Kitapun Pasti Bisa
Agu10

Kitapun Pasti Bisa

Termasuk hal yang sangat tidak logis jika ada seorang muslim tidak mengerti dan tidak mengetahui bangsa Yahudi. Alasannya sangat mudah dan bisa diterima oleh akal. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang kerap termaktub dalam al-Quran. Bahkan sejak kita duduk di bangku SD, kita telah mengetahuinya. Toh sekalipun sebatas membaca ataupun mendengar. Remaja ini, jamak ditemukan produk-produk kesohor jebolan Yahudi yang tersebar luas dipelbagai belahan bumi yang berderet rapi disepanjang supermarket sentero negeri. Tidak kalah dengan produknya, adalah warganya yang juga sama tersebar dengan ambisinya yang ingin mendominasi dunia. Utamanya dalam ranah ekonomi. Padahal, jika kita tengok dan intip lebih jeli, jumlah mereka tak seberapa. Sangat berbanding jauh dengan populasi umat Islam di dunia. Tapi mengapa mereka bisa ? Jawabannya, disamping karena ada “nash” dari tuhan, mereka diberi kecerdasan lebih oleh tuhan. Juga, ada faktor lain yang membuat mereka lebih leluasa dan lebih bisa dari pada kita. Faktor yang cukup bisa membuat kita tercengang, semacam pukulan keras kepada kita. Mereka –bangsa Yahudi, konsisten mengerjakan dan menjalani komitmen hidup mereka. Yahudi adalah bangsa pilihan. Bangsa yang tak pernah mandul menerbitkan “bibit” unggulan. Bangsa yang begitu piawai berladang disegala ruang nan bidang. Meski mereka tercatat sebagai bangsa yang “ngeyel” melawan ketetapan tuhan. Tapi mereka tetap beriman kepada tuhan. Dalam artian, mereka meyakini firman tuhan perihal bahwa tuhan lebih mengunggulkan dan mengutamakan bangsanya. Sebagai bangsa pilihan tuhan, tentu sangat memalukan dan semacam pengkhianatan kepada tuhan bila mereka tidak mengindahkan dan tidak melestarikan nikmat dari tuhan. Oleh karena mereka sadar bahwa yang “genius” dan yang cerdas adalah bangsa Yahudi, bukan yang lain, mereka sangat selektif dalam urusan pernikahan. Mereka sangat getol menjaga keutuhan bangsanya. Mereka sangat marah, bila ada salah seorang dari yahudi menikah dengan selain turunan asli bangsanya. Bahkan jika hal itu terjadi, mereka tidak segan-segan mengerdilkan dan mencabut keyahudianya. Bagi mereka, hal semacam itu dapat merusak tatanan keyahudian pelakunya. Dan secara tidak langsung akan melunturkan ke”genius”an  bangsa yahudi. Di samping itu, bangsa ini amat fanatik akan keberlangsungan pendididkan warganya. Setiap warganya harus mengenyam pendididkan “minimal” sampai bangku kuliah. Sebegitu fanatikanya mereka sampai semisal ada seorang Yahudi yang putus dalam melintasi jenjang pendidikannya, mereka akan mendonasikan sebagian besar hartanya. Tidak mengherankan jika setiap tahunnya ada sekitar 44% mahasiswa Yahudi yang berhasil menyabet gelar profesor, doktor, insinyur dan lain sebagainya. Bangsa Yahudi seakan dikader untuk menguasai dunia. Mereka paham apa yang harus mereka lakukan. Dalam catatan dunia, bangsa Yahudi mengantongi nilai baik dalam hal membaca. Mereka mampu menghabiskan lebih dari puluhan buku setiap tahunnya. Apapun mereka baca demi menambah wawasannya. Mereka bahkan rela duduk berjam-jam hanya untuk membaca dan membaca. Dari sini hukum universal berkata : “Siapa yang gemar membaca maka mendapatkan informasi. Siapa yang...

Selengkapnya
Bulan Dzulhijah Bulan Istimewa
Agu05

Bulan Dzulhijah Bulan Istimewa

  Pada hakekatnya semua bulan memiliki keistemewaan didalamnya, hanya saja ada beberapa bulan yang memang disebutkan secara khusus dalam al-Quran, seperti bulan Dzulhijjah. Sebagaimana yang sudah termaktub dalam al-Quran surat al-Fajr ayat 1-3: Yang artinya: “Demi fajar. Demi malam yang sepuluh. Demi yang genap dan yang ganjil. (Qs. al-Fajr). Dari ayat ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Allah Sawt menyeru dengan adanya fajar yang bisa diartikan dengan adanya pagi hari setelah malam. Kemudian diayat yang kedua menjelaskan malam yang sepuluh menjelaskan mengenai bulan 10 Muharram, 10 malam bulan Asyro dan 10 Dzulhijjah. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh ulama bahwa bulan Dzulhijah merupakan salah satu hari yang penuh dengan berkah bagi hamba-Nya. Dimana di bulan tersebut terdapat pelaksanaan haji, dan terdapat hari Arofah dan terdapat kemuliaan yang sangat banyak dan melimpah. Sedangkan pada ayat yang ketiga menjelaskan bahwa yang genap serta yang ganjil, Wasy syaf‘i (dan [demi] yang genap), yakni hari ‘Arafah dan hari Nahar. Wal watr (serta yang ganjil), yakni tiga hari sesudah hari Nahar. Menurut satu pendapat, as-Syaf‘i (yang genap) adalah tiap-tiap shalat yang dilakukan dua atau empat rakaat, seperti shalat Subuh, Zuhur, Asar, dan ‘Isya. Sedangkan wal watr (serta yang ganjil) adalah tiap-tiap shalat yang dilakukan tiga rakaat, seperti shalat Magrib dan shalat Witir. Menurut pendapat yang lain, asy-syaf‘i . (yang genap) adalah langit dan bumi, dunia dan akhirat, surga dan neraka, Arasy dan Kursi, serta matahari dan bulan. Semua itu termasuk yang genap. Selain itu Allah juga berfirman dalam suart At-Taubah ayat 36: Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia Menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (Qs. At-Taubah 36) Dari ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa dalam satu tahun terdapat 12 bulan seperti dalam perhitungan yang dilakukan manusia, yaitu tahun Komariyah maupun tahun Hijriyah. Sedangkan dalam Al-Quran menjelaskan tentang bulan yang terdapat pada tahun Qomariah (perhitungan yang dilakukan menurut perputaran bulan). Ketetapan waktu tersebut sesuai dengan terciptanya alam semesta (langit dan bumi). Dalam 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang paling utama diantara bulan-bulan yang lain yaitu bulan Rojab, Dzulqadah, Dzulhijah dan Muharrom. Seperti keutamaan bulan Dzulhijah bahwa dalam bulan tersebut Hamba-Nya disuruh untuk mendekatkan diri dengan sepenuh hati dan melakukan perbuatan sunnah dengan tujuan mendekatkan diri kepadpa Allah semata. selain itu,  Allah Sawt memberikan kemulian yang lain, yaitu Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa yang setahun lalu dan dosa setahun yang akan datang. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Hadist....

Selengkapnya
Apa itu Haji Mabrur?
Agu01

Apa itu Haji Mabrur?

Artikel Akidah Istilah Haji Mabrur sudah seringkali kita dengar, Setiap orang yang pergi berhaji pasti mencita-citakan hajinya bisa menjadi mabrur. Haji Mabrur bukan hanya sekedar haji yang menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah SWT. Imam Nawawi dalam Syarah Muslim: “Haji Mabrur ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah SWT, yang tidak ada riya’, tidak ada sum’ah, tidak rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi/bersetubuh),  dan tidak berbuat fasik.” Sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana mengetahui mabrurnya haji seseorang? Apa perbedaan antar haji yang mabrur dengan yang tidak mabrur? Tentunya yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Kita tidak bisa memastikan bahwa haji seseorang adalah haji yang mabrur atau tidak. Para ulama menyebutkan ada tanda-tanda mabrurnya haji, berdasarkan keterangan didalam al-Quran dan al-Hadits, namun itu tidak bisa memberikan kepastian mabrur tidaknya haji seseorang. Di antara tanda-tanda Haji Mabrur yang telah disebutkan para ulama adalah: Pertama: Mengerjakan amalan haji dengan ikhlas dan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya harus dipenuhi, dan semua larangan harus ditinggalkan. Jika sampai terjadi kesalahan, maka hendaknya segera membayar Dam (tebusan yang telah ditentukan). Kedua: Tidak berbuat maksiat selama ihram. Maksiat dilarang dalam agama kita dalam semua kondisi. Dalam kondisi ihram, larangan tersebut menjadi lebih tegas, dan  jika dilanggar, maka haji mabrur yang diimpikan kemungkinian besar tidak akan tercapai. Allah SWT berfirman: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.” Ketiga: Tanda terakhir diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah pulang dari haji. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya. Orang yang hajinya mabrur menjadikan ibadah hajinya sebagai sarana untuk membuka lembaran baru dalam menggapai ridlo Allah Ta’ala. Ia akan semakin mendekat ke akhirat dan menjauhi dunia. Kesimpulannya, yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Para ulama hanya menjelaskan tanda-tandanya sesuai dengan ilmu yang telah Allah berikan kepada mereka. Jika tanda-tanda ini ada dalam ibadah haji anda, maka hendaknya anda bersyukur atas taufik dari Allah. Anda boleh berharap ibadah anda diterima oleh Allah, dan teruslah berdoa agar ibadah anda benar-benar diterima. Adapun jika tanda-tanda itu tidak ada, maka anda harus memperbanyak istighfar dan memperbaiki amalan anda. Wallahu A’lam. *Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Tauiyah, yang diterbitkan oleh Annajah Center...

Selengkapnya
Tata Krama Menjadi Imam Salat
Jul25

Tata Krama Menjadi Imam Salat

Shalat merupakan ibadah spiritual seorang hamba kepada Allah Swt. Seorang hamba bila sudah melaksanakan kewajibannya maka ia akan mendapatkan limpahan pahala dari Allah Swt. Perolehan pahala yang didapat pun juga berbeda. Seseorang apabila mengerjakan salat sendirian akan mendapatkan satu pahala saja. Sementara seseorang yang menunaikan shalat dengan jamaah akan mendapatkan limpahan pahala lebih dari satu. Namun, kita harus mengetahui tata krama menjadi imam salat. Berikut adalah tata krama menjadi imam shalat. Baca Juga: Ketika Imam Dan Makmum Shalatnya Berbeda Baca Juga: Shalat Sunnah Tapi Punya Tanggungan Qodo’ Pertama, diharuskan seorang imam shalat meringankan salat karena bertendensi pada dawuhnya sahabat Nabi, yaitu Anas r. “Saya tidak pernah salat di belakang seseorang yang paling ringan dan paling sempurna daripada salatnya baginda Nabi.” Kedua, tidak langsung takbir selagi muadzin belum selesai iqamah. Setelah itu imam shalat hendaknya meratakan shaf salat sebelum takbir dan mengeraskan suaranya ketika melafadkan takbir. Sementara makmum tidak diperkenankan mengeraskan suaranya ketika takbir cukup didengar dirinya sendiri. Ketiga, sang imam berniat menjadi imam shalat untuk meraih keutamaan salat. Setidaknya orang yang menjadi imam salat tidak sembarangan. Dahulukan orang yang ahli fikih dalam menjadi imam shalat. Keempat, tidak memperkeras bacaan iftitah dan taawwudz dan mengeraskan bacaan fatehah dan surat. Dianjurkan imam memperkeras bacaannya ketika membaca amin. Sementara makmum juga mengeraskan bacaan amin bersamaan amin-nya imam. Kemudian imam berhenti sebentar setelah membaca fatehah. Kelima, makmum tidak membaca surat dengan keras kecuali makmum tidak mendengar suara imam. Keenam, meringkas bacaan fatehah pada rakaat kedua yang terakhir. Selain itu imam juga tidak diperkenankan menambah doa pada tahiyat akhir. Ketujuh, ketika salak imam berniat uluk salam kepada makmum dan makmum berniat menjawabnya. Imam menempati tempatnya setelah selesai salam. Imam menghadap ke makmum bila makmum bukan jamaah perempuan. Makmum tidak diperkenankan berdiri terlebih dahulu sebelum imam berdiri. Kedelapan, imam tidak mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri ketika qunut shalat subuh. Kesembilan, tidak diperkenankan bagi makmum mendahului imam pada af’al-nya atau menyamainya. Bahkan dianjurkan bagi imam untuk mengakhirkan dari imam. Seorang makmum tidak menyamai pada rukunya imam kecuali imam sudah sampai pada batasan rukuk. Dan, makmum tidak menyamai imam pada waktu sujud selagi dahi imam belum menyentuh ke bumi. Memang menjadi imam salat gampang-gampang susah. Tidak semua orang bisa menjadi imam salat. Ada kriteria tersendiri yang harus dimiliki seorang imam salat dalam mendirikan salat jamaah. ===== Penulis: Saifuddin Ali Editor: Salman Alfarisi                                                                                                                  ...

Selengkapnya
Seperti Tidurnya Imam Al-Ghazali
Jul20

Seperti Tidurnya Imam Al-Ghazali

Pada umumnya manusia menghabiskan sepertiga hidupnya dengan tidur. Tidur bukan saja karena kelelahan tapi juga karena kebiasaan dan pola hidup. Dalam Islam tidur adalah suatu rangkaian ibadah yang berkopetensi pahala dengan niatan yang benar dan menjalankan ibadah. Ada kiat-kiat yang dipaparkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatu al-Hidayah ketika seseorang hendak tidur. Berikut kiat-kiat tersebut:   Pertama, tidur menghadap kiblat dengan posisi seperti mayit. Hikmah tidur dengan posisi seperti ini agar kita ingat bahwa barangkali Allah I akan mencabut ruh kita pada malam itu. Untuk menyambut hal itu kita harus mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan cara tidak tidur melainkan dalam keadaan suci. Dan, menulis wasiat-wasiat yang kemudian diletakkan di bawah kepala. Tidur dalam keadaan bertobat kepada Allah I dengan meminta ampun untuk tidak bermaksud melakukan perbuatan maksiat. Dan, bermaksud untuk berbuat kebaikan kepada manusia jika Allah I membangkitkan kita dari tidur. Dengan tidur seperti posisi di atas merupakan sebagai pengingat kita bahwa kita akan diletakkan di kuburan sendirian. Tidak ada seseorang yang menemani kecuali amal yang kita perbuat di dunia. Kedua, tidak tidur lebih dari delapan jam dalam sehari semalam. Karena sehari semalam hanya terdapat dua puluh empat jam. Maka, cukup bagi kita jika kita hidup selama enam puluh tahun dengan tidur dua puluh tahun. Demikian adalah sepertiga umur kita yang digunakan selama kita hidup di dunia. Sementara kurang tidur juga mempunyai dampak buruk bagi stabilitas tubuh. Seseorang hendaknya mengatur waktu istirahatnya dengan baik. Dengan beristirahat berarti kita memberi asupan bagi kinerja otak. Karena jika otak selalu digunakan tanpa memberikan waktu untuk istirahat maka lambat laun otak kita mengalami degradasi.    Ketiga, membiasakan bersiwak ketika hendak tidur dan bersuci dari hadast. Ini merupakan suatu kebiasaan yang sering dilakukan oleh seorang ulama salaf. Karena diantara faedah bersiwak adalah mempertajam ingatan, mempermudah ruh dicabut dari jasad, dan masih banyak yang lainnya. Setelah bersiwak hendaknya bermaksud untuk menunaikan salat malam. Salat dua rakaat di tengah malam merupakan harta simpanan dari beberapa perbuatan kebaikan. Perbanyaklah dari harta simpanan itu untuk hari di mana kita akan membutuhkannya. Di mana manusia dikumpulkan di padang mahsyar untuk dipertanggungjawabkan amal perbuatannya.   Keempat, membaca doa hendak tidur. Setelah membaca doa tidur membaca ayat kursi, ayat اَمَنَ الرَسُوْلُ sampai akhir surat, surat al-Ikhlas, surat al-Falaq, surat an-Nas, surat Tabarak, dan surat al-Mulk. Barangsiapa yang melakukan hal demikian maka ruhnya akan digiring ke arsy dan dia dicatat sebagai orang yang bersalawat sampai dia bangun dari tidurnya. Kelima, kontinu dalam melakukan kiat-kiat di atas dalam sisa-sisa umur kita. Begitulah poin-poin terpenting yang penulis sajikan kepada pembaca agar kita semua mengetahui bahwa Islam adalah agama yang paling respek dalam segala hal seperti halnya proses tidur. Memang tidur adalah metode yang paling...

Selengkapnya
Virus Roy Kiyoshi dalam Ideologi
Jul15

Virus Roy Kiyoshi dalam Ideologi

                          “Saya mencium aroma yang aneh di sini.  Ada sosok yang sangat menyeramkan yang selalu mengikuti Anda”. Mungkin kata-kata ini sudah tidak begitu asing ditelinga kita Sebab acara televisi yang satu ini memang menyajikan tanyangan berbau klenik, khurafat, dan kejadian yang tidak dapat dinalar oleh akal sehat. Dari sebuah relaity show bertajuk “Karma” ini setiap harinya banyak menghipnotis penonton bahkan menjadi trending di lini masa pelbagai platform media social. Meskipun demikian acara yang dipandu oleh Robby Purba sebagai Host dan Roy Kiyoshi sebagai konsultan spiritual menimbulkan banyak kritikan dari banyak kalangan. Masalah hidup seperti yang diangkat dalam acara “Karma” semuanya terkait hal-hal mistis; mulai dari pesugihan, ketindihan jin, susuk, hingga pemujaan setan. Roy kiyoshi sebagai Ghost Whisperer yang bisa ‘mencium’ dan melihat makhluk halus di sekitar akan memberikan solusinya. Buya Yahya pernah ditanya tentang orang yang konon memiliki kemampuan indigo (indra keenam), lalu beliau menjawab bahwa setiap kejadian luar biasa yang dialami oleh seseorang bisa berupa karamah atau istidraj tergantung pada keadaan orang tersebut. Bila orang itu beriman dan bertakwa  maka bisa dipastikan hal itu sebuah karamah sebagaimana hal-hal yang pernah dialami oleh para kekasih  Allah. Namun, bila kemampuan luar biasa itu muncul dari orang yang tidak beriman dan bukan ahli ibadah maka hal ini termasuk kedalam istidraj. Mengenai istidraj seseorang dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa seperti dapat melihat makhluk gaib, mengetahui sesuatu dimasa depan, dapat berjalan diatas air, dll. Apapun motifnya sinetron “Karma” sangat tidak cocok untuk kalangan awam yang tidak memiliki kemampuan untuk memfilter ‘virus ideologi’ tersebut karena modus yang ditampilkan berjalan masif sesuai dengan alur cerita, terkadang suasana studio berubah mengerikan dengan matinya lampu, pingsannya partisipan, hingga terjadinya kesurupan. Dari sinilah penonton banyak yang terbius dengan sinetron ini sehingga menjadi daya tarik tersendiri dikala menonton. Maka, konklusinya adalah kita harus objektif dalam menyikapi sebuah realitas dengan analogi yang matang sehingga tidak memberikan celah bagi hal-hal khurafat untuk merusak keyakinan kita kepada tuhan karena kebanyakan orang awam rentan terserang pemikiran yang tidak relevan berdasarkan tradisi keislaman. Mengenai hukum mempercayai sinetron “Karma” lebih condong pada keharaman dengan meninjau pada gagasan yang tertuang dari alur ceritanya yang syarat akan mistisme dan ramalan. Oleh karenanya kita harus jeli mengawasi setiap tindakan.   *Penulis Dimas Aji, salah satu redaksi Mading Perpustakaan Sidogiri (Maktabati)...

Selengkapnya