METODE PENCARIAN KIBLAT MODERN
Deskripsi Masalah Pencarian arah kiblat dewasa ini terasa lebih mudah seiring dengan munculnya teknologi internet, seperti perangkat Google Map yang beroperasi dengan bantuan teknologi satelit. Hanya dengan mengoperasikannya, arah kiblat sudah dapat kita ketahui. Sementara dalam perspektif fikih, kita telah dikenalkan pencarian kiblat klasik dengan beragam variannya, mulai dari identifikasi terhadap struktur bumi (melihat posisi daerah, gunung), terhadap arah mata angin (barat, timur, selatan, dan utara), sampai analisa terhadap komponen langit (bintang, matahari). Tidak sebatas itu, kita juga telah dikenalkan tahapan-tahapan pencarian kiblat, mulai dari al-‘ilmu bin-nafsi (mengetahui secara langsung), pemberutahuan orang adil yang melihat kiblat, ijtihad, dan taklid terhadap mujtahid, sebagaimana yang tertuang dalam kitab-kitab fikih. Pertanyaan Bila pencarian kiblat via Google Map dan sejenisnya dianggap mu‘tabar, masuk dalam kategori manakah Google Map dari tahapan-tahapan pencarian kiblat yang ada dalam kitab fikih? Bila akurasi pencarian Google Map dinilai valid, wajibkah kita menggunakannya ketika berada dalam lokasi yang memungkinkan untuk mengetahui kiblat dengan cara-cara lain, seperti bertanya, melihat mihrab masjid, dan lain-lain? Jawaban Pencarian kiblat via Google Map termasuk kategori pencarian kiblat dengan alat yang bisa memberikan zhan (praduga kuat) arah kiblat, setara dengan Bait al-‘Ibrah (kompas) dalam segi kevalidannya. Kedudukanya dalam tahapan pencarian arah kiblat setara dengan berita dari orang adil atau semakna dengan ijtihad, sesuai dengan khilaf ulama. Tidak wajib. Rujukan وَيــَجُوْزُ اْلإعْتِمَادُ عَلَى بَيْتِ اْلإبــْرَةِ يَعْنِيْ الديْرَةَ فِيْ دُخُوْلِ اْلوَقْتِ وَاْلقِبْلَةِ ِلإفَادَتِهَا الظَنَّ كَاْلإجْتِهَادِ. (بغية المسترشدين ، 40) قَوْلُهُ: ( وَعَدِمَ ثِقَةً إلَخْ ) جُمْلَةٌ فِعْلِيَّةٌ مَاضَوِيَّةٌ حَالِيَّةٌ بِتَقْدِيرِ قَدْ، فَإِنْ وَجَدَ ثِقَةً يُخْبِرُ عَنْ عِلْمٍ وَلَوْ عَدْلَ رِوَايَةٍ أَوْ سَمِعَ أَذَانَهُ فِي صَحْوٍ أَوْ أَذَانَ مَأْذُونِهِ أَيْ الثِّقَةِ بِأَنْ أَذِنَ الْمِيقَاتِيُّ الثِّقَةَ الْمُؤَذِّنَ وَلَوْ صَبِيًّا مَأْمُونًا فِي ذَلِكَ، أَوْ رَأَى مِزْوَلَةً وَضَعَهَا عَارِفٌ ثِقَةٌ؛ لِأَنَّهُ كَالْمُخْبِرِ عَنْ عِلْمٍ وَمِثْلُهَا مِنْكَابٌ مُجَرَّبٌ، وَأَقْوَى مِنْهُمَا بَيْتُ الْإِبْرَةِ الْمَعْرُوفِ لِعَارِفٍ فَلَا يَجْتَهِدُ مَعَ وُجُودِ شَيْءٍ مِمَّا ذُكِرَ ا ج نَقْلًا عَنْ ق ل عَلَى الْجَلَالِ. (حاشية البجيرمي على الخطيب، 1/454) (قَوْلُهُ: لِإِفَادَتِهَا الظَّنَّ بِذَلِكَ الخ) هَذَا التَّعْلِيلُ يَقْتَضِي أَنَّ بَيْتَ الْإِبْرَةِ فِي مَرْتَبَةِ الْمُجْتَهِدِ، وَلَيْسَ مُرَادًا إذْ لَوْ كَانَ فِي مَرْتَبَتِهِ لَحَرُمَ عَلَيْهِ الْعَمَلُ بِهِ إنْ قَدَرَ عَلَى الِاجْتِهَادِ كَمَا يَحْرُمُ الْأَخْذُ بِقَوْلِ الْمُجْتَهِدِ، لَكِنَّ تَعْبِيرَهُ بِجَوَازِ الِاعْتِمَادِ يُشْعِرُ بِأَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْعَمَلِ بِهِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فَيَكُونُ مَرْتَبَةً بَيْنَ الْمُخْبِرِ عَنْ عِلْمٍ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ. (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج،...
‘Uzlah; Jalan Suci Obati Hati
Wali adalah gelar yang diberikan kepada orang yang mendapat kedekatan khusus dengan Allah SWT. Ada empat hal pokok yang bisa mengantarkan seseorang menjadi kekasih Allah SWT; Khalwah/’’uzlah (menghindari keramaian orang) sumthu (diam), jû` (lapar) dan sahr (tidak tidur malam).[1] Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum dilantik menjadi Nabi, sering menyepi di gua Hira`. Banyak para tokoh sufi yang cepat mencapai derajat kewalian melalui ‘uzlah. Ibnu Athaillah juga lebih menekankan ‘‘uzlah sebagai sarana yang paling efisien untuk menyatukan pikiran dengan Allah SWT, sehingga seorang sâlik dapat all out dalam beribadah.[2] Kenapa Harus ‘Uzlah? Secara etimologi ‘uzlah berarti menghindar dari sesuatu. Secara terminologi ‘uzlah adalah membebaskan diri dari masyarakat menuju kahadirat Allah SWT. Urgensitas ‘uzlah dalam proses sulûk dapat dilihat dari manfaat yang diberikan pada setiap orang yang menjalankannya. Terbebasnya seseorang dari berbagai kesibukan duniawi menjadi kesempatan untuk mendedikasikan diri dan seluruh waktunya untuk beribadah secara total. Di samping itu, ‘uzlah merupakan sarana yang dapat mengantarkan untuk intropeksi diri. Seseorang yang ber’uzlah, juga akan memiliki banyak waktu dalam berinteraksi dengan Allah SWT dan merenungkan ayat Allah SWT tanpa terpengaruh penyakit hati. Karena itulah orang yang berkeinginan merealisasikan ibadah secara sempurna mesti memiliki waktu-waktu kosong dan juga menghindari bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Sirâjuth-Thâlibîn mengungkapkan beberapa alasan kenapa seorang sâlik harus memisahkan diri dari khalayak ramai (‘uzlah). 1). Bergaul dengan khalayak ramai dapat menyebabkan lalai beribadah. Ini sangat bisa kita rasakan. Saat kita berkumpul dengan orang lain, maka kita juga harus melaksanakan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kita. Sehingga, kadang-kadang kita lalai terhadap kewajiban kita terhadap Allah SWT. 2). Berkumpul dengan banyak orang bisa menyebabkan ibadah yang dilakukan akan terjangkit penyakit hati, seperti riyâ` (ingin dilihat baik), ‘ujub (kagum dengan dirinya), dan takabbur (sombong). Sebagaimana kita ketahui bahwa Ikhlas dalam beribadah adalah syarat diterimanya amal. Untuk mencapai ikhlas ini kita harus memproteksi hati agar terhindar dari berbagai penyakit hati. Di antara usaha yang sangat baik adalah dengan cara ber-‘uzlah. Dengan ber-‘uzlah, maka segala yang kita kerjakan murni karena Allah SWT, karena memang di samping kita tidak ada orang lain. 3). Terbebas dari fitnah, permusuhan antar muslim, dan fanatisme golongan/bangsa. Seseorang yang mengasingkan diri dari masyarakat secara tidak langsung berarti ia membentengi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang mengundang munculnya fitnah, permusuhan antar sesama manusia, dan fanatisme golongan/bangsa. Namun, dalam ber-’uzlah kita harus menyakini bahwa masyarakat sekitar kita yang akan terhindar dari kejahatan yang kita perbuat, bukan justru beranggapan bahwa dirinya yang akan terhindar dari kejahatan mereka. Karena kalau dia masih merasa bahwa masyarakat yang akan membahayakan dirinya, maka berarti di hatinya masih terdapat virus ‘ujub. Faedah ‘uzlah yang paling penting adalah peluang untuk dapat bertafakkur dengan tenang. Ibnu...
Badan Pers Pesantren (BPP) Aktor Utama di Balik Majunya Media Pondok Pesantren Sidogiri
Kalau negara kita mempunya Dewan Pers yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol perjalanan media-media di tanah air, makaPondok Pesantren Sidogiri (PPS) memiliki Badan Pers Pesantren (BPP) yang juga berfungsi sebagai badan yang mengawasi, mengontrol, dan membimbing perjalan media-media di PPS. Sebab hingga saat ini, jumlah media di PPS sudah berjumlah 18 media. Jumlah yang sangat besar untuk ukuruan media pesantren. Dari 18 media ini, beberapa di antaranya didistribusikan secara umum kepada masyarakat. Seperti Buletin SIDOGIRI, Majalah IJTIHAD, Buletin IstinbaT, Majalah Laziswa, dan Buletin Tauiyah. Sedangkan sisanya, berupa media dengan format mading dan buletin yang dipublikasikan dan didistribusikan secara terbatas di lingkungan internal PPS. Banyaknya media yang dimiliki oleh PPS ini, mendorong pengurus untuk membentuk lembaga khusus yang mewadahi media-media tersebut. Maka, didirikanlah Badan Pers Pesantren (BPP) pada 1428-1430 H. Dengan berdirinya BPP ini, maka media-media di PPS tidak lagi bebas terbit sesuai dengan kemauan redaksinya. Tapi media yang mau mereka terbitkan masih harus melalui BPP untuk dikoreksi. Dalam pengoreksian ini, BPP mengacu pada tiga standar yang wajib dimiliki oleh media PPS. Pertama: Tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah, baik secara akidah, syariah, maupun akhlak. Kedua: Tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren yang diteladankan oleh para Masyayikh Sidogiri. Ketiga: Tidak rentan menimbulkan keresahan di masyarakat. Dengan tiga standar ini, media-media di PPS diharapkan benar-benar menjadi corong dakwah yang efektif di dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah kepada masyarakat. Selain pula dapat menjadi media yang menjadi penyambung PPS dengan alumni dan masyarakat umum. Secara umum ada dua tugas utama BPP sebagai payung media-media PPS: Pertama: Mengawasi, mengawal, dan mengarahkan penerbitan media PPS. Pengawasan di sini mencakup pengawasan konten (isi), penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tampilan desain. Satu hal lain yang juga diawasi adalah kedisiplinan terbit. Ini dimaksudkan supaya para awak media betul-betul aktif dan serius dalam mengelola media. Media yang tidak disiplin terbit dan pengelolaannya asal-asalan akan mendapat teguran dari BPP, dan bahkan bisa distop terbit. Secara rutin BPP mengadakan koordinasi dengan semua pimpinan redaksi media sebulan sekali. Mereka diundang untuk diajak sharing, rembuk, dan melaporkan keadaan medianya masing-masing. Sehingga apabila ada keluhan atau masalah, BPP dapat langsung memberikan masukan dan solusi. BPP juga memanfaatkan koordinasi bulanan ini untuk mensosialisasikan program-program yang dimilikinya. Selain itu, BPP juga melaporkan raport dari masing-masing media. Kedua: Membina dan mengembangkan media-media di PPS menuju ke arah yang lebih baik. Pembinaan dijalankan dalam bentuk kegiatan pelatihan, evaluasi, dan Orientasi Pers Pesantren . Orientasi Pers Pesantren dilakukan oleh BPP ini biasanya dilaksanakan setiap semester sekali dengan dengan mendatangkan tokoh-tokoh pers Nasional. Program ini wajib diikuti oleh semua redaksi. Sebagai upaya membuka wawasan lebih luas terkait ilmu jurnalistik, juga sebagai perbandingan bagi pengelola media pesantren dengan media arus utama. Untuk semester I ini BPP...
Mengapa Islam Lahir di Arab?; Analisis Sejarawan Kontemporer (Bag-2 Selesai)
Penulis: Badrus Sholeh Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana kondisi Bangsa Arab, ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, dibandingkan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Romawi, dan India, yang telah ada sejak pra Islam. Selanjutnya, tulisan kali ini akan menampilkan beberapa hasil analisis sejarawan kontemporer sebagai jawaban atas pertanyaan besar: Mengapa Bangsa Arab terpilih menjadi tempat kelahiran Islam?. Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri Bangsa Arab memiliki banyak karakter mulia seperti dermawan, tepat janji, menjaga harga diri, menjauhi kehinaan dan kelaliman, berkemauan kuat, lemah lembut, murah hati, penyayang, dan polos. Akhlak-akhlak mulia inilah yang menjadi faktor terpilihnya Bangsa Arab sebagai pengemban risalah universal, pemimpin umat manusia dan pembimbing masyarakat. Akhlak-akhlak ini–sekalipun sebagiannya mengundang keburukan–pada esensinya merupakan akhlak yang berharga yang mengalirkan kemanfaatan-kemanfaatan umum bagi masyarakat setelah ia mendapatkan perbaikan dari Islam.[1] Ali al-Hasani an-Nadawi Allah memilih Bangsa Arab sebagai generasi pertama penerima dakwah Islam untuk kemudian menyebarkannya ke penjuru daerah lainnya, karena hati mereka masih jernih, belum tertulis pemahaman-pemahaman rumit yang sulit dihapus, sebagaimana masyarakat Persia, Romawi, dan India, yang maju dan cemerlang dalam peradaban keilmuan serta filsafat yang luas. Mereka semua telah terikat pemikiran dan kejiwaan yang tidak mudah dilepaskan. Adapun hati Bangsa Arab hanya terisi tulisan-tulisan sederhana hasil tangan kebodohan dan nomaden, yang sangat mudah dihapus dan dibersihkan, untuk kemudian diganti dengan tulisan-tulisan baru. Secara keilmuan Bangsa Arab tergolong al-jahlu al-Basit yang mudah diobati. Sedangkan bangsa lain yang telah berperadaban tinggi tergolong al-Jahlu al-murakkab yang sulit dihilangkan dan diobati. Di samping itu, mereka adalah bangsa yang masih murni dan selalu berkeinginan kuat. Memang, ketika mereka tidak mampu memahami sebuah kebenaran, mereka akan memeranginya. Tapi, jika tabir penutup telah tersingkap dari mata mereka, mereka akan mencintai, memeluk, dan mati-matian untuk mencapainya.[2] Sa’id Ramadlan al-Buthi Hikmah terpilihnya Bangsa Arab sama dengan hikmah dijadikannya Rasulullah r seorang umi, agar manusia tidak ragu terhadap risalah kenabian dan dakwahnya. Adalah kesempurnaan hikmah Ilahiyah jika Rasulullah r diutus kepada Bangsa Arab yang waktu itu adalah masyarakat umi. Mereka belum terkontaminasi sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Sistem pemikiran mereka masih jernih dari filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitarnya. Tentu akan timbul keraguan (skeptis) di dada manusia, apabila Rasulullah r pandai baca-tulis dan akrab dengan kitab-kitab, sejarah umat terdahulu, dan peradaban negara-negara sekitarnya. Sebagaimana akan menimbulkan keraguan apabila dakwah Islam muncul di tengah-tengah umat yang berperadaban, berbudaya dan bersejarah seperti Persia, Yunani, atau pun Romawi. Mereka yang ragu dan menolak akan menuduh bahwa dakwah Islam tak lain adalah mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran filsuf yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna. Al-Qur’an telah menerangkan hikmah ini dengan ungkapan yang sangat jelas dalam firman Allah I yang artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara...
Mengapa Islam lahir di Arab?; Arab dan Peradaban Dunia Pra Islam (Bag-01)
Penulis : Badrus Sholeh Kita semua tahu bahwa agama Islam lahir di semenanjung Arab. Sebuah semenanjung barat daya Asia yang merupakan semenanjung terbesar dalam peta dunia, dengan luas yang mencapai kurang lebih seperempat wilayah Eropa, atau sepertiga wilayah Amerika, yaitu 2.745.900 km. Disamping itu, semenanjung Arab termasuk salah satu wilayah terkering dan terpanas, karena sebagian besar daratannya terdiri dari gurun pasir dan pegunungan yang tandus.[1] Yang menjadi pertanyaan banyak orang kemudian adalah, mengapa Allah I memilih semenanjung gersang ini sebagai tempat kelahiran Islam? Mengapa tidak memilih belahan dunia lain? Mengapa Allah I memilih bangsa Arab, yang waktu itu (abad ke-6 M), jauh terbelakang dalam hal peradaban, jika dibandingkan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, seperti Romawi dan Persia, sebagai generasi pertama yang menerima risalah Muhammadiyyah? Mengapa tidak memilih bangsa yang berperadaban lebih maju saja? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita terlebih dahulu perlu mengetahui bagaimana kondisi Arab dan peradaban-peradaban lainnya seperti Romawi, Persia, India dan Yunani, yang ada pada masa pra kelahiran Islam. Tulisan bagian pertama ini akan fokus membahas tentang kondisi bangsa-bangsa tersebut diditinjau dari berbagai aspek kehidupan. Persia Waktu itu, Persia yang merupakan salah satu negara adikuasa dunia -selain Romawi Timur (Bizantium)- adalah ladang subur berbagai khurafat keagamaan dan filsafat yang saling bertentangan. Salah satunya adalah Zoroaster yang menjadi keyakinan kaum penguasa. Diantara ajarannya adalah mengutamakan perkawinan dengan ibu kandung, anak perempuan, atau saudara perempuan sendiri. Sebab itu, kemudian Yazdajird II (yang memerintah pada pertengahan abad kelima Masehi) mengawini anak perempuannya sendiri.[2] Di Persia juga terdapat ajaran Mazdakiah, yang menghalalkan wanita secara bebas, membolehkan pemilikan harta orang lain secara zhalim, dan menjadikan manusia sebagai serikat dalam keduanya sebagaimana perserikatan manusia dalam masalah air, api, dan rumput. Artinya, wanita dan harta adalah miliki bersama yang berhak digunakan dan dinikmati siapa saja. Karena itu, seseorang dianggap sah-sah saja merebut sesuatu milik orang lain. Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari kaum pengumbar hawa nafsu.[3] Romawi Timur (Bizantium) Bangsa ini tidak kalah rusak dari Persia. Romawi Timur adalah bangsa yang penuh dengan semangat kolonialisme. Pertentangan agama di kalangan mereka (baik antar sesama Kristen atau keyakinan lain) selalu berujung dengan persekusi dan pertumpahan darah. Demi menyebarkan agama Kristen dan mempermainkannya sesuai hawa nafsu, mereka tidak segan-segan mengerahkan kekuatan militer serta ambisi kolonialnya. Di samping itu, penyalah gunaan, kelaliman, dan kemerosotan ekonomi, telah menyebar ke seluruh penjuru negeri Bizantium akibat melimpahnya penghasilan dan menumpuknya pajak.[4] Yunani Kondisi Yunani juga tidak lebih baik dari mereka. Negeri ini tenggelam dalam lautan khurafat dan mitologi yang tidak pernah mengantarkan pada kesimpulan yang bermanfaat.[5] India Para penulis sejarah India sepakat bahwa, India yang pada zaman dahulu unggul dalam berbagai macam disiplin keilmuan, seperti ilmu pasti, perbintangan, kedokteran, dan filsafat, kemudian...