Waspada Terhadap Hadiah dari Penguasa
Agu30

Waspada Terhadap Hadiah dari Penguasa

Ada dua hal yang harus diwaspadai dari pemberian penguasa sebelum kita benar-benar menerimanya. Pertama, status halal-haramnya. Kedua, motif di balik pemberian itu. Untuk yang pertama adalah kewajiban bagi kita mengetahui status halal dan haramnya harta tersebut. Sebab sumber penghasilan penguasa berasal dari bermacam-macam sumber pemasukan tak terkecuali dari sumber yang haram. Apabila harta itu sudah jelas kehalalannya, maka menurut Imam Ghazali diperbolehkan mengambilnya. Untuk yang kedua, hendaknya diperjelas dulu apakah pemberian itu menuntut sesuatu yang dilarang agama dan yang dapat menjatuhkan harga diri penerimanya? Apabila pemberian itu masih disertai dengan persyaratan mengikat yang dapat berbahaya pada agama dan harga dirinya, maka hukum mengambilnya haram. Lebih lanjut Imam Ghazali dalam kitab Ihyâ’ Ulumid-Dîn menjelaskan, bahwa ada empat sikap yang harus diambil terkait dengan pemberian penguasa tersebut. Pertama, tidak mengambil sedikit pun. Tindakan ini diambil bukan berarti harta pemberian itu haram melainkan sebagai langkah hati-hati agar tidak terjebak pada hal yang diharamkan oleh agama dan keluar dari perkara yang tidak jelas (syubhat). Rasulullah bersabda, (دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إلَى مَا لَا يُرِيْبُكَ. (رواه النسائي و الترمذي “Tinggalkanlah apa yang membuatmu ragu menuju apa yang tidak membuatmu ragu.” Suatu ketika Abu bakar menghitung semua harta yang beliau ambil dari uang kas negara (baitulmal), ternyata jumlahnya mencapai 6.000 dirham, maka beliau pun memandang semua itu sebagai hutang dirinya pada negara. Sedangkan Umar dalam suatu pembicaraan yang panjang mengenai harta baitulmal mengatakan, “Sungguh, saya tidak mendapati diri saya padanya selain seperti wali harta anak yatim. Bila saya tidak memerlukannya, maka saya menjaga diri untuk tidak mengambilnya. Dan bila saya memerlukannya, maka saya makan dengan baik (yang halal).” Sa’id bin al-Musayyab menuturkan bahwa baliau meninggalkan pemberian dari baitulmal sehingga terkumpul lebih dari 300.000. Juga seperti yang dituturkan oleh al-Hasan, “Saya tidak mengambil wudhu dari orang yang pekerjaannya menukar uang, meskipun waktu salat telah sempit. Ini karena saya tidak mengetahui asal-usulnya.”  Kedua, harta penguasa diambil setelah diketahui bahwa harta itu dari bagian yang halal. Demikian ini telah dicontohkan oleh para ulama, bahwa tidak semua dari mereka menolak pemberian penguasa. Ulama yang menolak pemberian itu tidak lebih sebagai kewarakan (Hati-hati) mereka yang begitu tinggi. Mereka benar-benar menjaga diri dan agamanya dari hal yang merusak. Rasulullah e bersabda, (وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ اسْتَبْرَاءَ لِعرْضِهِ وَ دِيْنِهِ. (رواه البخاري و مسلم   ”Barang siapa yang meninggalkan hal yang membuatnya ragu, sesungguhnya ia telah melepaskan diri untuk kehormatan dan agamanya.” Diceritakan dari Sayidina Ali bin Abi Thalib t bahwa beliau mempunyai tepung gandum halus dalam bejana tertutup. Beliau selalu meminum dari bejana itu. Beliau ditanya, “Apakah Anda melakukan hal yang sama seperti ini di Irak, padahal di negeri itu terdapat banyak makanan?” Sayidina Ali t menjawab, “Sungguh saya tidak menutup bejana itu karena pelit....

Selengkapnya
Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu
Agu25

Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu

Ali Mandegar, usianya kira-kira 11 tahun. Hari itu sekolah libur. Ayahnya membawa dia keliling dengan sepeda ontel yang tua, mencari pekerjaan di kota. Ibunya di rumah bersama Zahrah, adik perempuan Ali satu-satunya. Majid Wajidi, sutradara kawakan di Iran, berhasil menyajikan siluet cerita yang menyentuh tentang keluarga Ali itu dalam film Children of Heaven. Ia bercerita tentang sebuah keluarga yang miskin—mungkin di pinggiran kota Teheran—yang berhasil menanmkan kepribadian yang kokoh dalam diri anak-anak mereka. Film itu menggambarkan potrer keluarga Timur Tengah sekitar 15 tahun yang lalu. Daam tradisi Timur Tengah, kaum Hawa memang lebih terpingit dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Suami punya tanggung jawab penuh untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan, istri dengan tabah menjadi seorang ibu yang senantiasa berada di samping anak-anaknya. Di Timur Tengah pun, cetak biru keluarga ala Children of Heaven itu mungkin akan segera pudar. Beberapa kali, tokoh-tokoh dari Barat datang ke sana dan bersuara agar perempuan-perempuan Arab tak lagi terpenjara. Beberapa dari perempuan Arab terprovokasi oleh Nawal el-Sadawi atau Fatimah Mernissi. Dan, Timur Tengah sepertinya tak terlalu risau dengan itu, sebagaimana terlihat dari pemandangan kebarat-baratan di sekililing menara al-Burj di pantai Qatar. Di belahan dunia yang lain, mungkin sekali wajah ibu akan pudar lebih cepat. Wajah keibuan yang dulu teduh mulai terlihat kusam. Di negeri kita misalnya, urbanisasi besar-besaran terus menggeser batas-batas gender. Tipologi ibu Indonesia yang menghabiskan waktu untuk menemani anak-anaknya sudah menjadi prototipe ibu tradisional. Di daerah perkotaan, seorang ibu sudah lumrah menghabiskan waktu di kantor di tempat kerja. Dan, kecenderungan itu tentu saja akan segera menular ke desa-desa. Sebab, sejarah manusia memang selalu bercerita tentang desa yang menjadi urban, tak pernah tentang desa yang menulari kota. Hampir seluruh penelitian menyatakan bahwa partisipasi perempuan dalam kiprah-kiprah di luar rumah terus meningkat. Di beberapa negara, termasuk di Indonesia, hal itu didukung oleh sistem. Persentase ketewakilan perempuan di parlemen, kabinet dan profesi, menjadi target pemerintah, atau bahkan diatur secara resmi dalam undang-undang. Dalam rentang waktu 1955 s.d. tahun 1982 keterwakilan perempuan di parlemen berkisar 5-7 persen. Sedangkan antara tahun 1982-2008 antara 8-11 persen. Dan, pada pemilu 2009 yang lalu, terjadi peningkatan tajam persentase perempuan di parlemen. Di DPR RI sebesar 27 persen. Bahkan, beberapa waktu lalu, Sekretariat Jenderal DPR RI menerbitkan Buku Panduan Tentang Gender di Parlemen yang isinya mendorong adanya kaukus parlemen dan politik bagi perempuan. Dan, isu pemberdayaan perempuan, rupanya sedang menjadi komoditi politik yang cukup laris untuk mengail sura pemilih perempuan yang jumlahnya cukup signifikan. Peningkatan peran publik perempuan juga terjadi dengan cukup drastis di bidang profesi dan ketenagakerjaan. Menurut data tahun 2008 Depnakertrans, sebesar 28 persen  dari keseluruhan tenaga kerja lokal adalah perempuan. Sedangkan tenaga kerja antar negara (TKI), presentase tenaga kerja wanita (TKW) sebesar 76.85 persen. Berarti...

Selengkapnya
Memaknai Hakikat Sabar
Agu20

Memaknai Hakikat Sabar

Sabar artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya. Dan sabar ini tidak identik dengan cobaan saja. Karena menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan, atau menahan diri dari pemborosan harta bagi yang mampu juga merupakan bagian dari sabar. Sabar harus kita terapkan dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya ketika kita dalam kesulitan, tapi ketika dalam kemudahaan dan kesenangan juga kita harus tetap menjadikan sabar sebagai aspek kehidupan kita. Menurut Imam Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar, dan pahala yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran. Ali bin Abi Thalib mengumpamakan keutamaan sabar bagi keimanan seseorang itu bagaikan tubuh, dan sabar adalah kepalanya. la mengatakan, “Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Baihaqi). Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Imam Ghazali mengatakan sebagai berikut. واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم Artinya, “Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.” Keterangan ini menunjukan bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan Sabar akan membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana (musibah). Jiwanya tidak bergoncang, tidak gelisah, tidak panik, tidak hilang keseimbangan, tidak lepas kendali dan tidak berubah pendirian. Tak ubahnya laksana batu karang di...

Selengkapnya
Jangan Lupakan Perjuangan Mereka
Agu17

Jangan Lupakan Perjuangan Mereka

Kemerdekaan Indonesia telah menapaki usia ke-73 tahun. Kemerdekaan itu dapat diraih dengan mengerakkkan perjuangan seluruh komponen bangsa, diantara lakon utama dalam mempengaruhi bangsa untuk melawan penjajah saat itu diberi gelar pahlawan oleh pemerintah. Sayangnya ada segelintir lakon utama tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah, padahal andaikan lakon utama tersebut tidak ikut campur dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, niscaya Indonesia tetap dijajah hingga saat ini, karena saham terbesar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah mereka yang tidak angkat Pahlawan oleh pemerintrah tersebut. Siapakah mereka?, siapa lagi kalau bukan para Ulama’. Perjuangan para Ulama’ dalam memerdekan Indonesia banyak sekali, diantaranya dalam salah satu cerita KH. Hasyim Asy’ari sebagai pimpinan tertinggi di Masyumi membuat laskar-laskar Mujahid untuk melawan dan mengusir gerakan Kolonial Belanda saat itu. Diantaranya Hisbullah yang punya semboyan “Ala Inna Hizbullah hum al-ghalibun,” “ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah yang menang” dan laskar Sabilillah yang punya semboyan “Waman yujahid Fi Sabilillah,” “mereka yang berjuang di jalan Allah” dan banyak laskar lainnya, dari sekian laskar tersebut terdapat ribuan bahkan ratusan ribu pejuang bangsa yang dipimpin oleh para Ulama’, selain itu juga tempat markas-markas tersebut berada dalam lingkup pesantren, seperti Pesantren Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo dan banyak pesantren lainnya. Bahkan perjuangan Ulama’ dalam memerdekakan Indonesia itu telah diakui sejak dulu oleh penjajah, sebut saja Thomas S. Raffles, letnan Gubernur EIC yang memerintah pada tahun 1811-1816 di Indonesia, olehnya para ulama’ dikatakan sebagai ‘Pendeta Islam’ itu berkata “karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya ditangan penguasa Pribumi yang menentang kepentingan Kolinial. ‘pendeta Islam’ itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan.” Karenanya kita patut mensyukuri atas jasa para ulama’ bukan malah mencomohi para Ulama yang terdzalilmi karena mereka dikatakan alergi terhadap tanah air ini. Kita perlu membenahi sejarah ini, dimana dalam sejarah kini para ulama dikatakan alergi terhadap NKRI, karenanya sejarawan Mansyur Suryanegara berkata “Sejarah Indonesia sama seperti telur mata sapi, ayam bertelur sapi yang punya nama”. ===== Penulis: Farid Mafluhin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Kami Bukan Pahlawan Tapi Pejuang
Agu17

Kami Bukan Pahlawan Tapi Pejuang

              “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.” (Pidato HUT Proklamasi, Bung Karno) Sudah 73 tahun Indonesia merdeka, terbebas dari jajahan bangsa asing, terbebas dari kejamnya dunia penjajahan, dan berdiri sendiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemerdekaan Indonesia ditandai dengan diproklamasikannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Ir. Soekarno – Mohammad Hatta. Untuk itu, tidak heran jika setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, sebagai tanda kebanggaan, kebahagiaan, serta kehormatan kepada para petahana bangsa. Sejarah Indonesia hingga bisa merebut kemerdekaan sangatlah panjang. Untuk mencapai suatu tujuan yang dinamakan “merdeka”, dibutuhkan berbagai pengorbanan besar serta pertumpahan darah oleh para pejuang. Kami (santri) sebagai generasi pemuda Indonesia mungkin merasa sedih tidak bisa ikut andil dalam membebaskan Indonesia dari tangan Penjajah, tetapi kami sangat menghargai dan menghormati jasa para pahlawan yang sudah berjuang demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Karena, Kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran kaum pesantren. Para ulama dengan para santri beserta rakyat yang beragama Islam, memeberikan amunisi besar bagi penjajah kala itu. Peran santri dan Pesantren tidak hanya mengawal pemahaman agama masyarakat Nusantara. Tetapi keterlibatannya dalam perjuangan, menjadi basis melawan segala bentuk penindasan, bahkan penulis buku The History of Java mengakui bahwa Kiai merupakan ancaman serius atas kepentingan Belanda di Indonesia. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Tidak terhitung sudah berapa kiai yang disokong oleh para santri dan rakyat jelata melakukan pemberontakan melawan penjajah Belanda, sehingga Belanda menjadikan Pesantren sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Tidak lepas dari itu, para kiai Sidogiri juga memiliki peran penting dalam memobilisasi rakyat guna membendung invasi asing yang ada di bumi nusantara. Salah satu tanda perjuangan kiai dan Santri Sidogiri adalah “lonceng” yang berada di gerbang masuk menuju Pesantren Sidogiri. Sekarang lonceng tersebut difungsikan sebagai penanda waktu. Konon Belanda terpaksa menjatuhkan bom ke lokasi Pesantren, lantaran perjuangan Kiai dan para Santri Sidogiri dalam melawan penjajahan. kemudian bom tersebut diabadikan sebagai “lonceng” Pesantren. Salah satu ulama Sidogiri yang terlibat aktif dalam perjuangan meraih kemerdekaan adalah Kiai A. Sa’doellah, menurut pandangan beliau, agresi Belanda harus dihadapi dengan berperang. Memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir. Juga perjuangan dari KH. Abd Djalil bin Fadil yang rela jatuh tersungkur karena ditembak oleh serdadu Belanda. Hingga jenajah beliau diseret dan dibuang di sungai Sidogiri. Setidaknya Ini adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia tidak luput dari perjuangan para ulama dan santri. Sangat salah jika santri (khususnya santri...

Selengkapnya
Ekspresikan Cinta Melalui Bahasa
Agu15

Ekspresikan Cinta Melalui Bahasa

                              Berbahasa adalah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Tanpa bahasa tidak akan ada sebuah komunikasi yang terikat dalam sosial kehidupan. Oleh karenanya bahasa merupakan urgensitas utama yang harus dikedepankan melihat dari posisi inilah al-Qur’an yang memiliki subtansi sebagai Kalam Tuhan diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab karena mustahil untuk mengungkapkan bahasa yang tidak berhuruf dan bersuara itu kepada manusia tanpa pelantara seorang Rasul yang berasal dari tanah Arab dan tentunya berbahasa Arab. Kita hidup di negara majemuk seperti Indonesia ini sangat banyak memiliki ragam bahasa dan dialek. mulai dari dialek Melayu, Sunda, Batak dll. Adalah salah satu bukti bahwa bahasa adalah alat utama yang digunakan untuk menunjukan identitas suatu daerah, suku, dan bangsa. Bahasa Indonesia yang kita gunakan telah mengalami banyak fase perubahan dan penyempurnaan dalam perjalananya sebagai bahasa resmi negara. Jauh sebelum itu ––sebelum Indonesia terbentuk–– Indonesia masih berupa bagian-bagian  kecil yang tunduk dibawah hegemoni kerajaan-kerajaan besar seperti kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Samudra Pasai yang terhimpun dalam sebuah rumpun georafis bernama Nusantara. Setelah para pemuda-pemuda perwakilan dari berbagai daerah (Young Java, Young Ambon, Young Sumatra, dll) mengikrarkan diri sebagai putra-putri Indonesia yang berbahasa satu yakni bahasa Indonesia. dari sinilah sumpah pemuda muncul sebagai bentuk rasa cinta kepada tanah air dan nasionalisme dengan merealisasikannya kedalam bahasa persatuan. Coba kita bayangkan, jika tidak ada bahasa Indonesia mungkin ketika berkomunikasi kita akan mengalami kesulitan jika melihat latar belakang bangsa indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan etnis. Contoh kecilnya seperti ketika ada orang Jawa yang hendak berdagang ke Sumatra barat atau orang Melayu dengan orang Bugis mereka semua tidak akan mungkin menjalin interaksi sosial dengan menggunakan bahasa suku mereka sendiri, bisa berabe. Tidak mungkin orang Jawa dapat paham dengan  kalimat onde-mande yang diucapkan oleh orang Minang atau kalimat rancak-bana kata orang Batak kecuali bahasa Jawa sendiri. Marilah kita budayakan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia karena selain bhakti kita kepada negara sebagai wujud hubbul watan, juga menjalankan perintah dari pengurus Pondok Pesantren Sidogiri yang tertera dalam buku saku agar kita menjadi santri yang benar-benar melestarikan bahasa bangsanya sendiri dan tidak sampai kita menjadi generasi ‘micin’ yang tidak tahu akan tutur kata bangsanya yang penuh dengan sejarah dan konspirasi para pendiri negara ini. *Artikel ini sudah terbit di Media Dinding Perpustakaan (Mading)...

Selengkapnya