LPBAA Datangkan Motivator dari PP. Dalwa, Bangil
Kamis (23/01), Pengurus Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) kembali mendatangkan salah satu mudarris (staf pengajar) dari Pondok Pesantren Darul Lughah wa Da’wah, Bangil, Ust. Muhammad Bahri untuk memotivasi santri yang bermukim di asrama khusus berbahasa Arab dan Inggris, yaitu asrama K dan E. Acara ini diletakkan di asrama K dan E. Acara ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara pengurus LPBAA dengan PP. Dalwa. Sebab, di lain kesempatan Pengurus PP. Dalwah juga mengirimkan beberapa santrinya untuk mengikuti kegiatan musyawarah fiqhiyah berbahasa Arab yang diselenggarakan LPBAA di setiap semester. Menurut Muhammad Bahri, bahwa bahasa yang pertama kali didengar oleh manusia adalah bahasa Arab. Bahasa ini langsung dikenalkan oleh kedua orangtua yang baru mendapatkan momongan. Bayi itu diazani dan diikamahi menggunakan bahasa Arab. “Barangsiapa yang berbahasa Arab dengan niatan iqtida’ dan ittiba’ pada lelampah Nabi saw, maka setiap perkataan yang ia ucapkan akan berbuah pahala, meski hanya satu huruf,” terang laki-laki yang menjadi mudarris di PP. Dalwah ini di mushalla Asrama K setelah kegiatan pembacaan dibaiyah. Sebelum mengakhiri pidatonya, Muhammad Bahri memberi metode belajar bahasa Arab yang efektif dan mudah. Ia menjelaskan, bahwa niat adalah senjata ampuh dalam mempengaruhi proses pembelajaran. “Kalian harus berbahasa Arab di mana pun itu. Jangan sekali-kali mendengarkan perkataan orang lain tentang kita,” katanya. “Selain niat, menghafal mufradat Arab setiap hari harus dijadwal secara kontinu lalu hafalan itu langsung dipraktekkan kepada teman kita,” tambahnya di hadapan 400 santri Asrama K. Di akhir acara, santri diberi kesempatan untuk bertanya kepada narasumber terkait problem kebahasaan dan metode-metode pembelajaran yang bagus....
MENGGAULI ISTRI SETELAH HAID
Deskripsi masalah Kaum hawa dalam aspek hukum sangat banyak sekali yang bersinggungan dengan orang laki-laki. Satu contoh saat mereka haid dilarang untuk melakukan salat dan ibadah-ibadah yang sudah maklum dalam leteretur fikih, tapi masalahnya ketika seorang perempuan kedatangan tamu bulanannya, suami harus menunggu darah berhenti, agar bisa untuk menggauli. Suami kadang tidak kuat untuk menahan hasrat lama-lama, hingga ketika dia mendengar bahwa istrinya sudah putus darah haid, dia langsung menggauli tanpa harus menunggu istri mandi besar dulu. Ironisnya, istri pun juga mengamini kemauman suami. Pertanyaan Bolehkah menggauli istri yang baru bersih dari haid sementara dia belum mandi besar? Jawaban Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab asy-Syafi’i tidak diperbolehkan. Demikian ini berdasarkan pada penggalan ayat ke 222 dalam surat al-Baqarah: وََلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ Dan jangan kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. “Sebelum mereka suci” dalam ayat ini diartikan dengan “sebelum mereka mandi”, tidak diartikan “sebelum mereka berhenti keluar darah”, meskipun ada pendapat yang mengartikan dengan yang kedua. Rujukan (قَوْلُهُ: حَلَّ لَهَا قَبْلَ الْغُسْلِ صَوْمٌ) أَيْ لِاَنَّ سَبَبَ تَحْرِيْمِهِ خُصُوْصُ الْحَيْضِ، وَإِلَّا لَحَرُمَ عَلَى الْجُنُبِ. وَيَحِلُّ أَيْضًَا طَلَاقُهَا لِزَوَالِ مُقْتَضَى التَّحْرِيْمِ وَهُوَ تَطْوِيْلُ العِّدَّةِ. (قَوْلُهُ: لَا وَطْئ) أَيْ أَمَّا هُوَ فَيَحْرُمُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: (وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ) وَقَدْ قُرِئَ بِالتَّشْدِيْدِ وَالتَّخْفِيْفِ.أَمَّا قِرَاءَةُ التَّشْدِيْدَ فَهِيَ صَرِيْحَةٌ فِيْمَا ذُكِرَ، وَأَمَّا التَّخْفِيْفُ فَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ أَيْضًا الْاِغْتِسَالُ -كَمَا قَالَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ وَجَمَاعَةٌ، لِقَرِيْنَةِ قَوْلِهِ تَعَالَى (فَإِذَا تَطَهَّرْنَ) -فَوَاضِحٌ، وَإِنْ كاَنَ الْمُرَادُ بِهِ انْقِطَاعُ الْحَيْضِ فَقَدْ ذَكَرَ بَعْدَهُ شَرْطًا آخَرَ وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَإِذَا تَطَهَّرْنَ) فَلَا بُدَّ مِنْهُمَا مَعًا.قَوْلُهُ: (خِلَافًا لِمَا بَحَثَهُ الْعَلَّامَةُ الْجَلَالُ السُّيُوْطِيُّ) أَيْ مِنْ حِلِّ الْوَطْئِ أَيْضًا بِالْاِنْقِطَاعِ. (إعانة الطالبين،...
MQS Mewisuda 54 Mutaallim di Semester Ganjil
Rabu (21/02) Pengurus Metode Qurani Sidogiri (MQS) mewisuda 54 mutaallim MQS di Kantor Sekretariat Lt. III Pondok Pesantren Sidogiri. Metode Qurani adalah sebuah metode mudah baca la-Qur’an bagi anak yang masih usia dini. Materi ini terdiri dari 5 jilid, bacaan gharîbut tilawah, dan nahzam tajwid. Kepala MQS, Ust. Abdus Syakur Nur menjelaskan, mutaallim lulusan Qur’ani dijamin lebih tangkas dalam memahami ilmu tajwid dan menghafal doa-doa pendek, seperti doa bercermin, doa kebaikan kedua orangtua, doa masuk WC, dan doa makan, daripada mutaallim lulusan Sufla yang berada di bawah naungan Taklim wa Tahfidz al-Quran (TTQ). “InsyaAllah tahun depan kami akan menyamakan lulusan Qurani dengan lulusan Sufla yang ada di TTQ. Sehingga tidak ada bedanya mutaallim lulusan TTQ dengan mutaallim lulusan MQS,” kata laki-laki yang menjadi staf pengajar di MMU Tsanawiyah ini. Saat ini MQS mempunyai ranting sebanyak 216 TPQ di seluruh Jawa Timur. Di antaranya, Probolinggo, Jember, Lumajang, Pasuruan, dan Bangkalan. “Setelah diwisuda, mereka akan kami kumpulan di satu ruang agar lebih fokus dalam mempelajari al-Quran. Dan kami memberi nama PK-MQS (Program Khusus Metode Qurani Sidogiri),” ucap Kepala MQS....
BPP; Lahirkan Penulis Handal Melalui Kelas Menulis
Untuk kesekian kalinya instansi Badan Pers Pesantren (BPP) Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) kembali menggelar acara pelatihan dan praktek menulis yang dikemas dalam acara Kelas Menulis. Kegiatan ini merupakan agenda Badan Pers Pesantren yang rutin digelar setiap semester sekali yang diikuti oleh santri non-redaksi . “Saya melihat pesantren kita, Sidogiri, berada di garda terdepan dalam hal tulis menulis di banding pesantren-pesantren lainnya. Kita sudah punya ikon di kancah nasional sebut saja Ust. Moh. Achyat Ahmad dan Ust. Idrus Romli. Bahkan ustad Idrus sudah sampai ke Singapura dan Malaysia dengan tulisan aswajanya” tutur Ust. Ahmad Dairobi saat pembukaan pelatihan pada malam Ahad (17/01). Lebih lanjutnya Redaksi Senior Sidogiri Media ini menjelaskan bahwa mau menjadi penulis itu harus ngotot karena peran bakat dalam menulis hanya 5 persen. Sedangkan untuk 95 persennya adalah kegigihan. “Jika kita ngotot maka dunia akan mengikuti kita, sebagimana kegigihan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Sekeras-kerasnya watak orang Arab akhirnya runtuh juga dengan kesabaran Nabi Muhammad saw,” tandas penulis beberapa kitab pelajaran yang sudah dipakai di seluruh Madrasah Al-Maarif se-Kabupaten Jember ini. Kelas Menulis ini akan digelar selama satu pekan mulai malam Ahad sampai malam Sabtu (17-23/01). Para Peserta akan dibekali dengan beberapa tema sebagai berikut; Wawasan Jurnalistik Pesantren, Dasar-Dasar Menulis Artikel Keislaman, Menulis Kalimat dan Pragraf Efektif, Teknik Menulis Berita dan Liputan, dan Teknik Menulis Artikel Dasar, serta Teknik Menulis Artikel Kajian Keislaman. Pelatihan Jurnalistik ini dibimbing oleh para penulis senior Pondok Pesantren Sidogiri dengan menggabungkan metode pemaparan materi dan praktek menulis langsung. Pelatihan ini bertujuan untuk menjaring potensi baru dalam bidang tulis menulis dan nantinya menjadi pertimbangan perekrutan redaksi media Pondok Pesantren...
PEREMPUAN HAID BACA TAHLIL
Deskripsi masalah Saat ini banyak ibu-ibu rumah tangga mengadakan muslimatan yang diisi dengan pembacaan tahlil dan arisan. Tujuan sebenarnya hanya untuk konsolidasi dan mempererat hubungan kaum ibu. Cara pelaksanaan biasanya bergaantian dari rumah ke rumah yang lain, dan pada kesempatan itu diadakan undian arisan. Pertanyaan Bolehkah perempuan haid membaca tahlil atau mengirim fatihah untuk ahli kubur? Jawaban Boleh, jika tidak niat membaca al-Quran, seperti niat tabarruk atau doa, tetapi jika niat membaca al-Qur’an maka haram. Rujukan (مَسْأَلَةٌ: ي) يُكْرَهُ حَمْلُ التَّفْسِيْرِ وَمَسُهُ إِنْ زَادَ عَلَى الْقُرْآنِ وِإِلَّا حَرُمَ، وَتُحْرَمُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى نَحْوِ جُنُبٍ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهَا لَا مَعَ الْإِطْلَاقِ عَلَى الرَّاجِحِ، وَلاَ يَقْصِدُ غَيْرَ الْقِرَاءَةِ كَرَدِّ غَلَطٍ وَتَعْلِيْمٍ وَتَبَرُّكٍ وَدُعَاءٍ، وَيَجُوْزُ لَهُ حَمْلُ وَمَسُّ وَقِرَاءَةُ نَحْوِ التَّوْرَاةِ وِالْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ وَكُتُبِ الْعِلْمِ وَالْحَدِيْثِ، نَعَمْ يُكْرَهُ لِلْجُنُبِ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى حَتَّى إِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ كَمَا اخْتَارَهُ السُّبْكِيُّ، لَا لِنَحْوِ حَائِضٍ قَبْلَ الْاِنْقِطَاعِ، وَقَالَتِ الْحَنَفِيَّةُ يُكْرَهُ لَهُ قِرَاءَةُ نَحْوِ التَّوْرَاةِ وَحَمْلُهَا، وَنَصَّ الْعَيْنِيُّ مِنْهُمْ علَىَ الْحُرْمَةِ، قَاُلوْا: وَيَحْرُمُ مَسُّ التَّفْسِيْرِ مُطْلَقاً، وَتَحِلُّ قِرَاءَتُهُ بَقَصْدِ مَعْرِفَةِ التَّفْسِيْرِ، وَلَا تُكْرَهُ قِرَاءَةُ الْكُتُبِ الشَّرْعِيَّةِ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ، لَكِنْ تُسْتَحَبُّ الطَّهَارَةُ. (بغية المسترشدين،...