Ust Abd Hafidz: Istikamah dan Amanah Adalah Pemicunya
Mar22

Ust Abd Hafidz: Istikamah dan Amanah Adalah Pemicunya

Ketika horizon tersenyum di atas nirwana menandakan semua makhluk terpanggil untuk mengadu-tunduk di depan Tuhannya. Tanpa terkecuali. Begitu juga Ust Abd Hafidz, sang guru karismatik, membawa semangat dalam derak terompahnya. Masjid Jami’ Sidogiri menjadi pelabuhannya untuk menebar salawat bersama kawan santri. Mari kita ikuti kisahnya. Cara berjalannya penuh dengan ketawaduan, sederhana dan berwibawa. Paduan jas putih dan sarung ditambah sejadah yang diselempangkan di pundak plus bakiak adalah cara beliau berbusana. Pria dengan lima buah hati ini sudah  sudah puluhan tahun menemani santri membaca selawat ba’da maghrib di Masjid Jami’ Sidogiri. Ya, sosok itu adalah Ust Hafidz. Staf pengajar MMU Tsanawiyah itu tetap dalam keistikamahannya mengemban amanah yang dipercayakan oleh masyayikh Sidogiri. Ketika salat berjamaah maghrib selesai, santri dari tingkat Tsanawiyah berhamburan keluar. Mereka menuju ruang masing-masing untuk melaksanakan pengajian al-Quran. Untuk murid kelas 6 ibtidaiyah dan kelas 3 Tsanawiyah yang tetap berada di masjid untuk membaca salawat. Seperti biasa Ust. Hafidz memulai pembacaan salawat dengan mengirim surat al-Fatihah sebagai tawassulan kepada beginda Nabi dan para masyayikh. Selanjutnya pembacaan dimulai dengan pembacaan istighfar sebanyak 70 kali dan salawat 313 kali. Begitulah seterusnya beliau mendekatkan diri kepada-Nya. Tentang pembacaan selawat di Sidogiri ini sudah dilakukan dari masa ke masa. Hal itu dimulai sejak kepengasuhan KH. Noerhasan bin Noerkhotim. Sejak itulah pembacaan selawat dibaca secara istikamah. Menurut penuturan Ust. Hafidz sejak tahun 1978 sampai 1995 pemimpin pembacaan selawat sudah berganti sebanyak empat kali mulai dari KH. Muzakki, KH. Abu Siri, Ust. Hasan dan Ust. Hamid Bangkalan. Menurut beliau dalam pembacaan selawat ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi santri. Peraturan secara tak tertulis ini antara lain; dilarang membaca selawat secara cepat. “Jangan cepat-cepat, biasa saja,” dawuh KH. Abd Alim dalam suatu kesempatan. Selanjutnya dalam hitungan pembacaannya tidak boleh lebih ataupun kurang. Pada suatu kesempatan Ust. Hafidz ditegur oleh KH. Hasani Nawawie karena pembacaan selawatnya lebih. Larangan selanjutnya adalah dilarang bergurau, tidur, berbicara, serta membaca wirid lain. Begitulah Ust. Abd. Haifidz mengawal pembacaaan selawat di PPS dengan kesungguhan dan semangat mengemban amanah dari guru memberinya stimulus tambahan untuk merealisasikan amanah tersebut. “Jangan berhenti, karena itu dari Kiyai Hasani,” dawuh KH Abd Alim kepada Ust Abd Hafidz. Kata magis itulah yang melecut semangat Ust. Abd Hafidz untuk terus menjaga keistikamahan membaca salawat. Kita, santri, dan semuanya hanya perlu menaati apa-apa yang didawuhakan oleh beliau-beliau. Karena sejatinya hidup tak lepas dari ’peraturan-peraturan’ yang mau tidak mau harus kita taati. Begitu juga dengan pembacaan salawat. Mediator kita dengan baginda Nabi ini harus ‘disikapi’ dengan ‘khusus’ kalau kita ingin menjadi orang-orang yang ‘khusus’. Apalagi di bulan maulid ini kesempatan untuk berselawat terbuka lebar. Maka akan dikemanakan kesempatan itu. Selamat bersalawat dan selamat berlibur. ======= Reporter: Isomuddin Rusydi...

Selengkapnya
Mas Syamsul Arifin Munawwir: Media Sidogiri, Media Pesantren Terbanyak di Pelosok Negeri
Mar20

Mas Syamsul Arifin Munawwir: Media Sidogiri, Media Pesantren Terbanyak di Pelosok Negeri

“Pesatnya perkembangan media di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) ditengarai oleh banyaknya media yang turut mewarnai ruang baca publik. Munculnya berbagai media di PPS, tidak lepas dari  upaya yang dilakukan oleh Mas d. Nawawy Sadoêllah (Katib Majelis Keluarga) selaku penggagas pertama,” kata Mas Syamsul Arifin Munawwir, dalam acara Orientasi Insan Pers, yang diselenggarakan oleh Badan Pers Pesantren (BPP) di ruang Auditorium Lt. II. Dalam pernyataannya, beliau menyebutkan bahwa santri memiliki tanggung jawab besar atas persoalan dan eksistensi bangsa Indonesia. Keberadaan jurnalistik ini merupakan salah satu jawaban terhadap berbagai problematika yang sedang dihadapi umat Islam. “Dengan media yang kita miliki saat ini, kita bisa mengenalkan bagaimana sebenarnya Islam, bagaimana kita bisa menampilkan Islam yang memiliki karakter rahmatan lil-alamin,” ungkap beliau yang saat ini menjabat sebagai Ketua Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS) di depan para redaksi media PPS. Saat ini kita dituntut untuk mengambil bagian dalam peperangan persepsi yang sedang terjadi. Terus mengguritanya berbagai aliran diluar manhaj Ahlusunah wal Jamaah menjadi tugas penting bagi redaksi jurnalistik Sidogiri khususnya, dan santri Sidogiri umumnya. Media merupakan salah satu senjata yang bisa digunakan untuk membendung semua itu. “Munculnya aliran sesat selama ini dirasa telah banyak menyakiti hati dan menyinggung perasaan keagamaan dalam masyarakat. Bahkan tidak jarang telah menjadi biang keladi dan pemicu terjadinya tindakan-tindakan anarkis di kalangan umat beragama. Kita bisa menggunakan media untuk membendung gerakan mereka,” ujar beliau yang juga Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam (API). Sebelum acara berakhir, beliau memberi pesan kepada seluruh redaksi media Sidogiri agar terus berupaya untuk menulis. Tidak peduli tulisan jelek atau bagus, layak atau tidak, yang jelas santri wajib menulis, wajib berkarya dan pada intinya wajib berdakwah. “Jika engkau bukan anak raja, bukan seorang lora (putra kiai, red) maka menulislah,” ungkap Mas Syamsul Arifin Munawwir mengutip dari perkataan Imam al-Ghazali. ===== Penulis: M. Afifur Rohman Editor  : Ahmad...

Selengkapnya
Ustadz Idrus Ramli Rekam Aliran Sesat di Nusantara
Mar19

Ustadz Idrus Ramli Rekam Aliran Sesat di Nusantara

LIMA PULUH tahun dari wafatnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya masa khalifah Ustman RA, penyebaran Islam sudah sampai wilayah Nusantara. Lantaran pada waktu itu wilayah sekitar Arab, sudah sempurna ditaklukkan, maka dakwah terus dilanjutkan ke luar kawasan Arab. Enam ratus tahun kemudian, penduduk muslim Indonesia, berhasil menjadi mayoritas. Salah satu sultan di kerajaan Islam Pasai, al-Malik ash-Shalih, seorang pakar tafsir dan fikih mazhab Syafi’i, mengadakan Islamisasi besar-besaran di Aceh. Kemudian diikuti oleh kerajaan Islam lainnya. Hingga tahun 1930 M, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama, memaparkan dalam kitab Risâlatu-Ahlis-Sunnah-nya, “Mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muslimin yang bermazab Syafi’i; berakidah Asy’ari; bertarekat Syadzili; dan dalam tasawuf Imam Ghazali.” Setelah itu, bermunculan akidah-akidah menyimpang. Mulai dari Wahabi hingga Syi’ah. Bahkan, saking kreatifnya orang Jawa, mereka membuat aliran sendiri: kebatianan. Dan, aliran inilah yang terus berkembang dari masa ke masa. Tercatat, saat Sidogiri Penerbit meluncurkan buku tentang kebatinan (2009 M), aliran kebatian di Indonesia berkembang hingga dua 250 kelompok. Akan tetapi, setelah saya riset ulang di beberapa wilayah Nusantara, ternyata jauh lebih banyak dari angka yang tertera dalam buku tersebut. Baru-baru ini, di Jember, ada yang melaporkan ada kelompok baru bernama Iqra’ bi Nafsik. Kelompok ini setiap malam Jumat Legi mengadakan ritual aneh. Tepatnya pukul dua belas malam, mereka, baik pria ataupun wanita, bersama-sama menyeburkan diri ke sebuah kolam. Tidak hanya itu, bagian atas kolam ditutup dengan kain putih. Katanya, uji nyali iman. Padahal satu-satunya dzat yang pantas menguji keimanan ialah Allah SWT, bukan kita! Ditambah lagi dengan adanya gesekan pendidikan. Pasca hilangnya orde baru atau masyhur dengan sebutan reformasi, tepatnya tahun 1999 M. Saat itulah, pendidikan—yang dulunya tidak dihiraukan—memiliki perhatian khusus. Sehingga, angka santri di pesantren salaf yang ijazahnya tidak diakui negara kian merosot. Tak banyak dari pesantern salaf yang terpaksa menerima pendidikan formal, sekedar mempertahankan lambaganya. Dengan minimnya pesantren salaf, minim pula sosok yang dapat membaca kitab kuning. Sehingga, di lembaga itu sendiri, dengan mudahnya aliran sesat tersebar pesat, wabil-khusûs, pemikiran liberal. Dari itulah, kita sebagai santri di pesantren salaf, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Demi mengokohkan akidah Ahlusunnah Waljamaah. Sebab, sesuai dengan catatan sejarah, Islam bisa menandingi orang-orang kafir, jika mayoritasnya adalah Ahlusunnah Waljamaah. Jika sebaliknya, maka Islam akan kalah. Untuk itu rajinlah kalian belajar dengan niatan mengagungkan Agama Allah, nawaitu ta’alluma lii’lâi-kaliamatil-Lâh! *) Dikutip dari ceramah Ust. Muhammad Idrus Ramli di acara penutupan Annajah (25/06) dengan tema, “Revitalisasi Ideologi di Kalangan Kader Ahlusunah Waljamaah”. ==== Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Annajah Tutup Lebih Awal, Pihak Madrasah Ingin Murid Fokus Belajar
Mar18

Annajah Tutup Lebih Awal, Pihak Madrasah Ingin Murid Fokus Belajar

Sebagai acara penutupan kegiatan Annajah Tsanawiyah, Staf pelaksana kegiatan Annajah di kelas I, II, dan III bekerja sama dengan Mading Madinah mengadakan daurah ilmiah di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri pada Selasa (13/03). Acara yang mengangkat tema ‘Revitalisasi Ideologi di Kalangan Kader Ahlusunah wal Jamaah’ menghadirkan Ust. Idrus Ramli sebagai Narasumber. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara penutupan kursus kali ini dimajukan tersebab, pihak madrasah ingin murid Madrasah lebih fokus belajar. “Annajah ditutup lebih awal, karena kami ingin kalian semua fokus belajar,” terang Ust. H. Masykur Dahlan, Kepala Madrasah MMU Tsanawiyah dalam sambutannya. “Tahun depan, akan ada tim sendiri untuk visualisasi dan sebagainya. Sebagai penajaman materi di Tsanawiyah,” imbuh mantan Kepala Daerah H. Lebih lanjut, beliau menyoroti adanya kursus-kursus yang waktunya berbenturan dengan kegiatan musyawarah. Beliau melarang semua murid MMU Tsasnawiyah untuk mengikuti kursus yang kurang begitu penting bagi proses mencari ilmu. “Jangan buang yang wajib dan mengambil yang sunah,” ujar beliau. Sementara itu, Ust. Muhammad Idrus Ramli dalam penyampaiannya mengatakan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam Ahlusunah, bukan yang lain, “Kursus annajah saat ini sudah tersebar ke berbagai penjuru di Indonesia. Bahkan beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengisi kursus Annajah di Korea Selatan,” imbuhnya disambut tepuk tangan hadirin. ==== Penulis: Moh Ilyas Editor  : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
Kupas Tuntas Ayat-Ayat Pedang, Kuliah Syariah Datangkan Pakar Tafsir dari Jawa Tengah
Mar17

Kupas Tuntas Ayat-Ayat Pedang, Kuliah Syariah Datangkan Pakar Tafsir dari Jawa Tengah

Ketika berbicara tafsir dilengkapi dengan kajian sejarah, sangatlah pas jika dikaitkan dengan pembahasan ayat-ayat Qital di dalam Al Quran. Hal inilah yang disunguhkan oleh Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri pada malam Selasa (13/03) dalam Diskusi Panel Lembaga Penelitian Studi Islam. Diskusi Ilmiah yang bertempat di Aula Seketariat ini menghadirkan KH. Bahauddin Nursalim, Pakar Tafsir dari Rembang Jawa Tengah sebagai Narasumber I dan KH. Qoimuddin, Pakar Sejarah dari Jawa Timur, sebagai Narasumber II didampingi Ustadz Abd. Rokib Saki, sebagai Panelis. “Ketakuatan pada dua istilah yang selalu dibenturkan pada umat ini; Toleransi dan Radikalisme,” papar Ustadz Rokib menjelaskan fonomena aktual yang terjadi Indonesia, yang sepertinya umat Islam saat ini berada pada ambang ketakutan. bersambar gayung, dengan gaya santai dari Gus Bahak, pangilan akrab KH Bahauddin Nursalim langsung menanggapi dengan mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Kupas Tuntas Ayat-Ayat Pedang.” Kajian pun berjalan lumayan menegangkan. Namun kembali santai setelah paparan otentik dari kajian tafsir dalam makalah itu, dilengkapi dengan fakta sejarah yang dipaparkan oleh KH. Qoimuddin dengan gaya yang Humoris. Menurutnya akar terjadi peperangan ketika itu dari orang-orang Qurais yang bersikukuh pada tuhan nya yang banyak yang harus dikultuskan. Sementara Nabi Muhammad datang menyerukan Tuhan Semesta alam ini hanya lah satu yaitu Alllah. Di Kakbah dulu ada banyak Tuhan, dan orang-orang Qurais menyembanya. Bahkan ketika berkurban mereka berkurban atas nama tuhan-tuhan itu. “Ada yang berkurban atas nama Tuhan Lata, Tuhan Uzza dan Tuhan-Tuhan yang lain. Lalu darah kurban itu dilumurkan pada patung tuhan tersebut,” paparnya dengan menceritakan sejarah awal mulai datang nya Islam. Nabi Muhammad menjawab dengan logika. “Bagaimana pantas dikatakan tuhan. Jika membersihkan lumuran darah di mukanya sendiri, masih perlu diusapkan. Apalagi mau mengatur alam semesta,” cetusnya Maka murkalah Abu Jahal, melihat tuhan-tuhan dihina oleh Nabi Muhammad, yang hanya memiliki satu Tuhan. Dari sinilah Abu Jahal dengan kroni kroni terus melakukan intimidasi pada Dakwa Nabi Muhammad yang menjadi cikal bakal adanya ayat-ayat qital -setelah selama 13 tahun Rasulullah hanya fokus untuk mengesakan Allah- yang diturunkan di Madinah setelah hijrah. “Ternyata Abu Jahal itu cukup murka pada Nabi Muhammad. Padahal Tuhannya Abu Jahal itu banyak sekali, udang mengajak perang dengan Tuhannya Nabi Muhammad yang hanya satu. Masak banyak Tuhan, iri pada satu Tuhan” papar Ustadz Qoim dengan gaya humoris yang membuat anggota LPSI dan audien lainya terpingkal-pingkal.[] Penulis: Muh Kurdi Arifin Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Babak Baru Dunia Sastra Sidogiri
Mar15

Babak Baru Dunia Sastra Sidogiri

Acara peresmian Majelis Sastra Sidogiri (Masasi) oleh UKPBM (Unit Kegiatan Pengembangan Bakat dan Minat) di bawah OMIM MMU Aliyah, berlangsung lancar, meskipun bebera sanggar absen pada acara yang bertempat di selatan mabna al-Ghazali tersebut. Tercatat, tiga sanggar hadir pada acara yang berlangsung malam Jumat (09/03), yakni sanggar Iqra’, Tobung, dan Pelangi Sastra. Acara bertajuk “Malam Budaya Sidogiri” ini diisi dengan pembacaan puisi dan diskusi sastra yang diikuti oleh peserta sanggar yang hadir. Sanggar Iqra’ menjadi sanggar pemula, menampilkan pembacaan syair terjemahan al-Mu’allaqat secara berjamaah. Sanggar Tobung secara bergantian menampilkan performance-nya pada kesempatan selanjutnya. Dalam sambutannya, Abdullah Kholil, ketua OMIM, menyampaikan bahwa, “Adanya acara ini untuk menumbuhkan bibit-bibit sastrawan hebat di Sidogiri, karena jumlah sastrawan di Sidogiri semakin sedikit.” ujar santri asal Sumenep ini. Majelis Sastra Sidogiri (Masasi) adalah wadah untuk pembelajaran sastra bagi santri yang berada di bawah naungan Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) dan Ikatan Santri Sidogiri (ISS). Waktu pembelajaran majelis sastra ini, diatur oleh ketua dari masing-masing sanggar. Mulai peresmian tersebut, Masasi juga membuka pendaftaran bagi santri yang berminat belajar dan mendalami sastra. Namun dikhususkan bagi murid Tsanawiyah dan Aliyah Saja. ====== Penulis: Muhammad Ilyas Editor  : Isom...

Selengkapnya