KH. AD. Rohman Syakur Wafat
Jan15

KH. AD. Rohman Syakur Wafat

KH. AD. Rohman Syakur, Guru Sepuh Pondok Pesantren Sidogiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Karanganyar, Kraton, Pasuruan meninggal dunia pada Rabu (15/1/2020). Rencananya, jenazah akan dimakamkan pada pukul 14.00 WIB. Kiai Abdur Rohman Syakur meninggal selepas subuh. Semasa hidup, Pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin ini juga pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan periode 2006-2016. Setelah itu, Kiai kharismatik ini menjadi Mustasyar PCNU periode 2016-2021.      ...

Selengkapnya
Madinah Adakan Reuni
Jan12

Madinah Adakan Reuni

Malam Ahad (12/01), Redaksi Majalah Dinding Annajah Tsanawiyah (Madinah) tahun 1441 telah mengadakan reuni yang bertempat di Ruang Auditorium Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Acara dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dan saling mengenang satu sama lain. Majalah dinding Madinah merupakan salah satu media di Pondok Pesantren Sidogiri yang berada di bawah naungan Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah. Redaksi diambil dari murid-murid Tsanawiyah. Tujuan dibuatnya mading Madinah adalah agar hasil kursus Annajah Tsanawiyah bisa disampaikan melalui tulisan-tulisan di media. Kini, di usianya yang ke 19 tahun, Madinah yang dikoordinatori Ust. Hamdan Mahalli mengadakan reuni bagi santri aktif maupun alumni yang pernah menjabat sebagai redaksi Madinah. Dalam sambutannya, Ust. Ali Abdillah, Pemimpin Redaksi Madinah tahun ini menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran sejumlah alumni yang turut meramaikan acara. Selain itu beliau mengisahkan bagaimana militansinya dalam mencari berita dan data tentang sejarah Madinah ini, yang waktu itu masih menjabat sekretaris redaksi. Tercatat sudah 19 tahun Madinah berdiri dengan masa 11 tahun yang diketahui datanya. Bahkan sebelum berada di Tsanawiyah, Madinah dulu dikelola oleh Instansi TTQ. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah yang diisi dengan cerita pengalaman dari beberapa redaksi yang ditunjuk untuk bercerita. Yang ditunjuk untuk bercerita salah satunya adalah Pemred tahun sebelumnya, Ust. Muizullah yang kini aktif di organisasi NU di Kabupaten Sampang. Selain itu, juga ada Ust. Ahmad Rizqon, yang kini menjadi Sekretaris Redaksi Sidogiri Media. Perwakilan dari Detik Madinah ada Musafal Habib, menjelaskan tentang sejarah Detik Madinah yang merupakan edisi khusus akhir tahun untuk Mading Madinah. Acara dilanjutkan dengan motivasi dari Ust. Afifuddin, Koordinator Madinah tahun 1435-1437. Dalam penyampaiannya beliau menegaskan untuk selalu bersemangat dan terus berinovasi. Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa tidak semua yang dipilih di Pondok Pesantren Sidogiri itu karena ahli, tetapi keahlian itu ada bersamaan dengan pengangkatan. Acara dengan judul Silaturahmi dalam bingkai Madinah dan Detik Madinah ini ditutup dengan berfoto bersama. ____ Penulis: Musafal Habib Editor  : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Sinar Redup Sastra Sidogiri
Jan08

Sinar Redup Sastra Sidogiri

Laksana lilin dalam gelas, sastra Sidogiri mulai mati. Masasi hendak mengangkat gelas itu. Namun, sebelum terangkat, Masasi menghilang entah kemana. Masihkah api sastra bertahan? Laporan: Muhammad ibnu Romli Berbicara perihal bangkit-runtuh sastra di Sidogiri, kami menemui saksi sejarah yang masih berstatus santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri. Bin Damiri, namanya. Setelah menghirup aroma secangkir kopi di hadapannya, beliau menjelaskan, “Meninjau perkembangan, santri di sini memiliki potensi yang lebih besar ketimbang pelajar selain pesantren. Namun, kekurangnnya hanyalah sosok yang sanggup untuk mengayomi.” Sambil menunjuk ke arah saya, santri berdarah Camplong, Sampang ini melanjutkan, “Kamu ingatkan? Tahun lalu, sempat ada Masasi yang ingin menyatukan semua sanggar yang ada di Sidogiri. Namun, sehabis satu acara, majelis tersebut juga turut habis, dengan beberapa kendala.” Saya pun teringat sangat, tepat setahun lalu. Muktafi Kafi, Bangkalan mengundang seluruh pemimpin sanggar ke rumah dinas, guna menjalankan kelas sastra di Sidogiri. Setelah konsep rampung, Masasi ingin mengadakan acara perdana sekaligus louching konsepnya. Sebagai tampilan perdana, Sanggar Iqra’ menampilkan puisi berjemaah, sebagai acara pembuka. Deklarasi puisi dikuasai Sanggar Tobung. N. Shalihin Damiri, dari Sanggar Kun berencana menampilkan puisi bergenre monolok. Sayang, santri berinisial Bin ini berhalangan. Hadir sebagai sambutan, Muhammad Ibnu Salam dari Sanggar Pelangi, dengan membaca puisi sekalugus motivasi. Usai acara, Masasi tak ada kabar. Hingga tahun ini, Masasi tetap bungkam. Ditambah lagi dengan Muktafi Kafi yang sedang tugas ke Jember. Sebelum Masasi berdiri, acara yang bertajuk Ngaji Puisi yang dituanrumahi Sanggar Iqra’ menjadi batu pertama. Turut meramaikan kala itu, Sanngar Hijrah, Sanggar Tobung dan Sanggar Tajribat. Jauh sebelum itu semua, Sanggar Inspirasi yang diprakarsai Ust. Fadhoil Khalik dan kawan-kawan hadir sebagai majelis sastra perdana di Sidogiri. Upaya alumni bernama pena Afak akram ini tidak sia-sia. Beliau sempat melahirkan antologi puisi, yang diterbitkan di Balai Pustaka. Disusul dengan antologi cerpen, adikarya prajurit Sanggar Kun. Kemajuan semacam itu terbilang sangat cepat. Sastra sangat berkaitan dengan pesantren. “Kata sastra bermakna keindahan. Pencari ilmu, konon dipanggil sastri, sang pencari keindahan. Untuk membedakan pelajar salaf dengan formal, Sunan Ampel merubahnya menjadi santri,” terang d. Zawawi Imran saat mengisi Ngaji Sastra di Sidogiri, dua tahun...

Selengkapnya