Epidemi Bukan Alasan Tidak Berpuasa Tasu’a
Hari tasu’a atau 09 Muharam dalam ajaran Islam merupakan salah satu hari yang disunahkan berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seandainya datang tahun depan, niscaya kami akan berpuasa tanggal 09 Muharam.” Namun, nyatanya beliau SAW wafat sebelum datang hari yang diharapkan itu. Hadis riwayat Imam Muslim dari jalur Ibn Abbas ini menjadi dasar pensyariatan puasa tasu’a. Di kompleks Pondok Pesantren Sidogiri, para santri juga melaksanakan puasa tasu’a. Baca Juga:Nasib BMW ke-60 di Masa Pandemi “Meski tengah epidemi, santri Sidogiri tetap akan melaksanakan sunah Nabi. Salah satunya dengan berpuasa tasu’a,” ucap Nurhudarrahman (19). Selain hari tasu’a, santri Sidogiri juga akan berpuasa hari asyura, besok Sabtu, 10 Muharam 1442 H. Keutamaan puasa asyura sendiri, sebagaimana termaktub dalam hadis Riwayat Muslim dari jalur Qatadah, adalah menghapus dosa setahun yang lalu. ___________ Penulis: Muhammad IlyasEditor: Saepul Bahri bin...
Sekretaris I Lantik Operator Daerah
Malam Selasa (24/08), operator daerah (asrama, red) dilantik langsung oleh Sekretaris I Pondok Pesantren Sidogiri. Pelantikan dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Sekretariat Lt II. Hadir dalam acara tersebut Ust. M. Syamsul Huda Mahfudh (Sekretaris I Pondok Pesantren Sidogiri), Ust. Albilaluddin (Staf Sekretaris I PPS) dan Operator Daerah A sampai K yang berjumlah 70 orang. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa pengangkatan operator daerah ini dilaksanakan 2 kali. “Pengangkatan pertama dari Daerah A sampai K pada malam ini. Pengangkatan kedua akan dilaksanakan pada malam Kamis untuk daerah L sampai P dan Z,” terang beliau. Tugas operator daerah adalah menjawab atau melayani panggilan telepon dari wali santri dan tamu pesantren. Oleh sebab itu, sangat ditekankan untuk bersikap sesopan mungkin dalam menghadapi wali santri. Beliau juga menghimbau untuk menata niat dalam berkhidmah. “Apapun jabatan kita di Sidogiri harus kita niati belajar” . Beliau melanjutkan, “Berkhidmah itu pasti ada lika-likunya. Bosan itu biasa, jadi usaha perangi keinginan pribadi demi keinginan Pondok Pesantren Sidogiri. Kembalikan niat untuk mengharap rida masyayikh Sidogiri.” _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Minum Kencing
a. Deskripsi Masalah Ada orang yang ingin selamat dari sihir, meminum minuman yang dicampur dengan air kencing atau darah haid ibunya. b. Pertanyaan Bagaimana hukumnya meminum air tersebut? c. Jawaban Hukumnya halal, dengan syarat: 1) Ada pernyataan dokter terpercaya tentang manfaatnya. 2) Tidak ada barang suci yang berfungsi sebagaimana fungsi kencing/darah haid tersebut. d. Rujukan وَلاَ خِلَافَ فِي الحِلِّ اِذَا كَانَ يَخَافُ عَلى نَفْسِهِ لَوْ لَمْ يَأْكُلْ مِنْ جُوْعٍ اَوْ ضُعْفٍ عَنِ الْمَشْيِ وعَنِ الرُّكُوْبِ اوْ يَنْقَطِعُ عَنِ الرُّفْقَةِ اَوْ يَضِيْعُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَلَوْ خَافَ حُدُوْثَ مَرَضٍ مَخِيْفٍ حَبَسَهُ فَهُوَ كَخَوْفِ المَوْتِ وَاِنْ خَافَ طُوْلَ المَرَضِ فَكَذَلِكَ عَلى الرَّاجِحِ اهـ (كفاية الأخيار, 2/233). (قوله كالدم) اي وَلَحْمِ حَيَّةٍ وَبَوْلٍ وَمَعْجُوْنٍ خَمْرًا اهـ ابن شرف (قوله حرم تناوله لغير التدوي) وأَمَّا لَهُ فَيَجُوْزُ بِالشَّرْطِ السَّابِقِ وَهُوَ مَعْرِفَتُهُ او إِخْبَارُ طَبِيْبٍ عَدْلٍ بِنَفْعِهِ وَيُشْتَرَطُ أيْضًا عَدَمُ مَا يَقُوْمُ مَقَامَهُ مَمَّا يَحْصُلُ بِهِ التَّدَاوِي مِنَ الطَّاهِرَاتِ اهـ (الشرقاوي, 2/450). مَحَلُّ الخِلَافِ فَي التَّدَاوِي بِهَا بِصِرْفِهَا اِمَّا بِتِرْيَاقِ المَعْجُوْنِ بِهَا اَوْ نَحْوِهَا مِمَّا تَسْتَهْلِكُ فَيْهِ فَيَجُوْزُ التَّدَاوِي بِهِ عِنْدَ فَقْدِ مَا يَقُوْمُ مَقَامَهُ مِمَّا يَحْصُلُ بِهِ التَّداَوِي مِنَ الطَّاهِرَاتِ كَالتَّدَاوِي بِنَجِسٍ كَلَحْمِ حَيَّةٍ وَ بَوْلٍ وَلَوْ كَانَ التَّدَاوِي بِذَلِكَ لِتَعْجِيْلِ شِفَاءٍ بِشَرْطِ إِخْبَارِ طَبِيْبٍ مُسْلِمٍ عَدْلٍ اَوْ مَعْرِفَتِهِ لِلتَّدَاوِي بِهِ اهـ (مغني المحتاج,...
Menyentuh Organ Cangkokan
a. Deskripsi Masalah Pada suatu hari terjadi kecelakaan yang menyebabkan ada bagian organ tubuh seorang pengendara sepeda motor mengalami luka parah. Lalu untuk mengobatinya, dokter menambal luka penderita dengan kulit orang lain yang berlainan jenis kelamin. b. Pertanyaan Apakah menyentuh tambalan tersebut dapat membatalkan wudhu? c. Jawaban Dapat membatalkan wudhu jika yang menyentuh adalah orang yang berjenis kelamin lain. d. Rujukan وَلَوْ قُطِعَ عُضْوٌ مِنْ شَخْصٍ وَالْتَصَقَ بِآخَرَ وَحَلَّتْهُ الحَيَاةُ فَلَهُ حُكْمُ مَنِ اتَّصَلَ بِهِ لاَ اِنِ انْفَصَلَ عَنْهُ، فَلَوْ قُطِعَتْ يَدُ رَجُلٍ وَالتَصَقَتْ بِإمْرَأَةٍ وَحَلَّتْهَا الحَيَاةُ اِنْتَقَضَ وُضُوْءُ الرَّجُلِ بِلَمْسِهَا وَعَكْسُهُ اهـ (نهاية الزين,...
Batas Perempuan Disyahwati
a. Deskripsi Masalah Sebagaimana maklum, melihat perempuan yang mencapai usia yang bisa disyahwati adalah haram, dan bila disentuh dapat membatalkan wudhu. b. Pertanyaan Berapakah batasan umur seorang perempuan itu bisa disyahwati dan apabila disentuh laki-laki dapat membatalkan wudhu? c. Jawaban Menurut pendapat yang sahih, hal tersebut tidak dibatasi dengan umur, melainkan bergantung pada ‘urf (kebiasaan dan tradisi setempat). Tetapi para ulama sepakat bahwa seorang perempuan dapat membatalkan wudhu kalau sudah berumur 7 (tujuh) tahun. Sedangkan pada umur 6 (enam) tahun, ulama masih berselisih pendapat. Dan untuk usia 5 (lima) tahun jelas tidak membatalkan wudhu, kecuali jika penyentuh itu bersyahwat. d. Rujukan وَيَنْقُضُ الوُضُؤَ لَمْسُ بَشَرِ الأَجْنَبِيَّةِ مَعَ كِبَرٍ يَقِيْنًا فَلَا تَنْقُضُ صَغِيْرَةٌ لَاتُشْتَهَى لِأَنَّهُ لَيْسَتْ فِىْ مَظِنَّةِ الشَّهْوَةِ وَالمَرْجِعُ فِى المُشْتَهَاةِ وَغَيْرِهَا اِلَى العُرْفِ عَلَى الصَّحِيْحِ قَالَ الشَّيْخُ اَبُوْحَامِدٍ الَّتِي لَاتُشْتَهَى مَنْ لَهَا أَرْبَعُ سِنِيْنَ فَمَا دُوْنَهَا أَفَادَ ذَلِكَ الدميرى وَقَالَ شَيْخُنَا يُوْسُف السنبلاوينى فَاِذَا بَلَغَ الوَلَدُ سَبْعَ سِنِيْنَ فَاِنَّهُ يَنْقُضُ بِاتِّفَاقٍ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى وَاِذَا بَلَغَ خَمْسَ سِنِيْنَ فَلَا يَنْقُضُ بِاتِّفَاقٍ وَاَمَّا اذَا بَلَغَ سِتَّ سِنِيْنَ فَفِيْهِ خِلَافٌ فَقِيْلَ يَنْقُضُ وَقِيْلَ لَا وَ هَذَا يُرْجَعُ إِلَى طِبَاعِ النَّاسِ حَتَّى أَنَّ الوَلَدَ الّذِىْ بَلَغَ خَمْسَ سِنِيْنَ فَقَطْ يَنْقُضُ لِمَنْ يَشْتَهِيْهِ وَلَايَنْقُضُ لِغَيْرِهِ انتهى إهـ (مرقاة صعود التصديق,...