MMU Tarbiyah Idadiyah: Tiada Hari Tanpa Tes Kenaikan Jilid
Nov04

MMU Tarbiyah Idadiyah: Tiada Hari Tanpa Tes Kenaikan Jilid

Madrasah Miftahul Ulum Tarbiyah Idadiyah setiap hari mengevaluasi murid-murid Tarbiyah Idadiyah dengan cara tes kenaikan jilid. Tes kenaikan jilid ini dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama, guru pembimbing mendaftarkan muridnya untuk mengikuti tes tulis terkait materi pelajaran masing-masing. Tes tulis ini murid dituntut menjawab soalan-soalan yang telah disediakan oleh Tim Lasiama (Laboratorium As’ilah Madrasah). Fase kedua, setelah lulus tes tulis, murid menjalani tes kecakapan atau disebut juga tes lisan daerah. Tes lisan daerah ini lebih ditekankan pada praktek bacaan kitab dan mengurai lafad demi lafad sesuai materi Al-Miftah Lil-Ulum. Fase ketiga, peserta yang telah lulus dari tes lisan daerah, akan menjalani tes kenaikan jilid. Tes ini juga disebut sebagai Tes Batartama. Setelah dari ketiga fase itu murid Tarbiyah Idadiyah dinyatakan lulus, maka keesokan harinya murid itu akan pindah ke jilid berikutnya dengan menempati kelas baru. Sebagaimana pernyataan dari Bambang Hariyanto, salah satu Tim Lasiama menyatakan bahwa, untuk saat ini peserta tes mencapai 150-an peserta setiap hari. “Peserta tes lisan daerah kalau dihitung setiap hari mencapai 150-an peserta. Kalau lebih dari itu, ya terpaksa kami tunda ke malam berikutnya,” terang laki-laki asal kota Probolinggo ini ketika ditanyai perihal jumlah peserta tes di kantornya, Sabtu sore (31/10). Untuk menyikapi hal tersebut, Tim Lasiyama telah menyediakan juri lisan daerah sebanyak 30 juri yang diambil dari guru pembimbing Tarbiyah Idadiyah. Adapun tempat tes lisan daerah ditempatkan di daerah (asrama) J bagian Selatan. Sedangkan pelaksanaan tes dimulai pada pukul 04.30 Wis sore sampai selesai. == Penulis : Musaif Ali Editor   : Muh. Kurdi Arifin...

Selengkapnya
Kado Untuk Istri
Nov04

Kado Untuk Istri

Judul                : Kado Untuk Istri Penulis             : Mukhtar Syafaat; Afifuddin; Badrus Soleh; Ach. Zaini Aly; & Moh. Zahri MS Editor               : Achmad Shiddiq Proofreader     : Mohammad Achyat Ahmad Tata Letak        : @_yat Sampul Muka : AlvaDesign Cetakan Pertama : Muharam 1437 H. Tebal               : 236 Halaman Harga               : 55.000           “Tak ada hal terindah yang diharapkan oleh setiap wanita selain kehadiran seorang imam shaleh yang didambakannya; kehadiran seorang suami yang akan menuntun dan membimbingnya menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah kado terindah bagi setiap wanita. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya, seorang istri membutuhkan kehadiran sosok yang bisa menguatkannya, baik secara fisik maupun mental, dan mendukungnya dengan segenap kesabaran dan kasih sayang dalam menjalani tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya. Nah, buku ini secara spesial dihadiahkan kepada setiap kaum Hawa, baik yang sudah berkeluarga maupun yang akan berkeluarga, agar ia bersiap menjadi permaisuri rumah tangga yang dipenuhi ketenteraman dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa...

Selengkapnya
Pelatihan Fotografi: Kemampuan dan Kreatifitas Memotret Adalah Kuncinya
Nov03

Pelatihan Fotografi: Kemampuan dan Kreatifitas Memotret Adalah Kuncinya

Badan Pers Pesantren (BPP) Pondok Pesantren Sidogiri adakan pelatihan fotografi pada hari Jumat (30/10). Acara yang digelar di Ruang Umum Perpustakaan ini mendatangkan Ahmad Zulkifli, freelance fotografer dari Bangil Pasuruan. Acara digelar guna meningkatkan kualitas dan wawasan fotografer media-media Pondok Pesantren Siodgiri. “Kedepan, media-media PPS dalam memberi ilustrasi diharapkan tidak melulu tergantung terhadap internet. Jadi ilustrasi kita bisa membuat sendiri melalui jepret kita. Jangan melulu mengambil foto di internet,” ungkap Kurdi Arifin, Wakil II BPP dalam sambutanya. Sementara Cak Kip panggilan akrab Ahmad Zulikifli menjelaskan panjang lebar terkait fotografi. “Orang yang memotret itu berbeda hasilnya dengan fotografer,” jelasnya, setelah sebelum menjelaskan berbagai kegunaan tombol-tombol kamera DLSR dan tehnik memotret seperti shuter speed, blur, pengaturan ISO, deal mode button, dan lain sebagainya. Menurutnya “ Kamera Itu tidak menjamin bagus dan tidaknya foto, tapi tehnik, skill dan angel yang membedakannya”, imbuh mantan redaksi Mading Maktabati  tersebut. Dalam pelatihan ini mantan redaksi Buletin Nasyith itu tidak hanya mengajarkan teori, namun para peserta juga diajarkan  praktek langsung dan hasil fotonya dikoreksi bersama. agar peserta tidak hanya memahami secara teori, “Praktek, praktek dan praktek agar kualitas foto kita terus meningkat,” jelasnya.[] === Penulis : Abrori Ahmadi Editor   : Muh. Kurdi...

Selengkapnya
Ust. Ahmad Dayroby : Diperlukan Ekstra Hati-Hati  untuk Mengambil Data di Internet
Nov02

Ust. Ahmad Dayroby : Diperlukan Ekstra Hati-Hati untuk Mengambil Data di Internet

Untuk kesekian kalinya Badan Pers Pesantren (BPP) Pondok Pesantren Sidogiri mengadakan pelatihan menulis lanjutan bagi pengelola media-media di Pondok Pesantren Sidogiri Kamis malam (21/10) dengan tema “Pencarian Data di Internet”. Acara yang bertempat di Ruang Auditorium, panitia mendatangkan Ust. Ahmad Darobi sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, Redaktur Senior Sidogiri Media tersebut mengenengahkan beberapa hal terkait dengan internet. Menurutnya, secara garis besar ada dua hal yang bisa diadapatkan dengan adanya internet yaitu potensi dan bahaya. Dua hal tersbut sama-sama mempunyai tantangan tersendiri. Potensi yang didapatkan dari  internet tentu saja kemudahan dan kepraktisaannya. Namun, menurutnya justru kemudahan dan kepraktisannya dapat mematikan kreativitas. “Dalam suatu penelitian di Eropa, manusia masa lalu menggunakan 90% otaknya. Di masa kini, manusia menggunakan 50% otaknya,” terangnya. “Mudah, praktis, dan global adalah salah satu kemudahannya,” lanjut santri asal Bangkalan, Madura tersebut. Di samping potensi yang didapat, internet juga memunculkan bahaya. “Karena sesuatu yang besar kemudahannya, juga besar bahayanya,” tuturnya. Ust. Dairobi beralasan bahwa bahaya yang ditimbulkan lebih besar karena masyarakat saat kini cenderung menggunakan internet hanya untuk hiburan. Karenanya, bagi yang tidak mempunyai bekal yang mumpuni orang yang berselancar di internet cenderung “tersesat”. Pak Dai, begitulah beliau akrab dipanggil, menamsilkan seorang yang mencari data di internet, lebih-lebih data yang ada kaitannya dengan akidah dan hal-hal yang bersifat prinsipil, sebagai hâtibu al-lail, orang yang mencari kayu bakar di waktu malam. Seorang yang mencari kayu bakar di waktu malam tidak bisa membekan kayu dengan batu. Maka dari itu, Alumni PPS yang berdomisili di Jember itu menganjurkan untuk tidak terlalu bergantung pada internet dalam soal pencarian data. “Kita lihat dulu kontennya dan lihat dengan ziyâdatu al-ikhtiath, (rasa kehati-hatian. red).” Sebagai bentuk kehati-hatian, aktivis muda NU tersebut memberi kiat-kiat yang bisa dibuat pegangan bagi santri. Pertama, bekal ilmu yang mumpuni. Karena data yang berseliweran di internet sangat banyak dan abu-abu, maka diperlukan ilmu untuk memilah data yang benar dan data yang salah. Dalam hal ini perlu ekstra hati-hati karena, “Orang di internet sangat mudah melakukan pemalusuan,” tegasnya. Kedua, merujuk pada website yang bonafide. “Webiste yang besar dan terpercaya cenderung hati-hati dalam memposting data-datanya ke websitenya.” Meskipun begitu, menurut beliau tidak menutup kemungkinan website yang terpercaya tersebut terselip beberapa kepentingan. Jadi, kehati-hatian tetap harus diutamakan. Ketiga, membuat perbandingan. Yakni, tidak hanya merujuk pada satu sumber saja melainkan merujuk pada sumber-sumber lain yang juga terpercaya. Keempat, bentuk kehatia-hatian juga harus diterapkan pada berita-berita sensaional dan cenderung tidak masuk akal. Kelima, data yang sudah didapat perlu pengecekan kembali pada sumber-sumber yang akurat semisal referensi primer dalam fikih jika data yang didapat ditengarai ada kelainan dan kepentingan secara pemikiran. Secara garis besar rumusan yang diberikan dalam pelatihan tersebut mencakup tiga hal, mengambil data di internet kemudian...

Selengkapnya
Kado Untuk Suami
Nov02

Kado Untuk Suami

Judul                : Kado Untuk Suami Penulis             : Mukhtar Syafaat; Afifuddin; Badrus Soleh; Ach. Zaini Aly; & Moh. Zahri MS Editor               : Achmad Shiddiq Proofreader     : Mohammad Achyat Ahmad Tata Letak        : @_yat Sampul Muka   : AlvaDesign Cetakan Pertama : Dzul Hijah 1436 H. Tebal               : 212 Halaman Harga               : 55.000       “Tak ada hal terindah yang diharapkan oleh setiap lelaki selain kehadiran bidadari dunia yang didambakannya; kehadiran seorang istri salehah yang menjadi tempatnya berlabuh, berteduh dan beristirahat selepas memeras peluh. Inilah kado terindah bagi setiap suami. Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga dan nahkoda keluarga, seorang suami membutuhkan kehadiran sosok penyeimbang; penyempurna separuh imannya, yang tak lain adalah belahan hati dan jiwanya. Nah, buku ini secara spesial dihadiahkan kepada setiap kaum lelaki, baik yang sudah berkeluarga maupun yang akan berkeluarga, agar ia bersiap segera menjadi nahkoda rumah tangga yang dipenuhi ketenteraman dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa...

Selengkapnya