Debat Konsulat, Lomba Paling Bergengsi Pada Acara Flak
Jan25

Debat Konsulat, Lomba Paling Bergengsi Pada Acara Flak

Sebagai lomba paling bergengsi, lomba debat konsulat sejak awal menampilkan atmosfer panas antar peserta. Walaupun lapangan becek setelah diguyur hujan sejak maghrib tadi, peserta tetap mengeluarkan penampilan terbaiknya. Pada lomba yang dikomandani oleh Ust. Zaki Ghufron ini, peserta dibuat berpikir keras ketika dihadapkan dengan dua juri yang sangat berpengalaman, Ust. Rokib Saki dan Ust. Muntahal Hadi. Babak penyisihan, lomba ini dijadikan empat sesi. Sesi pertama dan kedua berlangsung pada Malam Rabu (07/05), dengan Nasihin asal Pasuruan sebagai moderator. sedangkan keesokan harinya sesi ketiga dan keempat dihelat esok hari. Babak Final, lomba debat antar konsulat tidak lagi diletakkan di panggung utama, melainkan di tempat undangan VIP. Hal ini disebabkan terik matahari yang begitu menyengat di pentas utama. Adapun sistematika lombanya sebagai berikut; Tiap peserta diberi waktu 5 menit untuk mempresentasikan tema yang dibahas, serta 3 menit untuk sesi tanya-jawab. Menurut pantauan Reporter Sidogiri.Net, sesi tanya-jawab merupakan sesi paling seru pada lomba ini. Tercatat, beberapa kali peserta kebingungan ketika dewan juri mengajukan pertanyaan atas presentasi dan makalah yang diajukan. Lomba ini akhirnya menampilkan empat konsulat terbaik di babak final, yakni konsulat Sampang, Sumenep, Pasuruan, dan Bondowoso. ==== Penulis : Moh Ilyas Editor   : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
Lomba Jari Seribu, Ikut Meriahkan FlaK
Jan24

Lomba Jari Seribu, Ikut Meriahkan FlaK

Rabu (06/04), Pengurus melaksanakan lomba Festival Lomba Antar Konsulat dan Pesantren (FlaK dan FlaP), dimotori oleh PP-ISS (Pengurus Pusat-Ikatan Santri Sidogiri). Salah satu dari lomba yang diselenggarakan adalah lomba “Jari Seribu” yakni lomba menulis menggunakan keybord.Bertempat di lantai dasar Gedung as-Suyuthi, lomba ini diikuti oleh 19 peserta dari masing-masing konsulat. Lomba ini kebanyakan dimeriahkan oleh santri yang telah menjadi pengurus daerah dan instansi, meskipun ada sebagian peserta dari Ibtidaiyah. Yaitu konsulat Malang dan Jabodetabek. Panitia mendatangkan dua juri yang mahir dalam mengetik. Yaitu Wakil II, Ust. Mahsun anggota BPSTI Sidogiri (Badan Pengembangan Sistem Teknologi dan Informasi), dan Ust. Hasbullah tim IT LAZ-Sidogiri,. Ada dua penilaian dalam lomba “Jari Seribu”. Pertama, kecepatan dalam mengetik dan ketepatan dalam menulis. Menurut Ach. Muqoddas, Ketua Seksi lomba, bahwa pengetikan berdurasi selama dua menit. Masing-masing kesalahan mengurangi 5 poin. Dan kecepatan menulis dalam per-menitnya harus mendapatkan 250 sampai 290 karakter terhitung per-karakter bukan perkata. “Penilaiannya itu meliputi, kecepatan menulis dan permenitnya harus mendapatkan 250-290 karakter. Dan titik tekannya di karakter tulisan, bukan kata-katanya,” ujar pria asal Pasuruan ini. Sementara itu, beliau juga mengatakan, lomba ‘jari seribu’ merupakan pertama kali di Sidogiri, “selain agar santri bisa mengetik cepat, juga agar santri memiliki ghirah dalam hal tersebut,“ imbuhnya. Acara yang berlansung pada jam 11.20 ini berakhir jam 12-40 WIB dan mengantarkan Kosulat Pasuruan, Jabodetabek, Malaysia, Istemewa melaju kesemi final. ==== Penulis : Ali Ghazali Editor   : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
ISS; Flak dan Flap Kembali Digelar
Jan24

ISS; Flak dan Flap Kembali Digelar

Setelah tiga tahun vakum, Festival Lomba antar Konsulat (Flak) sukses kembali digelar sejak malam Selasa sampai Rabu (23 s/d 24/01). Acara yang diselenggarakan Ikatan Santri Sidogiri (ISS) ini diresmikan sendiri oleh Ketua ISS pusat, Ust. Muhsin Bahri pada saat malam pembukaan dengan pembacaan surah al-Fatihah sekaligus pelepasan balon udara dan pembakaran kembang api. “Semoga ini menjadi khidmah bagi kita, sehingga diridhai oleh Masyayikh Sidogiri, al-Fatihah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” teriak Ust. Muhsin Bahri, diikuti oleh para santri. Berbeda saat tiga tahun lalu, lomba kali ini lebih mewarnai di berbagai bidang, seperti sastra, pidato, dan tahsin. “ISS itu isinya bukan soal pelajaran, tapi kebanyakan terkait kreativitas, makanya seperi lomba cerdas-cermat itu ditiadakan,” ujar salah satu panitia. Tujuh lomba yang dilaksanakan pantia antara lain, lomba MC, puisi, pidato, kerajinan, tahsin, debat konsulat, dan Jari Seribu. Sedikitnya ada 3 lomba yang digelar usai pembukaan, lomba Jari Seribu bertempat di Mabna as-Suyuthi, lomba puisi bertempat di depan Daerah A, dan debat konsulat yang bertempat di area pentas utama, yakni di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri. Sementara empat perlombaan yang lain, dilaksanakan esok harinya, dimulai pada pukul 7 pagi. Tak kalah menarik, suporter dari masing-masing konsulat ikut memeriahkan lomba. Sembilan belas konsulat yang ada tidak satupun ketinggalan pada even ini. Semua antusias untuk menjadi juara umum. “Kalo kami sampai juara umum, Insya Allah kami akan mayoran bersama,” ujar salah satu suporter asal Malang. Pada saat yang sama, Pengurus ISS juga menggelar Festival Lomba Antar Pesantren (FlaP) dengan mengundang beberapa pesantren dari seluruh Jawa dan Madura. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Ul-Daul, Ikut Merayakan Malam Pembukaan FlaK dan FlaP
Jan24

Ul-Daul, Ikut Merayakan Malam Pembukaan FlaK dan FlaP

Ada yang berbeda pada malam pembukaan acara FlaK dan FlaP pada Selasa (24/01). Pembukaan acara FlaK diiringi dengan seni musik Ul-Daul. Kali ini, musik tradisional khas Madura tersebut dikonsep lebih sederhana. Hanya bermodalkan peralatan ala kadarnya, seperti tong sampah, botol-botol bekas, mampu membuat membuat para santri dan peserta FlaK dan FlaP terkesima. Kemeriahan FlaK dan FlaP berlangsung meriah dengan adanya atraksi akrobat api. Double stick dan tongkat yang disulut dengan api dimainkan santri dengan amat lihai. Salah satu pemain dalam atrakasi tersebut adalah Imam. Dia mampu melakukan atraksi semburan api dari mulutnya. “Saya sudah mahir, jadi yakin dan tidak takut melakukannya,” papar santri asal Probolinggo itu. Ahmad Zainal, pelatih Ul-Daul, mengaku sengaja melakukan latihan dengan cara sembunyi-sembunyi untuk memberikan surprise kepada para santri dan peserta FlaK dan FlaP. “Tidak lama kok latihannya, gak sampai satu bulan,” ujar santri yang juga berasal dari konsulat Probolinggo tersebut. Konsep Ul-Daul kali ini memang terkesan lebih berani dan nekat. Musik serta instrumen yang mengiringinya pun bisa dikatakan mampu untuk menyaingi drum band dan permainan musik lainnya. “Kayaknya, jika di Sidogiri ada acara semacam manten atau yang lainnya, gak usah deh nyewa-nyewa yang lain, tuh ada Ul-Daul, lebih keren dari drum band,” ujar Yusuf Sida santri dari Konsulat Istimewa. ==== Penulis: Moh Ilyas Editor  : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
Habib Idrus: Jadi Pengajar Jangan Seperti Pengajar Silat
Jan14

Habib Idrus: Jadi Pengajar Jangan Seperti Pengajar Silat

Badan Tarbiyah wa Taklim Madarasi (BATARTAMA) Pondok Pesantren Sidogiri menggelar pembinaan mengajar terhadap seluruh staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum di Kantor Sekretariat Lt. III, Rabu (10/01) yang lalu. Habib Idrus bin Muhammad al-Hasni, asal pasuruan diundang panitia untuk menjadi pemateri dalam acara tersebut. Mengawali materinya, beliau bercerita tentang generasi paling baik, yaitu generasi Rasulullah. Beliau berpandangan, bahwa generasi menjadi yang terbaik, karena mencetak generasi-generasi hebat setelahnya, yakni generasi sahabat, dan para tabiin. “Rasulullah bersabda, sebik-baik masa adalah masaku, kemudian zaman setelahnya, yakni para sahabat, dan zaman setelahnya, yakni masa tabiin. Oleh karena itu, kalau ingin menjadi guru terbaik, maka jangan luput dari manhaj nabawiyah,” jelas beliau. Mengajar ala Manhaj Nabawi sendiri adalah metode pembelajaran yang sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi. Seperti mendidik murid dengan akhlaqul karimah, dls. Menjadi seorang guru, menurut Habib Idrus, selain menjadi Khadimul Ummah, juga harus bisa ishlah lil ummah, yakni membuat reformasi bagi bangsa, agar menjadi bangsa yang baik dan menjadi teladan bagi bangsa lain. “Di dalam kelas, jadilah guru mereka. Dan di luar kelas, jadilah bapak bagi mereka. Ketika adalah salah satu dari mereka sumpek, galau atau semacamnya, rangkullah mereka,” jelas Habib Idrus. Beliau juga menekankan, bahwa seorang guru pengajar ilmu agama, tidak boleh sama dengan pengajar ilmu pencak silat. Beliau menekankan agar memberikan seluruh ilmunya kepada sang murid, agar bisa mecetak generasi gemilang setelahnya. “Jadi pengajar jangan seperti pengajar silat, yang mana mereka bisa di pastikan menyimpan jurus andalannya, agar tidak bisa dilangkahkan oleh murid-muridnya,” lanjut beliau tersenyum. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Ketua I PPS, Tekankan Senyuman Saat Mengajar
Jan12

Ketua I PPS, Tekankan Senyuman Saat Mengajar

Demi terciptanya pendidikan yang sesuai dengan keinginan pengurus. Badan Tarbiyah wa Taklim Madarasi atau yang biasa disebut Batartama, menggelar pembinaan mengajar terhadap seluruh staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum dari seluruh tingkatan, Idadiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Acara tersebut mengusung tema ‘Meneguhkan Kembali Manhaj Nabawi’. Dalam Sesi sambutan, Mas Aminulloh Bq, menekankan kearifan dalam mendidik seorang anak. Tidak sekali-kali membuat mereka takut, sehingga membuat mereka malas untuk belajar. “Dengan cara apa saja, mungkin dengan senyuman, jangan sampai masuk ke kelas, menakutkan,” ujar Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri bersemangat. Tidak hanya menjadi tenaga mengajar untuk para murid, pria yang akrab dipanggil Mas Amin tersebut, menginginkan agar guru juga memperhatikan akhlaqul karimah murid, mengingat akhlak murid saat ini berbanding jauh dengan akhlaq murid zaman dulu. “Jadi anak didik kita betul-betul diperhatikan tingkah lakunya, ataupun yang lainnya,” jelas beliau dihadapan semua guru madrasah Rabu (10/01) yang lalu. Acara yang bertempat di Kantor Sekretariat Lt. III tersebut menghadirkan Habib Idrus bin Muhammad al-Hasni, Pasuruan, sebagai pemateri. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : Isom...

Selengkapnya