Sidogiri Fasilitasi Tatap Rindu Santri dan Keluarganya
Okt07

Sidogiri Fasilitasi Tatap Rindu Santri dan Keluarganya

Kabar gembira bagi wali santri, Pondok Pesantren Sidogiri sudah menjalankan layanan video call. Dengan layanan ini, wali santri yang tidak bisa menemui buah hatinya karena pandemi bisa melepas rindu dengan bertatap muka meski hanya secara virtual. Demi keamanan dan efektivitas kegiatan belajar mengajar santri selama pandemi, Pondok Pesantren Sidogiri membatasi dan memperketat akses keluar-masuk pesantren. Wali santri tidak diperkenankan berkunjung dan menemui anaknya. Benih-benih rindu pasti tumbuh di antara mereka, lebih-lebih bagi yang baru. Untuk mengatasi hal itu, sesuai dengan hasil keputusan rapat Tim Perumus di bulan Ramadan tahun lalu, pengurus Pondok Pesantren Sidogiri memfasilitasi santri dengan layanan video call. Beberapa pekan yang lalu, fasilitas layanan video call sudah dioperasikan, tapi untuk sementara hanya di asrama santri baru saja (M dan L). “Layanan ini diadakan karena dampak kondisi pandemi sejak tahun kemarin. Hanya saja untuk awal, kami mulai dari daerah santri baru (M dan L), karena sepertinya lebih membutuhkan. Jika berjalan lancar, kemungkinan akan dilanjutkan ke daerah yang lain,” jelas Ustaz Syamsul Huda Mahfudh, Sekretaris I Pondok Pesantren Sidogiri. Sekalipun diadakan karena pandemi, program layanan video call ini akan tetap berlanjut sampai ada keputusan dan kebijakan baru dari pengurus. “Dalam ketetapan program sekretaris I tersebut sifatnya umum. Selagi belum ada perubahan ketetapan, ya, tetap ada sekalipun pandemi sudah berakhir,” lanjut sosok penemu kaligrafi bakar ini. Sebagai penanggung jawab, Ustaz Syamsul Huda, menyampaikan pesan dan ucapan terima kasih pada semua wali santri “Monggo manfaatkan sarana yang ada dan ikuti ketentuannya. Terima kasih kepada semua wali santri atas masukan, saran, usulan dan kritikan. Semoga tercatat sebagai amal baik.” Beliau juga mengungkapkan permintaan maaf atas segala kekurangan, ”Mohon maaf kepada semua wali santri atas kekurangan layanan, khususnya dalam persediaan layanan komunikasi. Semoga niat mulia wali santri dan pengurus diijabahi Allah.” _________ Penulis: Mohammad Iksan Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Potong Rambut Sebelum Mandi
Okt06

Potong Rambut Sebelum Mandi

a. Deskripsi Masalah Suatu ketika, salah seorang santri yang ketepatan sedang hadats besar hendak mandi. Karena khawatir rambutnya kena potong oleh pengurus Bagian Ketertiban dan Keamanan, akhirnya ia pergi ke tempat wudhu yang tersedia di Asrama dan mandi separuh badan (bagian atas badan saja). Setelah itu, ia baru meminta bantuan pada seorang temannya untuk memotongkan rambutnya. b. Pertanyaan Bagaimana hukum mandi santri tadi?Bagaimana pula hukum pemotongan rambutnya?Seandainya ia memotong rambutnya sebelum diba-suh, apakah ia wajib membasuhnya ketika mandi? c. Jawaban Mandinya dihukumi sah untuk anggota badan yang sudah dibasuh saja. Karena muwâlâh (bersegera) dengan meratakan air ke seluruh anggota badan bukan merupakan persyaratan mandi. Namun, sebe-lum mandinya disempur-nakan, dia tidak boleh melaku-kan salat dan larangan-larangan yang lain. Sebab di antara syarat salat adalah harus suci dari hadats.Pada dasarnya tidak ada larangan bagi orang junub untuk memotong rambutnya. Hanya saja, orang yang sedang junub disunahkan untuk tidak memotong ram-but atau yang lain sebelum bersuci dari hadats besar.Rambut atau anggota tubuh lain yang dipotong sebelum dibasuh atau disucikan dari hadats besar tidak wajib dibasuh kembali ketika mandi. d. Rujukan وَلَوْ نَوىَ رَفْعَ الجَنَابَةِ وَغَسَلَ بَعْضَ البَدَنِ، ثُمَّ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَأرَادَ غَسْلَ البَاقِيْ، لَمْ يَحْتَجْ إلىَ إعَادَةِ النِيَّةِ (قَوْلُهُ: لَمْ يَحْتَجْ إلىَ إعَادَةِ النِيَّةِ) أيْ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ المُوَالاَةِ فِيْهِ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ فَقَطْ، كَمَا خَرَّجَ بِهِ فِيْ المَنْهَجِ فِي بَابِ التَّيَمُّمِ. اهـ (إعاَنَةُ الطَّالِبِيْن1/75). فَإنْ وَضَعَ يَدَهُ فيِ الماَءِ بِنِيَّةِ رَفْعِ الحَدَثِ الأَكْبَرِ، إرْتَفَعَ حَدَثُ يَدِهِ فيِ المَاءِ وَصَارَ مُسْتَعْمَلاً. اهـ (نِهَايَةُ الزَّيْن, 30). (فَائِدَةٌ) قَالَ فِي الإحْيَاءِ لاَيَنْبَغِي أنْ يَحْلِقَ اوْ يَقْلَمَ اوْيَسْتَحِدَّ اوْيُخْرِجَ دَمًا أوْ يَبِيْنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْأً وَهُوَ جُنُبٌ، إذْ تُرَدُّ عَلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي الآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُبًا وَيُقَالُ أنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجَنَابَتِهَا. اهـ (إقْنَاع فِي حَلِّ الْفَاظِ أبِيْ شُجَاع, 1/60). وَمَن لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ أنْ لاَ يُزِيْلَ شَيْأً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْ دَمًا أوْ شَعْرًا أوْ ضَفْرًا حَتَّى يَغْسِلَ لأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فيِ الآخِرَةِ اهـ (نِهَايَةُ الزَّيْن, 33). وَيَجُوْزُ لِلْجُنُبِ وَالحَائِضِ إِزَالَةُ الشَّعْرِ وَقَصِّ الظَّفَرِ وَالخُرُوجُ إلىَ السُوْقِ وَغَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ. قَالَ عَطاَء: يَحْتَجِمُ الجُنُبُ، وَيَقْلَمُ أَظَافِرَهُ وَيَحْلَقُ رَأْسَهُ وَإنْ لَمْ يَتَوَضَّأ, رَوَاهُ البُخَارِيُّ اهـ (الفِقْهُ السُنَّة,...

Selengkapnya
Anggota Wudhu Terhalang Kulit Kering
Okt05

Anggota Wudhu Terhalang Kulit Kering

a. Deskripsi Masalah Ali tengah menderita penyakit bengkak-bengkak dan bernanah pada jari-jarinya. Semakin hari bengkaknya kian melebar hingga mencapai kira-kira 2 cm. Akhirnya, bengkak tersebut meletus dan kulitnya pun mengering. Menurut pengamatannya, air wudhu tidak dapat masuk karena kulitnya kering. Dan jika ia memaksa untuk mengelupas kulit itu, ia tidak mampu menahan rasa sakitnya. b. Pertanyaan Sahkah wudhu Ali dengan keadaan sebagian kulit jari-jarinya yang kering?Bolehkah dia bertayamum untuk kulit yang kering (disamakan dengan orang yang pada sebagian anggota wudhunya terdapat perban)? c. Jawaban Wudhu Ali tetap sah, karena kulit yang mengering disebabkan luka bukan termasuk sesuatu yang menjadi hâ’il (penghalang) bagi sampainya air pada kulit. Bahkan, kulit tersebut harus dibasuh karena termasuk bagian dari anggota badan.Wudhu tersebut tidak perlu disempurnakan dengan tayamum, karena masih bisa bersuci dengan cara berwudhu. d. Rujukan (فَرْعٌ) لَوْ دَخَلَتْ شَوْكَةٌ فِيْ رِجْلِهِ وَظَهَرَ بَعْضُهَا وَجَبَ قَلْعُهَا وَغَسْلُ مَحَلِّهَا لأَنَّهُ صَارَ فِي حُكْمِ الظَّاهِرِ فَإنْ اسْتَرَتْ كُلُّهَا صَارَتْ فِي حُكْمِ البَاطِنِ فَيَصِحُّ وُضُوءُهُ. وَلَوْ تَنَفَّظَ فِي رِجْلٍ او غَيْرِهِ لَمْ يَجِبْ غَسْلُ بَاطِنِهِ مَالَمْ يَتَشَقَّقْ، فَإنْ تَشَقَّقَ وَجَبَ غَسْلُ بَاطِنِهِ مَالَمْ يَرْتَتِقْ اهـ (إعَانَةُ الطَالِبِيْنَ, 1/53). والرَّابِعُ: النَّقَاعُ عَمَّا يَمْنَعُ وُصُولَ المَاءِ إلىَ البَشَرَةِ كَدُهْنٍ جَامِدٍ وَشَمْعٍ وَعَيْنِ حَبْرٍ وَحَنَاءٍ بِخِلاَفِ أثَرِهِمَا وَشَوْكَةٍ لَوْ أُزِيْلَتْ لَمْ يَلْتَئِمْ مَحَلُّهَا، وَدَمٍ وَغُبَارٍ عَلَى عَضْوٍ لاَ عِرْقٍ مُتَجَمِّدٍ عَلَيْهِ وَوَسَخٍ تَحْتَ الأظْفَارِ وَرَمَصًا فِيْ العَيْنِ وَلَيْسَ فِي العَيْنِ وَلَيْسَ مِنْهُ طَبُوعٌ عَسَرَ زَوَالُهُ فَيُعْفَى عَنْهُ، وَكَذَا قِشْرَةُ الدُمَّلٍ بَعْدَ خُرُوجِ مَا فِيْهَا وإنْ سَهُلَتْ إزَالَتُهَا بَلْ أوْلَى مِنَ العِرْقِ لأنَّهَا جُزْءٌ مِنَ البَدَنِ. اهـ (كاشِفَةُ السَّجَا, 115). وَمِنَ الحَائِلِ رَمَصٌ فِيْ العَيْنِ وَتُسَمِّيهِ العَامَّةُ بِالعَمَاصِ، وَكَذاَ وَسَخٌ مُتَرَاكِمٌ نَشَأَ مِنْ غُبَارٍ وَاَمْكَنَ فَصْلُهُ-إلى أن قال-فَإنْ نَشَأَ مِنْ بَدَنِهِ وَهَوَ العَرَقُ المُتَجَمَّدُ، فَلاَ يَضُرُّ وَإنْ قَدَرَ عَلىَ إزَالَتِهِ وَكَذَا لاَيَضُرُّ وُجُودُ قِشْرِالدُمَّلِ وَإنْ سَهُلَتْ إزَالَتُهَا بَلْ أوْلَى لأنَّهَا جُزْءٌ مِنَ البَدَنِ اهـ (فَتْحُ العَلاَّم,...

Selengkapnya
Empat Kategori Penilaian di Ujian Akhir Marhalah Enam
Okt04

Empat Kategori Penilaian di Ujian Akhir Marhalah Enam

Peserta ujian tampak besiap membaca ayat al-Quran sesuai undian Bertempat di Gedung An-Nawawi Lt. II, ujian akhir marhalah 6 MTQ digelar sejak malam sabtu (02/10) sampai malam kamis (07/10). Sebagai pihak penyelenggara, pengurus Taklimiyah wa Tahfidzul Quran (TTQ) berharap ujian kali ini berjalan lancar dan hasilnya memuaskan. Sebagaimana yang sudah dilaksanakan, di bawah koordinasi Wakil III, TTQ mengadakan ujian kenaikan dan kelulusan marhalah mutaallim MTQ dua kali dalam setahun untuk mengevaluasi hasil belajar mereka. Setelah ujian kenaikan marhalah sukses terlaksana, TTQ melanjutkan agendanya dengan menggelar ujian akhir marhalah 6. Sebanyak 500 lebih peserta ujian akhir diuji secara bergantian dan terjadwal dalam waktu 6 hari. TTQ mengerahkan 34 juri dengan rincian; 30 juri ditempatkan di 10 ruang yang sudah ditetapkan (1 ruang 3 juri) dan 4 lainnya sebagai juri piket. Pada waktu pelaksanaan, semua peserta diharuskan memakai seragam sekolah, membawa kartu ujian dan hadir ke tempat yang telah ditentukan 5 menit sebelum ujian dimulai. Setiap dari mereka membaca ayat al-Quran sesuai undian di hadapan tiga juri yang menilainya. Penilaian dalam ujian akhir marhalah 6 ini meliputi 4 kategori, yaitu fashahah, tajwid, gharaib dan kelancaran. “Untuk fashahah meliputi makhraj dan sifat huruf. Hukum Nun dan Mim Sukun serta bacaan Mad masuk kategori penilaian tajwid. Sementara kesalahan yang sering terjadi dalam segi kelancaran adalah mengubah harakat dan huruf,” jelas Ustaz Zaidul Khoir, Ketua Panitia Ujian MTQ. Selain itu, peserta juga diwanti-wanti untuk memperhatikan betul masalah penempatan waqaf dan ibtida, sebab keduanya termasuk kategori penilaian kelancaran. Sementara itu, untuk mekanisme penilaiannya adalah setiap satu kesalahan mengurangi 5 poin dari nilai maksimum (100). Peserta ujian akan dinyatakan lulus jika nilainya tidak kurang dari 70 di masing-masing kategori. Penulis: Mohammad Iksan Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Jam Beker Bertuliskan Al-Quran
Okt04

Jam Beker Bertuliskan Al-Quran

a. Deskripsi Masalah Saat ini, kreatifitas menjadi tuntutan tersendiri dalam dunia bisnis, sampai-sampai ada jam beker yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an. b. Pertanyaan Bagaimana hukum orang yang sedang hadats memegang dan membawa jam beker yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an, seperti dalam deskripsi masalah? c. Jawaban Memegang dan membawa sesuatu yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an bagi orang yang sedang hadats hukumnya haram apabila maksud dan tujuan penulisan ayat-ayat al-Qur’an tersebut untuk dirâsah (dibaca, dikaji atau dipelajari). Namun bila tujuan penulisannya tidak untuk dirâsah, seperti dibuat jimat, maka orang yang sedang hadats pun boleh memegang dan membawanya. Sementara apabila maksud dan tujuan penulisan tersebut tidak jelas, maka perlu untuk melihat beberapa faktor dan indikasi dari penulisannya terlebih dahulu. Dan jika dengan memperhatikan beberapa faktor dan indikasi penulisan tersebut masih tidak menjumpai titik temu, sehingga tetap ada keraguan (ketidak-jelasan), maka ada dua pandapat: ada yang memperbolehkan, ada pula yang mengharamkan, dengan alasan untuk menghormati dan menjaga kemuliaan al-Qur’an. d. Rujukan وَحَمْلُ وَمَسُّ مَا كُتِبَ لِدَرْسِ قُرْآنٍ وَلَوْ بِخِرْقَةٍ لِشِبْهِهِ بِالمُصْحَفِ بِخِلاَفِ مَا كُتِبَ لاَ لِلدِّرَاسَةِ كالتَّمَائِمِ اهـ (هَامِشْ مَوْهِبَةِ ذِيْ الفَضْلِ, 1/324-325). (قَوْلُهُ وَحَمْلُ وَمَسُّ كِتَابٍ) فَإنْ قُصِدَ بِهِ دِرَاسَةً حَرُمَ اوْ لِلتَّبَرُّكِ، لَمْ يَحْرُمْ. وَإنْ لَمْ يَقْصِدْ بِهِ شَيْءٌ، نَظَرَ لِلْقَرِيْنَةِ فِيْمَا يَظْهَرُ اهـ (مَوْهِبَةُ ذِيْ الفَضْلِ,1/324). وَهَلِ العِبْرَةُ بِالقَصْدِ وَقْتَ الكِتَابَةِ دُوْنَ مَا بَعْدَهُ، اوْ يَتَغَيَّرُ الحُكْمُ مِنَ الحُرْمَةِ إلى الحِلِّ وَعَكْسِهِ بِتَغَيُّرِ القَصْدِ؟ قَالَ الرَّمْلِيُّ وابْنُ حَجَرٍ بِالأَوَّلِ وَقاَلَ القَلْيُوبِيُّ بِالثَّانِيْ. وَلَوْ شَكَّ أَقَصَدَ بِهِ الدِّرَاسَةَ او التَّبَرُّكَ فَقِيْلَ يَحِلُّ وَقِيْلَ يَحْرُمُ تَعْظِيْمًا لِلْقُرآنِ. اهـ (فَتْحُ العَلاَّم,...

Selengkapnya