Uji Bakat dengan Lomba Resensi Kitab
Ahad (11/01), Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) yang menaungi semua aktivitas murid-murid Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri kembali mengadakan lomba menulis resensi kitab Rahmatul-ummah di ruang Auditorium Lt. II Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Lomba yang dimotori oleh Unit Kegiatan Pengembangan Bakat dan Minat (UKPBM) ini diikuti semua murid Aliyah. Masruhin mengungkapkan, di Madrasah Aliyah terdapat kitab yang sangat cocok untuk dijadikan bahan resensi. Selain mudah dipaham, kitab Rahmatul-ummah ini memuat kajian fikih lintas mazhab yang sangat kontroversial. “Memberikan gairah dalam memahami kitab yang sedang dikaji di semua tingkatan Aliyah,” ujar ketua UKPBM yang berasal dari Bangkalan ini. Adapun yang bertindak sebagai juri dalam lomba resensi kitab ini adalah Ust. Ahyat Achmad (guru MMU Aliyah) dan Ust. Alil Wafa (Pemred Majalah Buletin Sidogiri). Dalam lomba resensi kitab yang dihadiri sekitar 50-an murid Aliyah ini mendatangkan lima finalis lomba setelah diseleksi langsung oleh kedua juri. Sebelum dinobatkan sebagai juara, setiap finalis diharuskan mempresentasikan karyanya dihadapan para undangan dan juri. Setalah itu, peserta akan diberi pertanyaan oleh juri terkait presentasinya. Kedepannya, pengurus UKPBM akan mengadakan lomba baca kitab dengan materi kitab Fathul-wahhab....
LFS Adakan Studi Banding ke PP. Al-Hasan, Jember
Kamis (9/12), segenap Pengurus Lajnah Falakiyah Sidogiri (FLS) yang berada di bawah naungan Kuliah Syariah berkunjung ke PP. Al-Hasan, Panti, Jember. Tujuan utama dalam kunjungan ini adalah untuk studi banding teori pembuatan teropong bintang. “Kami nantinya akan membuat teropong sendiri bekerja sama dengan PP. Al-Hasan, Jember,” terang Lutfi Kholis, Sekretaris LFS. Menurut Ketua FLS, Zahriyanto, menyebutkan kelebihan dari teropong buatan yang digagas langsung oleh KH. Abdul Haq Muzammil Hasba, Pengasuh PP. Al-Hasan, adalah daya tangkapnya yang dapat melihat planet saturnus dan venus. “Proses pembuatan teropong ini terbilang mudah, sehingga kami tertarik untuk membuat teropong tersebut di Sidogiri,” ungkap pria yang sedang duduk di kelas 3 Aliyah ini. Ia menambahkan, dengan adanya teropong ini rencananya akan digunakan untuk melihat proses terjadinya gerhana, proses akhir hilal awal dan akhir bulan, dan lain...
Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Menjelang Liburan Maulid 1436 H
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد Anak-anakku sekalian… saya tahu libur Maulid ini sudah cukup lama kalian nantikan, mungkin sejak berbulan-bulan yang lalu. Saya tahu, sejak jauh-jauh hari kalian telah menghitung-hitung tanggal atau mengurung angka-angka di kalender setiap pagi. Dan, mungkin malam inipun kalian juga menghitung-hitung jam menunggu fajar terbit dan subuh tiba. Adalah hal yang amat manusiawi jika seseorang merindukan kampung halaman dan handai tolannya. Saya teringat ada seorang penyair berkata: Silakan kau pindahkan hati kepada cinta yang manapun Hati itu akan tetap terikat dengan cintanya yang pertama Seperti pemuda berkelana, menyenangi banyak tempat di sana Tapi rasa rindu hanya untuk kampung halamannya yang pertama Bagi bangsa Indonesia pada umumnya, nilai kampung halaman melebihi emas permata. Bangsa kita memiliki filosofi memilih hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Dalam filosofi Jawa, mangan ora mangan kumpul. Boleh jadi, karena filosofi inilah, bangsa kita sampai saat ini tidak bisa menjadi bangsa yang maju. Bangsa-bangsa yang maju lebih banyak memiliki tipe berani berkelana, berani merantau, dan dalam bahasa sejarah Islam, berani hijrah karena ingin mencapai cita-cita. Beberapa negara di Eropa, saat ini menjadi bangsa yang ditakuti dunia, karena mereka berani datang ke negeri asing. Tahukah kalian, bangsa Inggris pernah membawa pasukannya hampir ke 90 persen wilayah di dunia ini. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh bangsa Prancis, Jerman dan Amerika Serikat. Kita harus mengambil pelajaran dari sejarah. Pelajaran hidup itulah yang menjadi salah satu tujuan inti kenapa sejarah diajarkan. Kiblat kita tentu saja adalah sejarah Rasulullah r dan para sahabat beliau, meskipun kita juga dianjurkan mengambil pelajaran dari sejarah manapun. Kenapa agama kita bisa tersebar hingga ke sini, hampir sembilan ribu kilometer dari Makkah dan Madinah? Karena ada beberapa tokoh ulama yang rela jauh dari kampung halaman demi misi untuk menyebarkan agamanya. Islam menjadi jaya setelah Rasulullah r dan kaum Muslimin berani meninggalkan kampung halaman mereka, berhijrah ke Madinah, tempat baru yang lebih menjanjikan. Semua orang merasa berat untuk meninggalkan kampung halaman, tapi orang yang berpikir dewasa dan berjiwa besar akan berani memikul hal-hal berat demi menggapai impiannya di kemudian hari. Belajarlah untuk berjiwa besar, yaitu tidak hanya mengikuti apa yang kalian senangi saat ini, tapi memikirkan apa yang akan kalian capai di masa yang akan datang. Keluarlah dari zona nyaman agar jiwa kalian bangkit dan berkobar. Berjalanlah dan mengalirlah, jangan terus menerus diam, karena air yang diam akan keruh berlumut. Semua hal menjadi bernilai karena berani meninggalkan tempat asal. Darah rusa menjadi kasturi karena berpindah dari tempat asalnya. Sekuat apapun seekor singa, bukanlah apa-apa jika ia tak bisa berlari. Konon,...
Wali Santri: “Kaget, Belum Setahun Mondok, Anak Saya Sudah Diwisuda”
Prosesi wisuda murid Tarbiyah I’dadiyah yang telah berhasil menyelesaikan program akselarasi baca kitab kuning memberi kesan tersendiri bagi wali murid yang anaknya ketepatan diwisuda. Wali murid yang dibuhungi via telpon mengaku kaget menerima undangan dari Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Mereka dihubungi setelah putranya lulus dalam ujian tes wisuda pada hari Ahad (21/12). Meski waktu pemberitahuan sangat mepet dari pelaksanaan wisuda mereka bias hadir semua. “Bahkan yang dari luar pulau pun sudah hadir dari tadi malam. Ada yang dari Sumatra dan Bali,” jelas Muhairil Yusuf, Tata Usaha Madrasah Tarbiyah I’dadiyah. Para wali murid banyak yang terkejut saat mendengar kabar ini. Komaruddin, salah satu wali murid, mengaku kaget saat menerima telpon pemberitahuan dari Pengurus. “Semula saya kaget, wong saya dihubungi baru Ahad kemarin. Saya cari tiket adanya pada hari Rabu sehingga tidak nutut. Saya musyawarah dengan istri saya. Saya putuskan berangkat sendiri saja, sehingga harus ngompreng pake bus jurusan Jogya lalu ke Surabaya dan baru sampai tadi malam,” jelasnya. “Ya bangalah, bahkan hampir ngak percaya, wong anak saya belum satu tahun di sini kok sudah diwisuda,” akunya. Lebih lanjut ayah dua anak ini mengatakan semula dirinya mengetahui Pondok Pesantren Sidogiri dari Kiai Sohib salah satu alumni Sidogiri pemangku pesantren di kampungnya. “Saya searching di internet bersama anak saya dan anak minta mau mondok ke Sidogiri. Bismillah saya antar di bulan Ramadan kemaren dan dia sudah tidak mau pulang ke lampung,” paparnya. Di acara wisuda ini wali murid diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Dalam hal ini diwakili oleh KH. Mustofa Halim, wali dari Mudrikul Umam asal Burneh Bangkalan. “Kami berdiri di sini sesungguhnya tidak pantas berada di hadapan para guru dan kiai kami. Namun apa mau dikata kami adalah alumni Sidogiri. Maka dari itu kami sangat berterima kasih kepada Sidogiri yang sampai saat ini telah berhasil mendidik anak kami sampai ke jenjang wisuda,” ungkap alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1973 an ini....
Wisuda Istimewa 11 Murid Tarbiyah I’dadiyah
Kamis (24/12) Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri menggelar wisuda 11 murid Tarbiyah Idadiyah. Prosesi wisuda pertama untuk tahun ajaran 1436 ini digelar di di Aula Kantor Sekretariat Lt. III Pondok Pesantren Sidogiri. Mereka diwisuda setelah menyelesaikan serangkaian kegiatan belajar mengajar, ujian, dan tes dalam kurun waktu 4 bulan. Kesebelas wisudawan ini termasuk istimewa karena menjadi peserta program Tarbiyah I’dadiyah tercepat untuk tahun ini. Sebelum prosesi wisuda yang berlangsung di Aula Kantor Sekretariat Lt. III Pondok Pesantren Sidogiri, mereka diwisuda di ndalem Hadratus Syaikh KH. A. Nawawi Abd. Djalil. Berikut nama-nama wisudawan telah berhasil menyelesaikan program Tarbiyah I’dadiyah dalam waktu 4 bulan: WIRA MADYA Jangkar Situbondo Jatim SUMANTRI MUHAMMAD IMAM NAWAWI Modung Bangkalan Jatim ABDUL WAHAB S.PD.I. MUHAMMAD KHOIRON ABDULLAH Umbulsari Jember Jatim FATHULLOH AHMAD ZAKKI FUADI Pringsewu Pringsewu Lampung KHOTMANUDIN MOH HAFIDUDDIN Waru Pamekasan Jatim BAIHAKI TAUFIQUR RAHMAN Bondowoso Bondowoso Jatim RASUKI MUHAMMAD KHOIRUL ARIFIN Purworejo Pasuruan Jatim ACHMAD MIFTAKUL ARIFIN AHMAD FAIRUZI Kintamani Bangli Bali SYAMSUDDIN AS MIFTAHUL ANWAR Omben Sampang Jatim ANWAR MUNDZIRUL UMAM Burneh Bangkalan Jatim MUSTOFAL HALIM MUHAMMAD ROYYAN Winongan Pasuruan Jatim MUHAMMAD CHOZIN Prosesi wisuda untuk santri Tarbiyah I’dadiyah tahun ini digelar dua kali, pertama di pertengahan tahun seperti yang digelar Kamis (24/12) lalu dan yang kedua akan digelar di akhir tahun bertepatan dengan Hari Jadi Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-278. Sekadar informasi, Pondok Pesantren Sidogiri melalui Madrasah Miftahul Ulum Tarbiyah Idadiyah menggelar program khusus akselarasi belajar baca kitab kuning yang diikuti oleh santri baru berusia dibawah 15 tahun. Tahun ini ada ±1300-an peserta program Tarbiyah Idadiyah yang diletakkan di asrama J dan L. Mereka secara real time dibimbing mempelajari tata-cara membaca kitab kuning melalui pembina khusus....