Santri Sampai Mati
Des18

Santri Sampai Mati

Tujuan yang benar, hanya bisa tercapai melalui jalan yang benar pula. Mustahil kita menemukan kebenaran tanpa pelantara sedikit pun. Sebab kita tahu, hanyalah Allah Yang Maha Benar-Benar Benar. Begitupun utusan-Nya. Nabi Muhammad sudah di-nash sebagai utusan terakhir. Pada abad ke-20 ini, tidak ada seorang pun yang menjadi nabi. Karena itu, butuh jalur yang berhubung pada 14 abad silam untuk muwajjahah langsung kepada nabi. Mencari jalur itu memang sangat sulit. Tapi kata “sulit” bukan berarti “mustahil”. Pepatah mengatakan, “Ada kesempatan di balik kesempitan”. Kalimat itu menunjukkan bahwa, setiap ada kesulitan pasti ada alternatifnya. Satu-satunya alternatifnya adalah “pesantren salaf”. Hanyalah pesantren salaf alternatif terakhirnya. Tidak ada lain! Sebab untuk menjangkau beberapa abad yang silam, harus melalui lembaga yang memang mempertahankan tradisi silam (salaf). Hal itu hanya ada di pesantren, bukan di sekolahan formal. Kita—yang berstatus santri—sudah berada di zona aman. Tapi itu bukan jaminan keamanan. Sebab, yang namanya santri pasti akan boyong, alias pulang kerumahnya masing-masing. Pada fase itulah pemikiran kita mulai tercemar. Saat itu, ribuan “pertigaan” membingungkan kepala kita. Beda jalur, beda juga akhirnya. Pada waktu itu, kita masih punya petunjuk, yaitu guru. Jika ada banyak orang yang memberi petunjuk, kita harus prioritaskan penunjuk jalan alternatif kita. Hanya satu cara agar pemikiran tidak tersesat. Yaitu, fokus pada jalan alternatif yang kita tempuh. Ingat, mencari ilmu bukan sampai boyong. Melainkan, mulai terjun dari rahim ibunda, hingga terjun ke liang lahad. Meskipun status kita alumni, kita tetaplah santri; yang berpegang teguh pada tali Ilahi; mengikuti jejak langkah sang nabi; tidak toleh kanan kiri; dan—yang terpenting—tetap sam’an wa tha’atan kepada murabbi (guru). Laulakal-murabby, ma ‘alimtu rabby, tanpa ada yang mengajari, takkan tahu pada Ilahi. Kita harus menjaga arah. Semua pendapat guru harus kita prioritaskan. Jangan sampai bengkok di jalan yang lurus. Ingat, kita berada di jalan alternatif—yang harus konsentrasi mengikuti petunjuk jalan—bukan di jalan tol yang tinggal tancap. Jika pada fase itu kita konsisten, maka bahagialah! Mengingat, cobaan sudah berakkhir. Tinggal satu langkah lagi kita akan menggapai visi prima kita, yaitu wushûl kepada Sang Pencipta. Jadilah santri sampai mati! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Tak Puas Hanya Dengan Pelatihan, BPP Bentuk Tim Pembuatan Buku
Des18

Tak Puas Hanya Dengan Pelatihan, BPP Bentuk Tim Pembuatan Buku

Rabu (18/12) Badan Pers Pesantren (BPP) mengadakan sebuah inovasi baru dengan membentuk tim pembuatan buku. Berdasarkan keterangan dari pengurus BPP, pembentukan tim ini berawal dari pengurus yang tak puas dengan pelatihan yang selama ini diadakan . “Kami rasa, pelatihan–pelatihan dan seminar tentang tata cara pembuatan buku, tidak cukup membuahkan hasil. Sebab, kebanyakan dari mereka hanya mendengarkan dan lantas hilang ketika seminar selesai. Oleh sebab itu, kami merasa butuh untuk membentuk tim pembuatan buku dengan langsung mempraktikan tata cara pembuatanya.” Ungkap Ust. Nuris Shalihin selaku Wakil II BPP. Keanggotaan tim pembuatan buku ini diambilkan dari beberapa delegasi seluruh media Pondok Pesantren Sidogiri. Rencananya, jika memungkinkan buku-buku yang dihasilkan akan diajukan ke Sidogiri Penerbit untuk disebarkan ke khalayak umum. “Jika ternyata hasilnya bagus, buku-buku trsebut akan kami ajukan ke Sidogiri Penerbit untuk dicetak dan disebarkan ke khalayak umum.” Terang Ust. Ahmad Rizkon selaku wakil I BPP....

Selengkapnya
Pesantren atau Pesar Trend
Des17

Pesantren atau Pesar Trend

Mondok, atau yang kita kenal dengan sebutan nyantri, adalah sebuah perbuatan yang tiada tara, yakni mengembara ilmu di pesantren. Pesantren tidak sama dengan pasar trend. Di sana para santri mengais ilmu manfaat lagi barokah. Bukan malah memborong barang-barang mewah. Jadi, sangat tidak nyambung, jika seorang santri pulang dengan membawa kado berupa pameran harta, bukan malah oleh-oleh akhlaqul-karimah. Kita—sebagai santri—jangan campur adukkan hadiah dari pesantren dengan dari pasar trend. Kita memiliki hadiah dua J yang spetakuler, dengan keduanya semua akan berubah. Yakni jaim (jaga image) dan jihad. Image santri bagaikan berlian. Keduanya sama-sama tak mudah didapatkan. Betapa bodoh kita jika mendapatkannya malah ditelantarkan. Kita harus menjaganya sebaik mungkin. Dengan cara amalkan ilmu yang didapat, serta lakukan apa yang kita lakukan di pesantren. Dengan itu, kita dapat menyegel image kita dengan rapat. Respon masyarakat sekitar pun juga akan lain kepada kita. Sehingga hadiah dari pesantren sangalah nampak. Sungguh rugi orang yang pergi ketempat yang agung tapi tak berbuah secuil biji pun. Selain itu, kita harus berjihad. Menebak isi kado kedua ini tidaklah mudah. Lebih dari 70% telah salah kaprah menafsirinya. Karena sudah menjadi kebiasaan (kaprah) maka kesalahan itu dianggap kebenaran. Kado kedua ini memiliki arti i’lau-kalimatil-lah (menjunjung tinggi agama). Jihad di sini tidak sedikit pun berbau ekstrim, sebagai mana yang telah masyhur. Malah esensi sebenarnya ialah menyebarkan ilmu kita. Kata ‘menyebarkan’ disini tidak harus bermakna mengajar, bahkan penafsiran kata ini sangatlah luas. Mulai dari mengajak masyarakat mencari ilmu di pesantren salaf, hingga menyadarkan orang berandalan. Jadi, semua santri bisa berjihad. Bukankah Tuhan tak akan memaksa hambanya akan perkara yang tidak ia mampu? Bukankan Rasulullah SAW menurunkan titah sesuai kemampuan umatnya? Ingat, Islam itu sudah mudah, jangan dipermudah lagi! Sangat jelas, virus utamanya adalah malas, bukan tidak mampu. Coba kita putar otak kita berkali-kali. Sangat rugi orang yang memilih kenikmatan sementara dari pada yang abadi. Maka dari itu, ayo kita semarakan oleh-oleh kita dari pesantren. Tandingilah mereka yang dari pasar trend. Bukan malah kita ikut serta meramaikannya. Sungguh aneh santri yang berbau pasar. Sama halnya penjual minyak berbau ikan. Padahal hadiah dari pesantrenlah yang diharapkan. Bukan malah trend-trenan di jalanan. Mengingat nilai seorang santri tak tertandingi. Mulai dari sopan-santunya hingga ibadahnya yang indah. Abdullah...

Selengkapnya
Hormat kepada Guru ABC atau Wali Kelas?
Des16

Hormat kepada Guru ABC atau Wali Kelas?

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya/ Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar/ Ketika aku besar dan menjadi pintar/ Kulihat dia begitu kecil dan lugu/ Aku menghargainya dulu/ Karena tak tahu harga guru/ Ataukah kini aku tak tahu/ Menghargai guru? Itulah teks dari puisinya Gus Mus, seorang penyair pesantren, yang berjudul Guruku. Saya sangat kagum saat membaca puisi itu, seakan beliau mengupas problematika yang sering terjadi pada abad XX ini. Puisi itu menceritakan siswa yang tak menghargai gurunya di kala ia sukses. Seakan ia sudah lebih pintar dan alim dari pada gurunya. Ia telah lupa dengan peran gurunya. Ia tidak menyadari bahwa yang menaruh pondasi ilmu adalah gurunya. Apalagi guru langgarnya (Ghuruh Tholang—Madura). Guru langgaran sering ditelantarkan oleh para alumninya. Padahal tidak semua guru bisa mengajar seseorang yang masih nol, sebagai mana guru langgaran. Ia menyangka mengajar Alif, Ba’, Ta’ lebih mudah dari pada mengajar baca kitab ‘gundul’. Ia menyangka bahwa mengajar 1+1=2 lebih mudah dari mengajar Aljabar. Tapi faktanya tidak seperti itu, bahkan sebaliknya. Bila suatu saat—di hati kita—terjadi perang antar peran guru langgar VS peran dosen, maka hati-hatilah dalam memilih. Kita tidak boleh memilah dan memilih peran dari berbagai peran guru. Kita harus ingat semua peran tersebut, jangan sampai terlupakan satupun darinya. Saya jadi teringat suatu tragedi yang pernah diderita Indonesia. Konon, KH Abdurrahman Wahid ad-Dakhil (yang masyhur dengan julukan Gus Dur) pernah dihujat dan dicaci-maki oleh berbagai pihak, bahkan oleh para kiai. Tapi KH Nawawie bin Abd. Jalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, malah membagikan surat edaran yang berisikan intruksi kepada semua santri, alumni dan simpatisan Sidogiri agar tidak ikut-ikutan mencaci-maki. Alasannya sangat senderhana. Yakni, peran kakeknya Gus Dur, Syaikh Hasyim ‘Asy’ari dalam mendidik KH Cholil Nawawie, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Sebegitu besarnya masyayikh Sidogiri dalam mengingat peran. Karena dengan mengabadikan peran seorang guru, maka perpecahan pun tidak akan terjadi. Ingat, ending dari perpecahan hanyalah kehancuran. Coba kita buka kembali lembaran sejarah, penyebab hancurnya dinasti Abbasyiah—suatu dinasti umat Islam terbesar pada masa itu—tidak disebabkan dinasti kafir, bahkan disebabkan dinasti-dinasti Islam yang terpecah dari dinasti Abbasyiah. Sejarah itu tidak jauh berbeda dengan kehancuran Andalusia, kehancuran dinasti Utsmaniyyah—satu-satunya dinasti yang pernah menguasai tiga benua—dan banyak lagi kisah yang tidak jauh berbeda dengan sejarah dinasti Abbasyiah. Terakhir dari saya, hargai peran seseorang jangan sampai perangi peran seseorang. Wassalam! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Menulis Nama pada Mushhaf
Des16

Menulis Nama pada Mushhaf

a. Deskripsi Masalah Hampir semua santri di banyak pesantren biasa menuliskan nama-nama mereka pada mushaf al-Qur’an yang mereka miliki. Ini dilakukan agar tidak mudah hilang atau tertukar dengan milik orang lain. b. Pertanyaan Bagaimana hukum menulis nama atau sesuatu yang lain di pinggiran mushaf al-Qur’an? c. Jawaban Menulisi al-Qur’an pribadi dengan nama pemiliknya tidak apa-apa. Demikian pula menulisi al-Qur’an wakaf dengan tulisan “wakaf”, hukumnya juga tidak apa-apa, karena ada maslahat. d. Rujukan لاَ بَأْسَ بِكِتَابَةِ الْحَوَاشِيْ وَالْفَوَائِدِ وَالتَّنْبِيْهَاتِ الْمُهِمَّةَ عَلَى حَوَاشِي كِتَابٍ يَمْلِكُهُ اهـ (تذكرة السامع والمتكلم, 187), و (جواهر العِقْدَيْنِ في فضل الشَرَفَيْنِ للإمام نور الين السمهودي, 188). لاَ بَأْسَ بِكِتَابَةِ الْحَوَاشِيْ وَالْفَوَائِدِ وَالتَّنْبِيْهَاتِ الْمُهِمَّةَ عَلَى حَوَاشِي كُتُبٍ يَمْلِكُهَا،-ثُمَّ قَالَ-وَيَجُوْزُ وَضْعُ مُصْحَفٍ عَلىَ مُصْحَفٍ، وَظَاهِرٌ عَلىَ أَنَّهُ يَجُوْزُ أَنْ يُكْتَبَ عَلىَ الْمَوْقُوْفِ أَنَّهُ وَقْفٌ عَلىَ كَذَا وَإنَّ فُلانًا وَقَفَهُ، لِمَا فِيْهِ مِنَ المَصْلَحَةِ العَامَّةِ، وَعَلَيْهِ الإِجْمَاعُ الفِعْلِيُّ اهـ (الفتاوى الحديثية, 231), و (مجموعة سبعة كتب مفيدة, 25 Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya