Ngaji Kitab
Judul Buku : Ngaji Kitab (1) Penyusun : Tim Pengajian Ikatan Alumni Santri Sidogiri Editor : Ahmad Dairobi Tata Letak : Daydia Perwajahan : DayDesign Cetakan I : Rajab 1433 H. Tebal : 300 hlm. Ukuran : 25 x 18 cm. Harga : Rp 45.000 “Buku ini merupakan himpunan dari permasalahan-permasalahan fiqhiyah yang dikaji setiap bulan oleh Tim Pengajian IASS di berbagai wilayah yang berbeda. Hasil diskusi yang melibatkan seluruh Anggota Alumni Santri Sidogiri di masing-masing wilayah ini mencakup terhadap berbagai permasalahan yang biasa ditemui oleh para alumni di wilayah masing-masing. Sehingag buku ini benar-benar merupakan jawaban yang pas bagi permasalahan masyarakat, karena diangkat dari fakta riil yang terjadi di sekitar...
Sejarah Hitam Sekte Syiah
Judul : Sejarah Hitam Sekte Syiah Penulis : Mohammad Achyat Ahmad Editor : Syamsul Arifin Abu Proofreader : Achmad Shidiq Sampul Muka : AlvaDesign Tata Letak : @_yat Tebal : 175 Hal. Ukuran : 17X12.5 cm ISBN : 978-979-26-0444-3 Cetakan : Pertama 1436 H Harga : 25.000 “Buku ini ditulis untuk berbagi pemahaman mengenai syiah dari akarnya yang paling dalam: mengenai hakikat, fakta-data, sumber-sumber asasi bagi ideologi syiah, sekaligus bagaimana umat islam ahlusunnah waljamaah mesti memahami arti persaudaraan, kasih sayang, dan cinta suci yang ditanamkan dan diajarkan sejak awal oleh rasulullah kepada para keluarga dan sahabat beliau, yang jelas berbalik seratus delapan puluh derajat dengan cinta dusta versi...
KH. Luthfi Bashori: Apapun Yang Terjadi, Jenggot Tetap Akan Saya Pelihara
Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M.A alias SAS dalam satu kesempatan pernah menyatakan, “Kalau kita ini kadang melihat anak berjenggot itu seperti kesebelasan sepakbola. Berjenggot mengurangi kecerdasan. Syarat yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak ketarik oleh jenggot. Semakin panjang semakin goblok.” Pernyataan SAS itu menuai kecaman dan kontroversi dari berbagai kalangan. Baik melalui media sosial, ceramah-ceramah, maupun diskusi ilmiah. “Yang saya tahu SAS dulu berjenggot. Berarti saat itu dia goblok dong,” ujar KH. Luthfi Bashori Alwi, salah satu pengurus MUI Malang, dalam diskusi ilmiah di Pondok Pesantren Sidogiri, Sabtu malam (7/11). Menurut hemat saya, lanjutnya, tujuan SAS itu objeknya kepada orang Wahabi. Dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa jenggot Wahabi itu semakin panjang semakin goblok. “Tapi SAS yang ngaku professor-doktor itu lho tidak bisa ngomong seperti itu. Mana kecerdasan dia. Kok mengatakan jenggot mengurangi kecerdasan secara umum. Dia tidak berani menyatakan jenggotnya orang Wahabi. Saya aja berani meski bukan ketua PBNU. Akhirnya kemakan semuanya. Setiap orang berjenggot dianggap goblok. Padahal pendiri NU, KH. Hasyim Asyari berjenggot. Kan lucu. Ini namanya kontradiksi,” ujarnya. SAS waktu kuliah di Mekkah memang dekat dengan Wahabi. Buktinya, dalam disertasinya SAS berani mengkafirkan Imam al-Ghazali. Itu kan langkahnya orang-orang Wahabi. SAS seorang Doktor jebolan Universitas Umm al-Qura Mekkah, jurusan Perbandingan Agama, otomatis dapat pesangon dari Saudi yang mayoritas warganya adalah beraliran Wahabi. Maka SAS berani menyerang ulama-ulama Sunni sekelas Imam al-Ghazali, rujukannya adalah kitab al-Qadir. Kitab sesat, mengkafirkan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghazali dan ulama-ulama Sunni lainnya. Tetapi, dalam satu kesempatan saya pernah berkujung ke kantor PBNU karena ada perlu. Saya disuruh menunggu di ruang tunggu. Ternyata pengurus NU lagi menerima tamu-tamu dari kedutaan Iran. Jadi, PBNU dalam tanda kutip, ‘berselingkuh dengan Iran (Syiah)’. “Saya mengatakan demikian karena saya berani bertanggungjawab kalau pernah melihat dengan mata kepala sendiri,” tegas pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Singosari Malang Jawa Timur itu. Pada akhirnya SAS terlibat selingkuh dengan orang-orang Iran (Syiah). Karenanya lagu lama (pro Wahabi) diganti. Umumnya, orang Wahabi anti sufi sedangkan orang Syiah anti orang Wahabi. Sekarang, SAS kontra Wahabi karena dapat dana dari Iran. Makanya dia berani mengkritik orang-orang Wahabi. Tatkala dia selingkuh dengan orang Wahabi yang diganyang adalah ulama-ulama Ahlussunah wal Jamaah. Tetapi cara SAS yang kasar menyatakan semua orang berjenggot goblok tidak mencerminkan tokoh Nasional. “Bagimana sikap saya? Alhamdulillah apapun yang terjadi jenggot tetap akan saya pelihara sampai ajal menjemput,” kata KH. Luthfi Bashori, santri ulama kharismatik, As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani.[] === Penulis : Ilham Akbar Editor : Muh Kurdi...
Pujantri Upaya Pelestarian Kebersihan Pondok Pesantren Sidogiri
Agar lebih menjaga keindahan Pondok Pesantren Sidogiri, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Sidogiri berpartisipasi memperlancar program Bersih, Aman, Sehat, Indah, dan Tertib (Basit) PPS dengan membangun Pusat Makanan Santri (Pujantri) atau yang disebut juga dengan Pusat Makanan Halâlan Thayyibah . Program ini bekerjasama dengan pemilik tanah dengan akad sewa yang telah ditentukan sebelum pembangunan dilangsungkan. Warga Sidogiri yang memiliki stand di area ini harus mengeluarkan biaya Rp. 15.000,- perhari hingga dua tahun (cicil). Setelah itu, mereka hanya dikenakan Rp. 7.500,- perharinya. “Kami (Pengurus Laz Sidogiri, red) tidak mengambil laba sepeserpun,” ungkap Ust. Masykuri Abdurrahman, Direktur URZ Laz Sidogiri. Beliau juga mengatakan, Laz Sidogiri telah menghabiskan dana sebesar 212 Juta untuk program pembangunan warung tersebut. Hal itu bertujuan untuk membantu masyarakat yang berjualan agar sejahtera. Bahkan, Laz Sidogiri sudah membina dan memberikan pelatihan terbaik pada warga yang memesan warung agar tidak menyediakan makanan yang tidak layak dikonsumsi. Pusat Makanan Halâlan Thayyibah ini meniru warung Pujasera (Pusat Jajan Sejahtera) yang ada di luar pesantren. Partisipan harus melakukan undian untuk mendapatkan stand di Pusat Makanan Halalan Thayyiba di Kantor Kepala Desa. “Agar menjadi Menjadi desa EMAS (Entrepreuner, Mandiri, Aman, dan Sejahtera),” harapnya[] === Penulis : Abdul Adzim Editor : Muh Kurdi...
PP. Miftahul ‘Ula Nganjuk Ingin Terapkan Metode Baca Kitab ala al-Miftah lil-Ulum
Sebanyak 31 orang dari Pondok Pesantren Miftahul ‘Ula, Kertosono Nganjuk, Jatim, studi banding ke PPS, Kamis (05/11). Rombongan tiba pukul 09.00 WIB dengan disambut oleh Sekretaris I PPS, Ust. Syamsul Huda. Studi banding yang digelar selama tiga jam ini dihadiri Ust. A. Qusyairi Ismail, koordinator Tarbiyah Idadiyah dan Ust. Ahmad Edy Amin S.Ei, Direktur PT. Sidogiri Mandiri Utama dari kopontren Sidogiri. “Pada kunjungan perdana ini kami ingin menimbah ilmu tentang ekonomi dan pendidikan di PPS, yang makin hari mengalami perkembangan cukup signifikan. Sejak 2 tahun lalu kami ingin ke sini, tapi tidak kesampaian,” ujar Ust. M. Thoyyib saat memaparkan tujuan studi bandingnya. Menurutnya, PPS melalui Kopontren Sidogirinya menjadi salah satu kiblat pondok pesantren di Indonesia yang mandiri. Dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah ditolak oleh PPS karena manejemen ekonominya sudah mapan. Tidak hanya itu lewat Kopontren Sidogiri, PPS bisa bersaing di kancah Nasional. “Sebenarnya cita-cita luhur dari para Masyaikh Sidogiri bukan melahirkan sarjana ekonomi. Tetapi, menciptakan santri-santri yang ibadillah as–Shalihin. Pesan Masyaikh, tak apalah menjadi seorang ekonom, tetapi ekonom yang teguh memegang prinsif ulama salaf,” papar Edy Amin S.Ei, wakil dari PPS saat menerangkan manajemen ekonomi PPS. Program Tarbiyah Idadiyah juga tak luput dari perhatian Ust. M. Thoyyib dan rombongan, mereka mengakui program yang baru berjalan 4 tahun di PPS itu telah melahirkan santri-santri usia dini yang handal dalam baca kitab kuning. “Lima tahun lalu geliat baca kitab di PPS mengalami penurunan. Melihat merosotnya minat baca kitab di pelbagai jenjang pendidikan, maka didirikanlah Tarbiyah Idadiyah atas inisiatif Majelis Keluarga PPS. Alhamdulillah, metode al-Miftah lil-Ulum yang dikemas bersahabat bagi anak usia dini. Dalam 3 tahun perjalannya sudah mewisuda sekitar 2000 anak. Untuk tahun ini, murid baru yang sudah siap untuk wisuda istimewa di bulan Rabiul Awal ada sekitar 85 anak setelah mengikuti KBM selama tiga bulan saja,” terang Ust. Qusyairi Ismail dalam presentasinya. Penuturan Ust. Qusyairi Ismail tersebut mendapat tanggapan serius dari pihak PP. Miftahul ‘Ula. “Selama ini kami mengikuti perkembangan Tarbiyah Idadiyah lewat video profil dan berita yang tersaji di website sidogiri, sidogiri.net. Insyaallah, metode ini kami akan terapkan di PP. Miftah ‘Ula melalui kursus intensif. Kalau berkenan, satu atau dua orang tenaga pengajar Tarbiyah Idadiyah berkunjung ke pondok kami untuk berbagi dengan santri-santri di sana,” katanya penuh harap. === Penulis: Ilham Akbar Editor: Musaif Ali...