Salaman
Agu11

Salaman

Yang paling nampak hari ini, tepatnya selepas salat lebaran, orang-orang satu sama lain bersalaman. Budaya salaman, nyatanya tidak murni adat-istiadat Indonesia. Hal semacam ini menjadi kebiasaan para sahabat Nabi, pada empat belas abad silam. Sebagaimana hadis riwayat at-Tabrani, beliau menceritakan: sesungguhnya Sayyidina Anas bin Malik RA pernah bersabda: ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺗﻼﻗﻮﺍﺗﺼﺎﻓﺤﻮﺍ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻗﺪﻣﻮﺍ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ ﺗﻌﺎﻧﻘﻮﺍ . “Dulu, sahabat Nabi SAW setiap kali bertemu, pasti salaman. Bila datang dari perjalanan, pasti saling berpelukan.” Selain menjaga tradisi leluhur, ritual salaman sangat berpotensi untuk melebur kesalahan. Aktifitas dalam rangka menghapus dosa, sangat penting untuk dilakukan manusia, yang kerap kali melakukan salah dan lupa. Fitrahny, manusia mahallul-khata’ wan nisyan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا “Tidaklah ada pertemuan dua muslim, yang dilanjutkan dengan salaman, kecuali dosa keduanya terampuni sebelum berpisah”. Di sisi lain, mencium tangan orang yang memiliki nilai plus dalam agama, sangat dianjurkan. Ibarat semacam ini, terpampang jelas dalam kitab Asnal-Mathalib, juz III: وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَ شَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ “Disunnahkan mencium tangan orang yang masih hidup lantaran memiliki kebaikan dalam urusan agama, seperti: zuhud, memiliki ilmu, dan mulia. Sebagaimana pula yang dicontohkan sahabat kepada Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang sahih”. Dari sanalah, jelaslah ritual salaman perlu dibudayakan, dan dianjurkan kepada semua golongan. Oleh: Muhammad ibnu Romli,...

Selengkapnya
KERESAHAN ISLAM JAMAAH
Jul28

KERESAHAN ISLAM JAMAAH

Oleh: Nur Hudarrohman* Islam jamaah, lemkari, atau yang lebih dikenal sebagai LDII adalah sebuah kelompok yang sesat dan menyesatkan, yang telah melenceng sangat jauh dari koridor Ahlu Sunnah wal Jamaah. Tak ayal jika para masyarakat merasa resah akan adanya firkoh terkutuk ini. Bahkan aparat pemerintah harus turun tangan dalam membasmi kelompok ini. Dalam IJ(Islam Jamaah) ada dua kelompok yang  disebut dengan sebutan Ansr dan Muhajirin, namun pengertian dua kata tersebut tak seperti pengertian yang kita keetahui. Dalam  IJ, istilah ini memiliki pengertian yang lain, Ashor adalah sebutan bagi orang biasa, sedangkan Muhajirin adalah sebutan bagi anggota yang telah menyerahkan hidup matinya dan seluruh harata bendanya kepada imam yang dibai’at. Pangkal kesesatan IJ yang paling mendominasi adalah ke-otoritasan mutlak bagi imam yang telah dibaiat dalam mentafsirkan dan mengimplementasikan Alquran dan Hadits. Para jamaah mereka tersihir akan apa yang dilontarkan oleh sang imam, mereka menyebut hal ini dengan ijtihad sang imam. Sang imam memberikan sebuah ijtihad pada para jamaah-nya. Dengan ijtihad ala imam tersebut, tak peduli seperti apa pembelajaran-nya, harus diterima oleh para jamaah-nya. Mereka tak gentar dalam mendakwah kan segala ajaran-nya, tak peduli segala macam cibiran dan berbagai macam kecaman yang dilontarkan pada mereka. karena mereka telah terprofokasi dengan ucapan para pemimpin mereka,“Seribu rintangan, sejuta pertolongan, dan jutaan cobaan miliaran kemenangan, sorga pasti, kebo-kebo maju, barongan-barongan mundur”. Artinya kalau lagi aman terus maju, aktif, giat, bergerak, dan kalau lagi ada serangan, diam tunggu sampai aman”. Ada sedikit kesamaan antara kaum IJ dan kelompok yang telah jelas kekafirannya yaitu Syiah. Jika dalam Syiah ada istilah Takkiyah (boleh-nya berbohong pada siapapun atas nama agama), maka dalam IJ ada istilah Fathonah Bithonah (boleh berbohong/wajib berbohong  kepada selain kelompok Islam Jamaah). Di samping ajaran yang sesat dan juga menyesatkan tersebut, mereka juga mengangap golongan selain mereka kafir, bahkan dianggap-nya sebagai hewan yang paling najis di dunia. Keharusannya berbaiat pada sang amir menjadi sebuah acuan yang paling mendasar dalam aliran ini. Sifat sombong, acuh tak acuh, ujub, takabbur, dan selalu ingin benar sendiri adalah sebuah ciri khas para kelompok sempalan ini. Pemimpin mereka melarang mereka untuk membaca buku-buku yang di luar ajaran IJ. Begitu juga larangan untuk mendengarkan pengajian-pengajian di luar ajaran mereka. Hal tersebut yang menyebabkan banyaknya orang yang terperosok lebih dalam ke lembah kenistaan tersebut. Dan akhirnya kelompok ini telah berhasil dibasmi pada sekitar tahun 1970-an karena telah meresahkan para masyarakat. Yang paling perlu diperhatikan bahwasannya ajaran kelompok ini menyimpang dari koridor syariat islam dan menyeleweng dari segala norma-norma kehidupan. *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Menangkal Klaim Sekte Jabariyah
Jul27

Menangkal Klaim Sekte Jabariyah

Semenjak akhir abad pertama Hijriyah, mulai jamak ditemukan telur-telur doktrin nyeleneh yang menetas di tengah-tengah kalangan umat Islam. Hal ini tentu saja membikin sederet umat Islam mulai terbuai dengan doktrin tersebut atas  janji-janji yang menggiurkan. Tak terkecuali di Negeri Persia, doktrin Qodariyah yang berideologi bahwa segala gerak-gerik manusia terbebas dari intervensi takdir. Artinya, manusia itu sendiri yang mengendalikan segala perilaku perbuatan kesehariannya tanpa ada keterlibatan kendali dari Tuhan. Beda halnya dengan Manhaj Jabariyah, doktrin antitesis Qodariyah ini  justru berasumsi bahwa segala sesuatu yang tereliasasi di dunia, entah itu perilaku baik atau buruk, itu semua timbul dari ketentuan dan takdir dari Allah SWT. Dalam artian, manusia bak kapas yang diterpa angin, tak mempunyai daya kinerja yang efektif untuk melaksanakan keinginannya, dikarenakan manusia terjerat dalam keterpaksaan (majbûr). Setelah dinalar secara teologis, ideologi sempalan Jabariyah ternyata menimbulkan  seabrek kejanggalan. Pasalnya, doktrin yang mereka anut sangat bertolak-belakang dengan apa yang dipahami oleh kalangan Ahlusunah wal Jamaah.  Dalam kasus ini, mereka yang memahami bahwa manusia tak berdaya (majbur) dengan justifikasi ayat al-Quran: وَمَا تَعْمَلُوْنَ ا خَلَقَكُمْ وَااللهُ “Padahal Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. as-Shaffat [37] :96) Sekilas, Jabariyah cuma memandang dari tekstualitas ayat yang ditampilkan tanpa ada penjelasan takwil sedikitpun. Titik Penjelasan                  Dalam sudut-pandang manhaj Asy’ariyah, meraka menilai bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang memiliki andil kuasa dari seluruh gerak-gerik makhluk-Nya. Tak terkecuali manusia,  manusia adalah makhluk bermoral sehingga dapat membedakan baik dan buruk. Tak pelak, manusia ketika hendak melakukan suatu perbuatan dapat merasakan bahwa timbulnya perbuatan tersebut atas keingininan pribadinya. Namun, tetap dalam konsep al-Asy’ari,  kendati segala perbuatan manusia dikerjakan sendiri, namun semua itu di bawah kendali kuasa Allah SWT. Dalam kitab Hasyiyah ad-Dasuqi, al-Isfirayini menyatakan statement tegas, bahwa manusia dibekali dua kontrol oleh Allah. Yakni, kontrol manusia dan kontrol Tuhan. Al-Isfirayini mencontohkannya dengan shalat, beliau menyatakan bahwa pekerjaan salat diciptakan oleh Allah, sedangakan jika ditinjau dari sudut kepatuhan manusia, shalat tersebut adalah ciptaan manusia. Namun hal ini tak mengubah komitmen pemahamannya, bahwa muatstsir dari tindakan semua manusia hanya Allah semata. Senada dengan konsep di atas, Syekh Thahir bin Sholih al-Jazari dalam magnum-opusnya (Jawahirul Kalamiyah) memaparkan, bahwa sejatinya manusia tidak terjerat dalam jaring keterpaksaan sebagaimana asumsi Jabariyah. Sebab, Sang Pencipta membekali potensi akal yang mumpuni untuk membedakan perkara baik dan buruk, serta daya parsial untuk merealisasikan perkara tersebut. Dalam konteks ini, Imam Jalaluddin ar-Rumi menegaskan, bahwa seluruh tubuh manusia adalah alat-alat untuk melahirkan pelbagai karya. Nah, setelah mengupayakan usaha dengan maksimal, semua upaya dipasrahkan kepada Allah SWT (Tawakkal). Bahkan, al-Ghozali mengkategorikan bodoh kuadrat jika terdapat orang yang hanya menengadahkan tangan seraya berdoa kepada Allah dengan menafikan usahanya yang mesti dikerjakan. ___________________ Penulis : Ali Abdillah* Editor : Saharuddin...

Selengkapnya
Jangan Baca Basmalah Saat Mengerjakan Hal Ini!
Jun23

Jangan Baca Basmalah Saat Mengerjakan Hal Ini!

Oleh: Muhammad ibnu Romli* Hadis yang sering kita jumpai, di syarah Basmalah dalam kebanyakan kitab, menganjurkan kita untuk senantiasa mendahului pekerjaan dengan bacaan Basmalah. Namun, ada banyak pekerjaan yang seharusnya kita lakukan tanpa membaca basmalah terlebih dahulu. Hal tersebut terangkum di bawah ini: Pertama, perkara remeh. Semisal, memasang sandal. Hal itu termasuk perkara yang tidak begitu penting, sehingga tidak disunahkan membaca Basmalah. Kedua, pekerjaan yang dilarang oleh syariat. Bila kita -nauzubillah- mengerjakan perkara haram atau makruh, sangat tidak sopan jika malah membaca basmalah. Terbukti, ulama menegaskan bahwa basmalah yang kita baca tidak akan bernilai pahala. Berhukum haram, bila pekerjaannya haram. Berhukum makruh, bila pekerjaannya makruh. Namun, hal itu berlaku atas pekerjaan yang memang haram atau makruh dari asalnya (dzat pekerjaannya). Kalau pekerjaannya itu tidak haram/makruh, namun ada hal lain yang menyebabkannya haram/makruh (‘aridy), maka tetap disunahkan membaca Basmalah. Ketiga, bacaan yang khusus untuk zikir. Berbeda dengan membaca al-Quran, lantaran di dalam al-Quran terkandung zikir dan mauizah. Yang saya bahas di sini, bacaan yang murni zikir. Semisal, membaca kalimat tauhid, “lailaha illal-Lah”. Membaca kalimat tersebut, tidak diperlukan membaca Basmalah. Keempat, sesuatu yang sudah ditetapkan pembukanya. Semisal, salat. Dalam salat, syariat sudah memberikan pembuka tersendiri, yaitu takbir. Terlihat jelas, saat melihat definisi salat secara syariah, yaitu pekerjaan yang diawali takbir, dan diakhiri salam. Dari situ, tidak disunnahkan membaca Basmalah sebelum salat. *) Penulis adalah Pemimpin Redaksi sidogiri.net 1440-1441 H....

Selengkapnya

#NgajiHikam Edisi ke-199

Ahlan para penikmat #NgajiHikam, semoga selalu dilimpahkan sehat wal-afiat oleh Allah. Kali ini adalah edisi ke-199. Bismillah. Membaca narasi QS al-Kahfi [16]: 110, QS al-Bayyinah [98]: 05, dan QS az-Zumar [39]: 02; Anda pasti paham bahwa Allah hanya menerima ibadah hamba yang tulus kepada-Nya. Dalam artian, hamba itu tidak syirik. Hal ini bila amal hamba tidak mencitrakan 3 karakteristik sifat tercela. Pertama, tidak riya’ (pamer), ketaatannya demi dihormat orang. Kedua, tidak dibuat² (tashannu’): beramal taat agar dapat simpati orang. Ketiga, tidak angkuh (‘ujub): over pada amalan taat yang dilakukan. Ketiganya memiliki karakteristik sama: syirik amal. Tidak murni demi Allah! Hamba yang hatinya mendua (syirik), sulit merasakan nikmat munajat bersama Allah. Hati yang tersibukkan oleh objek selain Allah (aghyar), sulit menemukan ‘kasih sayang’ Allah dalam takdir. Virus syirik bisa merusak, bila cinta hamba pada aghyar mengalahkan cintanya kepada Allah. Cinta duniawi—istri, anak, profesi & kekayaan—memang tidak berdosa; namun sudah semestinya Anda posisikan cinta kepada Allah & Rasulullah diatas segalanya. Seperti disinggung QS al-Baqarah [02]: 165. Yang aneh dari karakteristik manusia, biasanya ia lebih condong pada objek yang bisa dirasa. Di kehidupan nyata, kadang Anda lebih cinta keluarga sendiri ketimbang mencintai Rasulullah; Anda lebih senang ngobrol semalam suntuk ketimbang bermunajat malam bersama Allah. Yang nyata (aghyar) kadang lebih menarik ketimbang yang tidak nyata (Allah & Rasulullah). Padahal Allah Maha Sempurna dari seisi dunia ini; padahal Rasulullah manusia paling sempurna hingga kiamat kelak; padahal mencintai keduanya merupakan anjuran agama bahkan berpahala. Dapatkah manusia mencintai Allah & Rasulullah (yang abstrak) dalam kapasitasnya sebagai manusia? Tentu saja iya, namun tetap dalam lingkup hubungan antara hamba (makhluq) dengan tuhannya (khaliq). Bentuk ‘cinta’ kepada Allah & Rasulullah, tentu tidak sama dengan ‘cinta asmara’. Logika mudahnya, saat ada tokoh sukses, jujur, adil & dihormati, maka pasti Anda juga mencintai tokoh tersebut, meski belum pernah ketemu langsung. Demikian pula tokoh dengan track record buruk di mata masyarakat, pasti Anda juga membencinya, meski tidak pernah jumpa langsung. Kenapa Anda benci orang buruk, padahal tidak tahu masa lalu hidupnya? Mengapa Anda cinta orang baik, padahal tidak tahu latarbelakang hidupnya? Aneh, kan! Bagaimana jika sosok itu ternyata Rasulullah, yang kehidupan hebatnya di tulis dalam triliunan manuskrip oleh ulama² besar? Adapun manivestasi cinta Allah hanya diberikan pada hamba² pilihan-Nya. Kata ‘cinta’ ini perlu ditakwil, sebab bisa ambigu. Bahwa cinta Allah bukan sekedar nikmat duniawi, sebab orang kafir pun berlimpahan harta. Cinta Allah ialah yang menjadikannya ‘hamba termulia’: yakni iman. إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لايحب, ولا يعطي الإيمان إلا من يحب “Allah selalu limpahkan nikmat duniawi pada hamba yang Dia cintai & hamba yang tidak Dia cintai (tidak pandang bulu); tapi Allah hanya anugerahkan ‘nikmat iman’ pada hamba tercinta-Nya saja.”...

Selengkapnya

#NgajiHikam Edisi ke-198

Assalamualaikum. Jumpa lagi bareng serial #NgajiHikam. Kali ini adalah edisi ke-198. Bismillâhirrahmânirrahîm. Ibnu Athaillah selalu memperhatikan kesiapan hamba menuju jalan ilahi; bahwa dalam aspek sifat bawaan manusia, nafsu maupun syahwat tidak pernah melepaskan hati. Apalagi hanya dimotivasi oleh pengalaman akal, naluri, atau pengetahuan. Nafsu manusiawi tidak mudah ditaklukkan. Secara alami, nalar positif akan menangkal nalar negatif; dan pengetahuan (‘ilm) yang telah mapan akan membantah pengetahuan palsu. Karena nalar & ‘ilm muncul dari sumber yang sama, yakni ‘kesadaran hati’. Hamba yang memiliki kesadaran iman kuat, tidak mudah terprovokasi nafsu. Kenyataannya, efek negatif nafsu memang tidak muncul dari hasil pemikiran, tapi oleh pergulatan emosional hati. Sebab, hanya perasaan hatilah yang bisa memproduksi nafsu. Berarti, sangat mustahil mencerabut nafsu dari akarnya, jika hanya modal teori atau bukti ilmiah belaka. Apakah Anda pernah dengar, seorang bisa lepas dari nafsunya berkat sebuah teori? Tentu saja tidak! Banyak buku Tasawuf menjelaskan esensi nafsu & dampak negatifnya; pun bukti konkrit umat² terdahulu yang diazab Allah karena nafsu liar mereka. Toh tidak pernah membuat Anda insyaf! Imam asy-Syathibi dalam al-Muwâfaqât, menyinggung bukti sejarah ‘nafsu’ panjang-lebar. Bahwa ada perbedaan jauh terkait keimanan kalangan awam masa² awal Islam; antara yang mereka memeluk Islam karena sekedar ‘keinginan’, dibanding mereka yang menyambut Islam karena ‘kesadaran’. Muslim awam yang sadar diri, hatinya selalu diliputi Khauf, Rajâ’ & Mahabbah, sebagai pelecut semangat. Khawatir (Khauf) ibadahnya tidak bisa sempurna; berharap (Raja’) kelam masa lalu tidak menjerumuskannya kembali; hatinya dikuasai kecintaan (Mahabbah) yang mendalam pada Islam. Jika mata hati benar² jadi penentu kebaikan, apakah sebenarnya esensi dari ‘kebaikan’ itu sendiri? Sebab kata ‘baik’ bisa saja ambigu makna. ‘Kebaikan’ (ukhrawi) dalam persepsi ulama, tentu saja berbeda dengan ‘kebaikan’ (duniawi) dalam persepsi awam. Ini harus di perjelas. Lalu, bagaimana cara hati menentukan sumber ‘kebaikan’? Ialah dengan mengenali kehendak² positif Allah dari narasi al-Quran. Apa yang dipersepsikan positif oleh al-Quran, berarti juga positif menurut Allah & umat manusia. Kenali diri secara baik dengan mengenal Allah lebih dekat. Memang fitrah manusia pasti senang kebaikan, namun hal itu bukanlah acuan. Harusnya ada Allah dalam setiap rencana. Makin sering hadirkan Allah dalam hidup, makin mantap hati Anda menyongsong masa depan. ‘Hati tulus’ berjajar dengan ‘nalar positif’, akan menciptakan ‘jiwa hebat’. Terkait tema ini, al-Buthi menyinggung satu bukti konkrit. Anggap saja kasus ketergantungan syahwat seorang hamba mirip dengan kasus kecanduan minuman keras. Minuman keras dikenalkan di Amerika Serikat (AS) tahun 1930-an; dimana bangsa Arab telah mengenalnya sejak 14 Abad silam. Dalam sejarahnya, sejak kali pertama dipasok, pemerintah AS membuat aturan larangan mengkonsumsi minuman keras berlebih, plus warning dampak negatifnya bagi kesehatan. Tapi larangan tersebut tak berjalan lama, karena persepsi parlemen AS terhadap minuman keras berubah positif. Berbeda dengan di Madinah al-Munawarah di...

Selengkapnya