Ust. Abd. Somad; Manajemen Waktu Santri Seperti TNI
Orang dulu sangat suka memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Mereka berpikir bahwa santri (orang pesantren) akan menjadi orang mulia dan naik derajatnya dengan ilmu agama. Tapi, saat ini orang-orang sudah terjebak dalam materalistis: mereka menganggap bahwa orang yang masuk pesantren akan menamatkan karirnya sendiri. Langsung innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ini terbukti, jika seseorang punya anak tiga, maka yang paling cerdas dimasukkan ke sekolah formal: belajar fisika, kimia, matematika, sedangkan anak yang paling bandel, bodoh, dan paling goblok dimasukkan ke pesantren. Ini terbalik! Rusak cara berpikirnya, padahal di pesantren pelajaran yang mesti dikaji dan dipelajari jauh lebih banyak. Kalau anak yang bodoh di masukkan pesantren, bisa eror nanti otaknya. Seharusnya, anak yang paling cerdas itu yang dimondokkan. Jika bisa begitu, akhirnya otak anak itu bisa penuh kitab. Alim tuh anak. Seperti ketika saya ke Malaysia kemarin. Orang-orang di sana bilang, “Kami Aswaja, dulu pernah mengundang orang Indonesia untuk berdebat. Namanya, Kiai Idrus Ramli.” Terus terang, lama saya belajar kepada dia. Dari buku-bukunya, saya download saya baca saya pelajari. Hanya satu yang tidak bisa saya ikuti, emosinya. Orang yang berdebat itu, kalau sudah marah bahannya ilang. Adanya marah-marah. Tapi, lihat Kiai Idrus Ramli bisa santai, tersenyum, dan tenang. Hal itu sudah saya coba berkali-kali. Saya tahu matahari tak bisa ditarik lagi, tapi andai masa bisa diundur lagi, andai saya berumur 10 tahun lagi–kalau saya disuruh milih akan melanjutkan kemana, maka akan saya jawab, masukkan aku ke Sidogiri. Agar saya bisa pintar baca kitab, pintar debat, jadi panulis handal, lancar (teratur) berbicara, dan bisa bisnis, supaya tidak butuh pada pantua pemerintah (BOS). Banyak pondok yang berlomba-lomba mencari BOS, di sini malah menolak. Kenapa bisa begitu, karena di sini mandiri, dan dari kemandirian itulah datan barakah-barakah. Gara-gara BOS, banyak sekolah-sekolah yang menyediakan makanan, pakaian disetrikakan, akhirnya anak ini cerdas, pintar tapi sayang tidak bisa hidup mandiri. Banyak yang ketika pulang, ngangkat tangan untuk makan (ngambil piring) saja tidak bisa, password tiga huruf: mak (minta bantuan ibu). Apa artinya punya ilmu banyak, otak cerdas tapi tak ada sopan santun di sana. Padahal, orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Di sinilah kita bisa hidup mandiri, bisa mengatur waktu dengan mapan. Di sini waktu benar-benar luar biasa. Ketika di sini, saya seperti menjadi tentara: ustadz datang, duduk di sini, jam sekian kita akan mudzakarah. Setelah ini, kita makan, dan seterusnya. ===== Penulis: Ali Imron Editor: Ahmad Rizqon Sumber Data: Ceramah Ust. Abd. Somad, Kabar...
Puasa dan Segala Hal Mengenainya
Pengertian Puasa Puasa dalam bahasa Arab dikenal dengan shiyâm atau shaûm, yang secara etimologi berarti menahan diri dari segala hal, baik kebaikan ataupun kejelekan. Sedangkan pengertian yang dikehendaki dalam syariat Islam adalah menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Itu artinya puasa mencakup arti menahan untuk tidak makan, menahan untuk tidak minum, atau menahan hawa nafsu pada waktu yang telah ditentukan, yakni mulai dari keluarnya fajar sampai terbenamnya matahari. 2. Kriteria Wajib Berpuasa Berpuasa pada bulan Rajab disunahkan kepada setiap orang Islam, baik lelaki maupun wanita, tua atau pun muda, dengan catatan dia sudah mencapai umur baligh, berakal, serta memiliki kemampuan untuk berpuasa. Oleh karena itu orang kafir, anak yang belum mencapai umur baligh, orang gila, dan orang yang tidak kuat berpuasa, seperti karena sakit parah atau karena lanjut usia, tidak wajib berpuasa. Ukuran umur baligh dapat diketahui dari salah satu tanda berikut ini: laki-laki: Pernah mimpi basah (ihtilam) Telah berumur 15 tahun Perempuan: Mengalami menstruasi (haid) Pernah mengalami mimpi basah Telah berumur 15 tahun Beberapa Pengecualian Ada beberapa orang yang tidak boleh melaksanakan puasa, karena berada dalam suatu kondisi, yaitu seorang wanita yang sedang haid atau nifas. Dia tidak diperbolehkan melakukan puasa sampai habis masa haid atau nifasnya. Namun begitu, dia diwajibkan untuk mengganti puasa Ramadhan yang ia tinggalkan dengan melaksanakannya di bulan lain. Selain itu, ada pula orang yang diberi kelonggaran untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi wajib menggantinya di bulan lain. Mereka itu ialah: orang sakit yang masih ada harapan untuk sembuh dan orang yang sedang bepergian jauh (+ 90 km). Karena itu seorang musafir yang merasa kuat untuk melanjutkan puasanya dianjurkan untuk meneruskan puasa, sedangkan yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka dan menghentikan puasa, karena bila memaksakan diri, maka hukumnya adalah makruh. Selain itu ada pula orang yang diberi kelonggaran untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib menggantinya dengan puasa di bulan lain, tetapi wajib baginya untuk menunaikan fidyah, yaitu memberi makan kepada orang miskin, satu orang untuk satu hari puasa. Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena alasan berikut: Orang yang umurnya sangat tua Wanita yang menyusui anaknya atau sedang mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya bila memaksakan diri untuk berpuasa. Orang yang sakit terus-menerus yang tidak ada harapan sembuh. Orang yang sehari-hari kerjanya berat dan tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, serta tidak mendapat pekerjaan lain yang lebih ringan dari itu. Rukun- Rukun Puasa Rukun adalah bagian-bagian inti dari suatu ibadah, karena itu rukun menjadi tolak ukur sah dan tidaknya suatu amal ibadah tersebut. Adapun rukun puasa itu ada dua: Niat Niat adalah bermaksud untuk melakukan puasa. Niat harus dilakukan setiap kali hendak berpuasa dan dilakukan...
Mas Aminullah Bq; Beginilah Konsep Ekonomi Santri
Seharusnya, seorang santri itu tidak memikirkan pekerjaan dan rezeki. Semuanya sudah ditanggung oleh Allah. Bukankah kalian mondok di Sidogiri untuk mencarii ilmu, bukan mencari pekerjaan, maka hal itu tak perlu terlalu dipikirkan. Mencari ilmu itu jauh lebi penting. Kalaupun ketika boyong nanti ada tuntutan seperti menafkahi istri, orang tua, atau saudaranya, maka tentu saja memang harus usaha. Tapi usaha, ya hanya sekadar usaha, karena untuk rezekinya, makhluk sudah ada jatah atau porsinya sendiri-sendiri dari Allah. Namun, kalau mau usaha itu mendapatkan keuntungan besar, maka modal atau pengorbanannya juga harus besar. Harus berabi rugi, lagi. Tapi sekalipun begitu, harus ada perhitungan yang mapan. Jangan serampangan. Semua itu ada ilmunya. Yang perlu diperhatikan lagi, tujuan utama dari bekerja. Seharusnya, tujuan kerja itu untuk ibadah. Menafkahi orang tua, istri (kalau punya), atau membantu saudar dan orang lain yang tak mampu. Jangan sampai bekerja hanya untuk mengumpulkan uang, mal’un (dilaknat) nanti jadinya. Membersihkan hati untuk tujuan yang benar itu bisa dilakukan memang dari bawah. Perlahan, tapi harus terus. Intinya, masalah kerja itu jangan sampai dibuat pusing. Saya sendiri dari dulu memang tidak tertarik bekerja, maka apa adanya saja. Alhamdulillah, untuk rezeki itu ada saja. Seperti kata Imam as-Syafii, kalau memang milik saya, maka rezeki itu akan datang, walaupun didasar laut. Sekalipun saya tidak usaha. Lagi, kerja itu memang harus dari kecil dulu. Orang yang jadi kaya raya itu tidak langsung besar, dari bawah. Dan, jatuh-bangun itu biasa. Kalau jatuh, usaha lagi, usaha lagi, dan terus usaha lagi. Jadi, kata teman di sosmed, orang yang berhasil itu orang yang selalu cari jalan. Orang yang gagal, orang yang selalu cari alasan. Hanya saja, kalau rezeki itu dirasa sulit, maka perbanyaklah istighfar. Orang-orang itu kadang menganggap enteng, karena istighfar sudah sangat biasa, katanya. Padahal, Allah sendiri menjelaskan dalam al-Quran (QS. Nuh: 10-13), kalau kita banyak istighfar, maka bukan hanya dosa yang diampuni, tapi semuanya akan kita dapatkan. Harta, keturunan, bahkan surga (ayat 12). Ingin banyak uang, banyak istighfar. Kalau rezeki kita sempit, maka itu karena kita banyak dosa. Selain istighfar, ya, bacalah Surah Kahfi, al-Waqiah, al-Mulk, Yasin. Kalau bisa bacanya pagi-sore, yang rutin. Orang itu kadang hanya mangandalkan akal dan usahanya, bukan Tuhan. Padahal, yang ngasih rezeki itu Allah! Bagusnya, kita sekadar usaha, yang menentukan hasilnya Allah. Seperti itu yang kita dapat, yang itulah yang kita syukuri. Besok usaha lagi, besoknya lagi usahalagi. Santai saja kerjanya, tidak usah ngoyo’. Yang penting itu memang mendekat kepada pengeran, karena memang dia Dia yang memberi. Kadang orang itu salah: mencari rezeki tapi tidak shalat. Dia tidak tahu bahwa yang memberi rezeki itu Allah, malah dijauhi. Dalam Surah al-Munafiqun ayat 9, Allah mejelaskan bahwa orang yang lupa pada Allah karena...
Perbedaan dan Semangat Kesatuan
Pemilu menempati tempat yang penting dalam setting negara demokrasi, terlebih untuk ukuran Indonesia yang masih belajar. Setiap mendekati masa-masa pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden, atau bahkan pemilihan kepala desa sekalipun, perebutan suara seakan menjadi hal yang pasti terjadi. Juru kampanye mulai dari tingkat elite sampai tingkat akar rumput berkoar-koar dalam mempromosikan ‘junjungannya’. Tentunya kejadian ini merupakan peristiwa yang sangat wajar, mengingat sistem pemerintahan di negara kita menggunakan konsep demokrasi; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Disini rakyat menjadi motor utama dalam menentukan nasib negara beberapa tahun mendatang. Akan tetapi, persaingan dalam perolehan suara inilah yang berpotensi memunculkan keretakan sendi persatuan dan kedamaian di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun, seorang jurkam pasti akan menempuh berbagai macam cara untuk memperoleh suara terbanyak. Entah itu melalui jalan yang benar ataupun tidak. Disinilah ‘bhineka tunggal ika’ kita benar-benar diuji. Persatuan dan kesatuan kita benar-benar mendapat tantangan. Adalah sebuah keniscayaan, setiap orang memiliki pendapat maupun pilihan yang berbeda-beda. Juga merupakan kewajaran jika setiap orang membanggakan apa yang dimiliki dan disukai. Asalkan perbedaan-perbedaan itu tidak menimbulkan perpecahan. Justru perbedaan itulah yang nantinya menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini lebih berwarna. Sungguh sangat menggelikan apabila hanya gara-gara berbeda pilihan dalam siapa calon yang dipilih, satu orang dengan yang lain saling menjelekkan dan bermusuhan. Padahal, jika kita teliti lebih jeli, tokoh-tokoh yang maju dalam ajang-ajang politik justru akur-akur saja. Entah kalah, entah menang itu semua tak sampai menimbulkan permusuhan yang berarti. Justru rakyat-rakyat kecillah yang sering terprovokasi sehingga saling tonjok antara satu dengan yang lain Andai saja keakuran, saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain ditampakkan oleh setiap pemimpin-pemimpin negeri, maupun masyarakat secara umum, alangkah indahnya kehidupan bangsa ini. Diantara pemimpin bangsa tidak ada rasa sakit hati dan dendam yang terus menerus terpendam, begitu pula para masyarakat pemilih. Ketika masa pemilihan selesai dan hasilnya sudah ditetapkan, tak lagi ada caci maki, tonjok sana-tonjok sini, maupun kabar-kabar miring yang justru memancing runtuhnya persatuan. Kedamaian akan terjadi jika masing-masing pihak saling memaklumi, memaafkan, dan memprioritaskan rasa persatuan dan kesatuan. Dan itulah yang kita butuhkan saat ini. Semangat persatuan demi keutuhan NKRI dan demi Indonesia yang lebih baik. Sekali lagi, perbedaan merupakan hal sangat lumrah dan harus dimaklumi. Bukankah pelangi itu indah karena warnanya yang berbeda-beda? Penulis: Ahmad Sabiq Ni’am* *Penulis adalah mantan reporter Kabar Ikhtibar yang sedang menjalankan tugas wajibnya dipulau...
Hoax Teriak Hoax
Setelah kita perhatikan, akhir-akhir ini semua media dari yang cetak sampai elektronik, mulai dari akun-akun sosial media sampai grup-grup wa, selalu penuh dengan kabar-kabar dan berita yang entah benar entah salahnya, belum jelas terbayang tapi sudah kita konsumsi sampai kenyang. Saking mudahnya menyebarkan berita, terkadang kita sendiri pun tidak tahan untuk segera menyebarkannya kembali (yang terkadang) tanpa mau pikir panjang (juga). Trend gaya hidup yang terus berkembang pesat, memaksa kita untuk turut ambil bagian di dalamnya. Karena disadari atau tidak kita memang benar-benar akan ketinggalan. Namun seperti pedang, media yang bertebaran dengan seabrek kecanggihannya ini sebenarnya juga perlu dilandasi dengan pengetahuan dan ‘keceradasan’ dalam menggunakannya. Karena jika tidak, kebutuhan hidup dan gaya hidup ini akan dijadikan ladang keuntungan yang tidak sehat bagi sebagian kalangan untuk memanipulasi pikiran kita. Dalam sejarah modern, Adolf Hitler (1889-1945) seorang pentolan Nazi Jerman pada perang dunia ke-II ini adalah yang pertama menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Dalam autobiografinya, Hitler menulis bahwa jika kebohongan diulang secara terus menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan lewat media adalah jurus jitu dan cepat untuk menanamkan kejahatan berkedok kebenaran. Sekarang mari kita perhatikan, media yang mana yang tidak menampilkan keagungan sang junjungan dan menjelekkan lawan yang lain? Karena memang begitulah caranya, pelan tapi pasti seseorang akan mulai terasuki. Ibarat computer, mind atau pikiran manusia dapat pula dimanipulasi, di hack, bahkan dirasuki virus yang bisa menggerogoti jaringan alaminya. Lalu apakah semua salah? Tidak. Adakalanya sebagian kalangan menyadari itu dan melawannya (juga) dengan kekuatan media. Tapi parahnya, saat kabar bohong (hoax) itu ketahuan dan diteriaki hoax, malah membalas teriak hoax. Maling teriak maling. Disinilah kecerdasan kita sebagai konsumen diperlukan untuk memilah dan memilih diantara keduanya. Kurang bijak rasanya jika kita langsung terbakar tanpa mencari tahu permasalahan di akar. Pun teramat sangat naïf sepertinya jika kita hanya berlandaskan kemanusiaan langsung jatuh hati dan membela mati-matian. Kalau menggunakan istilah empat golongan manusia menurut imam al-Ghazali, sebaiknya kita menjadi rajulun yadri annahu laa yadri, yaitu manusia yang tahu diri kalau memang belum meimiliki pengetahuan dalam bidang seperti ini. Yang selanjutnya akan mencari tahu kepada yang lebih mengetahui. Jangan sampai kita menjadi manusia sok tahu yang sejatinya tidak tahu sama sekali, yang malah berakibat akan menyesatkan orang lain. Intinya, sah-sah saja kita berbeda pendapat dengan orang lain dalam hal apa saja. Toh semunya dilindungi oleh undang-undang sebagai warga negara. Asal kita cerdas merujuk dalam menentukan pijakan. Namun yang jelas, segala perbedaan dan kepentingan yang ada, jangan sampai menjadikan rusaknya sebuah jalinan. Terlebih itu jalinan nasab keilmuan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Penulis: Zen Mochtar Adnan* (Anggota HMASS Jogja dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Editor: Ali...
Menyikapi Kesalahan Ulama-Umara
Oleh : Muizzullah* NU adalah rumah besar kita, rumah besar Ahlusunah wal-Jamaah. Kita harus menjaga keutuhan dan kesatuanya dengan tetap bersatu dan tidak bercerai-berai. Bukan hanya lini orang awam saja, tapi lini para ulama-umara yang memegang estafet kepemimpinan dalam tubuh NU juga harus menjaga persatuan. Di antaranya dengan menjaga lisan agar tidak mengeluarkan ucapan yang senonoh, kontroversial, atau bahkan yang fatal alias salah total. Yang terakhir ini (ucapan fatal alias salah total) sungguh miris dan aneh jika dilakukan tokoh-tokohNU, apalagi jika menjadi pengurus tertinggi. Yang di atas adalah antisipasi adanya perpecahan. Namun, sekarang, apabila ucapan atau pekerjaan yang masih kontroversial ini terjadi, maka sikap seperti apa agar tidak tumbuh percikan perpecahan? Ya, di antara caranya harus menjaga hati. Dengan selalu husnuzhan (prasangka baik), tidak mengedepankan su’uzhan (prasangka buruk). Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali berkomentar, “Husnuzhan yan salah lebih baik dari pada su’uzhan yang benar”. Hal ini jika masih imma wa imma, imma salah wa imma benar. Setelah tips husnuzhan ini dikerjakan, maka langsung klarifikasi adalah prioritas utama. Selain itu, Ust. Achyat Ahmad, direktur Annajah Center Sidogiri (ACS) dan guru senior Pondok Pesantren Sidogiri pernah menulis di majalah SidogiriMedia edisi ke 136, dalam rubrik Editorial, bahwa modal utama bagi setiap individu untuk menjaga persatuan atas nama umat Islam dan menghindari perpecahan, adalah membekali diri dengan ilmu dan keinsyafan. Ilmu dibutuhkan agar kita mengetahui mana hakikat kebenaran da kebatilan, serta bisa memilah dan memilih jalan terbaik di antara rumitnya silang pendapat dalam perbedaan. Sedang keinsyafan dibutuhkan agar kita bisa bijak menyikap keadaan, tidak fanatik buta, bisa memahami pendapat saudara sesama Muslim, dan tetap mengedepankan kepentingan agama dibanding ego pribadi dan golongan. Namun, apabila yang dilakukan itu ternyata salah maka kita harus mengingatkannya dengan cara yang professional, tidak berlebihan, santun, juga penuh tatakrama. Dalam buku “Sidogiri Menolak Pemikiran KH, Said Aqil Siroj”, KH, Ahmad Nawawi bin Abdul Djalil menyampaikan dalam sambutannya, “Memang sudah selayaknya buku, dibantah dengan buku”. Menurut perspektif penulis, ini menunjukkan bahwa dalam meluruskan kesalahan memang harus tidak berlebihan. Semua penjelasan di atas tentu baik sekali apabila diaplikasikan oleh ulama-umara NU, yang belakangan ini sering berpendapat kontroversial atau bahkan salah. Sebab, mereka adalah milik kita, kita harus menjaganya bersama. Kalau salah, ya, harus diingatkan. Bukan malah dibiarkan. Akhiran, seperti kata pepatah, اَلْإِتِّحَادُ قَوِيُّ” ”, bersatu itu kuat. Maka bersatulah, jangan cerai-berai. Hadapi masalah dengan bijak dan penuh perasaan. Ingatlah, bahwa setiap menuju sesuatu terutama kesuksesan, pasti ada tantangannya. Laksana jalan, tidak selamanya lurus. *Redaksi Mading...