama media Sidogiri adalah Mas d. Nawawi As. Beliau pengarah sekaligus pengawas media Sidogiri, hingga Sidogiri memiliki BPP (Badan Pers Pesantren),” cerita Mas Syamsul Arifin Munawwir. Pesatnya media Sidogiri tidak lepas dari adanya Mading (Majalah Dinding) yang ada di Sidogiri. Dengan adanya Mading tersebut muncul kader-kader penulis hebat. “Tidak mungkin orang bisa nulis jika tidak belajar, kalaupun ada jumlahnya pasti sedikit,” ungkap Mas Syamsul, penulis buku “Islam Indonesia di Mata Santri. ====== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
LPBAA: Uji Bakat Dengan “Drama Arab”
Sep07

LPBAA: Uji Bakat Dengan “Drama Arab”

Salah satu butir keputusan pengurus harian saat rapat Ramadan lalu adalah dihapusnya semua jenis lomba yang diselenggarakan di PPS, tetapi keputusan ini mengecualikan semua jenis cabang lomba yang dilombakan pada perayaan ikhtibar. Di antara sekian banyak perlombaan yang dilarang itu adalah perlombaan drama berbahasa Arab dan Inggris yang diselenggarakan oleh LPBAA, namun kenyataannya, pelarangan ini tidak membuat drama berbahasa Arab dan Inggris yang diselenggarakan Jumat (25/12) malam menjadi membosankan. Menanggapi hal ini, Dede Febiyan Hidayat, Wakil II Daerah K, berkomentar, “Walau bukan perlombaan, kami tetap ingin tampil semaksimal mungkin. Tujuannya, supaya warga Daerah Arab itu tahu, bahasa yang bagus itu seperti ini, ini lahjah (dialek bahasa, red) yang baik, ini ekspresi wajah yang baik, dst. sebab, bagaimanapun acara ini pasti ditonton oleh khalayak ramai.” Santri asal Bekasi ini menambahkan, bahwa tujuan acara ini untuk menarik minat para santri yang tinggal di Daerah non-arab, di samping sebagai motivasi untuk warga baru. “Hal yang berbeda lagi dari pertunjukan seni berbahasa Arab dan Inggris yang diselenggarakan tahun ini adalah pengurus harian melarang adanya adegan perkelahian dan pertikaian, karena tidak sesuai dengan norma santri dan kurang baik dipertontonkan di depan publik. Kabar baiknya, sebab keputusan ini kami dituntut untuk lebih kreatif dalam segi pertunjukan,” jelas Ketua Acara, Ust. Muhyidin. Guru yang berdomisili di Daerah B ini juga menyatakan dengan adanya acara semacam ini para warga Daerah non-ajami bisa menambah wawasannya dalam Berbahasa Arab. ====== Penulis: Muhammad Ilyas Editor: N. Shalihin Damiri...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”
Sep04

Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”

Rasulullah pernah bersabda, “Bukanlah bagian dari kami, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua. Begitu juga mereka yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” Dari sini dapat dipahami betapa pentingnya akhlaqul karimah. Bagaimana cara berinteraksi dengan yang lebih tua mau pun yang lebih muda. Harus mengerti posisi. Bila berhadapan dengan yang lebih muda, maka harus menampakkan rasa kasih sayang. Bila berhadapan dengan yang lebih tua maka harus menghormati. Lebih-lebih jika mereka adalah seorang guru, meskipun hanya guru fan. Sebagai penuntut ilmu, kita harus tetap teguh menjaga akhlaqul karimah. Sebab akhlaqul karimah adalah kunci utama pembuka pintu kesuksesan. Apalagi masih dihiasi dengan adanya ilmu yang memadai, pintu itu akan semakin terbuka memberikan berjuta harapan dan akan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu tanpa akhlaqul karimah akan terasa hambar. Tidak akan memberikan manfaat bagi pimiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan bisa menimbulkan hal-hal yang membahayakan. Karakter Iblis bisa dijadikan sebuah contoh. Iblis adalah mahluk yang tercipta dengan segudang ilmu. Ilmu terbang mereka bisa. Ilmu menyelam mereka kuasai. Namun sayangnya mereka tidak memiliki akhlaqul karimah. Mereka selalu sombong, congkak, dan banyak membangkang terhadap perintah Allah. Sehingga tidak mungkin bisa dekat kepada Allah Swt. Dan akhir kehidupannya tidak akan membahagiakan. Beda halnya dengan malaikat. Meski ilmu mereka tidak banyak. Mereka lebih mengutamakan akhlaqul karimah. Tidak terlalu banyak bertanya pada apa yang Allah Swt perintahkan. Diperintah sujud, mereka langsung bersujud. Diperintah membaca tasbih, mereka langsung bertasbih. Sehingga mereka lebih dekat dengan-Nya, serta dijadikan mahluk yang suci dan mulia. Begitu juga para santri, khususnya santri Pondok Pesantren Sidogiri. Bila  mereka senantiasa menjaga akhlaqul karimah, maka akan sangat mudah untuk bertaqorrub pada Allah. Akan lebih mudah menggapai kesuksesan. Dan memang sejak dulu, yang diunggulkan dari santri Sidogiri adalah akhlaqnya. Selain itu, saya juga berpesan pada para santri Sidogiri, agar tidak lupa untuk selalu mengirimkan fatihah pada para masyayikh yang ada di belakang masjid. Jangan sampai santri itu lupa pada akarnya. Sebab bila sampai lupa pada akarnya, akan seperti pohon tanpa akar, dia akan mati. ===== Penulis: M_Sen Sumber: Kabar...

Selengkapnya
Sekretaris II; Santri Baru 1439-1440 Mencapai Angka 1945
Sep01

Sekretaris II; Santri Baru 1439-1440 Mencapai Angka 1945

Sejak pendaftaran santri baru Gelombang I hingga Gelombang III dibuka, santri baru terus berdatangan ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk mendaftarkan diri. Jumlah pendaftar dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Menurut data yang dikeluarkan oleh Tim Penerimaan Santri Baru, hingga saat ini, jumlah santri baru mencapai angka 1945. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga pendaftaran santri ditutup. Hal itu diakui oleh Ust. Abror selaku panitia penerimaan santri baru. “Itu data hingga siang ini. Karena pendaftaran akan terus dibuka, hingga bulan Rajab nanti,” kata Ust. Abror, saat ditemui di Kantor Sekretariat. “Pendaftaran santri baru tahun ajaran 1439-1440 H dimulai pada (07/08) dan ditutup pada (01/11)  untuk tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Sedangkan untuk Idadiyah Al-Miftah & Reguler tutup pada awal Jumadast Tsaniyah 1440,” lanjut Staf Khusus Sekretaris II tersebut. Menurutnya, peningkatan jumlah santri baru pada tahun ini merupakan terbanyak selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir dan diprediksi masih terus berlanjut hingga akhir tahun. “Jumlah ini terbanyak dari jumlah santri baru sepuluh tahun terakhir.” Katanya. Salah satu faktor meningkatnya jumlah santri baru adalah adanya program akselerasi baca kitab cepat Al-Miftah lil Ulum. Hal ini sebagaimana diakui oleh Mutawakkil, wali santri asal Sukorejo Pasuruan yang berharap putranya mampu baca kitab kuning sejak dini. “Selain ingin mendapatkan barokah Sidogiri, juga berharap putra kami bisa baca kitab di usia dini dan menjadi anak yang mandiri, seperti anak kecil yang lain.”   __________________ Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Hasil Foto Lebih Maksimal dengan Praktik Langsung
Agu28

Hasil Foto Lebih Maksimal dengan Praktik Langsung

“Kegiatannya sukses, karena teman-teman redaksi media banyak yang hadir. Saya sebagai pengurus juga merasa senang, karena mereka mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias,” tutur Ahmad Sabiq Ni’am, Tata Usaha Badan Pers Pesantren (BPP), pada acara  pelatihan fotrografi, Selasa (28/08). Acara ini dimulai dengan beberapa penjelasan Ahmad Zubaidillah, Fotografer Jawa Pos Radar Bromo, terkait beberapa trik menghasilkan foto bagus. Menurutnya hasil yang baik, ditopang dengan pengambilan sudut pandang yang baik, karena hal itu sangat urgen bagi seorang fotografer. Selain itu, pria yang biasa dipanggil Kang Ube ini juga menjelaskan fungsi masing-masing tombol yang ada pada sebuah kamera. Kegiatan yang semula berlangsung di Kantor BPP ini berlanjut dengan praktik lapangan yang dipimpin langsung oleh Kang Ube. Sehari sebelumnya, yakni pada Senin (27/08), BPP sudah mengadakan pelatihan yang sama di Aula Kantor Sekretariat. Saat itu pengurus BPP menghadirkan santri Sidogiri yang dianggap sudah mumpuni dalam dunia fotografi. “Saya beruntung bisa masuk media tahun ini. Soalnya dari kemarin-kemarinnya, sebenarnya saya sangat pengen belajar fotografi, tapi nggak tahu sama siapa. Apalagi yang ngajari Kang Ube, yang memang betul-betul mumpuni dalam dunia melukis dengan cahaya,” kata Syarifuddin, salah satu peserta dari mading Matabaca. __________________ Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Perpustakaan Menjadi Prioritas Keilmuan Santri Sidogiri
Agu25

Perpustakaan Menjadi Prioritas Keilmuan Santri Sidogiri

Membaca tak lepas dari sebuah buku. Aktifitas yang bagi sebagian orang ‘membosankan’ ini kian hari kian terkikis saja. Orang-orang lebih stylis menenteng iPhone 5 dengan jeroan iOS 6-nya. Apalagi ‘wabah’ facebookholik yang membuat orang-orang lama-lama menlis status mellow plus alay. Perpustakaan kini mulai sepi dan kehilangan ruhnya. Melihat anomali magnetic ini, perpustakaan sidogiri hadir. Laporan: Isomuddin Rusydi Mulanya Perpustakaan Sidogiri terletak di jantung komlpeks pesantren sidogiri. Saat ini, Perpustakaan Sidogiri pindah lokasi di Selatan Sungai. Gedung lantai dua dengan dominasi warna putih itu tampak ramai setiap pagi, siang, sore, maupun malam. Atmosfer keilmuan begitu kental di dalamnya. Awalnya di tahun 1973 M Perpustakaan Sidogiri hanya sebuah ruang sederhana dengan satu rak koleksi. Itupun yang membaca hanya oleh guru dan beberapa santri saja. Baru setelah al-maghfurlah KH. Cholil Nawawie mewakafkan kitab-kitabnya Perpustakaan Sidogiri mengalami transformsi. Tahap demi tahap perkembangan perpustakan semakin meningkat. Manfaatnya juga mulai dirasakan bagi perkembangan santri hingga pada tahun 1425-1426 H Perpustakaan Sidogiri dijadikan program prioritas pesantren. Seiring berjalannya waktu kini perpustakaan hadir dengan ribuan koleksi baik kitab maupun buku. Bahkan pengembangan perpustakaan berbasis digital terus ditingkatkan. Halaqah, seminar, serta pealtihan-pealatihan terus digalakkan oleh pengurus. Peningkatan SDM terus dimaksimalkan. Hingga akhirnya jadilah perpustakaan sidogiri seperti sekarang yang hadir ditengah-tengah kita. Kita bisa melihat geliat keilmuan di gedung megah itu sejak pagi hingga larut malam. Beberapa santri hilir mudik dengan membawa kitab. Juga sekelompok santri terlihat mengadakan halaqah kecil-kecilan diruang-ruang. Musyawarah dan diskusi hingga program-program stingkat kuliyah Syariah rutin diadakan di Perpustakaan ini. Pengembangan jurnalistik juga diperhatikan oleh Perpustakaan yang oleh KH. Hasyim Muzadi diklaim sebagai Perpustakan dengan koleksi kitab terlengkap se-Asia Tenggara. Terbukti dengan hadirnya Mading Maktabati dan Matabaca juga jurnal Maktabatuna dengan segmentasi beragam ikut meramaikan geliat kebangkitan pers di Pondok Pesantren Sidogiri. Secara primordial, Perpustakaan Sidogiri tidak hannya memenuhi suplemen otak saja. Lebih dari itu part of soul secara tak langsung juga menjadi perhatian. Lambat laun kacamata berfikir santri akan pentingnya sebuah pengetahuan bagi hati semakin  jelas titik juntungnya. Kesadaran akan Iqra’-Nya menjadi semacam hembusan angina Firdaus ke titik paling dasar di bawah kesadaran manusia. Melihat geliat keilmuan santri semakin ‘memanas’, Perpustakaan menjadi program prioritas keempat Perpustakaan Sidogiri dengan budget anggaran hingga puluhan juta...

Selengkapnya