MAI Bahas Status Air di Pondok Pesantren Sidogiri
Jumat (12/02/36) Musyawarah Antar Istansi (MAI) Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri kembali digelar. Kali ini MAI membahas status air di Pondok Pesantren Sidogiri. Titik masalahnya adalah, apakah air yang ada di Sidogiri termasuk air wakaf atau tidak? “Masalah ini kami anggap penting untuk dibahas karena berkaitan dengan status air itu sendiri. Sebab beda status, beda konsekuensi’,” ungkap Ust. M. Idris Mubarak, Ketua MAI 1435-1436 H. “Alhamdulillah, musyawarah tadi malam berjalan dengan baik dan menghasilkan sebuah rumusan jawaban. Akan tetapi, rumusan jawaban itu masih belum bisa disebarkan ke setiap istansi dan daerah, karena masih ditashhih oleh Tim Tashhih,” tambahnya. Yang diundang menjadi mushahih pada musyawarah kali ini adalah Ust. M Aminullah Mazid dan Ust. H. Baihaqi Juri. Mereka berdua adalah staf pengajar di Madrasah Miftahul Ulum tingkat Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri. Musyawarah Antar Istansi (MAI) adalah sebuah wadah khusus untuk mendiskusikan dan memecahkan masalah internal di dalam Pondok Pesantren Sidogiri. Setiap masalah internal yang butuh pemecahan dan solusi di Pondok Pesantren Sidogiri semuanya diajukan kepada Pengurus MAI untuk kemudian dicari jawabannya melalui diskusi bersama. MAI dilaksanakan setiap satu bulan sekali, yaitu pada malam Jumat pekan terakhir. Pesertanya adalah delegasi dari masing-masing istansi. Setiap istansi berhak mengirimkan dua orang delegasi dan ditambah lagi delegasi dari masing-masing daerah (asrama), dari madrasah tingkat Tsanawiyah, tingkat Aliyah serta anggota Kafah (Anggota Kaderisasi Fuqaha’). Fungsi lain dari MAI ialah untuk mengkader dan melatih musyawir-musyawir handal. Peserta yang dianggap bisa biasanya akan direkrut menjadi anggota Lajnah Muraja’ah Fiqhiyah (LMF), sehingga dia berkesempatan untuk menjadi delegasi mausyawarah ke pelbagai pesantren se-Jawa dan Madura mewakili Pondok Pesantren Sidogiri. “MAI selain untuk memecahkan masalah yang ada di dalam pondok, fungsinya juga sebagai wadah latihan musyawarah bagi para santri, khususnya anggota Kuliah Syariah,” ucap Ustadz Muslich MH, Kelapa Kuliah Syariah. ___ Penulis: M Nadi el_Madani Editor: Zainuddin...
LFS Gelar Kursus Metode Mengetahui Sistem Selisih Waktu Istiwa’ dan Wib
Jumat (12/02) instansi Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) menggelar kursus falak dengan mempelajari sistem selisih waktu Indonesia bagian barat (WIB) dan waktu istiwa’ (WIS). Kursus ini dilaksanakan oleh Lajnah Falakiyah Sidogiri (LFS), salah satu lembaga kajian yang dimiliki oleh Kuliah Syariah, dengan mendatangkan Gus Thalhah Ma’ruf sebagai pemateri. Beliau adalah staf guru di Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah Sidogiri dan dikenal sebagai ahli astronomi. Acara ini dihelat di gedung Madrasah Miftahul Ulum as-Suyuthi lantai III. Ust. Zahriyanto, Ketua LFS, mengatakan, “Mengingat waktu istiwa’ di setiap daerah tidak sama, dan sering berubah setiap harinya, maka kami terdorong untuk mengadakan kursus ini. Selain itu, kursus untuk mempelajari waktu istiwa’ ini sangat penting karena berkaitan erat dengan masalah shalat,” jelasnya. “Setelah kursus ini selesai, kami akan mengadakan praktik langsung di lapangan. Hal ini dilakukan agar peserta tidak hanya paham teorinya saja, tetapi juga bisa menerapkannya,” tambahnya. Metode yang dipakai dalam kursus ini memakai metode yang dikembangkan oleh Gus Thalhah sendiri dan ditambah metode yang lain. Dalam presentasinya, Gus Thalhah berharap agar kedepan nanti bisa lahir ahli-ahli falak atau astronomi jebolon Pondok Pesantren Sidogiri. ___ Penulis: Akbar Junaedi Editor: M. Nadi el_Madani...
Hukum Jual Beli Online
Deskripsi Masalah Kemajuan teknologi dan informasi telah mengantarkan pola kehidupan umat manusia ke taraf yang lebih mudah. Seseorang, misalnya, dapat melakukan jual-beli secara elektronik. Paradigma baru tersebut dikenal dengan istilah elektronical comerece, umumnya disingkat ecomerce. Kontrak elektronik adalah perjanjian semua pihak yang dibuat melalui sistem elektronik. Jadi kontrak elektronik tidak hanya dilakukan melalui internet, tetapi juga dapat melalui media fax, telegram, dan telepon. Kontrak elektronik yang menggunakan media informasi dan komunikasi terkadang mengabaikan rukun jual beli, seperti shîghat, syarat pembeli dan penjual yang harus cakap hukum. Bahkan dalam transaksi ini belum diketahui tingkat keamanan proses transaksi, identifikasi kedua belah pihak, pembayaran dan ganti rugi akibat dari kerusakan. Bahkan akad nikah pun sekarang ada yang menggunakan fasilitas telepon atau cybernet seperti yang terjadi di Arab Saudi. Pertanyaan Bagaimnana hukum transaksi via elektronik, seperti telepon, email atau cybernet dalam akad jual beli dan nikah? Mungkinkah dapat dilakukan transaksi perwakilan (wakalah) melalui SMS dari calon pengantin pria kepada seseorang yang hadir di majelis akad nikah? Jawaban Sah untuk transaksi selain akad nikah, namun harus memenuhi ketentuan syarat-syarat lain yang berlaku dalam transaksi yang dilakukan. Mungkin dan boleh serta sah, jika SMS itu dapat dipercaya dan diyakini pengirim dan isinya. Rujukan لَيْسَ الْمُرَادُ مِنِ اتِّحَادِ الْمَجْلِسِ الْمَطْلُوْبِ فِيْ كُلِّ عَقْدٍ كَمَا بَيَّنَّا كَوْنَ الْمُتَعَاقِدَيْنِ فِيْ مَكَانٍ وَاحِدٍ، لأنَّهُ قَدْ يَكُوْنُ مَكَانُ أحَدِهِمَا غَيْرَ مَكَانِ اْلآخَرِ، إذَا وُجِدَ بَيْنَهُمَا وَاسِطَةُ اتِّصَالٍ، كَالتَّعَاقُدِ بِالْهَاتِفِ أوْ اللاَّسَلَكِي أوْ بِالْمُرَاسَلَةِ (الْكِتَابَةِ) وَإنَّمَا الْمُرَادُ بِاتِّحَادِ الْمَجْلِسِ: اتِّحَادُ الزَّمَنِ أوِ الْوَقْتِ الَّذِيْ يَكُوْنُ الْمُتَعَاقِدَانِ مُشْتََغِلِيْنَ فِيْهِ بِالتَّعَاقُدِ، فَمَجْلِسُ الْعَقْدِ: هُوَ الْحَالُ الَّتِيْ يَكُوْنُ فِيْهَا الْمُتَعَاقِدَانِ مُقْبِلَيْنِ عَلَى التَّفَاوُضِ فِي الْعَقْدِ، وَعَنْ هَذَا قَالَ الْفُقَهَاءُ إنَّ الْمَجْلِسَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَاتِ. وَعَلَى هَذَا يَكُوْنُ مَجْلِسُ الْعَقْدِ فِي الْمُكَالَمَةِ الْهَاتِفِيَّةِ أوِ اللاَّسلكية: هُوَ زَمَنُ اْلإتِّصَالِ مَا دَامَ الْكَلاَمُ فِيْ شَأْنِ الْعَقْدِ، فَإنِ انْتَقَلَ الْمُتَحَدِّثَانِ إلَى حَدِيْثٍ آخَرَ انْتَهَى الْمَجْلِسُ. وَمَجْلِسُ التَّعَاقُدِ بِإرْسَالِ رَسُوْلٍ أوْ بِتَوْجِيْهِ خِطَابٍ أوْ بِاْلبَرْقِيَةِ أوِ التَلَكْسِ أوِ اْلفَاكْسِ وَنَحْوِهَا: هُوَ مَجْلِسُ تَبْلِيْغِ الرِّسَالَةِ، أوْ وُصُوْلِ الْخِطَابِ أوِ الْبَرْقِيَةِ أوْ إشْعَارِ التَّلَكْسِ وَالْفَاكْسِ، لأنَّ الرَّسُوْلَ سَفِيْرٌ وَمُعَبِّرٌ عَنْ كَلاَمِ الْمُرْسِلِ، فَكَأنَّهُ حَضَرَ بِنَفْسِهِ وَخَاطَبَ بِالْإيْجَابِ فَقَبِلَ فِي الْمَجْلِسِ. فَإنْ تَأَخَّرَ الْقَبُوْلُ إلَى مَجْلِسٍ ثَانٍ، لَمْ يَنْعَقِدْ الْعَقْدُ. وَبِهِ تَبَيَّنَ أنَّ مَجْلِسَ التَّعَاقُدِ بَيْنَ حَاضِرَيْنِ: هُوَ مَحَلُّ صُدُوْرِ اْلإيْجَابِ، وَمَجْلِسُ التَّعَاقُدِ بَيْنَ غَائِبَيْنِ: هُوَ مَحَلُّ وُصُوْلِ الْكِتَابِ أوْ تَبْلِيْغِ الرِّسَالَةِ، أوِ المُْحَادَثَةِ الْهَاتِفِيَّةِ. (الفقه الإسلامي وأدلته، 4/463) التِّلْفُوْنُ كِنَايَةٌ فِي الْعُقُوْدِ كَالْبَيْعِ وَالسَّلَمِ وَاْلإجَارَةِ فَيَصِحُّ ذَلِكَ بِوَاسِطَةِ التِّلْفُوْنِ. أمَّا النِّكَاحُ فَلاَ يَصِحُّ بِالتِّلْفُوْنِ ِلأنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيْهِ لَفْظٌ صَرِيْحٌ وَالتِّلْفُوْنُ كِنَايَةٌ، وَأنْ يَنْظُرَ الشَّاهِدُ إلَى الْعَاقِدَيْنِ وَفَقَدَ ذَلِكَ إذَا كَانَ بِالتِّلْفُوْنِ أوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ إهــ. (الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام الحبيب زين بن إبراهيم بن سميط، 246) وَأمَّا الْبَيْعُ والشِّرَاءُ بالْمُكاتَبَاتِ والتَّوَقُّعِ عَلَيْهِمَا وَبِوَاسِطَةِ وَسَائِلِ اْلإتِّصَالِ الْحَدِيْثِيَّةِ كَالتِّلْفُوْنِ...
SALAT UNTUK KEMATIAN DEMOKRASI
Deskripsi Masalah Demonstrasi merupakan media menyuarakan aspirasi menuntut hak atau protes atas kesewanang-wanangan pihak berkuasa. Uniknya, ada yang melakukan demonstrasi dengan menggunakan salat Ghaib untuk kematian demokrasi. Mereka melakukan salat persis seperti ritual salat Janazah yang dilakukan di depan keranda bertuliskan “Demokrasi dan Keadilan Telah Mati.” Pertanyaan Apakah tindakan di atas diperbolehkan? Jawaban Tidak diperbolehkan. Rujukan فَرْعٌ: يَحْرُمُ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِسَجْدَةٍ مِنْ غَيْرِ سَبَبٍ بَعْدَ الصَّلاَةِ كَمَا يَحْرُمُ بِرُكُوْعِ مُفْردٍ وَنَحْوِهِ نِهَايَة زَادَ المُغْنِي لِاَنَّهُ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ إِلاَّ مَا اسْتُثْنِيَ وَمِمَّا يَحْرُمُ مَا يَفْعَلُهُ كَثِيْرٌ مِنَ الجهْلَةِ مِنَ السُّجُودِ بَيْنَ يَدَي المَشَايِخِ وَلَوْ إِلَى القِبْلَةِ أَوْ قَصْدُهُ لِلهِ تِعَالَى وَفِي بَعْضِ صُوَرِهِ مَا يَقْتَضِي الكُفْرَ عَافَانَا اللهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ اهـ. (حواشي الشرواني والعبادي، 2/218) وَقَوْلُ السَّائِلِ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ وَهَلْ يُحْكَمُ على من زَادَ على الْمَرَّةِ بِالْكَرَاهَةِ إلَخْ جَوَابُهُ أَنَّا حَيْثُ قَيَّدْنَا بِالْمَرَّةِ قُلْنَا إنَّ الزِّيَادَة عليها مُحَرَّمَةٌ لِأَنَّ الصَّلَاةَ مَتَى انْتَفَى الطَّلَبُ عنها لِذَاتِهَا كانت فَاسِدَةً فَيَحْرُمُ التَّلَبُّسُ بها عَمَلًا بِالْقَاعِدَةِ الْمُقَرَّرَةِ أَنَّ التَّلَبُّسَ بِالْعِبَادَةِ الْفَاسِدَة حَرَامٌ بَلْ لو قُلْنَا بِالْكَرَاهَةِ كانت فَاسِدَةً أَيْضًا نَظِيرَ ما قَالُوهُ في الصَّلَاة التي لَا سَبَبَ لها في الْوَقْتِ الْمَكْرُوه أنها لَا تَنْعَقِدُ وَإِنْ قُلْنَا إنَّ الْكَرَاهَة لِلتَّنْزِيهِ وقد ذَكَرْتُ في شَرْحِ الْعُبَابِ نحو ذلك. (الفتاوى الفقهية الكبرى،...
Menyemai Syukur Menuju Ilahi
“Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) Kalau kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7) Prolog Pernahkah Anda merenung bahkan menghitung berapa besar nikmat yang telah dianugerahkan Allah I kepada kita? Sudahkah kita merasa bersyukur hari ini atas nikmat-nikmat tersebut? Bersyukur merupakan salah satu keniscayaan setiap orang kepada Allah I. Bahkan Nabi Muhammad r yang jelas-jelas dijamin masuk surga, dan dosanya diampuni oleh Allah I, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah I, sehingga beliau dikenal sebagai ‘abdan syakûra (hamba yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau r merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah I. Suatu ketika, Sayidah Aisyah pernah bertanya tentang kebiasaan Nabi r yang selalu melakukan salat malam sehingga menyebabkan tumit beliau r memar dan berdarah. “Wahai Rasul, kenapa Anda masih salat? Bukankah Allah I telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang sudah lewat atau yang akan datang. Lalu Nabi r menjawab, “Apakah aku tidak senang jika dikatakan hamba yang bersyukur?” Di samping itu, syukur juga merupakan salah satu jalan yang wajib ditempuh oleh sâlik (orang ingin sampai ke hadirat Allah I) sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya` Ulûmiddin. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Nikmat itu gesit, maka ikatlah dengan bersyukur”. Bahkan dalam QS. Ibrahim [14]: 7 Allah I menganjurkan kita bersyukur, sehingga bisa menambah nikmat yang telah kita dapatkan. Cara Bersyukur Ketika kita menerima pemberian Allah I kita pun memuji-Nya, tetapi ini sama sekali belum mewakili rasa syukur kita. Pujian yang indah saja belum cukup untuk bisa dikatakan syukur. Dia baru dikatakan bersyukur apabila juga diwujudkan dalam bentuk amal shaleh yang diridhai oleh Allah I. Al Junaid, seorang tokoh sufi, pernah ditanya tentang makna (hakikat) syukur. Dia menjawab, “Jangan sampai engkau menggunakan nikmat karunia Allah I untuk bermaksiat kepada-Nya”. Senada dengan Imam Junaid adalah Imam Ghazali, beliau berkomentar, “Syukur adalah memanfaatkan segala anugerah Allah I tersebut untuk taat kepada-Nya.” Imam Ghazali merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan. Pertama, syukur dengan hati, yaitu dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah Allah I. Di samping itu dia juga harus selalu bertujuan menggunakan anugerah nikmat tersebut untuk kebaikan. Kedua, syukur dengan lidah, yaitu dengan mengakui bahwa berbagai anugerah yang telah diberikan kepada kita adalah dari Allah I. Cara bersyukur dengan lidah juga harus dilakukan dengan cara memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah I, sebagai Dzat yang telah memberikan nikmat, seperti memperbanyak mengucapkan “Alhamdulil-Lâh” (segala puji bagi Allah I). ”Barangsiapa mengucapkan subhânal-Lâh, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca Lâ ilâha illal-Lâh,...