Hati-hati Semuanya Bisa Dibeli
Apr25

Hati-hati Semuanya Bisa Dibeli

Penulis: Ali Imron* Beberapa hari yang lalu, Bapak Jokowi menghadiri acara peresmian Tol Ngawi-Kertosono. Uniknya, bukannya menggunakan kendaran berplat RI 1 (Mercedez-Benz S600 Pullman Guard) yang memiliki kapasitas 6.000 cc, Jokowi justru naik truk! Mobil dinasnya yang seharga Rp. 6.1 Miliar (www.vebma.com) dengan kecanggihan luar biasa itu tidak dia gunakan. Tak tanggung-tanggung, keunikannya ini tidak hanya menyita waktu rakyatnya di Indonesia, tapi juga Fuso Japan: anak perusahan Mitsubishi yang memproduksi mobil box dan truk yang paling laku di Indonesia. “Di negara lain, presiden naik mobil mewah, di Indonesia, presidennya naik FUSO Canter,” tulis akun Fuso Japan, pada 21 April 2018. Tampaklah bahwa presiden kita tidak hanya diapresiasi rakyatnya sendiri, tapi juga peruasahan asing. Benar-benar luar biasa! Luar biasa? Tunggu dulu, yang harus diingat, saat ini adalah gencar-gencarnya kampanye! Jika saya katakan bahwa media masa di luar sana bisa dipesan, dibeli, dan dikontrak layaknya lonte-lonte di pelacuran, apakah Anda percaya? Jika percaya, maka Anda tak perlu meneruskan membaca tulisan ini, karena Anda termasuk golongan orang-orang yang la raiba fihi. Namun jika Anda tak percaya, maka sudah semestinya Anda sadar, banyak sekali tayangan-tayangan di televisi, media cetak maunpun media online, yang selalu mengkampanyekan calon-calon tertentu. Hal ini memang wajar terjadi, dan bisa dibilang rata pada setiap calon. Bedanya, ada yang memang bersih mengampanyekan calon pemesan tanpa menjelekkan calon lain, ada juga yang dipesan untuk menurunkan elektabilitas kandidat lain. Pengakuan pedangdut sekaligus pendukung Ahok: Gebby Vesta, yang sebenarnya juga mewakili pendukung lain, bahkan juga team sukses Jasmev (Jokowi Ahok Social Media Volunteer) mungkin cukup membuktikan semua itu. Gebby mengaku sendiri bahwa dirinya dibayar untuk melakukan penghinaan terhadap ulama–teruma Habib Rizieq dengan FPInya, dan memecah-belah umat Islam (sberita.id dan kaskus.co.id). Tujuannya tentu sebagaimana permintaan pemesan, menaikan ratting-nya sendiri, dan merusak reputasi orang lain. Pengakuan ini dia ungkapkan ketika dirinya dipidanakan karena telah mencemarkan nama baik ulama. Video pengakuannya ini diunggah oleh chanel Youtube BERITA 212. Belajar dari ketidakmurnian para calon di saat kempanye, sudah seharusnya kita tidak menerima berita apapun sebelum mengkajinya dengan matang. Termasuk masalah Facebook yang katanya hendak diblokir, dan gerakan #2019GantiPresiden yang hingga sekarang masih banyak diperdebatkan dan didiskusikan. Berbagai macam sensasi memang sering dibuat untuk melakukan manuver politik. Hati-hati. *Pimpinan Redaksi Majalah...

Selengkapnya
Keteguhan
Apr21

Keteguhan

Santri, berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh pada Al-Quran dan mengikuti sunnah Rasul SAW. dan teguh pendirian … Potongan teks yang digurat oleh Hadratussyeikh Hasani Nawawie ini sudah seperti darah bagi santri Sidogiri. Walau sebagian besar kita belum bisa mengaktualkannya secara utuh, paling tidak kita mampu menghafalnya di luar kepala. Siapa tahu, suatu saat teks sakti ini yang menjadi pengingat bagi kesadaran kita dalam keteguhan memegang prinsip. Keteguhan, kira-kira seperti kisah sahabat Bilal ketika ia masih berstatus budak. Alkisah, tubuh Bilal yang hitam legam dijemur di tanah lapang oleh tuannya. Alasannya sederhana saja; untuk merontokkan iman Bilal. Tapi, siapa nyana, ternyata Bilal teguh pada pendiriannya. Ia tak terpengaruh sama sekali. Hati tuannya terbakar, kehormatannya seperti diinjak-injak. Maka ditaruhlah sebongkah batu besar di atas dada bidang Bilal. Sambil tersenyum penuh kemenangan, sang tuan mengulangi lagi pertanyaannya yang menjadi sebab-musabab marahnya tersulut. “sekarang, siapa tuhanmu, keparat?!” “AHAD!” Jawaban yang singkat, tegas, padat dan tentu saja menusuk hati penanyanya. Ada pesan moral dari kisah ini yang harus kita tangkap sebagai sebuah niscaya. Bahwa keteguhan memegang prinsip, cita-cita, sikap, apalagi iman, harus selalu hidup. Ia tak boleh mati, sampai kapan pun! Sebab jaman sering menuntut yang bukan-bukan untuk dilayani. Maka lihatlah, betapa banyak iman yang gugur demi sesuap nasi, jati diri hilang demi sebuah legalitas pergaulan -kita sering merasa bangga dicap berandal- dan cinta yang terkomersil di etalase-etalase rumah pelacuran. Kisah orang-orang teguh selalu mengundang decak kagum. Kehadiranya bukan sekedar kisah omong kosong yang tak bernilai. Ia selalu menggugah inti kesadaran setiap orang yang rindu akan perubahan menuju kebaikan. Orang-orang teguh adalah inspirator terbesar yang menyulut jiwa kita untuk turut meneladani sekaligus mengagumi, meski sebenarnya mereka tak mengharap hal itu. Mereka memang tak sedang ingin menjual muka sebagaimana artis murahan –yang kita kagumi?- mendapat sambutan riuh tepuk tangan ketika mengulurkan bantuan. Maka, dari keteguhan itu, lahirlah Nabi Muhammad SAW, Bilal bin Rabah, Imam Ahmad bin Hambal, dan Masyayikh-masyayikh pesantren kita. Kisah-kisah heroik mereka yang bernilai tinggi dan penuh pengorbanan yang mengharu-biru tak pernah selesai diungkapkan oleh sejarah. Setiap waktu. Lagi dan lagi. Kita? Sebenarnya kita juga bisa memiliki keteguhan seperti mereka. Sebab keteguhan bukan monopoli perseorangan. Ia milik siapa saja asal masih bernama manusia. Masalahnya, kita kadang tak siap dan masih ragu-ragu menjadi orang teguh. Kita terlalu suka bersikap seperti bunglon yang tak pernah ada di dalam kurikulum Madrasah kita; ikut-ikutan keadaan. Dan Saya tak dapat membayangkan, bagaimana jadinya jika para penerus perjuangan Mbah Sayid Sulaiman adalah orang-orang yang tak memiliki keteguhan iman, sikap, cita-cita dan pendirian? Mungkin hari ini tak akan ada orang yang mau berkata Sidogiri Pesantren Salaf. Dan yang pasti, akan ada gedung-gedung perguruan tinggi yang berdampingan dengan gedung...

Selengkapnya
Keanehan Adalah Kelaziman yang Tertunda
Mar25

Keanehan Adalah Kelaziman yang Tertunda

                ADA pepatah menarik yang kira-kira bunyinya begini: kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Ungkapan ini berasal dari sebuah kisah. Konon, suatu hari salah seorang raja pernah berkeliling menyidak kampung. Orang-orang berbondong-bondong menyaksikan. Dalam salah satu adegan kisah, salah seorang berteriak lantang, “Lihat, raja telanjang!” Mendengar teriakan tersebut, sang raja sebenarnya kaget dan merasa bahwa tubuhnya benar-benar telanjang. Namun, agar terkesan tidak telanjang, maka sang raja berjalan seperti tidak pernah terjadi sesuatu apapun. Ia meyakinkan diri bahwa tubuhnya yang telanjang itu masih terbalut kain penutup. Dan berjalanlah sang raja dengan keadaan telanjang, sementara orang-orang meyakinkan diri bahwa rajanya tidak telanjang. Beberapa waktu kemudian, sang raja melakukan sidak lagi dan sengaja bertelanjang. Kontan saja, seseorang kembali berteriak, “Lihat, raja telanjang!” Tetapi sang raja kini berjalan santai saja. Wajahnya tetap berseri-seri. Seakan dirinya benar-benar tidak telanjang. Kontan saja, kerumunan massa itu melihat aneh seorang yang berteriak. Bagaimana mungkin dia berani lancang, padahal sang raja ‘tidak telanjang’. Kalau telanjang, pastinya sang raja telah terbirit-birit kabur, atau paling tidak menutup auratnya. Dalam pikiran orang-orang, sang raja tentu memiliki derajat tinggi sehingga tubuhnya bisa ditonton dengan mata telanjang, meskipun ia berpakaian. Waktu-waktu selanjutnya, sang raja biasa mengunjungi rakyatnya dalam keadaan telanjang dan orang-orang merasa sang junjungan sedang berpakaian. Bahkan seseorang yang biasa berteriak ‘Lihat, raja telanjang!’ kini ikut bungkam dan lebih sering dinyinyiri sebagai kedangkalan berlogika dan berkesenian. Orang akan dengan mudah menilai junjungan mereka benar, sekalipun dalam keadaan salah, apalagi kesalahAN sang junjungan dilakukan berkali-kali dengan cara meyakinkan. Lihat bagaimana orang tidak menerima suara kebenaran yang disuarakan oleh satu orang, dan memilih meyakini sang junjungan hanya dengan melihat gayanya saja. Bagi saya, hal-hal yang dulu dianggap aneh, akan ada masanya dianggap lazim. Maka bagi saya, KEANEHAN ADALAH KELAZIMAN YANG TERTUNDA. Hanya menunggu pembiasaan saja, maka segala hal yang kita anggap aneh saat ini, akan lazim di masa mendatang. Jika dulu orang berciuman di pinggir jalan adalah keanehan, maka hari ini hal itu adalah kelaziman yang disepakati. Ini sekadar contoh kasus, untuk selebihnya bisa dipikir dan direnungkan sendiri. Keanehan ini, tentu saja ada hubungannya dengan pembiasaan. Seperti halnya pepatah yang saya sebut di muka, bahwa kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Keanehan yang diulang-ulang dan dibiasakan maka akan menjadi kelaziman. Kita tinggal menunggu waktu saja. Tak heran jika kaum Yahudi, Liberalis, Kristen dkk begitu sabar menanamkan kebobokrokan akhlak dan perilaku pada generasi kita. Tentu saja semuanya dimulai dengan pengulangan—baik melalui TV, koran dll—dan dilanjutkan dengan pembiasaan dan pembenaran. Mereka sadar betul, bahwa pengulangaN kebobrokan tersebut akan segera dipetik buahnya, hanya perihal waktu saja. Jangan heran jika hari ini, masyarakat mulai biasa mencaci dan membenci ulama dan keturunan...

Selengkapnya
Nilai Komitmen dalam Diri Seorang Pemimpin
Mar23

Nilai Komitmen dalam Diri Seorang Pemimpin

Melihat iklim kepimpinan di Indonesia seakan-akan sudah ada signal akan adanya bencana yang akan melanda  Negara ini. Segala persiapan seperti payung, perahu dan kapal selam perlu dipersiapkan sebagai langkah berjaga-jaga. Mungkin juga, mencari inisiatif berada di posisi aman yang bisa mengelakkan dari titisan hujan yang membasahkan. Lalu, menyelamatkan diri daripada arus air overdosisnya yang akan menghanyutkan, menenggelamkan, melemaskan hingga mematikan. Keadaan Negara yang tidak tentu arah, itu karena ulah rakyat sendiri. Tidak boleh menyalahkan pemimpin sepenuhnya. Syekh Musthofa al-Ghalayaini dalm idzotun nashiinnya mengatakan, ”Jika kita menghitung kebaikan pemimpin dan kerusakan bangsa. Maka, tidak selang beberapa pemerintah akan rusak. Jika bangsa itu baik, sedangkan pemerintah rusak. Maka tidak lama lagi pemerintah akan baik dan akan mengikuti tindak-tanduknya”. Namun dalam keadaan genting seperti ini, pemimpin sendirilah yang harus mengevaluasi dan membuat tranformasi diri. Dari sini, mari kita menyingkap sedikit sifat yang butuh pada pemimpin yang mana difokuskan dan disimpulkan menjadi satu iaitu komitmen.   Komitmen moral adalah yang paling utama, sebagaimana yang telah di ajarkan Allah dalam surah al-muddatsir iaitu bangun dan berilah peringatan (kum faandzir). Ini adalah orang yang memilki kepedulian sosial. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat, maka dia akan meluruskan. Kedua, membesarkan Allah (warabbaka fakabbir) dan merendahkan hati di hadapanNya. Seterusnya, secara zhahir adalah menjaga kebersihan dalam berpakaian (watsiabaka fatahhir) dan bathin dengan meninggalkan perbuatan keji (warrujza fahjur). Pemimpin mana saja tidak akan mampu memimpin dengan kemampuannya sendiri. Pasti, akan membutuhkan tambahan petunjuk atau main way sebagai panduan menjadi seorang pemimpin yang baik. Dalam hal ini, sudah tentu al-Quran dan sunnah yang cocok di jadikan andal. Kedua-duanya harus dijadikan commander of life. Apa kata quran dan sunnah, harus di patuhi. Siap, laksanakan.  Inilah komitmen konsepsional. Kesadaran juga sangat penting bagi seorang pemimpin yang mana ia berkait rapat dengan komitmen operasional. Bukan berbuat  sesuatu karena di perintah atau di suruh, tapi karena kesadaran. Bukan karena beban atau kewajiban, tapi karena sebuah kebutuhan. Sadar bahwa melaksanakan kepimpinan itu butuh kesadaran.   Tidak terhenti saja, harus diteruskan dengan menyampaikan ,yakni komitmen terhadap dakwah. Dakwah di sini ialah bagaimana ia bisa mensosialisasaikan nilai-nilai kebaikan pada seluruh orang yang ada di sekelilingnya. Berbicara tidak terbatas untuk berkampanye. Bahkan, berusaha agar mereka sentiasa dekat dengan dengan Allah. Dalam dakwah pasti ada dua implikasi iaitu amar ma’ruh (moral support) dengan mendukung kehidupan sosial dan nahi mungkar (moral control) dengan mengendalikan kehidupan sosial. Jadi, pemimpin harus memasyarakatkan kebaikan dan mencegah keburukan. Terakhir adalah komitmen ukhuwah. Pemimpin perlumemiliki rabithah,ikatan persaudaraan keislaman yang kuat. Dia juga memiliki komunitas yang di dalamnya ada dua ciri yang mendasar iaitu itsar dan iffah, mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri dan perbuatan meminta-minta pada orang lain.   Menyelam ke...

Selengkapnya
Karena Bersedekah Hartapun Bertambah
Mar22

Karena Bersedekah Hartapun Bertambah

              Suatu ketika Fudhail bin Iyadh keluar dengan seekor kambing. Ia menjualnya seharga satu dirham untuk membeli tepung. Setelah itu ia melewati dua orang yang sedang berseteru, ia berkata: “apa ini?”. Diceritakan bahwa mereka berkelahi untuk memperebutkan satu dirham. Maka ia pun memberikan dirhamnya untuk orang kedua nya, padahal ia tidak memiliki apa-apa lagi. Setelah itu ia pulang menemui istrinya dan menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya. Lalu istrinya mengumpulkan apa saja yang ada di rumah, untuk dijual tapi semuanya tidak laku. Setelah itu ia berpapasan dengan seorang laki-laki dengan membawa ikan yang rusak. Laki-laki tadi berkata pada Fudhail “kamu membawa barang yang tidak laku, begitupun aku bagaimana kalau aku beli barangmu dengan apa yang aku bawa ini?”. Dengan membawa ikan, Fudhail pun langsung pulang dan berkata kepada istrinya: “Bersihkanlah ikan ini, karna kita hampir mati kelaparan.” Istrinya segera membersihkan ikan tersebut. Ketika membersihkan perutnya, ia segera berkata kepada suaminya: “suamiku, ada sesutu yang keluar dari perut ikan ini. Aku kira ini mutiara. Apakah kamu tahu berapa harga mutiara ini?”. “tidak tahu,”jawabnya. “Tapi aku punya kenalan dengan seorang yang mengerti hal ini”. Kemudian ia pergi dengan membawa mutiara tersebut menemui temannya yang ahli mutiara. “lihatlah! Berapa harga mutiara ini? Temannya menjawab, setelah menelitinya dengan seksama saya hanya bisa membelinya dengan harga 60 dirham. Tapi jika kamu mau lebih pergilah ke orang itu pergilah ke orang ini karena dia akan memberi harga lebih tinggi dariku. Ia pun pergi menemuinya ke laki-laki itu dan orang itu berkata: “saya akan membayar dengan harga 120 dirham. Saya rasa tidak akan ada lagi yang membayarnya lebih tinggi”. Lalu ia pun menerimanya Pada hari itu ia membawa 12 bungkus. Di dalamnya berisi masing masing sepuluh dirham. Ia pun pulang kerumahnya untuk menyimpannya. Tapi, begitu akan masuk ke rumah ia melihat seorang fakir berdiri di depan pintunya. Lalu Fudhail bergumam dihatinya:“seperti inilah keadaan ku dulu”. Masuklah! Kemudian Fudhail bin Iyadh berkata ambillah separuh harta ini! Laki laki itu pun membawa 6 bundel. Belum jauh berjalan ia kembali lagi kepada Fudhail: “saya bukanlah orang miskin, tapi saya adalah utusan Tuhanmu untuk menemuimu. Allah Swt memberimu satu dirham dengan dua puluh Qirath. Ini adalah satu Qirath yang di berikannya kepadamu. Adapun yang sembilan belas Qirath disimpan untukmu....

Selengkapnya
Bahagia Dunia Akhirat (Belajar dari Kedua Tangan)
Mar20

Bahagia Dunia Akhirat (Belajar dari Kedua Tangan)

Pernahkah terlintas di pikiran kita, kenapa kebanyakan manusia Allah ciptakan untuknya dua tangan yang dengan kedua tangan itu kita bisa melaksanakan aktivitas dengan baik, kok tidak satu ataupun lebih? Tentu saja kita tidak pernah memikirkannya atau kita menerima akan pemberian Allah tanpa tanda tanya!. Di sini penulis bermaksud untuk mengeluarkan atau mengimformasikan apa yang pernah terlintas di pikiran penulis kepada para pembaca yang budiman sebagai tadabburan. Mari kita teliti pada firman Allah: ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار Wahai Tuhantu, kami meminta kepadamu nikmat di dunia dan nikmat di akhirat (surga) dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka (al-Baqarah;[02]:(201). Dari ayat di atas di jelaskan bahwa manusia itu di perintah oleh Allah untuk meminta dan bersungguh mencari kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang dan sama. Dari sini kita arahkan pada anggota tubuh kita yang jumlahnya ada dua, contohnya tangan. Allah memberikan dua tangan kepada manusia agar manusia itu berusaha untuk mencari kehidupan dunia dan akhirat, karena manusia itu hidup di dua alam yakni dunia dan akhirat. Maka dari itu manusia mencari dan berusaha di dunia untuk hidup di dunia dan mencari akhirat untuk kehidupan akhirat yang abadi. Mengenai masalah tangan kanan lebih sering di gunakan untuk kebaikan seperti makan, bersalaman, dan lainnya, dan tangan kiri  lebih condong di gunakan untuk hal-hal jorok, itu mengisyarahkan bahwa mencari akhirat harus lebih di tekankan dari pada mencari dunia, sebab hidup di dunia itu hanya sementara dan hidup yang abadi hanyalah di akhirat. Maka mau tidak mau kita di haruskan untuk bersungguh-sungguh mencari kehidupan akhirat dan sekedar menguatkan anggota tubuh kita untuk melakukan ketaatan kepada Allah dalam mencari dunia. Sama halnya seperti ketika kita memasuki WC, setelah kita menyelesaikan urusan kita di dalam WC agar secepatnya kita keluar darinya, jangan sampai terlalu lama di dalamnya, karena itu tempatnya setan. Begitupun dengan dunia, dunia bagaikan racun yang mematikan, merusak pada sistem kehidupan akhirat. Maka, untuk cermat cara hidup bahagia dunia akhirat adalah dengan sama-sama mencari keduanya, akan tetapi mencari dunia sekedar untuk menguatkan tubuh dan mampu untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Sehingga jika melakukan demikian maka statusnya menjadi orang yang zuhud (tidak mau pada dunia). Dalam satu hadis yang di riwayatkan dari Abu Sa’id al-Hudri berkata: Rasulullah duduk di atas minbar, dan kita semua berada di sekelilingnya dan berkata: sesungguhnya yang aku takutkan setelahku hanyalah sesuatu yang dapat membuka pada kalian dari mutiara dunia dan perhiasan dunia (HR. Bukhari Muslim). Di terangkan dalam kitab syarhul hikam: bahwa di antara tanda-tanda orang yang mati mata hatinya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari dunia dan bermalas-malasan dalam mencari akhirat. Maka seharusnya kita lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Dunia memang penting,...

Selengkapnya