LPBAA Studi Banding ke Bravo VIEC Malang
Jumat (20/02), segenap Pengurus Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) Pondok Pesantren Sidogiri (PSS) berkunjung ke Bravo VIEC, Malang, Jatim. Kunjungan ini, sebagaimana yang diutarakan oleh Ketua English Team, Dumairi, bertujuan untuk studi banding pengelolaan pengembangan Bahasa Inggris sistem Boardhing House. Selain itu, menurut wakil Ketua III LPBAA, Ust. Hasan Bashri, yang menangani bahasa Inggris menyebutkan, kunjungan ini juga sebagai bahan evaluasi kegiatan bahasa Inggris yang ada di PPS. “Agar kami bisa mengntrol perkembangan Bahasa Inggris di PPS,” ucap laki-laki yang saat menjadi wali kelas I Tsanawiyah. Rombongan yang berjumlah 11 orang ini disambut oleh Dr. HM. Taufiqi, SP., M.Pd., Ketua VIEC Malang. Ia menjelaskan banyak hal terkait metode yang spesifik dalam pembelajaran bahasa. Menurutnya, dalam mempelajari Bahasa Inggris seharusnya pelajar mengerti apa yang dikatakan dan lawan bicara juga paham dengan apa yang dikatakannya. “Bahasa itu bukan suatu pengetahuan, melainkan suatu kebiasaan,” tutur pria yang beralamat di jl. Diponegoro IV/46 Bululawang, Malang, ini. “Dalam pembelajaran bahasa harus menciptakan lingkungan bahasa sehingga pembelajaran bahasa terasa kondusif,” imbuh pria yang menjadi penulis buku 49 Hari Menjadi Guru Idola ini. Dengan adanya kunjungan ini nantinya English Team yang beranggotakan 8 orang ini akan menambah kegiatan kebahasaan dan program baru demi menyukseskan bahasa Inggris di PPS....
Evaluasi Peserta Kursus, LPBAA Adakan Imtihan Mustawa
Sebagai bahan evaluasi dalam pembelajaran bahasa yang diselenggarakan Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) Pondok Pesantren Sidogiri, maka Pengurus LPBAA mengadakan ujian (imtihan) mustawa di semester ganjil tahun ajaran 1435-1436 H. Ujian yang berlangsung selama dua hari ini diselenggarakan pada Sabtu (20/12) dan Ahad (21/12). Sebelum pelaksanaan ujian, Jumat malam (19/02), Pengurus LPBAA mengangkat 45 mumtahin (juri) untuk menjaga pelaksanaan ujian (imtihan) mustawa. Mustawa adalah istilah kelas berbahasa Arab yang ditetapkan oleh Pengurus LPBAA. Mustawa ini dibagi menjadi tiga tingkatan; mustawa awal, mustawa tsani, dan mustawa tsalis. Kegiatan pembelajaran bahasa Arab di LPBAA ini dilaksanakan di pagi hari setiap Sabtu, Ahad, dan Senin. Sedangkan untuk kegiatan pembelajaran bahasa Inggris dilaksanakan di hari Rabu dan Kamis. Imtihan yang diletakkan di gedung an-Nawawi, ar-Rafi’i, dan al-Ghazali ini diikuti oleh santri yang khusus bermukim di daerah berbahasa Arab dan Asing, yakni Daerah K dan E. Materi yang diujikan untuk mustawa awal adalah mufradat dan kaidah berbahasa Arab. Mustawa tsani, muhawarah bi at-Tahrir dan muhawarah. Sedangkan, mustawa tsalis adalah insya’ al-Hur dan insya’ muwajjah. Menurut Ust. Hasan Bashri, pengurus LPBAA telah merubah sistem pembelajaran yang awalnya hanya sekadar materi tanpa pengayaan, kini telah ditetapkan sistem dan target dalam pembelajaran bahasa Arab. “Mustawa awal kami fokuskan untuk penguasaan mufradat dan cara penyusunan kaidah bahasa Arab. Mustawa tsani fokus pada kecakapan hiwar secara perfektif. Sedangkan mustawa tsalis fokus pada pengembangan insya’(tulis-menulis bahasa Arab-red),” tutur laki-laki yang menjabat sebagai Wakil Ketua III LPBAA ini, saat ditemui di kantor LPBAA, Sabtu (20/02). Saat ini jumlah peserta kursus yang mengikuti imtihan mustawa mencapai 516 peserta. Untuk melecuti semangat warga Arab serta memberikan ketegasan bagi warga yang sering tidak aktif dalam mengikuti kegiatan kebahasaan, maka Pengurus LPBAA mengeluarkan kebijakan, berupa memutasi warga berbahasa Arab ke daerah ajamiyah (non-Arab) jika tidak aktif mengikuti kursus mustawa, tidak aktif mengikuti taqrir, dan tidak naik imtihan mustawa tiga...
Prodo Sapulante dan Karangpanas Juara Umum MUAMMAR Tipe A
Madrasah Miftahul Ulum (MMU) tingkat Ibtidaiyah telah usai menggelar Musabaqh Antar Murid Madrasah Ranting (MUAMMAR), baik di ranting tipe B ataupun ranting tipe A. Untuk MUAMMAR di ranting tipe B digelar di MMU B-19 Kebun Baru Sampang, Minggu (07/02), dan tuan rumah berhasil meyabet gelar juara umum. Sementara itu, MUAMMAR di ranting tipe A dibuat dua seri, yakni seri A dan seri B. Seri B digelar pada Minggu (14/02) di MMU Ranting A-33 Wrati, dan yang menyabet gelar juara umum adalah MMU Ranting A-37 Prodo Sapulante, sedangkan seri A digelar Minggu (21/02) di MMU A-34 Ambal-Ambil Kejayan Pasuruan. MMU A-71 Karangpanas berhasil membawa pulang gelar juara umum MUAMMAR seri A untuk yang kedua kalinya secara berturut-turut. “Alhamdulillah, MUAMMAR berjalan dengan baik dan lancar. Meskipun waktu pelaksanaan MUAMMAR tipe A sedikit diganggu oleh guyuran hujan,” ucap Ust. Abd. Ghoffar, Ketua Panitia MUAMMAR. MUAMMAR dilakukan dua kali setiap tahunnya. Yaitu, setelah selesainya pelaksanaan ujian pertama dan setelah ujian kedua. Menurut Kepala Madrasah MMU Ibtidaiyah Induk, Ust. Baihagi Juri, di samping untuk mengasah keilmuan murid-murid MMU Ranting, tujuan utama diadakannya MUAMMAR adalah sebagai ajang siluturahim antar madrasah ranting MMU Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri. “Tujuan paling mendasar diadakannya MUAMMAR adalah untuk mempererat tali silaturahim antar madrasah ranting,” ucap Ust. Baihaqi di sela-sela...
Mudahkan Santri Baca Kitab dengan Mengahfal Alfiyah dan Imrithi
Pengurus Daerah B (salah satu asrama santri) mengelar lomba Tahfiz nadham Alfiyah dan Imriti yang dikemas melalui acara “Selection Prsentatian”, Jumat (19/12). Acara yang dilaksanakan di perataran daerah B ini, diikuti 18 peserta dengan rincian 10 peserta dari tahfidz (penghafal) terbaik nadham Alfiyah dan 8 peserta terbaik tahfidz Imriti. Meraka semua bertindak sebagai delegasi dari masing-masing kamar khusus penghafal Alfiyah dan Imrithi setelah sebelumnya diseleksi oleh dewan pembinannya. Perlombaan ini setting seperti acara kuis Miliader yang pernah ditayangkan di RCTI dengan dipandu oleh Qomarus Zaman, Ketua IMNI daerah B sebagia Hots. Pembawaan Hots yang kocak ini, membuat peserta lebih enjoy walau sejatinya mereka duduk pada “kursi panas”. Karena para peserta dituntut untuk konsentrasi penuh untuk menghadapi 15 tantangan dengan soal yang berbeda. Dalam tiap tantangan peserta harus memilih satu angka yang ada di layar proyektor dan meneruskan nadham yang tersembunyi tersebut dengan cepat dan tepat, karena waktu yang diberikan oleh juri hanya 30 detik. Menurut pengakuan Ust. Umar Hamdan, Kepala Daerah B, lomba ini sengaja disetting seperti ini agar hafalan mereka benar-benar teruji dan tidak malu mempratekan pada halayak ramai. “Sebagai motifasi bagi warga kami (peserta tahfiz) dan menguji hafalan meraka. Di samping juga sebagai promosi kepala yang lain bahwa Daerah B itu memiliki keunggulan tersendiri, sehingga ke depannya semakin menarik santri untuk menghafal Alfiyah” jelasnya, saat ditanya tentang program yang ada di daerahnya. Lebih lanjut Ust. Abdul Wafi, salah satu Pembina Tahfiz menjelaskan, “Ini masih pemanasan, hanya merebutkan 3 kejuaran pada tiap tingkatan, agar meraka semangat sehingga pada kebalian (setelah liburan maulid. red) nanti meraka banyak yang diwisuda” paparnya. Sampai saat ini asrama santri yang memiliki julukan Daerah Jantung Kota ini, sudah memiliki 10 kamar khusus penghafal nadham Alfiyah dan Imrithi dengan warga kurang lebih 250 an. Warga tahfiz ini digemleng secara khusus sesuai sekedul dan program yang menunjang cara cepat untuk menghafal nazham-nazham ilmu gramatikal Arab sehingga memudahkan santri untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning yang notabennya tidak berharkat....
Mitos Masyarakat Antara Kufur dan Tidak!
Di tengah derasnya perkembangan zaman yang semakin pesat, mitos dan khurafat masih tetap mengakar kuat dalam tubuh masyarakat, utamanya mereka yang hidup di pedesaan. Masih ada beberapa mitos dan khurafat yang masih dipercaya. Takhayul dan mitos merupakan kepercayaan yang berada di luar batas akal manusia atau bisa dikatakan kepercayaan yang hanya ada dalam khayalan dan rekaan belaka, tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Versi takhayul misalnya, adalah anggapan atau keyakinan kalau melakukan ini hari ini maka akan akan begini, kalau melakukan itu hari itu maka akan tertimpa begitu. Dahulu kala, masyarakat sangat kental dengan hal-hal yang berbau takhayul semacam ini. Banyak mitos (takhayul) yang dipercaya. Misalnya mitos hari baik. Untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, sebagian masyarakat masih mencari jam, hari, tanggal dan bulan yang baik. Mitos hari baik ini tertuang dalam buku perimbon, sebuah buku yang berisikan sistem bilangan pelik untuk menghitung hari mujur untuk mengadakan selamatan, mendirikan rumah, memulai perjalanan dan mengurus segala macam kegiatan penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat. Selain mitos hari baik, masih banyak lagi-lagi mitos yang berkembang. Di antaranya adalah mitos kehamilan; wanita hamil memiliki beberapa pantangan, kalau pantangan itu dilakukan akan mempengaruhi terhadap keselamataan cabang bayi yang dikandungnya. Mitos menyapu pada malam hari yang katanya akan menyebabkan fakir miskin. Dan masih banyak lagi mitos-mitos unik yang tetap mengakar kuat di masyrakat sampai sekarang. Entah siapa dan dari mana mitos ini ? Tidak bisa diketahui secara pasti. Namun, yang pasti mitos telah ada sejak dulu dan menjadi keyakinan koliktif masyarakat secara turun-temurun. Sepintas, takhayul yang berkembang di masyarakat bisa berdampak negative terhadap akidah Islam. Ketika mitos telah menjelma sebagai akidah yang diyakini, maka dapat menjeremuskan seseorang pada kesyirikan; menggantungkan kesuksesan dan kegagalan sesuatu kepada selain Allah. Dalam al-Qur`an dan Hadis menggantungkan adanya seuatu kepada selain Allah disebut dengan istilah Tathayyur. Istilah ini muncul dari kebiasaan masyarakat Arab Jahilyah. Ketika mereka hendak bepergian, mereka menangkap burung, lalu dilepas terbang (tathayyur). Kalau terbang ke arah kiri -menurut mitos mereka- akan ada hal buruk yang akan menimpa hingga mereka urung bepergian. Islam datang dengan membawa konsep tauhid, suatu keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya Dia lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan dan Mengatur segala sesuatu yang terjadi. Bukan yang lain. Setelah Nabi Muhammad resmi diangkat menjadi rasul, dengan tegas beliau menolak praktik tathayyur yang terjadi di masyarakat Arab Jahiliyah tempo dulu. Nabi bersabda : “Bukan golongan kita orang yamg masih menggantungkan sesuatu kepada selain Allah I (Tathayyur) (HR Bazzar). Al-Qur`an juga menolak tegas. Dalam al-Qur`an dikisahkan kebiasaan masyarakat Mesir kuno yang sering menjadikan Nabi Musa sebagai ’kambing hitam’ atas kesialan yang menimpa mereka. ”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”....