Mengenang Slogan, “Beragama, Berbangsa dan Bernegara.”
Nov19

Mengenang Slogan, “Beragama, Berbangsa dan Bernegara.”

Tiga item dalam slogan Milad PPS ke-281, “Beragama, Berbangsa, dan Bernegara,” tak ubahnya ‘athful-khâsh ‘alal-‘âm, memperjelas kata global dangan perincian. Untuk itu, judul di atas hanyalah sebagian yang menunjukkan arti keseluruhan (dari tiga poin di atas). Dalam dunia sastra, gaya ini dikenal dengan istilah majas pars pro toto. Dengan menyebut sosok beragama, maka secara otomatis, berbangsa dan bernegara juga ikut. Lantaran seseorang dianggap beragama, jika ia mau bernegara dan berbangsa. Bangsa dan negara, mustahil terlepas dari agama. Begitupula sebaliknya. Sebab, yang benar-benar mengajarkan tata kenegaraan dan mencintai tanah air, adalah agama. Begitupula sikap kita terhadap saudara sebangsa. Ingatku akan rintihan junjungan kita Nabi Muhammad e. Tepatnya, saat beliau diusir dari Mekah, tempat kelahirannya, “Andai pendudukmu (kota Makah) tidak mengusirku, niscaya tak sudi kutinggal kau di sana.” Lirih beliau (HR. Tirmidzi). Entah seberapa besar kecintaan beliau kepada tanah air, hingga begitu perih saat meninggalkannya? Hal ini senada dengan firman Allah I yang berbunyi, “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,” (QS. an-Nisâ'[4]: 66). Tambah jelas lagi, saat kubuka lembaran Tafsîr al-Kabîr. Di tempat itu, Imam ar-Razi t mengajariku akan penafsiran ayat tersebut. Kata beliau, nestapanya tusukan, selaras dengan pedihnya usiran dari kampung halaman. Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Demikian salah-satu hadis mengenai pedulinya Islam kepada negara. Meski dalam Mirqatul–Mafâtih-nya Syaikh Mulla Ali al-Qari t, hadis itu tergolong madhû’, akan tetapi Imam Zarkasyi t menegaskan kesahihan subtansinya. Walhasil, jika seseorang tidak bernegara, maka jelas dia tidak beriman, alias tidak beragama. Mau berkelit apalagi jika al-Quran dan hadis sudah berbicara demikian. Kita sebagai santri—sesuai dengan takrif santri ala KH Hasani Nawawie t—yang kian berpegang teguh tali Allah I (al-Quran), serta menapaktilasi jejak langkah Nabi e (hadis), wajib menjadi sosok yang bernegara. Secara otomatis, seseorang jika mengaku muslim, maka ia mau bernegara. Lebih mengenanya lagi, jika ia berikrar santri, maka ia harus berikrar pada negeri. Sebab, al-Quran dan hadis sudah mengajari kita (muslim/santri) demikian. Islam termasuk agama yang paling peduli kepada negara. Contoh kecilnya, ilmu fikih. Di sana banyak sekali peraturan Islam yang berkaitan erat dengan kenegaraan. Mulai dari kepemimpinan, tindakan atas kriminal, bahkan hal ubudiah terkadang memiliki ikatan erat dengan negara. Pelajaran akhlak pun, memantau kita agar mencintai tanah air, berbuat baik kepada tetangga, hingga memiliki sikap baik kepada pemimpin negara. Mana mungkin ada negara Indonesia, andai tidak ada ahli agama (dalam hal ini, ulama). Douwes Dekker pernah bercerita kepadaku—tentunya melalui buku Api Sejarah—bahwa bendera merah putih berkibar, lantaran sumbangsih para ulama. Andai tak ada resolusi jihad dari KH Hasyim Asy’ari t, mana mungkin terdengar nama Indonesia. Dari sejarah tersebut, sangat jelas bahwa negara dan agama adalah satu-kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Negara...

Selengkapnya
Desain Media Monoton,  Ust. Aziz; Lakukan Evolusi Desain!
Nov19

Desain Media Monoton, Ust. Aziz; Lakukan Evolusi Desain!

Melihat perkembangan desain yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri dinilai masih biasa dan tampak monoton sehingga menjadikan Ust. Abd. Aziz tergugah untuk membuat komunitas desain dengan nama SDA (Santri Designer association) yang difokuskan untuk menggalakkan bakat desainer dan memacu ulang bakat mereka. Komunitas ini hanya tertentu pada desainer PPS yang berjumlah 36 orang. Semua peserta berasal dari media-media pondok, mulai dari tingkat mading hingga majalah. Mereka direkrut agar mampu memberikan perubahan desain yang setiap hari selalu berkembang, tidak cukup dengan hanya hasil desain yang ada di media masing-masing, namun dibutuhkan juga pembaharuan yang signifikan. Pada awalnya, Ust. Abdul Aziz terinspirasi dari komunitas MDC (Muslim Designer Community) setelah mengikuti pelatihan desain di Surabaya. Beliau juga menuturkan bahwa tujuan pokok ini adalah untuk berdakwah dan sebagai sarana menyebarkan kebaikan, utamanya di Pondok Pesantren Sidogiri. Sebagai sasaran inti adalah hal-hal terkait pesantren dengan menyebarkan poster di bererapa titik tertentu, selain telah ada mading Desainer Santri yang merupakan pionir dakwah melalui desain. Beliau mengatakan bahwa evolusi disainer santri tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu mading itu saja, tapi perlu penambahan sehingga tidak hanya berada pada satu titik yang terletak di bawah Daerah J. “Insya Allah akan kami tambah menjadi 36 titik strategis, agar semua santri tahu,” sahut santri asal Sidoarjo tersebut. Program ini nantinya akan bekerja sama dengan multimedia PPS, guna menyumbangkan hasil desainer mereka untuk dipublikasikan ke media sosial. “Kami akan fokus kepada pondok terlebih dahulu, baru setelahnya akan kami sebar melalui media sosial, jika ini telah berhasil,” ungkap Disainer Sidogiri Media itu ketika ditemui reporter Maktabati di rumah dinas, Selasa (20/08). Penulis: *(Dim/Redaksi Majalah Dinding Maktabati)...

Selengkapnya
Pembagian Hadiah IMDA I Ibtidaiyah, Ust. Muntahal; Hormati Ilmu
Nov18

Pembagian Hadiah IMDA I Ibtidaiyah, Ust. Muntahal; Hormati Ilmu

Malam Senin (18/11), Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri gelar acara pembagian hadiah Imda I (Imtihan Dauri) di gedung SEC (Sidogiri Excellent Corp) lantai tiga. Baca juga:  Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha Dalam acara tersebut, Ust. Muntahal Hadi selaku Kepala MMU Ibtidaiyah menyampaikan beberapa hal terkait akhlak seorang murid terhadap gurunya. Menurut beliau, salah satu yang menyebabkan ilmu manfaat barakah adalah adanya sifat hormat dalam jiwa seorang murid. Lebih jelasnya, beliau menyebutkan tiga macam bentuk penghormatan seorang murid atau pelajar yang dapat memudahkannya menjadi murid yang manfaat ilmunya. Diantaranya adalah hormatnya murid terhadap ilmu, yakni apabila ada ilmu yang sedang disampaikan, maka seorang murid harus mendengarkan dengan baik. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Yang kedua, hormatnya murid terhadap kitab. Beliau mempraktekkan bagaimana caranya membawa kitab yaitu dipeluk di dada. “Dalam membawa kitab, kita tidak boleh membawanya dengan cara diteng-teng tetapi bawalah dengan diletakkan di dada, itulah salah satu bentuk hormat kita terhadap kitab”, jelas Ustadz yang berkacamata ini. Dan terakhir yang ketiga adalah hormatnya murid terhadap yang mempunyai ilmu dan mengamalkannya dalam hal ini berarti guru. Selain itu, beliau juga memotivasi kelas 6 untuk mempersiapkan ujian akhir tahun nanti dengan baik. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah “Intinya, untuk kelas yang akan menghadapi Imtihan Nihai (IMNI) agar muthalaah-nya ditambah. Yang biasa satu jam jadi dua jam dan seterusnya.” Pesan Ust. Muntahal Hadi dengan semangat. Beliau sangat mengharapkan murid-murid Ibtidaiyah bisa lebih baik lagi di IMDA yang kedua nanti.   === Penulis: Musafal Habib Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Pembagian Hadiah IMDA I MMU Tsanawiyah 1441 H
Nov17

Pembagian Hadiah IMDA I MMU Tsanawiyah 1441 H

Ahad (17/11) Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Tsanawiyah menggelar acara pembagian hadiah Imda (Imtihan Dauri) I, di lapangan selatan Sidogiri. Acara dimaksudkan sebagai ajang komunikasi antara Pimpinan Tsanawiyah dengan murid-murid serta untuk menambah semangat belajar menghadapi IMDA II. Acara yang dipandu oleh Muhammad Anshori dan Robith Ilma ini dimulai pada pukul 09.00 malam waktu setempat. Ustadz A. Masykur Dahlan selaku Kepala MMU Tsanawiyah dalam sambutannya menyampaikan beberapa poin terkait Tsanawiyah. Salah satunya beliau menyebutkan bahwa jumlah tabungan murid-murid Tsanawiyah di atas rata-rata Rp 40.000 perhari. Menurut beliau, ini melebihi jumlah dari Tabungan murid-murid MMU Aliyah. “Saya menganggap dengan jumlah tabungan yang besar ini, berarti semua murid Tsanawiyah, senang tirakat ”, kata Ust. Masykur Dahlan yang disambut tawa oleh murid-murid Tsanawiyah yang hadir. Selain itu, beliau juga menyebutkan bahwa nilai IMDA I sudah sangat bagus, hanya saja harus ditingkatkan lagi ketika menghadapi IMDA II nanti. Poin lain yang beliau sampaikan adalah bahwa MMU Tsanawiyah telah memperbarui Muadalah atau persamaan dengan sekolah formal menjadi lima tahun. Jadi, dalam lima tahun kedepan ijazah MMU Tsanawiyah tetap bergambar garuda Indonesia. Setelah sambutan dari pimpinan, acara selanjutnya adalah istirahat yang diisi dengan dua rangkaian acara, yang pertama pemungutan sampah oleh Tim Semut Ibrahim yang beranggotakan 12 Ketua IMNI dari 12 asrama atau daerah di Pondok Pesantren Sidogiri. Dan acara yang kedua, pembagian hadiah juarawan artikel Ilmiah Sayembara Majalah Dinding Annajah Tsanawiyah (Madinah). Murid Tsanawiyah semakin nampak antusias sambil bertepuk tangan ketika melihat juarawan yang disambut dengan salawat tala’al badru oleh tim salawat al-banjari Sidogiri. Yang menarik dalam iringan juarawan itu, ada sekelompok anak yang masing-masing membawa satu huruf dengan membentuk kode ‘3MMUTSANAWIYAH7’. Sebagai kelas terbaik untuk tingkatan MMU Tsanawiyah adalah kelas 1-D asuhan Ust. Ahmad Taufiq Hidayatullah, kemudian kelas 2-C yang diasuh ust. Hasan Musthofa, dan Kelas 3-C yang diasuh oleh Mas Hamada Syahrullah bin KH. Abdul Alim bin Abdul Djalil. === penulis: Musafal Habib Editor  : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Haul ke-19 KH. Hasani Nawawie
Nov07

Haul ke-19 KH. Hasani Nawawie

Haul Hadratusyaikh KH. Hasani bin Nawawie ke-19 akan dilaksanakan pada hari Sabtu (malam Ahad), 13 Rabiul Awal 1439 H/09 November 2019 M, di Pondok Pesantren...

Selengkapnya