Materi Belum Tersedia, Peserta Tetap Antusias
Agu03

Materi Belum Tersedia, Peserta Tetap Antusias

Pengajian kitab al-Hikam karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, sejak tadi malam Jumat (21/11), mulai berjalan. Pengajian kitab yang berada di bawah koordinasi Batartama ini diasuh oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf, Pengasuh Ponpes Salafiyah, Kraton, Pasuruan. Pada pengajian yang diikuti oleh semua tingkatan Aliyah dan kelas III Tsanawiyah ini, beliau menjelaskan kalam hikmah Imam al-Haddad yang berbunyi, “Pengakuan dengan lisan saja tak cukup hingga kerja nyata menjadi buktinya.” “Qaul (ucapan) tanpa disertai fiil (perbuatan) maka hanya akan dapat muqtu dan gadhab (murka Allah).Utamakan a’mal (pekerjaan) kemudian aqwal(Ungkapan),” kata Habib Taufiq. “Bagi para nabi, wali, dan orang shaleh kenikmatan qiyamul lail (ibadah di malam hari) lebih besar daripada nikmat surga,” lanjut dengan tegas. Sayangnya, pada kesempatan perdana ini masih banyak peserta tidak memiliki materi yang dikaji. Hal ini disebabkan materi belum tersedia. Namun, ini bukan masalah bagi audien, mereka tetap antusias hadir dan mendengarkan penjelasan Habib Taufiq walau hanya berbekal buku tulis dan pena. “Tak apa (walau tanpa materi,red). Seperti sabda Nabi, duduk di majlis ilmu tanpa menulispun sudah mendapat kebaikan. Apalagi sampai menulis dan mendengarkan,” ujar Ridwan Syauqi, santri asal Banyuwangi. Sementara itu saat ditemui usai pengajian, Ust. Muhammad Mujib, Wakil II Batartama, menyatakan, “Untuk materi, sejatinya disediakan oleh Batartama, lalu diakuisi oleh pihak Kopontren. Namun memang saat ini stoknya habis.” Lebih lanjut, eks Pemred Sidogiri Media ini optimis pada pertemuan selanjutnya materi ngaji kitab sudah tersedia dan dimiliki semua peserta. ===== Penulis: Ayyas Farhat Editor  : N Shalihin...

Selengkapnya
BPP Minimalisir Redaksi yang Merangkap Jabatan
Agu01

BPP Minimalisir Redaksi yang Merangkap Jabatan

Sebagai instansi yang mengawasi semua media di Pondok Pesantren Sidogiri, Badan Pers Pesantren (BPP) terus melakukan evaluasi mengenai kinerja seluruh anggota redaksi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkankan kinerja profesional dari masing-masing anggota media. Salah satu yang menjadi bidang garapan BPP adalah memberikan standar khusus untuk tidak memiliki job ganda (satu redaksi berada di dua media). Untuk menekan hal tersebut, Pengurus memberikan kebijakan dengan mengeluarkan salah redaksi dari salahsatu di antara dua media yang ada. “Ada 24 media di Sidogiri. Setiap media memiliki delapan redaksi, masing-masing media memiliki satu pengelola. Semua redaksi tidak boleh menempati di dua media. Jika pun ada, maka dikeluarkan melalui rapat pengelola,”  kata Wakil I BPP, Ust. Muhsin Bahri. Tidak hanya itu, mengenai penerbitan BPP juga memiliki prosedur dan tim khusus. Tiga standar utama yang harus dipenuhi dalam penerbitan yakni tidak bertentangan dengan akidah Ahlussunah wal-Jamaâh, tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren Sidogiri, dan tidak rentan menimbulkan keresahan di masyarakat.  “Semua yang akan diterbitkan wajib masuk dewan pengawas dan harus sesuai prosedur yang ada di BPP,” paparnya saat rapat redaksi di kantor BPP beberapa waktu yang lalu.[] ===== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Ustad Idrus Ramli Berbagi Kiat Menulis
Jul29

Ustad Idrus Ramli Berbagi Kiat Menulis

Ustadz Idrus Ramli, Pendekar Aswaja asal Jember, Jawa Timur datang ke Pondok Pesantren Sidogiri guna mengisi kegiatan ekstrakurikuler instansi Annajah Center Sidogiri (ACS), berupa pelatihan menulis buku ilmiah, Ahad (29/07). “Menulis buku ilmiah itu ada dua. Ada kajian lapangan, ada kajian pustaka,” kata beliau sebelum menjelaskan materi yang akan disampaikan. Baca Juga: Studi Barat Terhadap Islam Sarat Fitnah Menjadi seorang penulis, menurut beliau, memiliki banyak manfaat, tulisan bisa dimanfaatkam lintas area karena bisa dibaca di manapun dan lintas generasi karena awet sampai kapanpun. “Semisal, ada orang beli buku saya, kemudian ada temannya datang kerumahnya, dan baca buku itu. Dan ketika pemilik buku itu mati, diganti anaknya, ketika dibacanya, maka dia akan mendapat ilmu lagi,” Lanjutnya. Baca Juga: Sekularisme Tantangan Terbesar Umat Islam Ada beberapa tips yang diutarakan oleh pria kelahiran Rambipuji, Jember ini. katanya, jika seorang ingin tulisannya bagus maka harus memegang kaedah seorang penulis, yakni rajin membaca. Tujuannya agar dirinya bisa membangun karakter (menjiwai gaya tulisan) dan tulisannya bisa mudah dipaham oleh pembaca. “Kita harus menyukai apa yang kita tulis, jika tidak maka sampai kapanpun tulisannya tidak akan selesai. Kuasai dulu apa yang mau kita tulis,” ujar beliau, penulis buku Akidah Ahlussunnah wal Jamaah Menjelaskan sifat 50. Baca Juga:  Dua Pilar Menjadi Editor Profesional Selain itu, menyertakan refrensi  dari apa yang ditulis menjadi bagian penting dalam penulisan karya ilmiah. Baru ketika semua refrensi sudah terkumpul ditulis secara sistematis. “Refrensi yang bagus adalah merujuk pada ulama yang pertama menjelaskan. Semakin klasik rujukannya, semakin bagus hasilnya. Standar pengarang yang diutamakan.” tegas Ustadz Idrus Romli, yang juga tergabung dalam FKM ( Forum Kyai Muda ) bentukan Nahdhatul Ulama. ===== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Fenomena Gerhana Bulan Total, Tim Falakiyah Sidogiri Lakukan Pengamatan
Jul28

Fenomena Gerhana Bulan Total, Tim Falakiyah Sidogiri Lakukan Pengamatan

Sabtu (28/07/18), Tim Falakiyah Pondok Pesantren Sidogiri tengah sibuk mempersiapkan rukyah khusuf al-qamar. Ust. Shofiyul Muhibbin, Naib II Kuliah Syariah sekaligus pembimbing Tim Falakiyah ikut hadir memantau fenomena alam yang jarang terjadi tersebut. Dalam penuturannya, gerhana bulan kali ini termasuk kategori gerhana bulan terlama sepanjang. Menurut catatan, gerhana dimulai pada pukul 01:50 Wis dan diperkirakan akan kembali normal sekitar 05.44 Wis. Untuk mempermudah pantauan dan agar anggota yang lain dapat menyaksikan secara langsung dan lebih jelas proses gerhana, hasil teropong teleskop langsung ditampilkan melalui layar proyektor. Hal ini juga bermanfaat saat menjelaskan proses gerhana menurut ilmu falak. “Jika tidak menggunakan proyektor maka anggota yang lain hanya akan menikmati gerhana secara personal,” ungkap Ust. Shofi. Selain yang bersifat insidentil, Tim Falakiyah juga mengadakan pelatihan rukyatul hilal selama dua bulan sekali, kadang dilakukan di Tanjung Kodok, Lamongan atau di area pesantren. “Kadang, jika perlu kami akan pergi ke Lamongan bersama untuk melakukan rihlah ilmiah hanya sekadar membuktikan apa yang sudah kami kaji selama ini.” Kata Ust. Shofi. Sementara itu, sekitar pukul 03.45 Wis para santri mengikuti pelaksanaan shalat gerhana rembulan di Masjid Jami’ Sidogiri. Mas. HM. Sholeh Abd. Haq bertindak sebagai khatib. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
#NgajiMaring KH. Fuad Noerhasan
Jul27

#NgajiMaring KH. Fuad Noerhasan

Santri dulu itu sebetulnya dalam mencari ilmu sangat sederhana. Hanya cukup ngaji langgaran (surau, red). Tidak seperti sekarang yang ada sekolah, jam belajar, musyawarah, gerak batin. Dulu itu, ya, ngaji di surau. Cuma, santri dulu itu kemauan mendapat barakah sangat besar. Saya masih nututi ketika Kiai Cholil mengimami di masjid. Ketika beliau mau masuk ke masjid, santri itu rebutan untuk membalik sandal Kiai Cholil. Kalau sekarang malah sebaliknya. Banyak sandal guru yang hilang, digasab. Kalau dulu, terhadap guru itu sangat takzim. Sampai-sampai dalam masalah nyapu, santri dulu itu selalu berebutan. Kalau sekarang, masih dijadwal, itu pun masih banyak yang tidak nyapu. Kalau dulu rebutan dalam menyapu, bahkan ada yang sampai menyembunyikan sapunya. Takut ada yang mendahului memakai sapu tersebut. Jadi menyapu halaman, itu dimaksudkan untuk mendapat barakah pondok. Kalau sekarang, sepertinya tidak terlalu mau pada barakah. Dulu tidak ada jadwal nyapu. Kalau sekarang, malah rebutan untuk tidak menyapu walau sudah dijadwal. Bahkan, ketika dulu mengambil air di sumur untuk mengisi bak jeding, mereka harus rela rebutan. Akhirnya mereka gantian menimba, agar sama-sama bisa mengisi air jeding. Sepuluh timba, sepuluh timba. Jadi walau pun sederhana, ngaji langgaran, tapi ketika pulang ke rumahnya bisa menjadi kiai besar. Yang banyak itu rebutan dapat barakahnya kiai. Kalau sekarang sepertinya tidak ada yang demikian. Seandainya santri sekarang seperti santri dulu, ditambah ada gerak batin dan sekolah, maka akan lebih hebat dari santri dulu. Kalahnya santri sekarang itu kurang tirakat, tidak terlalu merasakan barakah. Bahkan, santri dulu, kalau menanak nasi—dulu pancinya gantian—sisa nasi yang ada di panci itu dibersihkan sebersih-bersihnya. Jangan sampai ada sisa nasi teman termakan. “Jadi tidak hanya halal saja, tetapi halalan thayyiban…” Kalau dulu, syubhat saja tidak mau. Apalagi haram. Kalau sekarang, jangankan syubhat, haram saja dimakan. Jadi kalau dilihat dari itu, santri sekarang agaknya jauh untuk mendapat barakah. Kalau dulu masyaAllah. Walaupun ngajinya hanya Sullam Safinah di pondok, tapi ketika pulang bisa ngajar Fathul Wahhab, walau ketika di pondok tidak mengaji Fathul Wahhab. Ya, itulah namanya ilmu barakah. Bisa bertambah sendiri. Walau tidak pernah mengaji, tetapi bisa. ‘Allamallahu ‘ilma ma lam ya’lam (Allah mengajarkan ilmu yang tidak diketahui). Itu kalau ilmu barakah. Yang penting itu, ilmunya barakah. Ngaji sedikit, yang penting barakah. Ya, caranya dengan mengangungkan ilmu. Santri dulu itu sangat mengangungkan pada ilmu. Kalau muthalaah itu harus wudlu dulu, walau pun hanya megang kitab. Tapi santri dulu tidak  mau kalau ngaji tanpa punya wudlu Jadi barakah. Dulu, Ketika Sidogiri mau membuka madrasah, itu masih terjadi perdebatan. Kiai Abdul Adhim sangat tidak setuju dengan adanya madrasah. Apa yang ditakutkan oleh Kiai Abdul Adhim? Yang ditakuti kiai itu kalau ada madrasah, nanti kalau menulis lafad basmalah di papan tulis, lalu dihapus. Bagaimana sisa-sisa...

Selengkapnya
Guru Bermain-Main, Ini penegasan Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf
Jul24

Guru Bermain-Main, Ini penegasan Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf

Sabtu (08/11) Pondok Pesantren Sidogiri menyelenggrakan acara Halal bi Halal bagi semua guru ranting MMU Tsanawiyah dan Ibtidaiyah, bertempat di lantai gedung Corporation Laz Sidogiri. Acara ini menghadirkan Habib Taufiq bin Abd. Qodir As-segaf. Dalam acara tersebut ada banyak pesan yang disampaikan oleh dai asal pasuruan, salah satunya mengenai adab seorang guru terhadap murid dan masyarakatnya. Menurut beliau keberhasilan seorang murid tergantung keberhasilan gurunya, begitu sebaliknya. “Jangan sampai, jadi guru terus pingin dihormat. Umpama tanaman, pohon akan indah bila bercampur dengan pupuk, bukan sesuatu yang lain,” tegas habib putra dari Habib Abdul Kadir bin Husein Assegaf Baca Juga:Ilmu Yang Tidak Manfaat akan menjadi Malapetaka Baca Juga: Bukan Hanya Orang Goblok Masuk Neraka Dalam sambutan itu Ust. Muntahal Hadi menyinggung langsung tentang Administrasi Madrasah ranting. Beliau mengharap, madrasah ranting harus mempunyai RAPB (Rancangangan Anggaran Pengeluaran dan Belanja) hal itu guna mengetahui bahwa tahun ini dan seterusnya lebih banyak mana antara pengeluaran dan masukan. Selain itu Ust. Muntahal Hadi juga mengatakan bahwa di setiap madrasah ranting akan di adakan TPQ khususnya yang ada di wilayah Pasuruan. “Saya tidak memaksa pada madrasah ranting yang mau mengadakan pelajaran ini atau tidak namun kami disini sudah menetapkan pelajaran itu karena akan diujikan” tutur Ust. Baihaqi juri, kepala Batartama dalam sesi sambutan terakhir. Acara ditutup dengan taujihat dari Mas Amin mengingatkan pentingnya peran Madrasah Diniyah di era saat ini. ===== Penulis: Umar Hadi Ardiansyah Editor: Nuris Shalihin bin Damiri...

Selengkapnya