Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil
Asri: Pemandangan Ketika Pengurus Harian Pondok pesantren Sidogiri dan seluruh santri berkumpul dilapangan dalam acara pembacaan tahlil dan yasin untuk pahlawan bangsa. Sebelum memperingati Hari Kemerdekaan yang ditandai dengan upacara pengibaran bendera pada 17 Agustus besok, Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) biasa menggelar pembacaan yasin dan tahlil yang dihadiahkan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Tahun ini, pembacaa yasin dan tahlil dilaksanakan pada malam Kamis (16/08), di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri; antaranya adalah Mas Aminulloh Bq, Ketua I, Ustaz Saifullah Muhyiddin, Ketua II, dan Ustaz Saifulloh Naji, Sekretars Umum; kepala madrasah dari berbagai jenjang beserta beberapa staf pengajar MMU (Madrsah Miftahul Ulum). “Kegiatan ini, merupakan ucapan terimaksih kita kepada para Syuhada, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah mengorbankan segalnya; harta, nyawa, genangan darah, untuk mendapatkan Kemerdekaan Indonesia,” ujar Ustaz Saifulloh Naji dalam sambutannya. Kegiatan pembacaan tahlil ini, merupakan sebagian dari berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan untuk menyambut Kemerdekaan RI ke-73, sedangkan beberapa macam kegiatan yang lain, akan dilaksanakan keesokan harinya, seperti upacara pengibaran bendera merah putih juga berbagai macam lomba agustus-an. ===== Penulis : Ach Mustaghfiri Soffan Editor : N. Shalihin...
#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq
Tugasnya guru tugas itu untuk membantu madrasah di tempatnya bertugas. Bagaimana sekiranya dengan adanya guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan belajar mengajar bisa terlaksana dengan lancar. Tidak ada kelas yang kosong, kegiatan-kegiatan yang kosong. Dengan adanya pengiriman guru tugas inilah, kegiatan madrasah-madrasah bisa terlaksana dengan baik sesuai yang telah diprogramkan di madrasah tersebut.Kalau kegiatan madrasah sudah dilaksankan dengan baik, terus menerus secara rutin, maka nanti hasilnya akan baik. Jadi ini pada intinya. Di samping guru tugas itu harus menjadi uswah hasanah di dalam melaksanakan kegiatan dan pengamalan hukum-hukum keagamaan. Karena itu memang tugas mereka. Mengajar, mengamalkan ilmu dan memberi contoh uswah hasanah. Baca Juga: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu Baca Juga: #Ngaji Maring KH. Foad Noer Hasan Kata Wakil Ketua Umum PPS, Mas d. Nawawy Sadoellah, guru tugas itu jendela Sidogiri. Untuk mengetahui keadaan di Sidogiri, cukup melihat pada guru tugas. Guru tugas itu jadi jendela bagi mereka untuk bisa melihat, bagaimana Sidogiri. Kalau guru tugas itu akhlaknya bagus, maka Sidogirinya sudah dianggap bagus. Karena guru tugas itu jadi jendela. Guru tugas yang mengamalkan semua kebaikan-kebaikan yang didapat di pesantren, seperti memberi uswah pada murid dan masyarakat, mengamalkan ilmu agama, semacam shalat dhuha dan tahajjud. Jadi kalau dari segi itu mereka sukses, maka mereka dianggap sukses dalam menjalankan tugasan. Kalau ternyata mereka menyalahi tata tertib, tidak memberi contoh uswah hasanah, maka bisa jadi mereka tidak lulus, otomatis tidak sukses. Ada tiga mashlahah yang ingin dicapai, yaitu mashlahah kepada guru tugas, kepada tempat tugas dan kepada PPS. Guru tugas yang bertugas dengan baik, mereka bisa mengerti bahwa mereka sedang berkhidmah, membaca kekurangan diri, mengembangkan ilmunya dan di samping dia juga bisa bertambah mendapat ilmu bermasyarakat. Sedangkan bagi tempat tugasnya, madrasah di sana bisa merasakan manfaat dengan kedatangan guru tugas, juga bisa mendapat tambahan tenaga. Sebab di madrasah-madrasah di luar sana sedikit sekali tenaga pengajarnya. Dengan adanya guru tugas, kemungkinan besar kegiatan madrasah bisaterlaksana dengan baik. Dengan adanya pengiriman guru tugas ini, pondok berarti telah melatih santrinya untuk terjun secara langsung ke masyarakat. Sangat diharapkan semua guru tugas itu bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari Sidogiri dalam pengiriman guru tugas. Almarhum KH. Sirajuddin Millah Waddin pernah dawuh, bahwa PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas, red) yang loyal pada Sidogiri, dalam artian mengikuti terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan pengurus, harus lebih didahulukan dalam pemberian guru tugas. Mengapa demikian, sebab jumlah guru tugas dan jumlah pemohon lebih banyak jumlah pemohon, untuk bisa memenuhi hal tersebut, maka pengurus perlu melihat, sing gati, gatê’no. Artinya, PJGT yang loyal kepada PPS, yang benar-benar taat peraturan dalam pengambilan guru tugas, harus lebih didahulukan. Begitulah yang dipesankan oleh...
H. Abd. Qadir Mahrus, M.pd : Kurban Bukan Sekedar Ajaran
Rabu (30/11) Intansi Kuliah Syariahmelaksanakan kursus zhabihah bertempat di kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Kursus yang dikhususkan peserta dari Aliyah dan Tsanawiyah ini dimulai jam 20:30 Wis dengan diawali pemutaran Video. Panitia kursus zhabihah menghadirkan Ustdaz H. Abd. Qadir Mahrus, M. pd sebagai pemateri. Sebelum pemateri menjelaskan prihal yang bekaitan dengan zhabihah, beliau berpesan agar santri itu bisa dalam segala lini, termasuk termasuk mengeluarkan ide terlebih persoalan zhabihah, “Karena orang menjadi hebat, harus mempunyai ide-ide hebat dalam segala lini, termasuk pada persoalan Zhabihah ini”, ungkap alumni Sidogiri era 2000-an. “Oleh karena itu diadakan kursus zhabihah ini jangan sampai santri mempunyai keinginan menjadi jagal penyembelih saja, tapi juga santri harus mempunyai keinginan menjadi jagal-jagal kitab salaf,” lanjut beliau yang juga staf pengajar MMU Aliyah. kursus zhabihah berjalan dengan khidmat, para peserta antusias pada penjelesan dari pemateri. Peserta diberikesempaetelah penjelesan usai pemateri memberi pertanyaan terhadap para peserta. “Jadi santri itu harus mempunyai jadwal tersendiri ngaji ke-pesarean, kalau bisa yang istiqomah. Sidogiri itu banyak barokahnya, buktinya, saya sekarang mempunyai banyak jabatan di berbagai organisasi. Saya rasa ini barakah yang saya dapatkan karena istiqomah ke pesarean.” kata Ust. Abdul Qodir mengakhiri acara. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: Nuris Shalihin bin...
Mengenang KH. Abd. ‘Alim bin Abd. Djalil
Assalamualaikum, hari ini peringatan haul ke-13 KH. Abd. ‘Alim bin Abd. Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ke-11. Allahu yunawwiru dharihah. Mari luangkan waktu untuk membaca sirah beliau. Semoga kita bisa meneladani dan memetik hikmah. Amin. Kiai Abd Alim atau yang akrab disapa Kiai Lim, adalah putra pasangan KH. Abd Djalil bin Fadhil dan Nyai Hanifah binti Nawawie. Dari jalur ayah, nasab Kiai Lim bersambung dengan Raden Rahmat, Sunan Ampel. Sedangkan dari jalur ibu, nasab Kiai Lim sampai ke Sayyid Abu Bakar Syatho al-Dimyati, pengarang kitab I’anatuth-Tholibin. Nyai Hanifah, ibunda Kiai Lim adalah puteri sulung Kiai Nawawie bin Noerhasan yang tak lain salah satu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU. Ayah Kiai Lim syahid ditembak tentara Belanda saat Kiai Lim berusia 7 tahun. Sejak saat itu Kiai Lim diasuh Kiai Cholil, adik kandung ibunya. Sejak kecil Kiai Lim gemar tirakat dan tirakat yang biasa dijalani adalah sedikit makan dan menahan diri dari banyak bicara. Pernah, Kiai Lim berjalan sampai terbungkuk-bungkuk karena menahan sakit di perutnya. Tak ada keluh kesah terlontar bahkan kepada ibunya sendiri. Di usia muda, Kiai Lim jarang bergaul dan bermain. Beliau lebih sering menghabiskan waktu untuk ibadah. Dini hari Kiai Lim bangun salat malam. Kiai Lim terbiasa salat berjamaah sejak usia 7 tahun. Sering Kiai Lim kecil rebutan dengan santri untuk menata terompah Kiai Adzim, sang Imam. Shalat Duha juga tak pernah lepas dari rutinitasnya. Dan ketika mendengar ayat sajadah, Kiai Lim langsung melakukan sujud tilawah. Kebiasaan ini berlanjut hingga akhir hayatnya. Keseharian Kiai Lim penuh dengan nuansa spiritual keagamaan yang sempurna. Dikenal sebagai pemuda yang haus ilmu dan serius saat belajar. Rihlah ilmiah Kiai Lim dimulai dengan mengaji pada Kiai Cholil dan Kiai Hasani, pamannya. Beliau melanjutkan studi di Madrasah Miftahul Ulum Sidogiri hingga tamat Ibtidaiyah. Di sini Kiai Lim belajar pada Kiai Kholili, iparnya. Merasa tidak puas, Kiai Lim melanjutkan pendidikan ke Ponpes Sarang Rembang Jateng. Beliau berguru pada Kiai Zubair, ayah Kiai Maimoen Zubair. Saat hendak mondok ke Sarang, Kiai Lim berangkat dengan membawa sekarung beras. Konon sampai beliau boyong (berhenti mondok) beras tersebut masih tersisa. Setelah dari Sarang, beliau pindah ke Lasem, menimba ilmu pada Kiai Maksum Lasem. Tiap hari waktu beliau digunakan untuk belajar dan mengaji. Sepulang dari Sarang, Kiai Lim mendalami tauhid dan tasawuf. Beliau berguru pada Kiai Abu Fadhlin Jember. Di usia 31 tahun Kiai Lim menikah. Beliau dikaruniai 7 putera-puteri. Kepada istrinya beliau tidak pernah menyuruh mengerjakan sesuatu apapun. Jika ada yang kurang berkenan dari sikap putera-puteranya, Kiai Lim tidak langsung menegur, melainkan beliau memanggil istrinya bahwa beliau tidak setuju. Penyabar, tak pemarah dan tak suka main perintah, itu gambaran sikap Kiai Lim bagi keluarga. Keseharian Kiai Lim menjadi...
Mas Bari Sampaikan Pesan-Pesan Kiai Hasani
Bertempat di Ruang Auditorium Sekretariat, Pengurus Ubudiyah bersama stafnya melakukan koordinasi bulanan. Koordinasi ini dihadiri oleh salah satu keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Abdul Bari HS, Ahad (05/08). Dalam kesempatan tersebut, Mas Abdul Bari membacakan 10 wasiat dari Kiai Hasani bin Nawawie bin Noerhasan berkenaan dengan aktifitas yang ada di Masjid Jami’ Sidogiri. Berikut wasiat tersebut: “Lek kesusu melebu masjid, mending gak usah salat tahiyatal masjid, eman. Gak onok tumaknina’e.” (Kalau terburu-buru masuk masjid, lebih baik tidak usah salat tahiyatal masjid. Percuma, tidak ada tumakninahnya.)” Pernah suatu hari kiai melihat santri yang terburu-buru masuk masjid dan salat dengan cepat. Hal tersebut terlihat oleh Kiai Hasani. Beliau pun marah besar (duko, Jawa) melihat tingkah santri yang seperti itu. “Masjid itu baitullah, ojok sampek gawe turu.” (Masjid itu rumahnya Allah, jangan sampai dijadikan tempat tidur.)” Beliau juga sangat marah ketika ada santri atau siapa saja tidur dalam masjid. Walau pun masih ada ikhtilaf perihal hukumnya, beliau melarangnya. Jika ada santri atau tamu yang tidur di masjid, beliau langsung memukulnya. “Santri iku kok rame, onok opo dek masjid?” (Santri itu kenapa ramai, ada apa di masjid?)” Setiap dua pekan sekali di Masjid Jami’ Sidogiri ada kegiatan DKL (Dakwah Keliling). Ketika itu ceramah yang disampaikan berupa hal-hal yang lucu sehingga santri tertawa dan masjid menjadi ramai. Hal tersebut didengar oleh Kiai Hasani. Beliau menyuruh Mas Abdul Bari mengambil batu bata di sungai untuk kemudian dilemparkan ke masjid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Mas Bari langsung menghubungi Kepala Bagian Ubudiyah agar menyuruh santri tidak ramai-ramai di masjid. “Lek kate lebu masjid disekno sekel kengen, lek metu sekel kacer.” (Kalau masuk masjid harud menggunakan kaki kanan, jika keluar menggunakan kaki kiri.)” “Lek wes gak dibutonno, pateni kipas karo lampu iku. Fasilitas masjid iku milik masyarakat umum,” (Setelah menggunakan kipas dan lampu harus dimatikan. Fasilitas masjid itu milik umum.)” “Lek dungo seng jelas, ojok karepe dewe,” (jika berdoa setelah salat yang jelas, jangan ambil seenaknya saja.)” Menurut ceritanya, lumrahnya usai melakukan salat pasti ada wirid yang dibaca. Begitu juga beliau (Kiai Hasani). Beliau sangat tidak suka ketika bacaan wirid usai salat dibaca terlalu cepat. “Gak onok faedahe (tidak ada faedahnya),” dawuh Kiai Hasani. “Beduk iku ditabuh lek wes jam 12.00 pas, ojok melok jam, melok bincret ae,” (Beduk ditabuh pada jam 12.00 dan usahakan agar melihat di bincret, jangan ikut jam.)” “Salat itu kudu duwe himmah, ojok pokok salat. Salat iku ngadep pengeran, mosok sek ate dipantau terus,” (salat itu harus memiliki himmah, jangan asal salat. Salat itu menghadap tuhan, jangan minta dipantau terus.)” “Khidmah seng temenan, niatono ngawulo nang kiai, saiki atau besok,” (Dalam berkhidmah yang benar, nitkan jadi hamba, sabiqon aw lahiqon.)” “Opo’o speaker dek...
Ada 145 Redaksi dari 24 Media, Hasilkan 500 Tulisan
Perkembangan literasi di Pondok Pesantren Sidogiri kian membaik sejak mulai berkomitmen penuh dalam membudayakan literasi di lingkungan pesantren pada tahun 2000-an. Setiap tahun, Pondok Pesantren Sidogiri selalu melahirkan kader-kader andal dalam dunia tulis-menulis. Selain karena tekad pengurus, hal tersebut juga didukung oleh beragamnya media yang ada di pesantren, baik berupa media cetak, seperti: Sidogiri Media; Peduli; Tauiyah; Istinbat dan Ijtihad, maupun berbentuk majalah dinding (mading). Hingga saat ini ada sekitar 24 media dengan orientasi dan segmentasi berbeda. Dengan beragamnya media tersebut pengurus terus memotivasi santri untuk terus menulis dan memanfaatkan media yang ada. Badan Pers Pesantren (BPP) menjadi instansi yang khusus mengatur dan membimbing laju terbitan media di Sidogiri agar tetap eksis dan melahirkan tulisan profesional. Setidaknya, ada lima tahapan yang harus dilalui oleh semua media yang ada di Sidogiri agar mendapatkan surat terbit. Pertama, menyiapkan naskah yang sudah di-layout untuk diserahkan kepada dewan editor. Kedua, dewan editor memeriksa tataletak, konten serta tatabahasa tulisan dan kemudian diserahkan kembali pada redaksi yang bersangkutan. Ketiga, redaksi memperbaiki kekeliruan yang sudah ditunjukkan oleh tim editor dan kemudian menyerahkan kepada dewan pengawas BPP. Keempat, dewan pengawas mengeluarkan surat rekomendasi terbit secara tertulis. Jika telah melalui tahapan-tahapan tersebut maka media boleh dipublikasikan. “Mereka tidak dibiarkan seenaknya memublikasikan medianya di Sidogiri dan terbit dengan mudah. Semua harus melalui BPP,” kata Moh. Yasir Zuhri, Kepala BPP. Selain itu, untuk menjaring kader penulis, Pengurus BPP menyediakan media khusus pemula. Media ini fokus memuat tulisan santri yang baru masuk dalam dunia jurnalistik. Para kader tersebut dibekali pelatihan dan pengetahuan mengenai jurnalistik selama empat hari, setelah itu diminta menulis tentang apa saja di media yang sudah dipersiapkan. Bagian Tata Usaha BPP menyampaikan bahwa hingga saat ini, ada 145 redaksi dari 24 macam media, dengan 30 layoter dan 10 Pengawas. Diperkirakan tiap bulan mampu melahirkan 500 karya tulis.[] ===== Penulis: M. Afiffur Rohman Editor: N. Shalihin...