Membaca Basmalah dengan Terjemah
Deskripsi masalah Dalam setiap melakukan suatu kebaikan, semisal membasuh tangan sebelum wudu, makan dan membaca al-Qur’an, disunatkan membaca basmalah. Hanya saja ada sebagian orang yang mengganti pembacaan basmalah tersebut dengan menggunakan terjemahnya (bahasa Indonesia). Pertanyaan Apakah membaca basmalah dengan menggunakan terjemahnya tetap mendapatkan kesunnahan? Jawaban Tidak. Karena kesunnahan membaca basmalah hanya bisa diperoleh dengan bacaan yang sudah ditentukan oleh syariat, yakni: bismillâhir-rahmânir-rahîm. Rujukan وَاَقَّلُ التَّسْمِيَّةِ اَنْ يَقُوْلَ بِسْمِ اللهِ وَالْاَفْضَلُ اَنْ يُكَمِّلَ التَّسْمِيَةَ فَيَقُوْلُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، وَلَا تَحْصُلُ سُنَّةُ التَّسْمِيَةِ اِلَّا بِلَفْظِ بِسْمِ اللهِ أَوْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. فَلَوْ أَتَى بِذِكْرٍ غَيْرَهَا فَإِنَّهُ لَايَكُوْنُ أَتِيًا بِالسُّنَّةِ لِاَنَّ الشَّارِعَ قَدْ طَلَبَ مِنْهُ التَّسْمِيَةَ بِخُصُوْصِهَا. (الفقه على مذاهب الأربعة، 1/67). هَلْ يَقُوْمُ مَقَامَ التَّسْمِيَةِ فِي الْوُضُوءِ الْحَمْدُ للهِ أَوْ ذِكْرُاللهِ كَمَا فِى بَدَاءَةِ الْأُمُوْرِ فَأَجَابَ الرَّمْلِىُّ بِالْمَنْعِ لِأَنَّ الْبَدَاءَةَ وَرَدَ فِيْهَا طَلَبُ الْبَدَاءَةِ بِالْبَسْمَلَةِ وَبِالْحَمْدَلَةِ وَبِذِكْرِاللهِ. (موهبة ذى...
Habib Muhammad bin Anis Syahab: Tekankan Pentingnya Mengikuti Tindak Langkah Nabi dalam Berdakwah
Sejak malam Sabtu (03/09) kemarin, seluruh calon Tugas Mengajar Tugas Belajar (TM-TB) 1436-1437 H lulusan tingkat Tsanawiyah, mengikuti serangkaian kursus pembekalan sebelum diberangkatkan pada tanggal 14 Syawal mendatang. Kursus yang dilaksanakan di Kantor Sekretariat PPS Lt. III tersebut diadakan selama sepuluh hari (03 s/d 12/09) dengan sepuluh materi berbeda, dimulai setiap pukul 21.00 Wis hingga selesai dan diisi oleh para pakar di bidangnya. Malam Selasa (06/09) kemarin, Habib Muhammad bin Anis Syahab, Lawang Malang, mengisi kursus dengan materi Misi Dakwah Islam. Beliau banyak menjelaskan perihal pentingnya mengikuti tindak langkah Nabi Muhammad dalam kesuksesan berdakwah. Beliau juga menekankan akhlakul karimah sebagai pegangan penting dalam berdakwah. “Ilmu saja masih kurang. Harus pakai akhlak. Kita lihat bagaimana Nabi Muhammad berdakwah.” Terang beliau penuh semangat. Menurut Habib, ulama salaf banyak sukses dalam berdakwah karena mereka berusaha mengikuti tindak langkah Nabi Muhammad. Habib menceritakan, dalam salah satu penerbangan, teman beliau dilirik oleh salah seorang pramugari non-Muslim dan terus diikuti hingga ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, teman Habib itu langsung diminta mengislamkan pramugari tersebut. “Beginilah kalau orang sudah mengikuti tindak langkah Nabi Muhammad dengan total. Tak perlu susah payah berdakwah. Hanya melihat wajahnya, orang langsung merasa didakwahi,” demikian Habib menjelaskan arti dari ceritanya tersebut. “Perbanyak mengikuti sunnah Nabi, insyaAllah omongan dan tindakanmu akan memiliki atsar (pengaruh, red),” tambahnya. Sebab menurut Habib, sepandai-pandainya orang, jika tidak ittiba’ pada Nabi, maka kepintarannya masih dinilai kurang. Untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad, terang Habib, kita tidak perlu melihat pada ibadah-ibadah yang terlalu sulit. Habib mencontohkan, jika ingin ittiba’ pada cara shalat Nabi, maka sangat sulit kita bisa sama persis. Karena hal itulah, Habib lebih menekankan pada ittiba’ yang mudah-mudah saja, seperti berdoa masuk-keluar WC, masuk-keluar masjid dan cara tidur ala Nabi. Dengan ikut pada sunnah-sunnah Nabi tersebut, orang akan dengan mudah ikut pada apa yang kita ucapkan dan kita perbuat. Terakhir, beliau berpesan agar para peserta kursus tidak merasa belum pantas untuk berdakwah. Sebab siapa lagi yang meneruskan tindak langkah dan akhlak Nabi selain para santri. Beliau juga berharap agar para santri memperbanyak mengikuti sunnah Nabi, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh barakah ini. —- Penulis : N. Shalihin Damiri Editor : Muh Kurdi...
KH. Fuad Noerhasan: Ilmu Barakah dengan Takdim pada Ilmu
Santri dulu sangat sederhana dalam mencari ilmu. Hanya cukup ngaji langgaran (Surau, red). Tidak seperti sekarang, ada yang sekolah, jam belajar dan musyawarah. Hanya saja, santri dulu kemauan mendapat barakahnya sangat besar. Saya masih nututi ketika Kiai Cholil (KH. Cholil Nawawie, red.) mengimami di masjid, ketika beliau mau masuk ke masjid, santri rebutan untuk membalik sandal beliau. Dulu, terhadap guru sangat takdim, sampai-sampai dalam masalah nyapu, santri dulu selalu rebutan. Bahkan ada yang sampai menyembunyikan sapunya. Takut ada yang mendahului. Seandainya santri sekarang seperti santri dulu, ditambah ada gerak batin dan sekolah, maka akan lebih hebat dari santri dulu. Santri sekarang itu kurang tirakat, tidak terlalu merasakan barakah. Dulu, syubhat saja tidak mau, apalagi haram. Kalau sekarang, jangankan syubhat, haram saja dimakan. Walaupun ngajinya hanya Sullam Safînah di pondok, tapi ketika pulang bisa ngajar Fathul-Wahhâb. Salah satu caranya dengan takdim pada ilmu. Santri dulu itu sangat mengagungkan ilmu. Kalau muthalaah harus wudlu dulu, walau hanya untuk pegang kitab. Mereka tidak mau ngaji tanpa punya wudlu. Dulu, ketika Sidogiri mau membuka madrasah, masih terjadi perdebatan. Kiai Abdul Adzim sangat tidak setuju dengan madrasah. Yang ditakuti beliau adalah, nanti kalau menulis lafadz basmalah di papan tulis, lalu dihapus, bagaimana remah-remah kapur tulis yang berjatuhan itu? Takut kena injak. Hawatir remah-remah kapur itu bekas menulis lafadz basmalah. Beliau, bahkan sampai keliling ke madrasah, sambil membawa kardus. Kalau ada kertas bertulis Arab, dipunguti, ditaruh ke kotak lalu dibakar. Sekarang banyak kertas yang bertuliskan lafadz Allah, malah tidak diindahkan. Diinjak-injak. Makanya dulu Kiai Abdul Adzim sangat berat membuka madrasah. Coba niru santri dulu kalau ingin dapat ilmu barakah. Santri sekarang ini kurang takdim pada ilmu. Misalnya, tidak memegang kitab kalau tidak punya wudlu, sekalipun itu bukan al-Quran, padahal itu salah satu yang membuat ilmu barakah. Menaruh kitab di tempat yang tinggi, itu juga termasuk mengangungkan ilmu. Jangan menaruh kitab sejajar dengan kaki. Kalau membawa kitab itu, kira-kira harus berada di atas pusar. Yang ada, kadang di atas kitab malah ditaruhi songkok. Kalau begitu bagaimana mau mendapat ilmu barakah. Santri dulu tidak berani menaruh sesuatu di atas kitab. Kurang takdim pada kitab, ilmu, guru, itu yang menyebabkan ilmu tidak barakah. Bagaiman cerita Syaikhona Cholil Bangkalan dulu ketika mengaji ke Sidogiri. Beliau tidak berani diam di Sidogiri, takut cangkolang (kurang sopan, red.) pada guru. Ngajinya ke Sidogiri, tapi diam di Winongan. Padahal dari sini ke Winongan itu sekitar 17 kilo. Itu ditempuh dengan berjalan kaki. Berangkat baca Yasin, sampai di Sidogiri hatam Yasin 41 kali. Pulangnya demikian juga, baca Yasin sampai 41 kali. Bagaimana tidak mendapat ilmu manfaat dan barakah kalau demikian. Sekarang, muthalaah kadang kitabnya diileri dan dibuat bantal. Sulit dapat ilmu barakah kalau begitu....
Pengurus Mengharapkan Santri-Santri Mengamalkan Kebiasaan di Pesantren saat Liburan
Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq, memberikan sambutan atas nama Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri ketika kumpulan pembagian hadiah di pentas utama Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-79 tahun, Rabu malam (04/06). Laki-laki yang terkenal tegas dan disiplin ini menjelaskan kepada hadirin tentang makna yang sesungguhnya Ikhtibar yang rutin digelar di akhir tahun pelajaran. Ia mengatakan bahwa semua kegiatan yang telah dirayakan PPS bukanlah semacam pesta. Namun hal ini lebih mengarah pada selamatan PPS untuk mensyukuri ilmu yang didapat di Sidogiri. “Seharusnya ketika Ikhtibar semacam ini santri dan semuanya memperbanyak istighfar dan tasbih,” ungkap laki-laki yang menjadi guru fan Tarikh Tasyri’ kelas 3 Aliyah ini. Kemudian beliau menyindir kepada santri yang saat ini gagal juara dalam event lomba di perayaan Milad PPS maupun juawarawan MMU. Tak tanggung-tanggung beliau melucuti semangat mereka untuk lebih giat lagi dalam mencari ilmu. Agar mereka yang belum juara dapat menggantikan posisi mereka. “Sebenarnya tidak ada yang beda mereka dengan kita. Mereka tidur kita juga tidur. Mereka makan kita juga makan. Mungkin yang beda hanya cara belajar kita yang tidak sama dengan mereka,” tandasnya memberi motivasi. Selain itu, dalam sambutannya beliau juga membacakan hasil Imni (Imtihan Nihai) di setiap tingkatan madrasah MMU. Hasil Imni tersebut antara lain, madrasah Ibtidaiyah induk sebanyak 596 peserta, yang dinyatakan lulus 455 peserta, madrasah ranting Ibtidaiyah tipe A sebanyak 840 peserta, yang dinyatakan lulus 567, madrasah Ibtidaiyah ranting tipe B sebanyak 741 peserta, yang dinyatakan lulus 554, madrasah Tsanawiyah sebanyak 636 peserta, yang dinyatakan lulus 597, madrasah Aliyah sebanyak 236 peserta, yang dinyatakan lulus 185. Sebelum mengakhiri pidatonya, beliau menyempatkan diri untuk memberikan pesan-pesan kepada santri ketika libur Ramadan di rumah masing-masing agar senantiasa mengamalkan kebiasan-kebiasaan baik yang diamalkan di Sidogiri. Lebih-lebih lagi mengamalkan birrul walidain kepada orangtua. “Harapan saya ketikan santri sudah berada di rumah maka pilihlah teman yang baik. Hindari minuman keras walau satu tetes. Jika sudah berani minuman keras satu tetes maka disinyalir akan berani berbuat yang lebih besar dari itu,” pungkas laki-laki asal Pasuruan ini....
Wisudawan Terbaik Idadiyah Dituntut Hafal Matan Kitab Fathul Qorib
Panitia wisudawan Idadiyah yang ke-3 memberikan penghargaan kepada wisudawan terbaik pada acara prosesi wisuda yang dihelat di lapangan olahraga Sidogiri, Kamis siang (05/06). Penganugerahan wisudawan terbaik ini merupakan hasil keputusan panitia tes wisuda di saat prosesi tes wisuda jauh-jauh hari sebelumnya. Selain dituntut hafal kaidah nahwiah, wisudawan terbaik ini juga dituntut hafal matan kitab Fathul Qorib. Sebelum dinobatkan sebagai wisudawan terbaik, ada sekitar dua puluh nama wisudawan yang dipanggil untuk menaiki pentas. Mereka tidak menyangka bahwa mereka masuk kategori dari wisudawan terbaik. Akhirnya panitia mengumumkan wisudawan terbaik diperoleh Taufiqurrahman, Imam Nawawi, dan Khoiron Abdullah. Ketiga wisudawan terbaik ini memperoleh hadiah dari panitia berupa kitab-kitab dan kamus bahasa Arab. Adapun yang memberikan hadiah tersebut adalah majelis keluarga PPS, KH. Fuad Nor Hasan. Setelah memberikan hadiah, beliau juga mendoakan kepada wisudawan terbaik tersebut. Setelah itu, panitia memberi kesempatan kepada wali santri untuk mendemonstrasi wisudawan terbaik dengan membaca kitab dan menanyakan nahwiah dan shorfiah. Kemudian koordinator Idadiyah, menyuruh kepada semua wisudawan terbaik untuk membaca matan kitab Fathul Qorib secara hafalan....