Bacaan al-Qur’an Banyak yang Salah
Des22

Bacaan al-Qur’an Banyak yang Salah

a. Deskripsi Masalah Pada suatu hari, di masjid ada seseorang yang mengaji di dekat saya. Ternyata bacaannya banyak yang salah, sehingga saya enggan untuk duduk di dekatnya. b. Pertanyaan Bagaimana hukum membenarkan bacaan orang yang sering salah tersebut? Apakah tindakan saya dengan pindah tempat dan menjauh darinya dapat dibenarkan? Jika tidak, apakah tindakan yang paling tepat bagi saya? c. Jawaban Hukum membenarkan bacaan yang salah itu wajib. Tidak dibenarkan, karena dia masih punya kewajiban membenarkan bacaan yang salah. Menegur dan melarang untuk melanjutkan bacaannya (menghentikannya). d. Rujukan وَمِنْهَا قِرَاءَةُ القُرْأَنِ بِاللَّحْنِ يَجِبُ النَّهْيُ عَنْهُ وَيَجِبُ تَلْقِيْنُ الصَّحِيْحِ-إلى أن قال-وَالَّذِي يَكْثُرُ اللَّحْنُ فِي القُرْأنِ إِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى التَّعَلُّمِ فَلْيَمْتَنِعْ مِنَ القُرْآنِ قَبْلَ التَّعَلُّمِ فَإِنَّهُ عَاصٍ بِهِ وَإِنْ كَانَ لاَيُطَاوِعُهُ اللِّسَانُ فَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مَا يَقْرَؤُهُ لَحْنًا فَلْيَتْرُكْهُ وَلْيَجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الفَاتِحَةِ وَتَصْحِيْحِهَا وَإِنْ كَانَ الأَكْثَرُ صَحِيْحًا وَلَيْسَ يَقْدِرُ عَلَى التَّسْرِيَةِ فَلاَ بَأْسَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَهُ وَلَكِنْ فَيَنْبَغِي اَنْ يَخْفَضَ بِهِ الصَّوْتَ حَتىَّ لاَيَسْمَعَ غَيْرُهُ اهـ (إحياء علوم الدين, 2/364). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Ayat al-Qur’an tidak Sesuai Isi Ceramah
Des22

Ayat al-Qur’an tidak Sesuai Isi Ceramah

a. Deskripsi Masalah Pada umumnya orang yang berceramah atau berpidato selalu menyertakan dalil ayat al-Qur’an untuk mendukung materi ceramahnya. Tidak sedikit dalil ayat al-Qur’an tadi diterjemahkan sedemikian rupa agar cocok dengan konteks ceramah atau pidatonya. Padahal kandungan dari ayat al-Qur’an tadi sebenarnya tidak begitu. Hal ini misalnya terjadi dalam ceramah kampanye. b. Pertanyaan Bagaimanakah kriteria penilaian benar tidaknya terjemahan atau penafsiran suatu ayat al-Qur’an? Bolehkah terjemahan dan penafsiran terhadap ayat al-Qur’an tadi disamakan dengan konteks ceramah atau pidato, sebagaimana yang sering dilakukan oleh mubalig, kendati sesungguhnya kadang-kadang tidak begitu? c. Jawaban Kriteria penilaian benar tidaknya tafsir sebagai berikut: sesuai dengan tujuan syarak, jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, dan berpegang pada uslûb bahasa Arab dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Selama tidak menyimpang dari tafsir dan takwil yang benar, maka hukumnya boleh. d. Rujukan أَنْوَاعُ التَّفْسِيْرِ بِالرَّأْيِ: وَعَلَى هَذَا يُمْكِنُ تَقْسِيْمُ التَّفْسِيْرِ اِلَى قِسْمَيْنِ: تَفْسِيْرٍ مَحْمُوْدٍ وَتَفْسِيْرٍ مَذْمُوْمٍ، فَالتَّفْسِيْرُ الْمَحْمُوْدُ مَا كَانَ مُوَافِقًا لِغَرْضِ الشَّارِعِ بَعِيْدًا عَنِ اْلجَهَالَةِ وَالضَّلاَلَةِ مُتَمَشِّيًا مَعَ قَوَاعِدِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مُعْتَمِدًا عَلَى أَسَالِيْبِهِ فِيْ فَهْمِ النُّصُوْصِ الْقُرْآنِيَّةِ الْكَرِيْمَةِ اهـ (التبيان في علوم القرآن، 157). التَّأْوِيْلُ فِي اْلأَصْلِ التَّرْجِيْعُ وَفِي الشَّرْعِ صَرْفُ اللَّفْظِ عَنْ مَعْنَاهُ الظَّاهِرِ اِلَى مَعْنًى يَحْتَمِلُهُ اِذَا كَانَ الْمُحْتَمِلُ الَّذِيْ يَرَاهُ مُوَافِقًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ اِنْ اَرَادَ بِهِ إِخْرَاجَ الطَّيْرِ مِنَ الْبَيْضَةِ كَانَ تَفْسِيْرًا وَاِنْ اَرَادَ إِخْرَاجَ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْكَافِرِ اَوِ الْعَالِمِ مِنَ الْجَاهِلِ كَانَ تَأْوِيْلاً اهـ (التعريفات, 51). (الفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ) فِيْمَا يَحْتَاجُهُ التَّفْسِيْرُ وَمَعْنَى التَّفْسِيْرِ بِالرَّأْيِ وَحُكْمِ كَلاَمِ السَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ فِي الْقُرْآنِ فَاَمَّا مَا يَحْتَاجُهُ التَّفْسِيْرُ فَأُمُوْرٌ: (اَلأَوَّلُ) عِلْمُ اللُّغَةِ، لأَنَّ بِهِ يُعْرَفُ شَرْحُ مُفْرَدَاتِ اْلأَلْفَاظِ وَمُوَالاَتِهَا بِحَسَبِ الْمَوْضِعِ، وَلاَ يَكْفِي الْيَسِيْرُ، اِذْ قَدْ يَكُوْنُ اللَّفْظُ مُشْتَرَكًا وَهُوَ يَعْلَمُ اَحَدَ الْمَعْنَيَيْنِ وَالْمُرَادُ الأَخِيْرُ، فَمَنْ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا بِلُغَاتِ الْعَرَبِ لاَ يَحِلُّ لَهُ التَّفْسِيْرُ، كَمَا قَالَهُ مُجَاهِدٌ، وَيُنَكَّلُ كَمَا قَالَهُ مَالِكٌ، وَهَذَا مِمَّا لاَ شُبْهَةَ فِيْهِ، نَعَمْ رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْقُرْآنِ يُمَثِّلُ لَهُ الرَّجُلُ بِبَيْتٍ مِنَ الشِّعْرِ فَقَالَ مَا يُعْجِبُنِيْ، وَهُوَ لَيْسَ بِنَصٍّ فِي الْمَنْعِ عَنْ بَيَانِ الْمَدْلُوْلِ اللُّغَوِيِّ الْعَارِفِ كَمَا لاَ يَخْفَى. (الثَّانِيْ) مَعْرِفَةُ اْلأَحْكاَمِ الَّتِيْ لِلْكَلِمِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ جِهَةٍ اَفْرَادِهَا وَتَرْكِيْبِهَا، وَيُؤْخَذُ ذَلِكَ مِنْ عِلْمِ النَّحْوِ، أَخْرَجَ أَبُوْ عُبَيْدٍ عَنِ الْحَسَنِ أنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَتَعَلَّمُ الْعَرَبِيَّةَ يَلْتَمِسُ بِهَا حُسْنَ الْمَنْطِقِ وَيُقِيْمُ بِهَا قِرَاءَتَهُ فَقَالَ حَسَنٌ، فَتَعَلَّمْهَا فَإِنَّ الَّرجُلَ يَقْرَأُ اْلآيَةَ فَيَعْيَا بِوَجْهِهَا فَيَهْلِكُ فِيْهَا، وَفِيْ قِصَّةِ اْلأَسْوَدِ مَا يُغْنِيْ عَنِ الإِطَالَةِ. (الثَّالِثُ) عِلْمُ الْمَعَانِيْ وَالْبَيَانِ وَالْبَدِيْعِ، وَيُعْرَفُ بِاْلأَوَّلِ خَوَاصُّ تَرَاكِيْبِ الْكَلاَمِ مِنْ جِهَةِ إِفَادَتِهَا الْمَعْنَى، وَبِالثَّانِيْ خَوَاصُّهَا مِنْ حَيْثُ اخْتِلاَفُهَا، وَبِالثَّالِثِ وُجُوْهُ تَحْسِيْنِ الْكَلاَمِ، وَهُوَ الرُّكْنُ اْلأَقْوَمُ وَاللاَّزِمُ اْلأَعْظَمُ فِي هَذَا الشَّأْنِ كَمَا لاَ يَخْفَى ذَلِكَ عَلَى مَنْ ذَاقَ طَعْمَ الْعُلُوْمِ وَلَوْ بِطَرْفِ اللِّسَانِ. (الرَّابِعُ) تَعْيِيْنُ مُبْهَمٍ وَتَبْيِيْنُ مُجْمَلٍ وَسَبَبِ نُزُوْلٍ وَنَسْخٍ، وَيُؤْخَذُ ذَلِكَ مِنْ عِلْمِ الْحَدِيْثِ. (الْخَامِسُ) مَعْرِفَةُ...

Selengkapnya
Telat Orgasme
Des22

Telat Orgasme

a. Deskripsi Masalah Ada Pasutri (pasangan suami istri) melakukan hubungan seksual. Aktivitas tersebut baru dihentikan setelah suami mecapai orgasme, walaupun istri belum orgasme. Selanjutnya Pasutri tersebut mandi besar. Namun, beberapa jam kemudian sperma suami yang tertinggal di mulut rahim istri keluar. b. Pertanyaan Wajibkah Si istri mandi lagi? c. Jawaban Ia wajib mandi lagi. Karena secara lahir, sebagian mani yang keluar tersebut adalah mani Si istri itu sendiri. d. Rujukan (قوله وَخَرَجَ بِمَنِيِّهِ مَنِيُّ غَيْرِهِ)-إلى أن قال-أوْفِى قُبُلِهَا وخَرَجَ مِنْهُ بَعْدَ مَاذُكِرَ فَإِنْ قَضَتْ شَهْوَتُهَا حَالَ الوَطْءِ بِأَنْ كَانَتْ بَالِغَةً مُخْتَارَةً مُسْتَيْقِظَةً وَجَبَ عَلَيْهِ إِعَادَةُ الغُسْلِ لِأَنَّ الظَّاهِرَأَنَّهُ مَنِيُّهُمَا مَعًا لِاخْتِلَاطِهِمَا وَأُقِيْمَ الظًّنُّ هُنَا مَقَامَ اليَقِيْنِ اهـ (الشرقاوى, 1/77). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Tentang DMTS
Des21

Tentang DMTS

TTQ kembali mengadakan Rapat bawaha, di garis koordinasi Wakil ll TTQ khususnya dibagian Musyawarah, pada malam Sabtu, 23 Rabius Tsani 1441 H. Bahan pembahasan utama yang diperbincangkan adalah mengenai Musyawarah yang rutin diselenggarakan setiap tahun yakni DMTS (Daurah Musyawarah Tingkat Tsanawiyah) yang ditangani oleh pengurus TTQ bagian musyawarah. Ustaz Fahmi Aziz menyampaikan, bahwa musyawarah rutinan ini akan ditiadakan sejak tahun sebelumnya, namun hal itu tidak terjadi, karena berbagai alasan dan pertimbangan, maka DMTS masih perlu untuk tetap diselenggarakan, “Rencana awal musyawarah ini hanya akan dihadiri delegasi dari dalam pondok saja, tidak megundang dari luar pondok, karena rencana dari pengurus TTQ masa khidmah 1439-1440 H DMTS akan di hapus”, terang beliau. Namun hal ini tidak terlaksana dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Sehingga dengan tetap diadakannya DMTS, maka panitia pelaksana berencana akan mengundang delegasi dari luar pondok Pesantren Sidogiri. Dan rencananya, pengurus bagian musyawarah akan mengundang dari PP. Lirboyo dan pesantren-pesantren lain yang kompeten dalam bidang musyawarah di wilayah Jawa Timur, namun oleh ustaz Fahmi Aziz Selaku kepala bagian Taklimiyah wa Tahfidz Al-Qur’an, sudah menganggap cukup mengundang delegasi dari pesantren-pesantren ternama di Pasuruan, “Saya rasa cukup mengundang delegasi dari pondok ternama yang ada di Pasuruan saja”. Ujar beliau. Keputusan di atas menjadi kesepakatan bersama, hari dan tanggal pelaksanaan DMTS pun menjadi bahan perbincangan berikutnya, jika di tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan berdekatan dengan berakhirnya pelaksanaan Imtihan Dauri (IMDA) yang ke-2, dan untuk tahun ini pelakasanaan  DMTS akan dilaksanakan jauh hari pasca pelaksanaan IMDA II berakhir, setelah mempertimbangkan beberapa pertimbangan dan faktor lainnya, maka malam jum’at tanggal 21 Jumadil Ula 1441 H, menjadi hari dan waktu yang telah di tetapkan dan disepakati oleh pimpinan TTQ dan semua pengurus serta panitia DMTS untuk tahun ini. [ATTAHQIQ|...

Selengkapnya
Beginilah Kehidupan Dunia yang Lebih Baik
Des21

Beginilah Kehidupan Dunia yang Lebih Baik

Kau takkan merasakan, bagaimanakah manisnya malam pulangan bagi santri? Setelah menderita lima bulan lantaran berpisah dari keluarga, para tetangga, dan teman-teman sekolah. Bahkan, ada sebagian santri—khususnya orang luar pulau—yang tak menghirup udara segar kampungnya selama bertahun-tahun. Baru jika kaumondok, dan merasakan betapa pahitnya kehilangan peluk hangat dari ibunda; hadiah menarik dari ayah; dan senyuman mungil dari adik dan keponakan, kau akan tahu betapa indahnya mereka semua. Lebih singkatnya, kebahagian itu hanya terletak pada kebersamaan. Selain itu, tak ada lagi. Teringat akan sebuah cerita yang sudah lumrah. Kurang lebihnya begini. Seorang anak menanyakan perihal gaji ayahnya selama satu hari. Lalu, anak itu memberikan uang dengan jumlah serupa kepada ayahnya, seraya berkata, “Maukah ayah kusewa dalam satu hari untuk menemaniku bermain?” Pertanyaan itu menegur seseorang yang menghiraukan indahnya kebersamaan. Padahal sebenarnya, sang ayah juga ingin membahagiakan keluarga dengan menyibukkan dirinya mencari uang.Dengan uang, hidupnya akan lebih baik, pikirnya. Padahal hakikatnya, kebersamaanlah yang merupakan muara dari kebahagiaan. Ingatlah, uang bisa dicari. Tapi kebersamaan hanyalah sampai mati. Begitu pula—cerita seorang anak tadi—menegor para pemuda yang memutuskan untuk menyindiri—atau lebih tepatnya, berdua dengan gatget-nya—dari pada harus berkumpul. Memang benar kata O. Shalihin dalam bukunya Sosmed Addict; Kecanduan yang Tak Perlu bahwa motto-nya orang dulu adalah, “Magan ora mangan, seng penting ngumpul”. Beda halnya dengan menusia sekarang yang sudah berbalik arah, “Mangan ora mangan, seng penting nyosmed”. Tidak hanya orang biasa yang sanagt peduli pada kebersamaan. Manusia terbaik di muka bumi ini, Nabi Muhammad SAW juga sangat peduli. Bahkan menggambarkan umat Islam laksana seseorang, sedangkan satu-persatunya layaknya sebagian dari sekian banyak anggota badan yang lain. Dangan kata lain, antara satu sama lain saling membutuhkan. Dari penggambaran Rasulullah SAW tadi, kita bisa kita ambil hikmah, betapa susahnya kehidupan ini jika salah satu anggota badan kita hilang. Begitu juga, betapa buruknya kehidupan ini jika salah satu kerabat, sahabat, dan tetangga yang menghilang. Untuk itu, tancapkanlah di hati kalian bahwa dunia yang terbaik adalah kebersamaan. Bukan bergelimangnya harta, apalagi menjulangnya tahta. Muhammad ibnu...

Selengkapnya